Pendekar Santai: Menculik Walung (13)

Istana Raja Ular (Gambar: Dreamina)

“Aku mau, tapi aku harus pulang dulu memberi tahu Ayah dan Ibu,” kata Walung setelah melakukan perenungan sekitar lima belas menit.

“Tidak boleh. Jika Kakak berpamitan dulu, itu bukan diculik namanya. Jika Kakak pulang dulu, aku khawatir Kakak berubah pikiran. Bagaimana?” kata Arda.

Walung terdiam lagi. Dia berpikir lagi.

“Jika aku hilang beberapa hari, apakah aku dikhawatirkan atau dibiarkan saja? Aku jadi ingin tahu, siapa-siapa orang yang begitu sedih kehilangan aku. Apalagi lelaki yang menculikku setampan Arda,” pikir Walung.

Dia lalu menjawab kepada Arda.

“Baik, Arda. Aku mau dan siap diculik olehmu,” kata Walung dengan intonasi yang mantap dan tidak ragu lagi.

“Jika demikian, biarkan aku tidur sebentar sambil menunggu pakaianku kering. Jika Kakak Walung menghilang di saat aku bangun, berarti Kakak Walung batal aku culik,” kata Arda.

“Baik. Aku akan menunggumu di sini.”

“Tapi ingat, Kakak Walung. Jangan mengintipku di waktu aku tidur, karena aku sedang bugil!” kata Arda memperingatkan.

Terbeliak Walung mendengar peringatan itu.

“Aku tidak akan penasaran untuk melihatmu tidur bugil, Arda!” sentak Walung dengan tatapan kesal.

“Hahaha!” tawa Arda. Dia lalu merebahkan dirinya di balik batu, menghilangkan wajahnya dari pandangan Walung.

Walung tersenyum lebar, meski Arda sudah hilang dari pandangannya. Gadis cantik itu membayangkan Arda yang tidur terlentang tanpa pakaian sehelai benang pun dan ada yang berdiri tegak seperti tombak mungil. Namun, yang muncul di imajinasi Walung adalah bayangan Klimot yang sering tidur bugil saat masih usia di bawah sepuluh tahun. Membandingkan adiknya dengan Arda Handara jelas hal yang keliru.

Akhirnya Walung juga merebahkan diri di tempatnya. Dia tidak tidur, tetapi menikmati khayalannya yang indah-indah di dalam belaian angin yang menyejukkan. Meski dia belum tahu akan diperlakukan seperti apa oleh Arda di masa penculikannya, tetapi ia berkeyakinan kuat bahwa Arda tidak akan memperlakukannya dengan buruk. Arda tidak menunjukkan gelagat buruk sedikit pun selama kebersamaan mereka.

“Arda memang jahil, tetapi dia tidak jahat. Sebagai orang sakti, meski masih muda, dia tidak menunjukkan sifat-sifat pendekar yang jahat,” pikir Walung.

Namun, lama-lama dibelai angin gunung, sepasang mata Walung akhirnya menjadi sangat berat. Dia pun tertidur.

Walung kemudian bermimpi.

“Di mana ini?” tanya Walung takjub luar biasa, sampai-sampai bibirnya terbuka dalam durasi yang lama.

Buru-buru Walung bangun kepada posisi duduk. Dia edarkan netranya memandangi patung-patung ular raksasa yang ada di sekelilingnya. Meski patung-patung itu memberi kengerian, tetapi energi negatif itu masih kalah oleh keindahan dan kemegahan ruangan besar berwarna jingga dan kuning tersebut.

“Arda,” ucap Walung lirih saat netranya menangkap sosok Arda Handara.

Pemuda berbaju merah itu sedang bergerak cepat ke sana dan ke sini, melompat ke sana dan ke sini, memukul dan menendang ruang kosong. Arda sedang berlatih karena tidak ada yang menjadi lawannya.

“Arda memang seorang pendekar,” kata Walung di dalam hati.

“Arda!” panggil Walung. Suaranya terdengar kencang dan menggema. Sampai-sampai ia pun terkejut sendiri mendengar fenomena suaranya yang tercipta karena pengaruh tempat.

Panggilan itu seketika menghentikan gerakan Arda. Pemuda tanggung itu lalu menengok kepada Walung. Dia segera berjalan menuju Walung dengan senyuman yang mekar.

“Cepat sekali kau bangun, Kakak Walung,” sapa Arda.

“Bangun? Bukankah aku sedang bermimpi?” tanya Walung dengan kening berkerut. Ia menatap serius kepada Arda.

“Baiklah, aku tidak akan membangunkan Kakak dari mimpi. Biarkan mimpi ini terus berjalan,” kata Arda.

“Apakah ini sebuah istana, Arda?” tanya Walung sambil bangkit berdiri tegak. Pandangannya kembali dia putar memerhatikan istana itu untuk kesekian kalinya.

“Ya. Ini Istana Raja Ular,” jawab Arda sambil merentangkan kedua tangannya.

Terbeliak sepasang mata Walung mendengarnya. Seketika bayangan ular raksasa nan ganas muncul di dalam benaknya. Bayangan itu sedikit memberinya rasa takut. Takut jika nanti muncul ular sungguhan yang wujudnya seperti patung-patung ular raksasa itu.

“Inilah sesuatu yang aku cari di gunung ini. Kini Kakak Walung sudah tahu apa yang aku cari di Gunung Raja Ular ini,” kata Arda.

“Tapi, ini Gunung Pekuk, bukan Gunung Raja Ular,” kata Walung tanpa memandang Arda. Dia berjalan mendatangi salah satu pilar raksasa yang ada patung ularnya.

Walung menyentuhkan tangan kanannya pada ekor ular di tiang. Batu jingga yang di dalamnya menyala itu terasa dingin, tetapi tidak sedingin es.

“Itu hanya soal nama. Yang pastinya, Istana Raja Ular ada di gunung ini,” kata Arda.

“Lalu siapa pemilik istana ini?” tanya Walung sambil terus berjalan memerhatikan bebagai hal yang dilihatnya. Dia berlaku seperti turis. Sementara Arda berjalan santai mengikuti gadis desa itu.

“Aku adalah orang yang menemukan, yang membukanya, dan yang menginapinya. Petunjuk yang diberikan kepadaku dari pewarisnya memberi tanda bahwa Istana Raja Ular ini adalah untukku,” jelas Arda. “Maka akulah rajanya.”

Terkejut Walung mendengar klaim Arda Handara. Ia seketika menengok menatap Arda.

“Kau jangan bercanda, Arda!” hardik Walung agak membentak, setelah ia terdiam untuk beberapa saat.

“Aku tidak bercanda, Kakak Walung. Namun, kau boleh menganggapnya ini hanyalah mimpi belaka,” kata Arda serius, tapi dia tersenyum.

“Tidak. Ini bukan mimpi, Arda. Sebab tidak ada Ibu yang menyebut-nyebut namaku untuk membangunkan aku,” kata Walung. Dia akhirnya sadar bahwa dia tidak sedang bemimpi.

“Hahahak!” tawa Arda agak keras.

“Degan siapa kau di istana ini?” tanya Walung.

“Sendiri. Karena itulah aku punya pemikiran untuk menculik Kakak Walung agar menjadi temanku di sini,” kata Arda.

“Apakah kau punya rencana mesum, Arda?” tuding Walung dengan tatapan curiga.

“Itu jika Kakak Walung yang memulai, mungkin aku akan tergoda dan tidak bisa menahan diri,” kata Arda.

“Bocah kurang ajar! Bisa-bisanya kau membalikkan tudinganku,” maki Walung, tapi suaranya datar.

“Hahahak!” Arda justru tertawa kencang. “Aku hanyalah anak kecil kemarin sore, sedangkan Kak Walung orang yang jauh lebih mengerti perkara mesum. Jadi menuduhku sangatlah tidak wajar.”

“Tapi kau yang menciptakan situasi ini. Kau laki-laki, aku seorang gadis yang cantik. Kita hanya berdua di dalam istana sebesar ini. Lalu apa yang akan kau lakukan selama beberapa hari jika hanya ada aku. Akulah yang kau culik, jadi aku adalah korban,” kata Walung membela diri.

“Meski aku tampan dan sakti, tapi aku tidak sejahat itu, Kakak Walung. Aku menculikmu sama dengan aku mengajak seorang teman, bukan seorang korban. Istana ini sudah ratusan tahun tidak terurus. Meski tidak terlalu kotor, tetapi istana ini perlu dibersihkan dari debu dan sarang laba-laba. Jadi, aku menculik Kakak Walung untuk menemaniku membersihkan ruangan istana ini,” tutur Arda agak panjang, menjelaskan niat di balik aksi penculikannya. “Jika aku raja istana ini, berarti aku memiliki harta yang sangat berlimpah. Aku akan membayar semua waktu Kakak Walung yang aku kuasai.”

Naik kedua alis Walung mendengar.

“Maksudmu, kau akan memberiku upah, Arda?” tanya Walung.

“Iya. Aku menganggap Kakak Walung bekerja kepadaku selama aku culik. Daripada aku menculik Nyi Ayang, lebih baik aku menculik Kak Walung. Hahahak!”

“Dasar kau raja kesepian, masih saja mengingat perempuan genit itu,” gerutu Walung.

“Hahaha!” tawa Arda.

“Baik, aku akan patuh atas peritah, Gusti Prabu Arda. Aku akan dengan setia menemani Gusti Prabu membersihkan istana ini sampai berkilau seperti permata di permukaan Telaga Bolong!” seru Walung seraya turun berlutut menyembah hormat menghadap kepada Arda, yang membiarkan gadis itu berlaku demikian.

“Hahaha!” tawa Arda. Lalu katanya sambil meraih kedua tangan gadis itu, “Bangunlah, Kakak Walung!”

Walung mengikuti tarikan tangan Arda agar berdiri. Maka, sepasang anak muda itu kini berdiri berhadapan dengan kedua tangan Arda memegang tangan Walung.

Dalam posisi saling tatap itu, dengan posisi wajah Walung yang sedikit lebih tinggi, si gadis merasakan desiran indah nan halus muncul dan menjalar lewat seluruh syaraf raganya. Hatinya bergetar seperti kesemutan, tapi bahagia. Namun, tidak bagi Arda.

“Kakak Walung adalah sahabatku, bukan abdi, pelayan atau pekerjaku. Hubungan kita saat ini bukan hamba dan raja. Kita sahabat. Apakah Kakak Walung sepakat?” ujar Arda sangat dewasa dalam berbicara.

Agak terkesiap Walung mendengar kalimat terakhir pernyataan Arda.

“I-iya,” ucap Walung tergagap. Jawaban itu seketika membuyarkan separuh dari khayalannya.

Arda pun tersenyum dan melepaskan tangan Walung.

“Apakah sudah bisa dimulai tugas kita hari ini?” tanya Arda.

“Iya.”

“Aku sudah menyiapkan alat-alat pembesihnya dan juga sudah menyimpan bahan makanan untuk beberapa hari.” (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar