Dukun Rajo Canti Datang, Bab10 Petualangan Tina dan Ayu


*Petualangan Tina dan Ayu*

Di malam ini, Tina Cihuy, Ayu Nostalgia dan Salman Alfarisy kini berada di dalam sangkar besi, yang digantung tinggi di atas pohon beringin besar. Dua meter di bawah mereka adalah kuali besar berisi masakan bubur beras bercampur tiga jenis daging, yaitu daging ayam, daging kambing dan daging sapi.

Masakan di kuali itu mendidih di atas tungku api yang besar. Aroma rempah-rempahnya sungguh menyiksa Trio Antik di atasnya. Aromanya membuat mereka lapar kembali.

Panglima Suratmati dan pengikutnya duduk mengitari meja kayu panjang bersama dengan warga Suku Gilla. Mereka menunggu makan enak yang nanti akan disajikan oleh kaum wanita Suku Gilla.

Kepala Suku (Kasuku) Gilla Kecupoli duduk senang di kursi singgasananya. Di depan kakek bertubuh kekar dan berjenggot putih panjang itu, ada meja sendiri yang menyajikan semangkuk besar bubur tiga daging yang masih berasap panas. Sama seperti rakyat lelakinya, dia juga tidak berbaju. Mentang-mentang badannya berotot.

“Wahai warga Suku Gilla! Berterimakasihlah kepada Panglima Suratmati dan Sepak Tinting yang sudah berhasil mendapatkan tiga calon warga baru kita!” seru Kasuku Kecupoli sambil berdiri gagah dengan badan berotot tidak kalah dengan yang muda-muda.

“Perkasa Panglima Suratmati! Perkasa Sepak Tinting! Makan enak! Makan enak!” teriak para warga Suku Gilla kompak sambil memukul-mukul meja atau kursi atau muka sendiri bagi yang tidak punya kursi dan meja.

“Teriuma kasiuh, teriuma kasiuh!” kata Suratmati sambil berdiri dan melambaikan tangan ke berbagai arah, terutama kepada kelompok gadis-gadis yang kepalanya banyak berhias bulu-bulu burung perkutut.

“Karena merekalah, saya memutuskan malam ini kita makan enak bubur tiga daging. Jangan lupa, sebelum makanan dibagikan, mari kita berdoa untuk Dewa Makanan, supaya kita selalu diberi makanan enak.

“Hahaha!” Tiba-tiba Salman tertawa kencang.

“Hei! Kurang acar! Kasuku sedang berkhotbah, kenapa tertawa, hah?!” bentak Sepak Tinting marah dan membentak ke atas.

“Ti-ti-tidaaak! Hihihik!” sahut Salman lalu tertawa cekikikan karena menahan tawa.

“Awas kalau tertawa lagi! Kamu benar-benar akan dijadikan kambing guling!”

Mendapat ancaman seperti itu, Trio Antik kembali terdiam menerima nasib.

“Saya lanjutkan. Sampai di mana tadi?” seru Kasuku Kecupoli bertanya kepada warganya.

“Makanan enak, makanan enak!” jawab warga Suku Gilla kompak.

“Tina, saya mau pipis,” bisik Ayu kepada Tina.

“Minta izin saja ke Om Banteng,” kata Tina.

“Malu,” kata Ayu.

“Ya sudah,” ucap Tina cuek juga.

“Hei! Kenapa bisik-bisik?” hardik Sepak Tinting.

“Ayu ma-ma-mau pipis!” teriak Salman.

“Hahaha...!” tawa warga dan anak buah Panglima Suratmati.

“Biarkan saja. Mereka pastiu mau coba-coba kabur!” seru Suratmati. “Sudah, dengarkan khotbah Kasuku!”

“Om Genteeeng! Ayu mau kanciiing!” teriak Tina pula. Kencang.

“Diu siuniu tiudak ada kanciung,” kata Suratmati.

“Bukan kanciuuung, tapi kuciiing!” ralat Tina.

“Tidak ada kancing, tidak ada kucing!” teriak Sepak Tinting.

“Bukan ituuu! Ayu mau kacuuung!” teriak Tina lagi. Kesal.

Melihat Tina gagal dalam tiga kali percobaan, Salman segera inisiatif teriak pula.

“Ayu ma-ma-mau ke-ke-ke....”

“Yaaa bocor, Tina,” ucap Ayu memotong kata-kata Salman. Dia ingin menangis karena kondisinya.

Ayu Nostalgia sudah terlanjur mengompol.

“Air apa iutu yang jatuh ke kualiu?” tunjuk Suratmati terkejut.

Kasuku Kecupoli dan warganya juga ikut terkejut melihat kucuran air yang sedikit, tetapi terlihat jelas jatuh ke dalam kuali berisi bubur tiga daging. Jelas-jelas air itu mengucur dari bawah pantat Ayu yang bohai.

“Air kencing?!” pekik Sepak Tinting seakan tidak percaya, dia sampai memegang kepalanya dengan dua tangan dan menjambak rambutnya sendiri, sementara mulutnya ternganga seperti artis Drakor.

“Kurang acar!” teriak Kasuku Kecupoli marah.

“Kurang acar!” teriak warga Suku Gillah marah juga.

“Ayu, air kancing kamu jatuh ke makanan di kualat!” kata Tina panik dan menangis lagi.

“Ma-ma-mati kita,” ucap Salman lemas.

“Dewa Makanan marah! Dewa Makanan marah!” teriak Kasuku Kecupoli keras sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dan memandang ke langit malam. Setelah itu dia berteriak keras sambil menunjuk ke kerangkeng besi, “Hukuuum!”

“Ampun, Kakek Ganteng! Itu tidak disengaja!” teriak Ayu ketakutan sambil menangis lagi. Sepertinya berat badannya terkuras banyak oleh air mata.

“Iya, Ayu sudah kebelit!” teriak Tina pula super cemas.

“Sa-sa-salah si Mati tuh!” tuding Salman sambil menunjuk Panglima Suratmati.

“Kurang acar!” maki Suratmati marah.

“Iya. Kalau tadi Ayu diizinkan kucing, pasti Ayu enggak bocor,” kata Tina membela diri.

“Tidak peduli! Kalian sudah membuat marah Dewa Makanan!” teriak Kasuku Kecupoli. “Hukum mereka. Tenggelamkan mereka di Sumur Garam!”

“Tunggu, Kasuku Kecupoli!” seru satu suara lantang seorang wanita tiba-tiba.

Semua terkejut lalu memandang ke sumber suara.

“Somay!” sebut Tina terkejut.

“So-so-somali!” sebut Salman pula.

Somali datang bersama seorang wanita cantik berwajah bule. Di belakangnya ada banyak orang berseragam merah-merah. Kepala-kepala mereka dihiasi mahkota burung yang separuh mengepakkan sayapnya, tapi kaku. Lengkap dengan kepala burungnya yang banyak bulunya. Mahkota-mahkota burung itu dihiasi dengan pita-pita merah dan kuning. Selain terlihat ramai, juga terlihat indah.

Khusus wanita muda lagi cantik berhidung mancung selancip tombak, memiliki mahkota burung yang lebih besar dan berwarna merah, biru dan kuning terang. Kian mempercantik penampilannya dengan pakaian warna-warni. Dia membawa sebatang tombak berkepala ikan besar dengan leher diikat lima pita lima warna.

Sosok wanita cantik bule itu adalah Dukun Rajo Canti.

Rombongan itu membawa obor yang banyak. Setiap lelaki berseragam merah membawa pedang panjang yang menyilang di pinggang. Sebagian membawa tombak berpita-pita.

Kemunculan Dukun Rajo Canti bersama Somali dan Pasukan Prajurit Desa Waykutuk di acara makan malam enak Suku Gilla menimbulkan ketegangan.

Namun, berbeda bagi Panglima Suratmati. Ia justru diliputi rasa berbunga-bunga di hati. Selama ini Panglima Suratmati menaruh hati kepada Dukun Rajo Canti.

“Dukun Rajo Canti, apa maksud kalian datang ke sini dengan membawa pasukan?” tanya Kasuku Kecupoli dari kursi kebesarannya. “Apakah kalian ingin mengganggu pesta makan Dewa Makanan?”

“Kasuku Kecupoli, apakah Kasuku tahu siapa mereka itu?” tanya Dukun Rajo Canti. Meski wajahnya bule, tetapi aksennya sangat pribumi.

“Panglima Suratmati, apakah kamu tahu siapa ketiga anak itu?” Kasuku justru lempar pertanyaan kepada panglimanya.

“Tiudak, Kasuku. Mereka pastiu anak-anak yang tiudak punya bapak iubu,” jawab Panglima Suratmati.

“Kita punya badak ibu, Om Banteng!” teriak Tina dari dalam kerangkeng yang digantung.

“Hei! Jangan panggil Panglima dengan sebutan Banteng! Malu Panglima di depan Dukun Rajo!” hardik Sepak Tinting.

“Hehehe!” kekeh Suratmati sambil nyengir kuda kepada Dukun Rajo Canti.

“Hahaha! Om Banteng!” tawa Somali menertawakan sang panglima.

“So-so-somali! To-to-tolong kita!” teriak Salman.

“Tenang, kita tidak akan tolong!” teriak Somali pula kepada Trio Antik.

“Hah! Terus buat apa ke sini bawa pasukan?” tanya Ayu.

“Tapi bohong! Hahaha!” kata Somali lalu tertawa terpingkal-pingkal sendiri.

“Kasuku Kecupoli, lepaskan tiga anak itu, atau Suku Gilla akan terkena bencana!” seru Dukun Rajo Canti.

“Bencana apa?” tanya Kasuku Kecupoli.

“Mereka adalah tamu agung Desa Waykutuk!” tandas Dukun Rajo Canti.

“Tidak peduli mereka tamu agung Desa Waykutuk. Mereka telah mengencingi makanan enak Suku Gilla. Dewa Makanan pasti marah. Mereka harus dihukum!” tandas Kasuku Kecupoli.

“Benar, Dukun Rajo Cantiuk,” kata Panglima Suratmati seraya tersenyum menggoda kepada dukun cantik jelita itu.

“Benar, harus dihukum!” kata Sepak Tinting pula.

“Hukum! Hukum!” teriak warga Suku Gilla ramai-ramai sambil memukul-mukul meja atau kursi, atau muka mereka sendiri.

“Mereka bertiga adalah Utusan Setan Kuning!” kata Dukun Rajo Canti.

“Hah!” kejut Kasuku Kecupoli.

“Matiu saya!” pekik Panglima Suratmati.

“Takuuut!” Semua warga Suku Gilla berekspresi ngeri. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar: