*Petualangan Tina dan Ayu*
Di malam ini, Tina
Cihuy, Ayu Nostalgia dan Salman Alfarisy kini berada di dalam sangkar besi,
yang digantung tinggi di atas pohon beringin besar. Dua meter di bawah mereka
adalah kuali besar berisi masakan bubur beras bercampur tiga jenis daging,
yaitu daging ayam, daging kambing dan daging sapi.
Masakan di kuali itu
mendidih di atas tungku api yang besar. Aroma rempah-rempahnya sungguh menyiksa
Trio Antik di atasnya. Aromanya membuat mereka lapar kembali.
Panglima Suratmati
dan pengikutnya duduk mengitari meja kayu panjang bersama dengan warga Suku
Gilla. Mereka menunggu makan enak yang nanti akan disajikan oleh kaum wanita
Suku Gilla.
Kepala Suku (Kasuku)
Gilla Kecupoli duduk senang di kursi singgasananya. Di depan kakek bertubuh
kekar dan berjenggot putih panjang itu, ada meja sendiri yang menyajikan
semangkuk besar bubur tiga daging yang masih berasap panas. Sama seperti rakyat
lelakinya, dia juga tidak berbaju. Mentang-mentang badannya berotot.
“Wahai warga Suku
Gilla! Berterimakasihlah kepada Panglima Suratmati dan Sepak Tinting yang sudah
berhasil mendapatkan tiga calon warga baru kita!” seru Kasuku Kecupoli sambil
berdiri gagah dengan badan berotot tidak kalah dengan yang muda-muda.
“Perkasa Panglima
Suratmati! Perkasa Sepak Tinting! Makan enak! Makan enak!” teriak para warga
Suku Gilla kompak sambil memukul-mukul meja atau kursi atau muka sendiri bagi
yang tidak punya kursi dan meja.
“Teriuma kasiuh,
teriuma kasiuh!” kata Suratmati sambil berdiri dan melambaikan tangan ke
berbagai arah, terutama kepada kelompok gadis-gadis yang kepalanya banyak
berhias bulu-bulu burung perkutut.
“Karena merekalah,
saya memutuskan malam ini kita makan enak bubur tiga daging. Jangan lupa,
sebelum makanan dibagikan, mari kita berdoa untuk Dewa Makanan, supaya kita
selalu diberi makanan enak.
“Hahaha!” Tiba-tiba
Salman tertawa kencang.
“Hei! Kurang acar!
Kasuku sedang berkhotbah, kenapa tertawa, hah?!” bentak Sepak Tinting marah dan
membentak ke atas.
“Ti-ti-tidaaak!
Hihihik!” sahut Salman lalu tertawa cekikikan karena menahan tawa.
“Awas kalau tertawa
lagi! Kamu benar-benar akan dijadikan kambing guling!”
Mendapat ancaman
seperti itu, Trio Antik kembali terdiam menerima nasib.
“Saya lanjutkan.
Sampai di mana tadi?” seru Kasuku Kecupoli bertanya kepada warganya.
“Makanan enak, makanan
enak!” jawab warga Suku Gilla kompak.
“Tina, saya mau
pipis,” bisik Ayu kepada Tina.
“Minta izin saja ke
Om Banteng,” kata Tina.
“Malu,” kata Ayu.
“Ya sudah,” ucap Tina
cuek juga.
“Hei! Kenapa
bisik-bisik?” hardik Sepak Tinting.
“Ayu ma-ma-mau
pipis!” teriak Salman.
“Hahaha...!” tawa
warga dan anak buah Panglima Suratmati.
“Biarkan saja. Mereka
pastiu mau coba-coba kabur!” seru Suratmati. “Sudah, dengarkan khotbah Kasuku!”
“Om Genteeeng! Ayu
mau kanciiing!” teriak Tina pula. Kencang.
“Diu siuniu tiudak
ada kanciung,” kata Suratmati.
“Bukan kanciuuung,
tapi kuciiing!” ralat Tina.
“Tidak ada kancing,
tidak ada kucing!” teriak Sepak Tinting.
“Bukan ituuu! Ayu mau
kacuuung!” teriak Tina lagi. Kesal.
Melihat Tina gagal
dalam tiga kali percobaan, Salman segera inisiatif teriak pula.
“Ayu ma-ma-mau
ke-ke-ke....”
“Yaaa bocor, Tina,”
ucap Ayu memotong kata-kata Salman. Dia ingin menangis karena kondisinya.
Ayu Nostalgia sudah
terlanjur mengompol.
“Air apa iutu yang
jatuh ke kualiu?” tunjuk Suratmati terkejut.
Kasuku Kecupoli dan
warganya juga ikut terkejut melihat kucuran air yang sedikit, tetapi terlihat
jelas jatuh ke dalam kuali berisi bubur tiga daging. Jelas-jelas air itu
mengucur dari bawah pantat Ayu yang bohai.
“Air kencing?!” pekik
Sepak Tinting seakan tidak percaya, dia sampai memegang kepalanya dengan dua
tangan dan menjambak rambutnya sendiri, sementara mulutnya ternganga seperti
artis Drakor.
“Kurang acar!” teriak
Kasuku Kecupoli marah.
“Kurang acar!” teriak
warga Suku Gillah marah juga.
“Ayu, air kancing
kamu jatuh ke makanan di kualat!” kata Tina panik dan menangis lagi.
“Ma-ma-mati kita,”
ucap Salman lemas.
“Dewa Makanan marah!
Dewa Makanan marah!” teriak Kasuku Kecupoli keras sambil mengangkat kedua
tangannya ke atas dan memandang ke langit malam. Setelah itu dia berteriak
keras sambil menunjuk ke kerangkeng besi, “Hukuuum!”
“Ampun, Kakek Ganteng!
Itu tidak disengaja!” teriak Ayu ketakutan sambil menangis lagi. Sepertinya
berat badannya terkuras banyak oleh air mata.
“Iya, Ayu sudah kebelit!”
teriak Tina pula super cemas.
“Sa-sa-salah si Mati
tuh!” tuding Salman sambil menunjuk Panglima Suratmati.
“Kurang acar!” maki
Suratmati marah.
“Iya. Kalau tadi Ayu
diizinkan kucing, pasti Ayu enggak bocor,” kata Tina membela diri.
“Tidak peduli! Kalian
sudah membuat marah Dewa Makanan!” teriak Kasuku Kecupoli. “Hukum mereka.
Tenggelamkan mereka di Sumur Garam!”
“Tunggu, Kasuku
Kecupoli!” seru satu suara lantang seorang wanita tiba-tiba.
Semua terkejut lalu
memandang ke sumber suara.
“Somay!” sebut Tina
terkejut.
“So-so-somali!” sebut
Salman pula.
Somali datang bersama
seorang wanita cantik berwajah bule. Di belakangnya ada banyak orang berseragam
merah-merah. Kepala-kepala mereka dihiasi mahkota burung yang separuh mengepakkan
sayapnya, tapi kaku. Lengkap dengan kepala burungnya yang banyak bulunya. Mahkota-mahkota
burung itu dihiasi dengan pita-pita merah dan kuning. Selain terlihat ramai,
juga terlihat indah.
Khusus wanita muda
lagi cantik berhidung mancung selancip tombak, memiliki mahkota burung yang
lebih besar dan berwarna merah, biru dan kuning terang. Kian mempercantik penampilannya
dengan pakaian warna-warni. Dia membawa sebatang tombak berkepala ikan besar
dengan leher diikat lima pita lima warna.
Sosok wanita cantik bule
itu adalah Dukun Rajo Canti.
Rombongan itu membawa
obor yang banyak. Setiap lelaki berseragam merah membawa pedang panjang yang
menyilang di pinggang. Sebagian membawa tombak berpita-pita.
Kemunculan Dukun Rajo
Canti bersama Somali dan Pasukan Prajurit Desa Waykutuk di acara makan malam
enak Suku Gilla menimbulkan ketegangan.
Namun, berbeda bagi
Panglima Suratmati. Ia justru diliputi rasa berbunga-bunga di hati. Selama ini
Panglima Suratmati menaruh hati kepada Dukun Rajo Canti.
“Dukun Rajo Canti,
apa maksud kalian datang ke sini dengan membawa pasukan?” tanya Kasuku Kecupoli
dari kursi kebesarannya. “Apakah kalian ingin mengganggu pesta makan Dewa
Makanan?”
“Kasuku Kecupoli,
apakah Kasuku tahu siapa mereka itu?” tanya Dukun Rajo Canti. Meski wajahnya
bule, tetapi aksennya sangat pribumi.
“Panglima Suratmati,
apakah kamu tahu siapa ketiga anak itu?” Kasuku justru lempar pertanyaan kepada
panglimanya.
“Tiudak, Kasuku.
Mereka pastiu anak-anak yang tiudak punya bapak iubu,” jawab Panglima
Suratmati.
“Kita punya badak
ibu, Om Banteng!” teriak Tina dari dalam kerangkeng yang digantung.
“Hei! Jangan panggil
Panglima dengan sebutan Banteng! Malu Panglima di depan Dukun Rajo!” hardik Sepak
Tinting.
“Hehehe!” kekeh
Suratmati sambil nyengir kuda kepada Dukun Rajo Canti.
“Hahaha! Om Banteng!”
tawa Somali menertawakan sang panglima.
“So-so-somali! To-to-tolong
kita!” teriak Salman.
“Tenang, kita tidak
akan tolong!” teriak Somali pula kepada Trio Antik.
“Hah! Terus buat apa
ke sini bawa pasukan?” tanya Ayu.
“Tapi bohong! Hahaha!”
kata Somali lalu tertawa terpingkal-pingkal sendiri.
“Kasuku Kecupoli,
lepaskan tiga anak itu, atau Suku Gilla akan terkena bencana!” seru Dukun Rajo Canti.
“Bencana apa?” tanya
Kasuku Kecupoli.
“Mereka adalah tamu
agung Desa Waykutuk!” tandas Dukun Rajo Canti.
“Tidak peduli mereka
tamu agung Desa Waykutuk. Mereka telah mengencingi makanan enak Suku Gilla.
Dewa Makanan pasti marah. Mereka harus dihukum!” tandas Kasuku Kecupoli.
“Benar, Dukun Rajo
Cantiuk,” kata Panglima Suratmati seraya tersenyum menggoda kepada dukun cantik
jelita itu.
“Benar, harus
dihukum!” kata Sepak Tinting pula.
“Hukum! Hukum!”
teriak warga Suku Gilla ramai-ramai sambil memukul-mukul meja atau kursi, atau
muka mereka sendiri.
“Mereka bertiga
adalah Utusan Setan Kuning!” kata Dukun Rajo Canti.
“Hah!” kejut Kasuku
Kecupoli.
“Matiu saya!” pekik
Panglima Suratmati.
“Takuuut!” Semua warga Suku Gilla berekspresi ngeri. (RH)


Bubur nambah kuah 😂
BalasHapus