*Petualangan Tina dan Ayu*
Trio Antik sudah berada di Desa Waykutuk pada malam
yang sama.
Berbeda dengan ketika mereka pertama datang, kali ini
Trio Antik berada di tengah-tengah orang banyak warga Desa Waykutuk.
Seluruh warga Desa Waykutuk berkumpul, dari orok
sampai yang renta berumur sehari lagi, untuk mengikuti pelaksanaan upacara
penyambutan tamu yang bernama Lima Siram Satu Wangi.
Tina Cihuy, Ayu Nostalgia dan Salman Alfarisy sekarang
sedang berlutut di atas sebuah bantal. Mereka berada di bawah penerangan
obor-obor yang banyak bertebaran. Upacara itu dipimpin langsung oleh Dukun Rajo
Canti yang memegang seikat rumput pendek.
Kadesa Panen Sate duduk di kursi kebesarannya sebagai
kepala desa. Di sekitar kakinya duduk bersimpuh tiga istri muda dan cantiknya.
“Wahai Setan Kuning! Malam ini ketiga utusanmu kami
sambut dan muliakan di Desa Waykutuk! Maka itu, lindungilah desa ini dari
bencana!” teriak Dukun Rajo Canti kepada langit malam sambil merentangkan kedua
tangannya, hingga-hingga lengan jubahnya yang besar melorot sampai ke lengannya
yang putih bersih dan mulus. Untung tidak sampai memperlihatkan rambut
ketiaknya.
“Kata Ustaz Saifuddin, ini mah musik,” kata Tina
berbisik kepada Ayu.
“Bukan musik, tapi musyrik, Tina,” ralat Ayu balas
berbisik.
“Iya, bisa mabuk neraka kita,” kata Tina.
“Hihihik!” Mendengar kata-kata Tina, Salman terkikik
menahan tawa. “Ba-ba-baru dengar di ne-ne-ne....”
“Nenek?” terka Ayu memotong perkataan Salman.
“Bukan. Di ne-ne-neraka bisa ma-ma-mabuk. Hihihik!”
bisik Salman.
“Ikutin saja, daripada dibuang ke sumur sama Om
Ganteng yang ototnya seperti punya perempuan itu,” kata Ayu.
“Hihihik! Kayak pu-pu-punyamu,” kata Salman.
“Husy!” hardik Ayu sambil menepak kepala Salman.
“Berkatilah! Berkatilah!” Dukun Rajo Cantik masih
berteriak ke langit.
“Dudung Rajo cantik-cantik tapi mengkutukan Tuhan.
Masya Allah,” kata Tina lagi, masih berbisik.
“Astaghfirullah, bukan masya Allah,” ralat Ayu.
“Jangan ngomong melulu, nanti didengar.”
“Ini la-la-lahan dakwah, Tin. Ja-ja-ja....”
“Janda?” terka Ayu memotong.
“Bukan. Ja-ja-jadi ustazah sa-sa-saja, Tin,” kata
Salman.
“Diam, duburnya datang!” hardik Tina.
“Hihihik!” Salman terkikik menahan tawa.
“Hahaha!” Ayu justru tertawa lepas.
“Diam!” bentak Dukun Rajo Canti sambil memukul kepala
Ayu dengan ikatan rumput di tangannya.
Trio Antik langsung diam, mengunci mulutnya
rapat-rapat.
“Lima siraaam!” teriak Dukun Rajo Canti keras.
Lima lelaki prajurit desa berseragam merah datang berbaris satu banjar. Masing-masing membawa gentong tanah liat ukuran kecil. Mereka berbaris tidak jauh di depan ketiga tamu agung itu. (RH)


Mereka disiram apaan tuh?
BalasHapus