![]() |
| (www.pulsk.com) |
Sedekah dalam Islam tidak domain orang kaya saja. Tidak terpaku pada harta dan materi yang diberikan untuk orang susah atau pada proyek kebaikan. Lebih dari itu, sedekah bisa berbentuk non materi dengan memberi manfaat dan kebahagiaan untuk orang lain, misal: tersenyum, berkata yang baik, dzikir, dan segala bentuk yang ma’ruf (kebaikan).
Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ
“Setiap perkara ma’ruf (kebaikan) adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maksudnya, setiap yang ma’ruf kedudukannya seperti sedekah dalam pahala. Sedangkan kata Ma’ruf dalam istilah syar’i memiliki makna setiap perkara yang dikenal sebagai kebaikan.
Menurut Al-Raghib, “Al-Ma’ruf adalah sebuah nama untuk setiap perkara yang dikenal sebagai kebaikan oleh syariat dan akal.”
Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ
Dalam redaksi lain:
فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
"Setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Begitu juga amar ma’ruf (memerintahkan kepada kebaikan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim dari hadits Abu Dzarr Radhiyallahu 'Anhu)
Perkara-perkara yang dinilai Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai sedekah, -sebagiannya- kemanfaatannya kembali kepada diri sendiri dan sebagiannya dirasakan orang lain. Kemanfaat yang kembali ke diri sendiri seperti kalimat-kalimat dzikir dari tasbih, tahmid, takbir, tahlil, shalat dhuha 2 rakaat, dan selainnya.
Sedangkan kebaikan bernilai sedekah yang manfaatnya juga dirasakan orang lain seperti mendamaikan orang, menolong orang naik kendaraan dan menaikkan barang bawaannya, mengucapkan salam, bertasymit ke orang bersin, menyingkirkan bahaya dari jalan orang, mengubur ludah ata ingus, menuntun orang buta, menunjuki orang yang tak tahu jalan, dan selainnya.
Bahkan tersenyum kepada saudara seiman, menunjukkan wajah ramah, dan berkata baik kepadanya terhitung pula sebagai sedekah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu 'Anhu ia berkata, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadaku:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Dalam hadits lain:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
Sedekah bisa didapat dengan menahan tangan dan lisan dari menyakiti orang lain. Ini sesuai sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Abu Dzar:
تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النّاسِ صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ
Secara umum, Allah Subhanahu Wa Ta'ala sendiri telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa berbuat baik; menjadikannya sebagai karakter dan kebiasaan.Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Syaikh Sa’di berkata tentang “dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf” adalah perkataan baik, perbuatan baik, dan akhlak sempurna kepada kerabat dekat dan jauh. Jadikan setiap yang engkau berikan kepada manusia berupa mengajarkan ilmu, menyuruh berbuat baik seperti silaturahim, birrul walidain (bakti ke orang tua), memperbaiki hubungan sesame manusia, nasihat bermanfaat, ide cerdas, bantuan berbuat kebajikan dan takwa, mencegah dari keburukan, mendorong orang memperoleh maslahat agama dan dunia.” (Taisir al-Karimir Rahmadn: 303)
Karenanya, jangan berkecil hati dan rendah diri saat tidak memiliki harta melimpah untuk mendapatkan pahala sedekah. Ada alternatif lain yang lebih ringan dan didapatkan di setiap tempat, yaitu berbuat baik kepada orang dan menahan diri dari menyakitinya. Semoga Allah jadikan kita sebagai orang-orang yang kaya di sisi-Nya karena telah menginvestasikan pahala senilai sedekah yang besar. Wallahu A’lam.
(Sumber: voa-islam.com)


0 komentar:
Posting Komentar