Pendekar Santai: Tawaran Rahasia (12)

Ilustrasi: Walung Gigil Novel Pendekar Santai (Gambar: Dreamina)

Berdebar-debar jantung Walung. Bukan karena takut, tetapi karena merasakan desiran indah yang sempat menjalar ke seluruh bagian tubuh. Padahal Arda hanyalah seorang anak kemarin sore. Namun, ketika dia dan pemuda itu berpegangan tangan di dalam air telaga, Walung merasakan sensasi yang membahagiakan perasaannya.

Namun, tidak demikian dengan Arda. Dia biasa-biasa saja karena dialah mengendalinya. Meski usianya masih belasan tahun, tatapi dia sudah piawai dalam mengendalikan situasi, termasuk mengendalikan dan mempermainkan perasaan wanita dewasa seperti Walung.

Walung menyempatkan diri memejamkan mata ketika menggenggam kedua tangan Arda, meresapi sensasi kebahagiaan yang menyergap hatinya. Baru kali ini dia merasakan bahagia seperti itu, hal yang tidak pernah dia dapatkan dari kekasihnya, Baden Ronto.

“Kakak Walung, apa yang ingin kau tanyakan kepadaku?” tanya Arda, membuyarkan keterlenaan Walung yang seperti sedang melayang-layang mengudara padahal raganya ada di dalam air bersama Arda.

Agak terkejut Walung mendengar pertanyaan Arda.

“Jawab dengan jujur, Arda. Apakah kau dedemit?” Pertanyaan pertama Walung akhirnya terlontar.

“Aku manusia murni,” jawab Arda mantap, tidak ada nada bercanda.

Namun, jawaban itu justru memberi Walung rasa kecewa. Itu artinya dia tidak bisa memiliki kekasih dua orang.

“Kenapa?” tanya Arda sambil sedikit menghentakkan kedua tangan Walung di dalam air.

“Tidak apa-apa,” jawab Walung seraya tersenyum getir. “Pertanyaan kedua. Kau tidur di mana?”

“Di gunung.”

“Sesuai dugaanku,” batin Walung. “Lalu, sejak kapan kau tiggal di gunung?”

“Sejak tiga hari yang lalu.”

“Kau dari mana?”

“Dari negeri yang jauh.”

“Untuk naik ke gunung, kau lewat mana?”

“Lewat kaki gunung lalu naik ke gunung.”

“Apakah kau tahu tentang dedemit Gunung Pekuk ini?” tanya Walung terus memburu seperti kuis yang dibatasi durasi waktu yang pendek.

“Tidak.”

“Apakah kau tahu tentang suara ledakan di atas gunung tiga hari yang lalu?”

“Iya.”

“Suara apa itu?”

“Suara ledakan.”

“Maksudku, suara ledakan apa?”

“Tidak boleh aku beri tahu.”

“Bukankah kau berjanji akan jujur kepadaku?”

“Tidak mau memberi tahu itu bukan berdusta.”

“Baik, baik. Lalu apa tujuanmu datang ke gunung ini?”

“Menemukan sesuatu.”

“Apa?”

“Nanti kau akan tahu.”

“Apakah sesuatu itu sudah kau temukan?”

“Sudah.”

“Apakah kau orang sakti?”

“Iya.”

Mendadak Walung terdiam oleh jawaban satu kata itu. Tanpa sengaja genggaman kedua tangannya pada tangan Arda lepas.

“Jika tangan kita lepas, berarti aku tidak harus jujur lagi,” kata Arda menyimpulkan.

“Ya, aku sepertinya sudah selesai,” kata Walung dengan ekspresi wajah yang sepertinya menjadi murung. Lalu katanya lagi, “Selama ini aku mengurung pikiranku dengan bayangan dedemit, sehingga aku memaksamu harus menjadi dedemit, Arda.”

“Santai saja, Kakak Walung,” kata Arda seraya tesenyum menawan, memberi siraman kesejukan di perasaan Walung.

“Tenyata kau orang sakti, Arda. Pantas saja,” kata Walung. Dia kemudian tersenyum pula.

“Ayo kita naik jika Kakak Walung sudah selesai dan mendapat apa yang diinginkan. Apakah Kakak Walung ingin bukti bahwa aku orang sakti?”

“Tapi, apakah berbahaya?” tanya Walung ragu.

“Tidak. Aman.”

“Jika demikian, tunjukkan kepadaku,” kata Walung dengan nada mulai bersemangat.

“Hahaha!” tawa Arda Handara.

Pemuda itu lalu meraih satu tangan Walung. Sentuhan itu kembali memberi desiran indah pada hati Walung.

“Aaaklelep!” jerit Walung tiba-tiba, tapi cepat menutup mulutnya ketika ia meluncur deras menerobos air permukaan telaga.

Di luar nalar. Arda bisa melesat seperti seekor ikan berenang di dalam air. Sementara itu, tangannya yang memegang tangan Walung membuat si gadis tertarik dan ikut meluncur secepat ikan kabur dari pemangsa.

Walung kelabakan dalam bernapas. Sesekali dia ikut menyelam dalam waktu yang agak lama.

Dan aksi unjuk kesaktian itu diakhiri oleh Arda dengan melepas tubuh Walung mengudara, keluar dari air sehingga terbang seperti seekor ikan terbang lalu berujung meluncur masuk ke air lagi. Kali ini dia sudah tidak dipegang oleh Arda.

“Aaakk…!” jerit Walung panjang saat terbang mengudara seorang diri.

“Hahahak!” tawa Arda melihat Walung menjadi bulan-bulanan dari kejahilannya.

Singkat cerita. Kini keduanya bersembunyi berseberangan di sebongkah batu.

Ada sebongkah batu besar di pinggir telaga dengan ketinggian sekitar sepinggang. Arda berada di balilk sisi kanan dan Walung berada di balik sisi kiri batu. Jika mereka berjongkok, mereka hanya akan saling melihat wajah. Dengan posisi itu, mereka masih bisa bebincang dan saling tatap wajah.

Arda Handara membuka semua pakaiannya yang basah dan menjemurnya di atas batu.

Hal yang sama dilakukan oleh Walung. Ia membuka semua pakaiannya dalam posisi duduk dan meletakkannya di atas batu bersama pakaian Arda.

Karena badan Walung lebih tinggi dari Arda, jadi Arda masih bisa melihat bahu putih si gadis dan sedikit dada atasnya yang sesekali muncul.

Untuk Walung, dia bisa langsung memakai pakaian ganti yang dia bawa dari rumah. Di saat Arda masih bugil menunggu pakaian kering, Walung sudah tampil memesona dengan pakaian warna putih bersih dan kain bawah warna hijau-putih.

“Eh! Kau bugil, Arda?” tanya Walung saat ia berdiri untuk merapikan pakaiannya. Saat itu dia melirik kepada Arda yang duduk berjongkok di balik batu. Namun, Walung tidak melihat semua kebugilan Arda.

“Kau jangan berdiri seperti itu,” kata Arda. “Atau kau memang berniat melihatku bugil? Biar kecil seperti ini, burungku tergolong perkasa.”

“Eh! Kau bicara apa, Arda? Tidak boleh seperti itu kepada wanita dewasa sepertiku!” hardik Walung, tapi dia lalu turun berjongkok sambil tersenyum dan tetap melirik Arda.

“Hahaha!” tawa Arda.

“Jangan-jangan ragamu saja yang kecil, tetapi otakmu sudah lebih dewasa dari aku,” tukas Walung.

“Yang jelas aku lebih berpengalaman daripada Kakak Walung. Hahaha!”

Terbeliak Walung mendengarnya. Namun, ia segera menyimpulkan bahwa Arda bergurau.

“Sudah, sudah, sudah. Jangan bahas perkara dewasa seperti itu. Aku yang malu,” sergah Walung.

“Hahaha!” Arda kembali tertawa.

“Sekarang giliranmu, Arda. Tadi kau mengatakan akan bicara serius untuk perkara penting,” ujar Walung.

“Baik. Sebelum aku menawarkan sesuatu yang sangat penting bagiku, aku ingin bertanya kepadamu, Kakak Walung. Apakah kau bisa menyimpan rahasia rapat-rapat?”

“Tentu saja,” jawab Walung tanpa ragu.

“Meski petaruhannya dengan nyawa?” tanya Arda lagi.

Kali ini Walung tidak langsung menjawab karena menyebut perkara nyawa.

“Apakah Kakak Walung berani mengorbankan nyawa demi menjaga rahasia itu tetap tidak diketahui oleh orang lain yang mengancam Kak Walung?” tandas Arda.

“Kau serius, Arda?” tanya balik Walung.

“Sangat serius. Aku bertanya dalam kondisi bugil, bagaimana aku tidak serius,” jawab Arda.

“Aku tidak bisa menjawab jika menyangkut urusan nyawa. Aku masih mau hidup panjang, Arda,” kata Walung.

“Berarti Kak Walung ragu dan tidak bisa dipercaya untuk setia. Maka Kak Walung tidak pernah akan tahu penyebab suara ledakan itu dan apa tujuanku ke gunung ini,” kata Arda.

“Iya, aku akan setia, Arda. Meski aku mati karena mempertahankan rahasia itu,” kata Walung cepat, meralat sikapnya.

“Meski nanti kekasih Kak Walung memberikan asmara yang terindah?” tanya Arda lagi.

“Iya. Meski Kakang Baden Ronto mengajak bercumbu, aku tidak akan membocorkan rahasia,” tegas Walung. Dia tanpa sadar telah mengungkap nama kekasihnya kepada Arda.

“Baik. Jika demikian, aku kunci jawaban Kak Walung. Setuju?” tanya Arda lagi seperti pemandu acara kuis berhadiah miliaran kepeng.

“Iya,” jawab Walung mantap.

“Sebenarnya ancaman mengorbankan nyawa demi menjaga rahasia hanyalah mewaspadai jika tercipta kondisi yang paling buruk. Sangat mungkin kondisi itu tidak akan pernah terjadi. Jadi Kak Walung tidak perlu khawatir.”

Arda dapat melihat dengan jelas rona kelegaan pada wajah cantik Walung setelah mendengar penjelasannya.

“Aku ingin menawarkan Kak Walung untuk aku culik beberapa hari,” ujar Arda, menyampaikan tawarannya.

Terkesiap wajah Walung mendengar penawaran itu.

“Diculik? Itu jelas adalah perkara buruk. Hal buruk apa yang Arda akan lakukan kepadaku jika aku diculik. Tadi dia mengatakan akan menculikku jika dia tergoda. Itu berarti dia mungkin akan memperkosaku,” kata Walung di dalam hati, langsung menduga negatif.

“Bagaimana Kakak Walung?” tanya Arda lagi karena Walung terdiam berpikir.

“Jika kau menculilkku, apakah aku akan hilang dan tidak pulang-pulang?” tanya Walung.

“Benar, tapi tadi aku katakan untuk beberapa hari.”

“Lalu selama aku kau culik, apa yang akan kau lakukan kepadaku?” tanya Walung.

“Tidak akan aku beri tahu jika Kakak Walung tidak mau diculik. Cukup Kakak Walung menjaga rahasia tentang penawaranku ini. Ini masalah kepercayaan terhadap seorang teman atau sahabat,” kata Arda benar-benar mode serius.

“Beri aku waktu untuk merenung dan berpikir,” kata Walung.

“Baik.”

Maka Arda pun memberi waktu kepada Walung untuk berpikir dan merenungi tawaran dan kata-kata pemuda yang kini ia hormati karena memiliki kesaktian tinggi. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar