Pendekar Santai: Istana Raja Ular (9)

(Gambar: Grok)

“Kau kecil-kecil sudah suka melihat perkara dewasa!” Walung memarahi Arda seperti sedang mengomeli adiknya.

“Perkara dewasa apa?” tanya Arda berlagak lugu.

“Aku benci melihat kelakukan Ayang yang sengaja menyuguhkan susunya kepada sembarang lelaki. Padahal lelaki di depannya masih tidak mengerti perkara dewasa seperti itu,” kata Walung. Dia benar-benar mengomel sambil berjalan berdampingan dengan Arda.

Walung tidak mengindahkan pandangan warga yang mereka bersua di jalan. Sedangkan Arda selaku muka baru di desa itu hanya tersenyum ramah dan mengangguk kepada setiap orang yang berpapasan dengan mereka.

“Kau tahu, Arda?” tanya Walung.

“Tidak.”

“Waktu-waktu seperti ini, Kedai Mak Kuwat sepi. Tetapi jika sore hingga malam, penuh oleh lelaki. Pelayannya bukan hanya Ayang, tetapi ada tiga dan semuanya genit-genit. Aturannya, satu colekan dua kepeng. Satu pegang lima kepeng. Satu cium pipi sepuluh kepeng, dan satu cium bibir tiga puluh kepeng,” cerita Walung berapi-api dengan mimik yang menunjukkan ketidaksukaan.

“Maksud Kak Walung yang satu pegang lima kepeng, pegang apanya?” tanya Arda bernada serius dengan mimik antusias.

“Eh, sepertinya kau bersemangat, Arda,” tukas Walung sambil berhenti dan menatap serius wajah tampan Arda. Dia curiga.

“Aku hanya mengimbangi Kakak Walung yang bercerita sangat antusias,” kilah Arda tidak kehabisan alasan.

“Kau jangan sering-sering mampir ke Kedai Mak Kuwat. Aku lihat kau banyak kepeng. Awas jika kau aku memergoki mengopi lagi di kedai itu, aku akan menilaimu bocah mata gentong!” ancam Walung.

Tercekat Arda mendengar ancaman Walung, seolah-olah dia sudah punya ikatan dengan gadis itu.

“Satu pegang itu maksudnya satu pegang bokong sapi. Kalau satu pegang bukit, tiga puluh kepeng,” jawab Walung.

“Besok Kak Walung mau memancing lagi?” tanya Arda mengalihkan topik.

“Memang kenapa? Kau mau mandi lagi di telaga?” tanya balik Walung.

“Sepertinya besok pagi agak siang aku akan ada di telaga,” ujar Arda.

“Arda, sebenarnya kau tinggal di mana? Maksudku, kau tidur di mana saat malam?” tanya Walung penasaran, sangat ingin tahu meski dia sudah punya dugaan kuat.

“Walung!”

Belum lagi Arda menjawab, tiba-tiba ada suara wanita memanggil dari sisi lain.

Walung menengok. Ternyata Sumila, putri Kepala Desa.

Sumila datang dengan setengah berlari dan tersenyum, menunjukkan dia senang bertemu dengan Walung.

“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau mau mengajakku besok memancing di Telaga Bolong?” tanya gadis berkebaya warna kuning itu.

Terdiam Walung. Dia berpikir, jadi tidak langsung menjawab. Otaknya menimbang.

“Besok di telaga ada Arda. Sumila bisa mengganggu kebersamaanku dengan Arda. Bisa pula Sumila nanti jatuh hati kepada Arda, atau Arda yang jatuh hati. Arda itu mata gentong. Jika aku ajak sore hari, aku yang malas dua kali bolak balik ke tempat yang sama,” pikir Walung.

“Walung!” panggil Sumila karena melihat teman sebayanya itu diam berpikir. “Kau keberatan?”

“Untuk besok iya, karena aku sedang kesal,” jawab Walung akhirnya.

“Kesal kepada siapa?” tanya Sumila dengan raut wajah yang kecewa.

“Dengan Ayang yang suka pamer susu. Dan dengan Arda….”

Walung jadi terdiam mendadak saat ia tersadar bahwa ternyata Arda sudah tidak bersamanya. Dia jadi menengok dan bahkan berbalik badan untuk mencari Arda dengan pandangannya.

“Ada apa? Kau mencari siapa?” tanya Sumila heran.

“Aku mencari Arda. Tadi dia bersamaku saat kau datang,” jawab Walung sambil terus memandang ke sana dan ke sini.

“Kau sendirian saat aku memanggilmu,” kata Sumila.

“Tidak. Aku bersama Arda. Kami baru meninggalkan Kedai Mak Kuwat!” tandas Walung agak keras sambil menatap serius kepada Sumila. Lalu dia membatin, “Rasanya tidak mungkin jika Sumila tidak melihat Arda.”

“Tidak, Walung. Jangan mengada-ada. Aku jelas-jelas melihat kau berjalan sendirian sambil menggerutu tidak jelas,” tandas Sumila pula.

Walung lebih mendekati Sumila. Pandangannya sangat serius.

“Sungguh? Kau tidak melihat anak lelaki tampan berbaju merah, membawa tongkat, berjalan bersamaku saat kau memanggilku?” tanya Walung serius.

Sumila jadi heran kepada Walung. Karena itu dia menjawab dengan gelengan kepala.

Merindinglah bulu kuduk dan bulu tangan Walung atas jawaban Sumila.

“Aneh,” ucapnya lirih kepada dirinya sendiri, tetapi didengar oleh Sumila.

Walung jadi terdiam berpikir lagi. Jelas ada keanehan yang terjadi. Selain merinding memikirkan Arda, mulai muncul rasa taku di hati dan pikiran Walung.

“Sumila, nanti aku akan mengajakmu memancing di telaga, tapi tidak besok. Aku harus buru-buru pulang,” ujar Walung yang membawa bungkusan daun jati.

“Iya.” Sumila hanya mengangguk dengan pandangan heran melihat sikap Walung.

Walung lalu berlari kecil menuju pulang.

“Apa yang terjadi dengan Walung?” tanya Sumila kepada dirinya sendiri sambil memandangi kepergian Walung.

Sementara itu, Arda Handara kembali naik ke puncak. Dia pergi ke gerbang Istana Raja Ular. Sementara waktu sudah mulai senja.

Saat Arda Handara tiba, gerbang Istana Raja Ular tertutup oleh lapisan dinding batu yang memiliki dua lubang besar yang mewakili dua lubang mata ular.

Wuss!

Arda menghentakkan kedua tangannya dari posisi dan jarak tertentu. Dua gelombang angin tenaga dalam melesat masuk di kedua lubang di dinding.

Bregrk!

Setelah sepuluh detik, dinding batu itu bergerak bergeser membelah diri ke tiga arah, yakni kanan, kiri dan ke bawah. Ada debu yang masih longsor, tetapi volumenya tidak sebanyak sebelumnya.

Selesai tebing terbuka, terpampanglah gerbang Istana Raja Ular yang berwarna jingga dalam kondisi tertutup rapat. Warna dan kondisinya masih seperti yang pertama.

Arda Handara berjalan masuk untuk sampai ke gerbang jingga. Ia langsung mendekati lubang batu di depan dasar gerbang, lubang tempat Arda sebelumnya menarik rantai bersinar kuning emas.

Sreeets!

Arda menghentakkan tangan kanannya dengan kelima jari lurus dan saling merapat ke arah lubang. Maka ada rantai bersinar emas melesat lurus masuk ke dalam lubang.

Jregereg!

Maka gerbang jingga yang memiliki relief tiga ular besar itu bergerak membuka, membelah ke kanan dan ke kiri.

Cahaya terang warna jingga atau kuning seketika menyeruak membias dari dalam ke luar, menerpa wajah Arda menjadi lebih tampan visualnya.

Sreeets!

Arda lalu mengarahkan tangan kanannya ke arah lubang tadi. Dari dalam lubang kemudian melesat keluar rantai sinar tadi dan melilit seperti ular di tangan Arda. Lalu lenyap tenggelam ke dalam tangan.

Dengan diambilnya kembali rantai kunci tersebut, gerbang logam jingga yang baru mau terbuka secara penuh, jadi bergerak berbalik arah lagi, hendak menutup.

Arda pun berjalan masuk sebelum pintu gerbang besar tersebut menutup lagi.

Pengetahuan tentang cara buka dan tutup gerbang batu dan gerbang jingga tersebut diketahui oleh Arda setelah melalui beratus kali percobaan, tidak otomatis tahu.

Setelah pintu gerbang jingga menutup, ternyata gerbang batu juga menutup dengan sendirinya.

Arda Handara berjalan di lorong yang seperti tenggorokan ular raksasa. Dinding lorong itu adalah bebatuan yang mengeluarkan cahaya, terang seperti di dalam lapisan batu ada energi cahaya. Terlihat indah. Dalam beberapa kali jarak tertentu, Arda menemukan keberadaan beberapa pasang patung ular dari batu pualam warna hijau dengan posisi saling berseberangan di kanan dan kiri lorong. Lorong itu terlalu lebar bagi Arda seorang diri.

Arda terus masuk seperti masuk ke istana milik sendiri karena dia sudah pernah masuk.

Setelah lorong yang agak panjang, masuklah Arda ke sebuah ruangan raksasa yang megah dan indah, berwarna jingga bercampur kuning. Sangat indah, meski jika memandangi patung-patung ular raksasa yang tersusun rapi memberi rasa seram.

Patung-patung ular raksasa dengan berbagai macam pose bertebaran di mana-mana, tetapi dalam posisi penataan yang rapi dan tetap membuat ruangan raksasa itu lapang dan terkesan luas.

Ada patung-patung ular yang berdiri sendiri di lantai, ada yang menyatu dengan beberapa tiang pilar raksasa penyanggah langit-langit, ada yang menyatu di dinding-dinding, hingga ada yang menempel di langit-langit.

Berbagai macam ornamen hiasan, rak hingga kursi batu dan sebuah tahta di ujung dalam, bercorak patung dan ukiran ular.

Jika diperhatikan, patung-patung ular itu adalah ular-ular yang berbeda. Ada yang bertanduk dan ada yang gundul, ada yang berkaki dan ada tidak, ada bersirip dan ada yang tidak, bahkan ada yang bersayap dan memiliki mahkota di kepalanya.

Istana itu tidak perlu dian, obor, api atau cahaya matahari. Bahan dari bangunan di dalam gunung itu menerangi dengan sendirinya.

Namun, Istana Raja Ular itu kosong dari bahan-bahan kebutuhan pokok untuk hidup. Itu karena istana tersebut telah kosong selama ratusan tahun lamanya. Arda sudah memeriksa banyak ruangan yang tersembunyi selain ruangan raksasa tersebut. Belum semuanya. Tidak ada makanan atau bahan makanan. Hanya ada air yang mengalir di sungai dalam batu di beberapa kamar.

Untuk ruangan singgasana raja itu saja mungkin bisa menampung puluhan ribu orang.

Itulah Istana Raja Ular yang khusus diperuntukkan kepada Arda Handara karena dialah satu-satunya orang yang diberi tahu keberadaannya dan berhasil menemukannya dan menempatinya.

Arda Handara tidur seorang diri di Istana Raja Ular tersebut. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar