Trio Antik Bebas, Bab11 Petualangan Tina dan Ayu


*Petualangan Tina dan Ayu*

“Betuuul! Kita adalah Usutan Setan Kuping!” teriak Tina Cihuy yang kembali sumringah, seperti melihat setitik lubang untuk mengintip.

“Betul, betul, betul! Kita Utusan Setan Kuning!” teriak Ayu Nostalgia penuh semangat.

“Iya. Ki-ki-kita....”

“Enggak usah ikutan ngomong, kelamaan!” Ayu membentak Salma Farisy yang kemudian diam merengut, lalu mewek dan menangis terisak.

Namun, Ayu tidak peduli.

“Su-su-sudah bau pe-pe-pesing, tapi masih ga-ga-galak,” ucap Salman Alfrisy menggerutu.

“Lepaskan mereka, Kasuku. Atau Setan Kuning murka!” seru Dukun Rajo Canti.

“Tidak. Mereka akan menjadi tamu agung kami!” tegas Kasuku Kecupoli.

“Benar iutu, Dukun Rajo Cantiu yang cantiuk. Hehehe!” kata Panglima Suratmati lembut dan bernada genit. Dia mendukung pendirian kepala sukunya.

“Tidak mau. Kita mau dituang ke semur!” teriak Tina.

“Iya. Kita mau dimasak!” teriak Ayu pula.

“Be-be-betul. Ki-ki-kita....”

“Enggak usah ikutan, kelamaan!” hardik Ayu lagi kepada Salman.

“Te-te-tega,” ucap Salman sedih.

“Kasuku Kecupoli, Kasuku harus mematuhi aturan Negeri Kaluda. Merebut paksa tamu agung suku atau desa lain adalah pelanggaran berat!” seru Dukun Rajo Canti lantang dan tanpa sedikit pun menunjukkan kegentaran.

“Dukun Rajo keren. Kemarin saya pikir, Somay disuruh memanggil sukun, orangnya laki-laki serem. Eh, gak tahunya jentik banget,” kata Tina berbisik kepada Ayu.

“Cantik, Tina. Bukan jentik nyamuk,” ralat Ayu berbisik pula. “Saking cantiknya, sampai saya jatuh hati.”

Ayu tersenyum dengan mata kedap kedip, mendadak genit, lupa bahwa mereka baru saja menangis.

“Ih, amit-amit!” ucap Tina dengan wajah mengerenyit.

“Hahaha! Ma-ma-mana mau Dukun Rajo, ke-ke-ketupat makan ketupat?” kata Salman tertawa.

“Lepaskan Utusan Setan Kuning!” perintah Kasuku Kecupoli akhirnya.

“Siap!” jawab para anak buah Panglima Suratmati.

Sejumlah anak buah Panglima Suratmati segera melaksanakan perintah Kasuku Kecupoli.

“Tina sih. Sudah tahu kita dimuliakan sama Sunil Shetty, pakai mikir film Santet Suzanna,” gerutu Ayu, merujuk nama aktor Bollywood yang dimiripi oleh Kadesa Panen Sate.

“Yaaa, namanya juga waspada. Sapi yang tahu,” kilah Tina bela diri.

“Dukun Rajo Cantiu. Hehehe!” panggil Suratmati mencoba menggoda dengan cengengesannya yang tidak bervitamin.

“Ada apa, Panglima Mati?” tanya Dukun Rajo Canti tanpa senyum, membuat kecantikannya penuh wibawa.

“Matiu?” kejut Suratmati. Ia lalu meralat, “Pangliuma Suratmatiu. Hehehe!”

“Panglima, jangan khawatir. Dukun Rajo Canti juga sudah lama rindu kepada Panglima. Hahaha!” kata Somali.

“Benarkah?” tanya Panglima Suratmati sumringah. Hatinya seketika berkembang-kembang.

“Tapi bohong. Hahaha!” jawab lelaki cebol itu lalu tertawa terpingkal-pingkal sendiri.

“Hahaha!” Anak buah Suratmati dan warga justru menertawakan panglima mereka.

“Diam! Beraniunya menertawakan pangliuma sendiuriu!” bentak Panglima Suratmati dengan menunjukkan mata melototnya ke semua orang. Mungkin ingin mengobralnya.

Warga dan anak buah Panglima Suratmati langsung terdiam.

Trio Antik akhirnya dibebaskan dari kerangkeng. Ketika Ayu keluar dari kerangkeng, para lelaki berotot anak buah Panglima Suratmati segera minggir menjauh sambil menutup hidungnya karena bau pesing yang menusuk perasaan.

Trio Antik segera pergi dan berdiri di belakang Dukun Rajo Canti dan Somali.

Somali dan para prajurit desa mengerenyit mencium bau pesing yang menyengat. Dukun Rajo Canti hanya melirik kepada Ayu. Gadis gemuk itu hanya tersenyum getir. Dia tidak berani menunjukkan gestur bahwa dia jatuh hati kepada si dukun.

“Kamu beol, Ayu?” tanya Somali serius.

“Saya hanya sedikit mengurangi kelebihan air kencing saja kok,” kilah Ayu.

“Gak usah banyak balasan, Yu. Tetap saja itu mamanya ngompol,” kata Tina.

“Hehehe!” Ayu hanya cengengesan kepada sahabatnya itu.

“Terima kasih kepada Kasuku dan warga Suku Gilla yang sudah mengembalikan tamu agung kami,” kata Dukun Rajo Canti tanpa berseru lagi. Dia lebih lembut. “Kami pamit diri.”

“Fiuuuh, syukurlah kita beras,” ucap Tina lega.

“Bebas, bukan beras, Tina,” ralat Ayu.

Dukun Rajo Canti lalu berbalik dan menghadap kepada Trio Antik.

“Ayo. Kalian harus melaksanakan Upacara Sambut Tamu!” ajak Dukun Rajo Canti.

“Apa itu Upacara Sambit Tahu?” tanya Tina.

“Upacara dimasak jadi sop manusia,” jawab Somali.

“Hah!” kejut Ayu.

“Yang benar?” kata Tina tidak percaya.

“Ha-ha-hah!” kejut Salman juga dengan mode gagap.

“Tapi bohong! Hahaha!” teriak Somali, lalu tertawa terpingkal-pingkal sendiri. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar: