Daging dan Darah Qurban Tidak Sampai Kepada Allah

(Dok. Duniaandromedaku.blogspot.co.id)
(RajaDumay.com) --- Islam memandang menyembelih qurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri dan bentuk ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

Ù„َÙ†ْ ÙŠَÙ†َالَ اللَّÙ‡َ Ù„ُØ­ُومُÙ‡َا ÙˆَÙ„َا دِÙ…َاؤُÙ‡َا ÙˆَÙ„َÙƒِÙ†ْ ÙŠَÙ†َالُÙ‡ُ التَّÙ‚ْÙˆَÙ‰ Ù…ِÙ†ْÙƒُÙ…ْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Pengertian takwa terkait dengan ketaatan seorang hamba pada Rabb-nya, yaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. 

Meraih kehidupan di akhirat kelak perlu melalui kehidupan di dunia yang merupakan ladang untuk memperbanyak kebajikan dan memohon ridho-Nya agar tercapai kehidupan dunia dan akherat yang hasanah (baik). 

Dalam kitab "Taisir Al-Kariim Ar-Rahman", Abdurahman bin Nashir As-Sa’diy mengatakan, “Ingatlah, bukanlah yang dimaksudkan hanyalah menyembelih saja dan yang Allah harap bukanlah daging dan darah kurban tersebut, karena Allah tidaklah butuh pada segala sesuatu dan Dialah yang pantas diagung-agungkan. Yang Allah harapkan dari qurban tersebut adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang shalih. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai ridho-Nya”.

Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berqurban, yaitu ikhlas bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan. 

Kesiapsediaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail, atas perintah Allah menandakan tingginya tingkat ketakwaan Nabi Ibrahim, sehingga tidak terjerumus dalam kehidupan hedonis sesaat yang sesat. 

Lalu dengan kuasa Allah ternyata yang disembelih bukan Ismail melainkan domba. Peristiwa ini pun mencerminkan Islam sangat menghargai nyawa dan kehidupan manusia. (Rendy Setiawan)

(Sumber: MirajNews.com/id)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar