![]() |
| Wanita pengayom perasaan suaminya (dok. Myfitriblog.wordpress.com) |
Ibu dan istri adalah kekuatan emosi. Mereka ibarat padang jiwa yang luas dan nyaman, tempat kita menumpahkan sisi kepolosan dan kekanakan kita, tempat kita bermain dengan lugu dan riang, saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman, saat kita merasa bukan siapa-siapa, saat kita menjadi bocah besar.
Karenanya, Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata, "Jadilah engkau bocah di depan istrimu, tapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu."
Para tokoh besar selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya dan selamanya ingin begitu ketika terbaring dalam pangkuan istrinya.
Tengoklah, apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam setelah menerima wahyu pertama dan merasakan ketakutan yang luar biasa. Rasulullah datang kepada Khadijah.
Maka, ketika Rasulullah ditawari menikah setelah Khadijah wafat, beliau bertanya, "Dan siapakah wanita yang sanggup menggantikan peran Khadijah?" (Rudi Hendrik)


0 komentar:
Posting Komentar