Senang, tapi juga berdebar-debar. Itu yang Walung rasakan saat ini di hati dan pikirannya. Ia merasa poliandri itu tidak apa-apa asalkan kedua lelakinya beda jenis alias salah satunya bukan manusia.
Ketika
matahari sudah mulai naik, Walung tiba di spot tempat favoritnya memancing.
Bekasnya kemarin masih ada. Sedangkan kailnya yang jatuh entah sudah tersangkut
di mana.
Yang
pertama Walung lakukan jelas adalah mencari-cari warna merah, yaitu warna baju
Arda Handara. Namun, sepertinya pemuda tanggung itu belum datang.
“Apakah dia
berdusta?” tanya Walung kepada dirinya sendiri.
Walung yang
sudah memiliki umpan akhirnya memilih menunggu dengan duduk memancing di atas
batu.
“Eh, lebih
baik aku mandi dulu, selagi Arda belum datang. Jadi keika Arda datang, aku
sudah segar dan tidak bau liur. Jika nanti-nanti, nanti malah tidak sempat
mandi,” pikir Walung sambil senyum-senyum sendiri.
Dia merapikan
dulu kailnya agar tidak dibawa kabur oleh ikan.
Jburr!
Tidak berapa
lama, Walung melompat menceburkan diri ke air telaga. Dia mandi dengan
berpakaian lengkap. Dia berenang ke sana dan ke sini, menikmati air telaga yang
dingin tapi menyegarkan.
Di kala
berenang itu, Walung menyelinapkan jari jemarinya ke balik pakaian untuk
menggosok seluruh bagian tubuhnya yang terjangkau.
“Akkk!” jerit
Walung kencang dan memberontak di air saat merasakan kedua kakinya ada yang
menarik dari kedalaman .
Bahkan
tubunya sempat tertarik hingga kepalanya ikut tenggelam.
Meski tarikan
itu hanya sebentar, tetapi membuat Walung gelagapan sampai tenggorokannya
kemasukan air.
Karena
tarikan itu hanya sebentar, Walung mampu keluar ke permukaan dengan cepat pula.
“Uhhukr uhhukr!”
Walung batuk-batuk dengan wajah yang pias karena panik dan ketakutan.
“Hahahak…!”
Walung
mendadak mendengar suara tawa yang sudah sangat dikenalnya di telinga. Dengan gestur
yang marah dia cepat menengok ke sumber suara yang tidak jauh di belakangnya.
Dilihatnya
Arda Handara sedang tertawa terbahak-bahak. Dia mengambang dengan leher ada di
atas permukaan air, satu tangannya menepuk-nepuk air.
“Arda
dedemiiit!” teriak Walung begitu histeris, tetapi seiring itu ketakutannya juga
jadi raib.
Dia
memandang Arda dengan tatapan seperti orang yang mendendam begitu lama dan napasnya
tersengal-sengal.
“Hahaha!
Santai, Kakak. Santai, Kakak. Aku Arda, bukan yang lain!” seru Arda mencoba
menenangkan gadis cantik itu.
“Bagaimana
kalau aku mati?!” teriak Walung.
“Ya tidak
akan mati. Karena aku tidak akan tega mencelakakan Kakak Walung. Bukankah masih
gadis? Belum menikah? Terlalu malang kalau sampai ada gadis secantik Kakak
Walung mati di kala belum menikah,” cerocos Arda.
Kata-kata
pujian yang diselipkan oleh Arda dalam berargumen berhasil melunakkan emosi
Walung, meski belum semua.
“Kau pasti
sengaja ingin mengerjaiku. Iya?” tukas Walung sambil menunjuk wajah Arda. Nada
suaranya sudah mulai turun setengah oktaf. “Tadi aku mencarimu, tetapi kau
sengaja bersembunyi. Saat aku berenang, kau malah tahu-tahu muncul seperti
dedemit telaga.”
“Hahaha!
Santai, Kakak!” ucap Arda yang masih tertawa. “Lihatlah, aku masih manusia.
Kakiku belum tumbuh sirip dan sisik. Jika kau tidak percaya, apakah perlu aku
buka baju?”
Memang,
saat itu Arda berenang mengenakan baju lengkap dengan celana. Tidak seperti kemarin
yang tidak berbaju tapi bercelana.
“Benar
juga. Arda masih manusia. Jika dia berniat buruk, pasti sudah dia lakukan sejak
kemarin di sini. Tapi dedemit itu bisa malih rupa menjadi seperti manusia. Iya,
iya, iya, Arda kan dedemit yang baik, tampan dan tidak pelit,” batin Walung di
dalam hati. Emosinya semakin melunak.
“Jangan.
Nanti kau terlihat seperti pemuda mesum!” tolak Walung.
“Nah
seperti itu, Kakak Walung. Bukankah dunia terasa indah jika yang cantik tidak
merengut seperti monyet,” kata Arda saat melihat wajah Walung sudah damai.
Perkataan
Arda itu membuat Walung tersenyum. Selain memuji lagi, anak itu juga bawa-bawa
nama monyet. Namun, ia cepat menghilangkan senyumnya dan menunjukkan wajah
tegas.
“Maafkan
aku jika membuat Kakak Walung sangat ketakutan,” ucap Arda akhirnya.
“Iya, aku
maafkan. Lalu apa maksudmu mengajak bertemu lagi, hah?!”
“Tidak ada
maksud macam-macam. Hanya mengajak untuk bersenang-senang. Aku di sini
sendirian, tidak ada teman. Ada banyak yang bisa ditemani, tetapi semuanya binatang.
Tidak bisa diajak tertawa bersama,” jawab Arda.
“Hihihik!” Untuk
pertama kalinya Walung tertawa mendengar kata-kata Arda. Ia bisa membayangkan
ketika Arda berkelakar dengan babi hutan, Arda tertawa terpingkal-pingkal tapi
babinya hanya mendengus-dengus.
“Kakak
Walung, mau berenang sampai ke tengah?” ajak Arda.
“Tidak mau.
Nanti di tengah, kau menarikku masuk kekediamanmu di dasar telaga,” tolak
Walung.
“Kakak
masih curiga saja,” kata Arda. Pemuda tanggung itu lalu mendorong tubuhnya
menjauhi Walung dan berenang lebih jauh ke tengah.
Saat itu,
Walung teringat bahwa dia harus mengkonfirmasi kejadian di desa kemarin.
“Arda,
tunggu!” panggil Walung.
Namun Arda
terus berenang, seolah-olah tidak mendengar. Mau tidak mau, Walung segera
mengejar agar bisa lebih dekat kepada Arda.
Arda
kemudian mengubah gaya renangnya menjadi gaya punggung, dengan badan depan
berposisi di atas seperti orang berbaring. Itu memberi kesempatan Walung segera
merapat kepada Arda.
Saat mereka
kembali bertemu, mereka sudah cukup jauh agak di tengah.
“Arda, ada
yang ingin aku tanya serius,” ujar Walung.
“Apa?”
tanya Arda seraya berhenti berenang.
Mereka
berdua tegak mengambang di air.
“Kemarin
sebelum kau pergi dariku, saat temanku yang bernama Sumila datang kepadaku,
kenapa kau tidak terlihat olehnya?” ujar Walung.
“Karena aku
sudah pergi,” jawab Arda.
“Tidak. Kau
masih bersamaku saat Sumila datang,” bantah Walung.
“Apakah Kakak
melihatku pergi?” tanya Arda.
“Tidak.”
“Itu
jawabannya,” kata Arda sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya.
Terdiam Walung.
Ia jadi memikirkannya, tetapi masih ada yang ganjil menurutnya.
“Kau belum
yakin? Aku menggunakan sedikit tipuan agar teman Kakak tidak melihatku. Teman
Kakak itu juga cantik, aku khawatir Kakak Walung cemburu jika teman Kakak itu
jatuh cinta kepadaku.”
“Eh! Kau
pikir aku kekasihmu sehingga aku akan cemburu?” sergah Walung.
“Hahaha!”
tawa Arda.
“Iya, aku
tahu. Mana mungkin gadis secantik Kakak Walung tidak memiliki kekasih. Itu
artinya Kakak Walung tidak akan cemburu ketika aku disuguhi susu punya Nyi
Ayang,” kata Arda.
Perkataan Arda
itu membuat Walung terbeliak.
“Yang itu
aku tidak cemburu, tetapi aku melindungimu dari pengaruh pergaulan buruk!”
kilah Walung, tapi dengan nada yang tinggi.
“Hahaha!”
tawa Arda mendengar pembelaan diri Walung. Lalu tanyanya, “Kak Walung, kekasihmu
siapa?”
“Hemm!” Walung
memberi gumaman dengan lirikan yang mampu menggoda hati pemuda belia seperti Arda.
“Eeeh,
jangan melirik seperti itu, Kakak. Nanti aku tergoda bagaimana?” kata Arda.
“Hihihik!
Jika kau tergoda, apa yang akan kau lakukan terhadapku?” tanya Walung yang
didahului tawa terkesan genit.
“Mungkin
menculik Kakak Walung,” jawab Arda.
Terkesiap
Walung mendengar jawaban itu. Mendadak muncul sedikit rasa takut di hatinya,
takut jika Arda berkata serius.
“Kau berkata
serius atau bercanda, Arda?” tanya Walung.
“Serius,”
jawab Arda.
Walung jadi
kian berdebar-debar. Warna mukanya jadi berubah.
“Aku
serius, Kakak Walung. Tapi itu jika aku tergoda. Tapi aku belum tergoda,”
tandas Arda.
“Kau
membuatku takut, Arda,” kata Walung dengan gestur lega.
“Aku bukan
orang jahat, Kakak. Hanya terkadang aku jahil saja,” kata Arda. Nadanya serius
dan tulus, ditambah senyum dan tatapan yang teduh.
Walung menangkap
rona kebaikan yang tulus di wajah tampan Arda.
“Kakak
Walung, aku ingin menawarkan sesuatu untuk perkara yang penting. Namun, aku ingin
mendengar dulu permintaanmu kepadaku untuk perkara yang penting bagimu,” ujar
Arda bernada serius, tidak ada kesan bergurau.
Walung
tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Arda.
“Aku hanya
ingin kau jujur kepadaku, Arda. Jawab semua pertanyaanku dengan jujur,
setidaknya selama ketika masih berenang bersama,” ujar Walung.
“Baik,
tetapi dengan syarat Kakak Walung harus menggenggam tanganku saat bertanya
kepadaku, agar kejujuranku menunjukkan keseriusan,” kata Arda.
“Baik.
Berikan tanganmu!” (RH)

.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar