*Petualangan Tina dan Ayu*
“Betuuul! Kita adalah
Usutan Setan Kuping!” teriak Tina Cihuy yang kembali sumringah, seperti melihat
setitik lubang untuk mengintip.
“Betul, betul, betul!
Kita Utusan Setan Kuning!” teriak Ayu Nostalgia penuh semangat.
“Iya. Ki-ki-kita....”
“Enggak usah ikutan
ngomong, kelamaan!” Ayu membentak Salma Farisy yang kemudian diam merengut,
lalu mewek dan menangis terisak.
Namun, Ayu tidak
peduli.
“Su-su-sudah bau
pe-pe-pesing, tapi masih ga-ga-galak,” ucap Salman Alfrisy menggerutu.
“Lepaskan mereka,
Kasuku. Atau Setan Kuning murka!” seru Dukun Rajo Canti.
“Tidak. Mereka akan
menjadi tamu agung kami!” tegas Kasuku Kecupoli.
“Benar iutu, Dukun
Rajo Cantiu yang cantiuk. Hehehe!” kata Panglima Suratmati lembut dan bernada
genit. Dia mendukung pendirian kepala sukunya.
“Tidak mau. Kita mau
dituang ke semur!” teriak Tina.
“Iya. Kita mau
dimasak!” teriak Ayu pula.
“Be-be-betul.
Ki-ki-kita....”
“Enggak usah ikutan,
kelamaan!” hardik Ayu lagi kepada Salman.
“Te-te-tega,” ucap
Salman sedih.
“Kasuku Kecupoli,
Kasuku harus mematuhi aturan Negeri Kaluda. Merebut paksa tamu agung suku atau
desa lain adalah pelanggaran berat!” seru Dukun Rajo Canti lantang dan tanpa
sedikit pun menunjukkan kegentaran.
“Dukun Rajo keren.
Kemarin saya pikir, Somay disuruh memanggil sukun, orangnya laki-laki serem.
Eh, gak tahunya jentik banget,” kata Tina berbisik kepada Ayu.
“Cantik, Tina. Bukan
jentik nyamuk,” ralat Ayu berbisik pula. “Saking cantiknya, sampai saya jatuh
hati.”
Ayu tersenyum dengan
mata kedap kedip, mendadak genit, lupa bahwa mereka baru saja menangis.
“Ih, amit-amit!” ucap
Tina dengan wajah mengerenyit.
“Hahaha! Ma-ma-mana
mau Dukun Rajo, ke-ke-ketupat makan ketupat?” kata Salman tertawa.
“Lepaskan Utusan
Setan Kuning!” perintah Kasuku Kecupoli akhirnya.
“Siap!” jawab para
anak buah Panglima Suratmati.
Sejumlah anak buah
Panglima Suratmati segera melaksanakan perintah Kasuku Kecupoli.
“Tina sih. Sudah tahu
kita dimuliakan sama Sunil Shetty, pakai mikir film Santet Suzanna,” gerutu Ayu,
merujuk nama aktor Bollywood yang dimiripi oleh Kadesa Panen Sate.
“Yaaa, namanya juga
waspada. Sapi yang tahu,” kilah Tina bela diri.
“Dukun Rajo Cantiu.
Hehehe!” panggil Suratmati mencoba menggoda dengan cengengesannya yang tidak
bervitamin.
“Ada apa, Panglima
Mati?” tanya Dukun Rajo Canti tanpa senyum, membuat kecantikannya penuh wibawa.
“Matiu?” kejut
Suratmati. Ia lalu meralat, “Pangliuma Suratmatiu. Hehehe!”
“Panglima, jangan
khawatir. Dukun Rajo Canti juga sudah lama rindu kepada Panglima. Hahaha!” kata
Somali.
“Benarkah?” tanya
Panglima Suratmati sumringah. Hatinya seketika berkembang-kembang.
“Tapi bohong.
Hahaha!” jawab lelaki cebol itu lalu tertawa terpingkal-pingkal sendiri.
“Hahaha!” Anak buah
Suratmati dan warga justru menertawakan panglima mereka.
“Diam! Beraniunya
menertawakan pangliuma sendiuriu!” bentak Panglima Suratmati dengan menunjukkan
mata melototnya ke semua orang. Mungkin ingin mengobralnya.
Warga dan anak buah
Panglima Suratmati langsung terdiam.
Trio Antik akhirnya
dibebaskan dari kerangkeng. Ketika Ayu keluar dari kerangkeng, para lelaki
berotot anak buah Panglima Suratmati segera minggir menjauh sambil menutup
hidungnya karena bau pesing yang menusuk perasaan.
Trio Antik segera
pergi dan berdiri di belakang Dukun Rajo Canti dan Somali.
Somali dan para
prajurit desa mengerenyit mencium bau pesing yang menyengat. Dukun Rajo Canti
hanya melirik kepada Ayu. Gadis gemuk itu hanya tersenyum getir. Dia tidak
berani menunjukkan gestur bahwa dia jatuh hati kepada si dukun.
“Kamu beol, Ayu?”
tanya Somali serius.
“Saya hanya sedikit
mengurangi kelebihan air kencing saja kok,” kilah Ayu.
“Gak usah banyak
balasan, Yu. Tetap saja itu mamanya ngompol,” kata Tina.
“Hehehe!” Ayu hanya
cengengesan kepada sahabatnya itu.
“Terima kasih kepada
Kasuku dan warga Suku Gilla yang sudah mengembalikan tamu agung kami,” kata
Dukun Rajo Canti tanpa berseru lagi. Dia lebih lembut. “Kami pamit diri.”
“Fiuuuh, syukurlah
kita beras,” ucap Tina lega.
“Bebas, bukan beras,
Tina,” ralat Ayu.
Dukun Rajo Canti lalu
berbalik dan menghadap kepada Trio Antik.
“Ayo. Kalian harus
melaksanakan Upacara Sambut Tamu!” ajak Dukun Rajo Canti.
“Apa itu Upacara
Sambit Tahu?” tanya Tina.
“Upacara dimasak jadi
sop manusia,” jawab Somali.
“Hah!” kejut Ayu.
“Yang benar?” kata
Tina tidak percaya.
“Ha-ha-hah!” kejut
Salman juga dengan mode gagap.
“Tapi bohong! Hahaha!” teriak Somali, lalu tertawa terpingkal-pingkal sendiri. (RH)


Capek baca kata2 panglima Mati 🤣🤣
BalasHapus