Pesantren di Papua Kebakaran, Oleh Siapa?

Kondisi pesantren setelah terbakar. (Foto: Mustofa N)
Papua, 27 Agustus 2015 (RajaDumay.com) --- Musibah kembali menyelimuti umat Islam di Papua, telah terjadi kebakaran kemarin subuh di Pondok Pesantren Al Muttaqin, di Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Provinsi Papua pada Senin, 24 Agustus 2015.

Menurut Intelektual muda Muhammadiyyah dan Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa Nahrawardaya, kejadian ini terjadi pada saat shalat subuh, "Ketika bangunan pesantren itu dilalap api membara. Santri masih solat Subuh di masjid. Kitab pelajaran pesantren, al-Quran suci, habis hangus. Tersisa beberapa serpihan."

"Nama pesantrennya adalah Pondok Pesantren Al Muttaqin. Tiba-tiba saya teringat dengan masjid di Tolikara bernama mirip, Baitul Muttaqin." demikian jelas Mustofa Nahrawardaya melalui akun Facebook.com.


Dalam status Facebooknya ia juga mengungkapkan bahwa sumber kebakaran bukan dari konsleting, "Kepala madrasah dan musrif pondok. Kata mereka, kebakaran itu dari bawah. Bukan karena arus pendek seperti yang polisi katakan. Mereka masih bertanya-tanya.. Santri sendiri bersaksi, bahwa neon menyala saat api membara, jadi tak mungkin karena konslet." - See more at: http://voa-islam.com/read/indonesiana/2015/08/25/38806/innalillah-pondok-pesantren-al-muttaqin-papua-terbakar-saat-santri-shalat-subuh/#sthash.eqi5NZ9z.TgGklg7m.dpuf
Dalam status Facebooknya ia juga mengungkapkan bahwa sumber kebakaran bukan dari konsleting, "Kepala madrasah dan musrif pondok. Kata mereka, kebakaran itu dari bawah. Bukan karena arus pendek seperti yang polisi katakan. Mereka masih bertanya-tanya.. Santri sendiri bersaksi, bahwa neon menyala saat api membara, jadi tak mungkin karena konslet."

"Mungkin media tak terlalu ramai. Tapi hasil kunjungan kami pagi ini di Ponpes Al Muttaqin, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Jayapura Papua ini. Menghentak batin. Melihat Quran berserak hangus tinggal serpihan." tuturnya.

Foto-Foto terkait:




(Sumber: Voa-Islam.com)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar