Pendekar Santai: Berenang Bersama (11)

Ilustrasi: Arda Handara dan Walung Gigil (Gambar: Grok)

Senang, tapi juga berdebar-debar. Itu yang Walung rasakan saat ini di hati dan pikirannya. Ia merasa poliandri itu tidak apa-apa asalkan kedua lelakinya beda jenis alias salah satunya  bukan manusia.

Ketika matahari sudah mulai naik, Walung tiba di spot tempat favoritnya memancing. Bekasnya kemarin masih ada. Sedangkan kailnya yang jatuh entah sudah tersangkut di mana.

Yang pertama Walung lakukan jelas adalah mencari-cari warna merah, yaitu warna baju Arda Handara. Namun, sepertinya pemuda tanggung itu belum datang.

“Apakah dia berdusta?” tanya Walung kepada dirinya sendiri.

Walung yang sudah memiliki umpan akhirnya memilih menunggu dengan duduk memancing di atas batu.

“Eh, lebih baik aku mandi dulu, selagi Arda belum datang. Jadi keika Arda datang, aku sudah segar dan tidak bau liur. Jika nanti-nanti, nanti malah tidak sempat mandi,” pikir Walung sambil senyum-senyum sendiri.

Dia merapikan dulu kailnya agar tidak dibawa kabur oleh ikan.

Jburr!

Tidak berapa lama, Walung melompat menceburkan diri ke air telaga. Dia mandi dengan berpakaian lengkap. Dia berenang ke sana dan ke sini, menikmati air telaga yang dingin tapi menyegarkan.

Di kala berenang itu, Walung menyelinapkan jari jemarinya ke balik pakaian untuk menggosok seluruh bagian tubuhnya yang terjangkau.

“Akkk!” jerit Walung kencang dan memberontak di air saat merasakan kedua kakinya ada yang menarik dari kedalaman .

Bahkan tubunya sempat tertarik hingga kepalanya ikut tenggelam.

Meski tarikan itu hanya sebentar, tetapi membuat Walung gelagapan sampai tenggorokannya kemasukan air.

Karena tarikan itu hanya sebentar, Walung mampu keluar ke permukaan dengan cepat pula.

“Uhhukr uhhukr!” Walung batuk-batuk dengan wajah yang pias karena panik dan ketakutan.

“Hahahak…!”

Walung mendadak mendengar suara tawa yang sudah sangat dikenalnya di telinga. Dengan gestur yang marah dia cepat menengok ke sumber suara yang tidak jauh di belakangnya.

Dilihatnya Arda Handara sedang tertawa terbahak-bahak. Dia mengambang dengan leher ada di atas permukaan air, satu tangannya menepuk-nepuk air.

“Arda dedemiiit!” teriak Walung begitu histeris, tetapi seiring itu ketakutannya juga jadi raib.

Dia memandang Arda dengan tatapan seperti orang yang mendendam begitu lama dan napasnya tersengal-sengal.

“Hahaha! Santai, Kakak. Santai, Kakak. Aku Arda, bukan yang lain!” seru Arda mencoba menenangkan gadis cantik itu.

“Bagaimana kalau aku mati?!” teriak Walung.

“Ya tidak akan mati. Karena aku tidak akan tega mencelakakan Kakak Walung. Bukankah masih gadis? Belum menikah? Terlalu malang kalau sampai ada gadis secantik Kakak Walung mati di kala belum menikah,” cerocos Arda.

Kata-kata pujian yang diselipkan oleh Arda dalam berargumen berhasil melunakkan emosi Walung, meski belum semua.

“Kau pasti sengaja ingin mengerjaiku. Iya?” tukas Walung sambil menunjuk wajah Arda. Nada suaranya sudah mulai turun setengah oktaf. “Tadi aku mencarimu, tetapi kau sengaja bersembunyi. Saat aku berenang, kau malah tahu-tahu muncul seperti dedemit telaga.”

“Hahaha! Santai, Kakak!” ucap Arda yang masih tertawa. “Lihatlah, aku masih manusia. Kakiku belum tumbuh sirip dan sisik. Jika kau tidak percaya, apakah perlu aku buka baju?”

Memang, saat itu Arda berenang mengenakan baju lengkap dengan celana. Tidak seperti kemarin yang tidak berbaju tapi bercelana.

“Benar juga. Arda masih manusia. Jika dia berniat buruk, pasti sudah dia lakukan sejak kemarin di sini. Tapi dedemit itu bisa malih rupa menjadi seperti manusia. Iya, iya, iya, Arda kan dedemit yang baik, tampan dan tidak pelit,” batin Walung di dalam hati. Emosinya semakin melunak.

“Jangan. Nanti kau terlihat seperti pemuda mesum!” tolak Walung.

“Nah seperti itu, Kakak Walung. Bukankah dunia terasa indah jika yang cantik tidak merengut seperti monyet,” kata Arda saat melihat wajah Walung sudah damai.

Perkataan Arda itu membuat Walung tersenyum. Selain memuji lagi, anak itu juga bawa-bawa nama monyet. Namun, ia cepat menghilangkan senyumnya dan menunjukkan wajah tegas.

“Maafkan aku jika membuat Kakak Walung sangat ketakutan,” ucap Arda akhirnya.

“Iya, aku maafkan. Lalu apa maksudmu mengajak bertemu lagi, hah?!”

“Tidak ada maksud macam-macam. Hanya mengajak untuk bersenang-senang. Aku di sini sendirian, tidak ada teman. Ada banyak yang bisa ditemani, tetapi semuanya binatang. Tidak bisa diajak tertawa bersama,” jawab Arda.

“Hihihik!” Untuk pertama kalinya Walung tertawa mendengar kata-kata Arda. Ia bisa membayangkan ketika Arda berkelakar dengan babi hutan, Arda tertawa terpingkal-pingkal tapi babinya hanya mendengus-dengus.

“Kakak Walung, mau berenang sampai ke tengah?” ajak Arda.

“Tidak mau. Nanti di tengah, kau menarikku masuk kekediamanmu di dasar telaga,” tolak Walung.

“Kakak masih curiga saja,” kata Arda. Pemuda tanggung itu lalu mendorong tubuhnya menjauhi Walung dan berenang lebih jauh ke tengah.

Saat itu, Walung teringat bahwa dia harus mengkonfirmasi kejadian di desa kemarin.

“Arda, tunggu!” panggil Walung.

Namun Arda terus berenang, seolah-olah tidak mendengar. Mau tidak mau, Walung segera mengejar agar bisa lebih dekat kepada Arda.

Arda kemudian mengubah gaya renangnya menjadi gaya punggung, dengan badan depan berposisi di atas seperti orang berbaring. Itu memberi kesempatan Walung segera merapat kepada Arda.

Saat mereka kembali bertemu, mereka sudah cukup jauh agak di tengah.

“Arda, ada yang ingin aku tanya serius,” ujar Walung.

“Apa?” tanya Arda seraya berhenti berenang.

Mereka berdua tegak mengambang di air.

“Kemarin sebelum kau pergi dariku, saat temanku yang bernama Sumila datang kepadaku, kenapa kau tidak terlihat olehnya?” ujar Walung.

“Karena aku sudah pergi,” jawab Arda.

“Tidak. Kau masih bersamaku saat Sumila datang,” bantah Walung.

“Apakah Kakak melihatku pergi?” tanya Arda.

“Tidak.”

“Itu jawabannya,” kata Arda sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya.

Terdiam Walung. Ia jadi memikirkannya, tetapi masih ada yang ganjil menurutnya.

“Kau belum yakin? Aku menggunakan sedikit tipuan agar teman Kakak tidak melihatku. Teman Kakak itu juga cantik, aku khawatir Kakak Walung cemburu jika teman Kakak itu jatuh cinta kepadaku.”

“Eh! Kau pikir aku kekasihmu sehingga aku akan cemburu?” sergah Walung.

“Hahaha!” tawa Arda.

“Iya, aku tahu. Mana mungkin gadis secantik Kakak Walung tidak memiliki kekasih. Itu artinya Kakak Walung tidak akan cemburu ketika aku disuguhi susu punya Nyi Ayang,” kata Arda.

Perkataan Arda itu membuat Walung terbeliak.

“Yang itu aku tidak cemburu, tetapi aku melindungimu dari pengaruh pergaulan buruk!” kilah Walung, tapi dengan nada yang tinggi.

“Hahaha!” tawa Arda mendengar pembelaan diri Walung. Lalu tanyanya, “Kak Walung, kekasihmu siapa?”

“Hemm!” Walung memberi gumaman dengan lirikan yang mampu menggoda hati pemuda belia seperti Arda.

“Eeeh, jangan melirik seperti itu, Kakak. Nanti aku tergoda bagaimana?” kata Arda.

“Hihihik! Jika kau tergoda, apa yang akan kau lakukan terhadapku?” tanya Walung yang didahului tawa terkesan genit.

“Mungkin menculik Kakak Walung,” jawab Arda.

Terkesiap Walung mendengar jawaban itu. Mendadak muncul sedikit rasa takut di hatinya, takut jika Arda berkata serius.

“Kau berkata serius atau bercanda, Arda?” tanya Walung.

“Serius,” jawab Arda.

Walung jadi kian berdebar-debar. Warna mukanya jadi berubah.

“Aku serius, Kakak Walung. Tapi itu jika aku tergoda. Tapi aku belum tergoda,” tandas Arda.

“Kau membuatku takut, Arda,” kata Walung dengan gestur lega.

“Aku bukan orang jahat, Kakak. Hanya terkadang aku jahil saja,” kata Arda. Nadanya serius dan tulus, ditambah senyum dan tatapan yang teduh.

Walung menangkap rona kebaikan yang tulus di wajah tampan Arda.

“Kakak Walung, aku ingin menawarkan sesuatu untuk perkara yang penting. Namun, aku ingin mendengar dulu permintaanmu kepadaku untuk perkara yang penting bagimu,” ujar Arda bernada serius, tidak ada kesan bergurau.

Walung tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Arda.

“Aku hanya ingin kau jujur kepadaku, Arda. Jawab semua pertanyaanku dengan jujur, setidaknya selama ketika masih berenang bersama,” ujar Walung.

“Baik, tetapi dengan syarat Kakak Walung harus menggenggam tanganku saat bertanya kepadaku, agar kejujuranku menunjukkan keseriusan,” kata Arda.

“Baik. Berikan tanganmu!” (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar