“Aku mau, tapi aku harus pulang dulu memberi tahu Ayah dan Ibu,” kata Walung setelah melakukan perenungan sekitar lima belas menit.
“Tidak
boleh. Jika Kakak berpamitan dulu, itu bukan diculik namanya. Jika Kakak pulang
dulu, aku khawatir Kakak berubah pikiran. Bagaimana?” kata Arda.
Walung
terdiam lagi. Dia berpikir lagi.
“Jika aku
hilang beberapa hari, apakah aku dikhawatirkan atau dibiarkan saja? Aku jadi
ingin tahu, siapa-siapa orang yang begitu sedih kehilangan aku. Apalagi lelaki
yang menculikku setampan Arda,” pikir Walung.
Dia lalu
menjawab kepada Arda.
“Baik,
Arda. Aku mau dan siap diculik olehmu,” kata Walung dengan intonasi yang mantap
dan tidak ragu lagi.
“Jika
demikian, biarkan aku tidur sebentar sambil menunggu pakaianku kering. Jika
Kakak Walung menghilang di saat aku bangun, berarti Kakak Walung batal aku
culik,” kata Arda.
“Baik. Aku
akan menunggumu di sini.”
“Tapi
ingat, Kakak Walung. Jangan mengintipku di waktu aku tidur, karena aku sedang
bugil!” kata Arda memperingatkan.
Terbeliak
Walung mendengar peringatan itu.
“Aku tidak
akan penasaran untuk melihatmu tidur bugil, Arda!” sentak Walung dengan tatapan
kesal.
“Hahaha!”
tawa Arda. Dia lalu merebahkan dirinya di balik batu, menghilangkan wajahnya
dari pandangan Walung.
Walung
tersenyum lebar, meski Arda sudah hilang dari pandangannya. Gadis cantik itu
membayangkan Arda yang tidur terlentang tanpa pakaian sehelai benang pun dan
ada yang berdiri tegak seperti tombak mungil. Namun, yang muncul di imajinasi
Walung adalah bayangan Klimot yang sering tidur bugil saat masih usia di bawah
sepuluh tahun. Membandingkan adiknya dengan Arda Handara jelas hal yang keliru.
Akhirnya
Walung juga merebahkan diri di tempatnya. Dia tidak tidur, tetapi menikmati
khayalannya yang indah-indah di dalam belaian angin yang menyejukkan. Meski dia
belum tahu akan diperlakukan seperti apa oleh Arda di masa penculikannya,
tetapi ia berkeyakinan kuat bahwa Arda tidak akan memperlakukannya dengan
buruk. Arda tidak menunjukkan gelagat buruk sedikit pun selama kebersamaan
mereka.
“Arda
memang jahil, tetapi dia tidak jahat. Sebagai orang sakti, meski masih muda,
dia tidak menunjukkan sifat-sifat pendekar yang jahat,” pikir Walung.
Namun,
lama-lama dibelai angin gunung, sepasang mata Walung akhirnya menjadi sangat
berat. Dia pun tertidur.
Walung
kemudian bermimpi.
“Di mana
ini?” tanya Walung takjub luar biasa, sampai-sampai bibirnya terbuka dalam
durasi yang lama.
Buru-buru
Walung bangun kepada posisi duduk. Dia edarkan netranya memandangi
patung-patung ular raksasa yang ada di sekelilingnya. Meski patung-patung itu
memberi kengerian, tetapi energi negatif itu masih kalah oleh keindahan dan
kemegahan ruangan besar berwarna jingga dan kuning tersebut.
“Arda,”
ucap Walung lirih saat netranya menangkap sosok Arda Handara.
Pemuda
berbaju merah itu sedang bergerak cepat ke sana dan ke sini, melompat ke sana
dan ke sini, memukul dan menendang ruang kosong. Arda sedang berlatih karena
tidak ada yang menjadi lawannya.
“Arda
memang seorang pendekar,” kata Walung di dalam hati.
“Arda!”
panggil Walung. Suaranya terdengar kencang dan menggema. Sampai-sampai ia pun
terkejut sendiri mendengar fenomena suaranya yang tercipta karena pengaruh
tempat.
Panggilan
itu seketika menghentikan gerakan Arda. Pemuda tanggung itu lalu menengok
kepada Walung. Dia segera berjalan menuju Walung dengan senyuman yang mekar.
“Cepat
sekali kau bangun, Kakak Walung,” sapa Arda.
“Bangun?
Bukankah aku sedang bermimpi?” tanya Walung dengan kening berkerut. Ia menatap
serius kepada Arda.
“Baiklah,
aku tidak akan membangunkan Kakak dari mimpi. Biarkan mimpi ini terus berjalan,”
kata Arda.
“Apakah ini
sebuah istana, Arda?” tanya Walung sambil bangkit berdiri tegak. Pandangannya
kembali dia putar memerhatikan istana itu untuk kesekian kalinya.
“Ya. Ini
Istana Raja Ular,” jawab Arda sambil merentangkan kedua tangannya.
Terbeliak
sepasang mata Walung mendengarnya. Seketika bayangan ular raksasa nan ganas
muncul di dalam benaknya. Bayangan itu sedikit memberinya rasa takut. Takut
jika nanti muncul ular sungguhan yang wujudnya seperti patung-patung ular
raksasa itu.
“Inilah sesuatu
yang aku cari di gunung ini. Kini Kakak Walung sudah tahu apa yang aku cari di
Gunung Raja Ular ini,” kata Arda.
“Tapi, ini
Gunung Pekuk, bukan Gunung Raja Ular,” kata Walung tanpa memandang Arda. Dia
berjalan mendatangi salah satu pilar raksasa yang ada patung ularnya.
Walung
menyentuhkan tangan kanannya pada ekor ular di tiang. Batu jingga yang di
dalamnya menyala itu terasa dingin, tetapi tidak sedingin es.
“Itu hanya
soal nama. Yang pastinya, Istana Raja Ular ada di gunung ini,” kata Arda.
“Lalu siapa
pemilik istana ini?” tanya Walung sambil terus berjalan memerhatikan bebagai
hal yang dilihatnya. Dia berlaku seperti turis. Sementara Arda berjalan santai
mengikuti gadis desa itu.
“Aku adalah
orang yang menemukan, yang membukanya, dan yang menginapinya. Petunjuk yang
diberikan kepadaku dari pewarisnya memberi tanda bahwa Istana Raja Ular ini adalah
untukku,” jelas Arda. “Maka akulah rajanya.”
Terkejut Walung
mendengar klaim Arda Handara. Ia seketika menengok menatap Arda.
“Kau jangan
bercanda, Arda!” hardik Walung agak membentak, setelah ia terdiam untuk
beberapa saat.
“Aku tidak
bercanda, Kakak Walung. Namun, kau boleh menganggapnya ini hanyalah mimpi
belaka,” kata Arda serius, tapi dia tersenyum.
“Tidak. Ini
bukan mimpi, Arda. Sebab tidak ada Ibu yang menyebut-nyebut namaku untuk
membangunkan aku,” kata Walung. Dia akhirnya sadar bahwa dia tidak sedang
bemimpi.
“Hahahak!”
tawa Arda agak keras.
“Degan
siapa kau di istana ini?” tanya Walung.
“Sendiri.
Karena itulah aku punya pemikiran untuk menculik Kakak Walung agar menjadi
temanku di sini,” kata Arda.
“Apakah kau
punya rencana mesum, Arda?” tuding Walung dengan tatapan curiga.
“Itu jika
Kakak Walung yang memulai, mungkin aku akan tergoda dan tidak bisa menahan
diri,” kata Arda.
“Bocah
kurang ajar! Bisa-bisanya kau membalikkan tudinganku,” maki Walung, tapi
suaranya datar.
“Hahahak!” Arda
justru tertawa kencang. “Aku hanyalah anak kecil kemarin sore, sedangkan Kak
Walung orang yang jauh lebih mengerti perkara mesum. Jadi menuduhku sangatlah
tidak wajar.”
“Tapi kau
yang menciptakan situasi ini. Kau laki-laki, aku seorang gadis yang cantik.
Kita hanya berdua di dalam istana sebesar ini. Lalu apa yang akan kau lakukan
selama beberapa hari jika hanya ada aku. Akulah yang kau culik, jadi aku adalah
korban,” kata Walung membela diri.
“Meski aku
tampan dan sakti, tapi aku tidak sejahat itu, Kakak Walung. Aku menculikmu sama
dengan aku mengajak seorang teman, bukan seorang korban. Istana ini sudah
ratusan tahun tidak terurus. Meski tidak terlalu kotor, tetapi istana ini perlu
dibersihkan dari debu dan sarang laba-laba. Jadi, aku menculik Kakak Walung
untuk menemaniku membersihkan ruangan istana ini,” tutur Arda agak panjang,
menjelaskan niat di balik aksi penculikannya. “Jika aku raja istana ini, berarti
aku memiliki harta yang sangat berlimpah. Aku akan membayar semua waktu Kakak
Walung yang aku kuasai.”
Naik kedua
alis Walung mendengar.
“Maksudmu,
kau akan memberiku upah, Arda?” tanya Walung.
“Iya. Aku
menganggap Kakak Walung bekerja kepadaku selama aku culik. Daripada aku
menculik Nyi Ayang, lebih baik aku menculik Kak Walung. Hahahak!”
“Dasar kau
raja kesepian, masih saja mengingat perempuan genit itu,” gerutu Walung.
“Hahaha!”
tawa Arda.
“Baik, aku
akan patuh atas peritah, Gusti Prabu Arda. Aku akan dengan setia menemani Gusti
Prabu membersihkan istana ini sampai berkilau seperti permata di permukaan
Telaga Bolong!” seru Walung seraya turun berlutut menyembah hormat menghadap kepada
Arda, yang membiarkan gadis itu berlaku demikian.
“Hahaha!”
tawa Arda. Lalu katanya sambil meraih kedua tangan gadis itu, “Bangunlah, Kakak
Walung!”
Walung
mengikuti tarikan tangan Arda agar berdiri. Maka, sepasang anak muda itu kini
berdiri berhadapan dengan kedua tangan Arda memegang tangan Walung.
Dalam posisi
saling tatap itu, dengan posisi wajah Walung yang sedikit lebih tinggi, si
gadis merasakan desiran indah nan halus muncul dan menjalar lewat seluruh
syaraf raganya. Hatinya bergetar seperti kesemutan, tapi bahagia. Namun, tidak
bagi Arda.
“Kakak
Walung adalah sahabatku, bukan abdi, pelayan atau pekerjaku. Hubungan kita saat
ini bukan hamba dan raja. Kita sahabat. Apakah Kakak Walung sepakat?” ujar Arda
sangat dewasa dalam berbicara.
Agak terkesiap
Walung mendengar kalimat terakhir pernyataan Arda.
“I-iya,”
ucap Walung tergagap. Jawaban itu seketika membuyarkan separuh dari khayalannya.
Arda pun tersenyum
dan melepaskan tangan Walung.
“Apakah
sudah bisa dimulai tugas kita hari ini?” tanya Arda.
“Iya.”
“Aku sudah menyiapkan alat-alat pembesihnya dan juga sudah menyimpan bahan makanan untuk beberapa hari.” (RH)


0 komentar:
Posting Komentar