Berdebar-debar jantung Walung. Bukan karena takut, tetapi karena merasakan desiran indah yang sempat menjalar ke seluruh bagian tubuh. Padahal Arda hanyalah seorang anak kemarin sore. Namun, ketika dia dan pemuda itu berpegangan tangan di dalam air telaga, Walung merasakan sensasi yang membahagiakan perasaannya.
Namun, tidak demikian dengan Arda. Dia
biasa-biasa saja karena dialah mengendalinya. Meski usianya masih belasan
tahun, tatapi dia sudah piawai dalam mengendalikan situasi, termasuk
mengendalikan dan mempermainkan perasaan wanita dewasa seperti Walung.
Walung menyempatkan diri memejamkan mata ketika
menggenggam kedua tangan Arda, meresapi sensasi kebahagiaan yang menyergap
hatinya. Baru kali ini dia merasakan bahagia seperti itu, hal yang tidak pernah
dia dapatkan dari kekasihnya, Baden Ronto.
“Kakak Walung, apa yang ingin kau tanyakan
kepadaku?” tanya Arda, membuyarkan keterlenaan Walung yang seperti sedang
melayang-layang mengudara padahal raganya ada di dalam air bersama Arda.
Agak terkejut Walung mendengar pertanyaan Arda.
“Jawab dengan jujur, Arda. Apakah kau dedemit?”
Pertanyaan pertama Walung akhirnya terlontar.
“Aku manusia murni,” jawab Arda mantap, tidak
ada nada bercanda.
Namun, jawaban itu justru memberi Walung rasa
kecewa. Itu artinya dia tidak bisa memiliki kekasih dua orang.
“Kenapa?” tanya Arda sambil sedikit
menghentakkan kedua tangan Walung di dalam air.
“Tidak apa-apa,” jawab Walung seraya tersenyum
getir. “Pertanyaan kedua. Kau tidur di mana?”
“Di gunung.”
“Sesuai dugaanku,” batin Walung. “Lalu, sejak
kapan kau tiggal di gunung?”
“Sejak tiga hari yang lalu.”
“Kau dari mana?”
“Dari negeri yang jauh.”
“Untuk naik ke gunung, kau lewat mana?”
“Lewat kaki gunung lalu naik ke gunung.”
“Apakah kau tahu tentang dedemit Gunung Pekuk
ini?” tanya Walung terus memburu seperti kuis yang dibatasi durasi waktu yang
pendek.
“Tidak.”
“Apakah kau tahu tentang suara ledakan di atas
gunung tiga hari yang lalu?”
“Iya.”
“Suara apa itu?”
“Suara ledakan.”
“Maksudku, suara ledakan apa?”
“Tidak boleh aku beri tahu.”
“Bukankah kau berjanji akan jujur kepadaku?”
“Tidak mau memberi tahu itu bukan berdusta.”
“Baik, baik. Lalu apa tujuanmu datang ke gunung
ini?”
“Menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Nanti kau akan tahu.”
“Apakah sesuatu itu sudah kau temukan?”
“Sudah.”
“Apakah kau orang sakti?”
“Iya.”
Mendadak Walung terdiam oleh jawaban satu kata
itu. Tanpa sengaja genggaman kedua tangannya pada tangan Arda lepas.
“Jika tangan kita lepas, berarti aku tidak
harus jujur lagi,” kata Arda menyimpulkan.
“Ya, aku sepertinya sudah selesai,” kata Walung
dengan ekspresi wajah yang sepertinya menjadi murung. Lalu katanya lagi,
“Selama ini aku mengurung pikiranku dengan bayangan dedemit, sehingga aku
memaksamu harus menjadi dedemit, Arda.”
“Santai saja, Kakak Walung,” kata Arda seraya
tesenyum menawan, memberi siraman kesejukan di perasaan Walung.
“Tenyata kau orang sakti, Arda. Pantas saja,”
kata Walung. Dia kemudian tersenyum pula.
“Ayo kita naik jika Kakak Walung sudah selesai
dan mendapat apa yang diinginkan. Apakah Kakak Walung ingin bukti bahwa aku
orang sakti?”
“Tapi, apakah berbahaya?” tanya Walung ragu.
“Tidak. Aman.”
“Jika demikian, tunjukkan kepadaku,” kata
Walung dengan nada mulai bersemangat.
“Hahaha!” tawa Arda Handara.
Pemuda itu lalu meraih satu tangan Walung.
Sentuhan itu kembali memberi desiran indah pada hati Walung.
“Aaaklelep!” jerit Walung tiba-tiba, tapi cepat
menutup mulutnya ketika ia meluncur deras menerobos air permukaan telaga.
Di luar nalar. Arda bisa melesat seperti seekor
ikan berenang di dalam air. Sementara itu, tangannya yang memegang tangan
Walung membuat si gadis tertarik dan ikut meluncur secepat ikan kabur dari
pemangsa.
Walung kelabakan dalam bernapas. Sesekali dia
ikut menyelam dalam waktu yang agak lama.
Dan aksi unjuk kesaktian itu diakhiri oleh Arda
dengan melepas tubuh Walung mengudara, keluar dari air sehingga terbang seperti
seekor ikan terbang lalu berujung meluncur masuk ke air lagi. Kali ini dia
sudah tidak dipegang oleh Arda.
“Aaakk…!” jerit Walung panjang saat terbang
mengudara seorang diri.
“Hahahak!” tawa Arda melihat Walung menjadi
bulan-bulanan dari kejahilannya.
Singkat cerita. Kini keduanya bersembunyi
berseberangan di sebongkah batu.
Ada sebongkah batu besar di pinggir telaga
dengan ketinggian sekitar sepinggang. Arda berada di balilk sisi kanan dan
Walung berada di balik sisi kiri batu. Jika mereka berjongkok, mereka hanya
akan saling melihat wajah. Dengan posisi itu, mereka masih bisa bebincang dan
saling tatap wajah.
Arda Handara membuka semua pakaiannya yang
basah dan menjemurnya di atas batu.
Hal yang sama dilakukan oleh Walung. Ia membuka
semua pakaiannya dalam posisi duduk dan meletakkannya di atas batu bersama
pakaian Arda.
Karena badan Walung lebih tinggi dari Arda,
jadi Arda masih bisa melihat bahu putih si gadis dan sedikit dada atasnya yang
sesekali muncul.
Untuk Walung, dia bisa langsung memakai pakaian
ganti yang dia bawa dari rumah. Di saat Arda masih bugil menunggu pakaian
kering, Walung sudah tampil memesona dengan pakaian warna putih bersih dan kain
bawah warna hijau-putih.
“Eh! Kau bugil, Arda?” tanya Walung saat ia
berdiri untuk merapikan pakaiannya. Saat itu dia melirik kepada Arda yang duduk
berjongkok di balik batu. Namun, Walung tidak melihat semua kebugilan Arda.
“Kau jangan berdiri seperti itu,” kata Arda.
“Atau kau memang berniat melihatku bugil? Biar kecil seperti ini, burungku
tergolong perkasa.”
“Eh! Kau bicara apa, Arda? Tidak boleh seperti
itu kepada wanita dewasa sepertiku!” hardik Walung, tapi dia lalu turun
berjongkok sambil tersenyum dan tetap melirik Arda.
“Hahaha!” tawa Arda.
“Jangan-jangan ragamu saja yang kecil, tetapi
otakmu sudah lebih dewasa dari aku,” tukas Walung.
“Yang jelas aku lebih berpengalaman daripada
Kakak Walung. Hahaha!”
Terbeliak Walung mendengarnya. Namun, ia segera
menyimpulkan bahwa Arda bergurau.
“Sudah, sudah, sudah. Jangan bahas perkara
dewasa seperti itu. Aku yang malu,” sergah Walung.
“Hahaha!” Arda kembali tertawa.
“Sekarang giliranmu, Arda. Tadi kau mengatakan
akan bicara serius untuk perkara penting,” ujar Walung.
“Baik. Sebelum aku menawarkan sesuatu yang
sangat penting bagiku, aku ingin bertanya kepadamu, Kakak Walung. Apakah kau bisa
menyimpan rahasia rapat-rapat?”
“Tentu saja,” jawab Walung tanpa ragu.
“Meski petaruhannya dengan nyawa?” tanya Arda
lagi.
Kali ini Walung tidak langsung menjawab karena
menyebut perkara nyawa.
“Apakah Kakak Walung berani mengorbankan nyawa
demi menjaga rahasia itu tetap tidak diketahui oleh orang lain yang mengancam
Kak Walung?” tandas Arda.
“Kau serius, Arda?” tanya balik Walung.
“Sangat serius. Aku bertanya dalam kondisi
bugil, bagaimana aku tidak serius,” jawab Arda.
“Aku tidak bisa menjawab jika menyangkut urusan
nyawa. Aku masih mau hidup panjang, Arda,” kata Walung.
“Berarti Kak Walung ragu dan tidak bisa dipercaya
untuk setia. Maka Kak Walung tidak pernah akan tahu penyebab suara ledakan itu
dan apa tujuanku ke gunung ini,” kata Arda.
“Iya, aku akan setia, Arda. Meski aku mati
karena mempertahankan rahasia itu,” kata Walung cepat, meralat sikapnya.
“Meski nanti kekasih Kak Walung memberikan asmara
yang terindah?” tanya Arda lagi.
“Iya. Meski Kakang Baden Ronto mengajak
bercumbu, aku tidak akan membocorkan rahasia,” tegas Walung. Dia tanpa sadar
telah mengungkap nama kekasihnya kepada Arda.
“Baik. Jika demikian, aku kunci jawaban Kak
Walung. Setuju?” tanya Arda lagi seperti pemandu acara kuis berhadiah miliaran kepeng.
“Iya,” jawab Walung mantap.
“Sebenarnya ancaman mengorbankan nyawa demi
menjaga rahasia hanyalah mewaspadai jika tercipta kondisi yang paling buruk. Sangat
mungkin kondisi itu tidak akan pernah terjadi. Jadi Kak Walung tidak perlu
khawatir.”
Arda dapat melihat dengan jelas rona kelegaan
pada wajah cantik Walung setelah mendengar penjelasannya.
“Aku ingin menawarkan Kak Walung untuk aku
culik beberapa hari,” ujar Arda, menyampaikan tawarannya.
Terkesiap wajah Walung mendengar penawaran itu.
“Diculik? Itu jelas adalah perkara buruk. Hal buruk
apa yang Arda akan lakukan kepadaku jika aku diculik. Tadi dia mengatakan akan
menculikku jika dia tergoda. Itu berarti dia mungkin akan memperkosaku,” kata Walung
di dalam hati, langsung menduga negatif.
“Bagaimana Kakak Walung?” tanya Arda lagi
karena Walung terdiam berpikir.
“Jika kau menculilkku, apakah aku akan hilang
dan tidak pulang-pulang?” tanya Walung.
“Benar, tapi tadi aku katakan untuk beberapa
hari.”
“Lalu selama aku kau culik, apa yang akan kau lakukan
kepadaku?” tanya Walung.
“Tidak akan aku beri tahu jika Kakak Walung
tidak mau diculik. Cukup Kakak Walung menjaga rahasia tentang penawaranku ini.
Ini masalah kepercayaan terhadap seorang teman atau sahabat,” kata Arda
benar-benar mode serius.
“Beri aku waktu untuk merenung dan berpikir,”
kata Walung.
“Baik.”
Maka Arda pun memberi waktu kepada Walung untuk
berpikir dan merenungi tawaran dan kata-kata pemuda yang kini ia hormati karena
memiliki kesaktian tinggi. (RH)

.webp)
0 komentar:
Posting Komentar