| Din Syamsuddin (Foto: JIBI) |
“Perlu ada standar yang disepekati, misalnya tentang definisi hilal, dan itu harus memenuhi kriteria agama dan pengetahuan. Namun demikian, jika tidak ada titik temu, maka yang harus dikedepankan adalah toleransi,” kata Din Syamsuddin saat memberikan sambutan pada Kegiatan Penyusunan Standarisasi Kriteria Awal Bulan Qamariah, Jakarta, Jum’at (14/08) malam.
Pihaknya hanya menyampaikan pandangan pribadinya dan tidak terpengaruh dengan pendapat ormas Islam, khususnya Muhammadiyah. Din menegaskan, upaya penyatuan kalender hijriyah itu penting karena membawa dampak sosial bagi umat.
“Kita semua mesti melihatnya secara jernih,” tegas Din yang belum lama melepas jabatan Ketua Umum di Muhammadiyah. Mi'raj Islamic News Agency (MINA) yang dikutip RajaDumay.com.
Upaya penyatuan kalender Hijriyah penting, lanjut Din, karena persoalan itu mengandung dimensi ibadah, sosial, dan festival yang kuat.
Menurutnya, dalam Islam, persoalan dimensi waktu, baik tentang waktu shalat, zakat, haji, dan ibadah lainnya, sangat terkait dengan fenomena alam. Dimensi waktu terkait dengan perubahan makro dan mikrokosmos.
Sementara Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, agar bisa segera mencari solusi dan pemecahan yang akutable, salah satunya adalah dengan menentukan standard kriteria awal bulan Qamariah secara independen dan bebas intervensi.
“Kita harus mampu menjawab dan menjelaskan permasalahan perbedaan tersebut kepada umat Islam secara proposional dan profesional,” kata Lukman.
(Sumber: Mirajnews.com/id)

0 komentar:
Posting Komentar