![]() |
| Guru honorer menuntut dimanusiakan. (Detik Foto) |
"Dari tujuh guru tersebut ada tiga orang yang berstatus sarjana yang juga mendapatkan gaji sebesar itu," kata Kepala Sekolah SDN Amsila, Alexander Faot di Kupang, Ahad (11 Oktober 2015).
Ia menjelaskan, ketujuh guru honor tersebut sudah mengabdi di sekolah tersebut sejak sekolah itu dibangun dari 2013. Gaji-gaji para guru itu diperoleh dari dana yang dimiliki oleh komite sekolah tersebut.
Alexander menyayangkan, selama kurang lebih tiga tahun tersebut tidak pernah ada guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) yang mau mengabdi di sekolah tersebut, selain dirinya.
Alexander menambahkan, sekolah yang baru dibangun pada 2013 tersebut memiliki 68 siswa dan hanya memiliki lima kelas. Karena itu, dia mengatakan cukup kebingungan jika ada penambahan kelas baru.
"Kalau ada penambahan kelas baru, kelas enam, syarat utamanya 'kan yang 'ngajar' adalah guru PNS. Sedangkan sampai sekarang kami belum mendapatkan guru PNS yang baru," katanya.
Terkait pendidikan dari sejumlah guru honornya, dia mengatakan, tiga guru yang sudah berstatus sarjana terdiri atas sarjana agama, sarjana ilmu pendidikan dan sarjana olahraga. Sementara sisanya adalah guru-guru yang masih berstatus mahasiswa tetapi peduli dengan pendidikan di daerah tersebut.
Sementara itu, Delsry Sonbay, guru agama di sekolah tersebut mengharapkan suatu hari nanti ia dan teman-teman gurunya bisa mendapatkan penghasilan yang sesuai dengan pengorbanan mereka.
"Selama tiga tahun kami sudah mengabdi untuk anak-anak di sekolah ini tetapi kami yakin suatu saat nanti akan ada balasan yang diberikan Tuhan buat kami," ujar Delsry.
Delsry mengatakan, setiap hari untuk bisa ke sekolah tersebut harus menempuh perjalanan sepanjang empat kilometer dengan menggunakan ojek. "Ya uang yang kami dapat hanya bisa kami habiskan dalam kurun waktu satu sampai dua minggu, karena setiap naik ojek kami harus mengeluarkan uang dengan nominal Rp 15 ribu," ujarnya.
(Sumber: Republika.co.id)


0 komentar:
Posting Komentar