Kesaksian Mantan Teknisi Pabrik Nuklir Israel (Bag. 2)

Mordechai Vanunu beri pesan ke wartawan saat ditangkap
(dok.Press TV)

Gadis Mossad Akhiri Perjalanan Vanunu

Mordechai Vanunu dipekerjakan sebagai teknisi di Dimona pada 1976. Menurut Vanunu, ia mulai memiliki keraguan tentang sifat pekerjaannya.

Vanunu dipecat dari pekerjaannya pada tahun 1985. Dua tahun sebelumnya, Vanunu mengatakan, ia dipanggil ke pertemuan rutin dengan Shin Bet (Badan Keamanan Israel) setelah sadar akan politik sayap kiri radikal.

"Saya dipanggil untuk memberikan jawaban dalam berbagai interogasi," katanya. "Mereka ingin saya berhenti dari pekerjaan saya, jadi yang mereka lakukan adalah mengumumkan pemotongan 10 persen dalam angkatan kerja sektor publik. Pada bulan Agustus tahun 1985, saya dimasukkan dalam daftar yang akan kehilangan pekerjaan."


Sebelum hari terakhir kerja di Dimona, Vanunu memutuskan memotret sejumlah area di dalam pabrik.

Vanunu berhasil menyelinapkan kamera ke Dimona melalui ransel yang dibawanya secara teratur karena pada saat itu dia juga seorang mahasiswa pada saat itu.

Vanunu mengambil hampir 60 gambar selama rentang dua hari dan ia berhasil tidak diketahui oleh karyawan di pabrik. Foto-foto diambil selama shift malam, ketika berkurangnya aktivitas.

Setelah mengundurkan diri dari Dimona, Vanunu melakukan perjalanan ke luar negeri.
Mordechai Vanunu (Vanunu.com)
Akhirnya Vanunu berakhir di London, di mana ia bertemu dengan seorang wartawan The Sunday Times. Dia menunjukkan foto-fotonya kepada editor surat kabar yang juga seorang ahli nuklir. Awalnya sang editor ragu terhadap keaslian foto-foto itu dan kebenaran klaim Vanunu.

Setelah koran mencari komentar dari kedutaan besar Israel di London, maka tampak jelaslah bagi Israel, bahwa ada seseorang yang membocorkan rahasia nuklir negara.

"Itu sebuah perlombaan untuk melihat apa yang akan terjadi pertama," kata Vanunu. "Apakah Mossad akan mendapatkan saya, atau saya berhasil mempublikasikan foto-foto itu di media."

Mossad yang enggan beroperasi di tanah Inggris mengirim seorang wanita yang dikenal sebagai "Cindy" untuk memikat Vanunu menuju benua Eropa, di mana Mossad memiliki pergerakan yang lebih bebas.

Cindy digambarkan sebagai gadis berambut pirang, cantik, dan memiliki aksen Amerika.

Ketika hubungan mereka berkembang, Cindy mengundang Vanunu untuk "mengunjungi adiknya" di Roma, di mana agen Mossad sedang menunggu untuk menangkapnya.

"Mungkin ada banyak wanita di jalan London yang bekerja untuk Mossad pada waktu itu," kata Vanunu kepada Channel 2.  

Setibanya di apartemen Roma, Vanunu dibius dan diculik oleh sekelompok agen Mossad yang mengatur rencana rumit untuk menyelundupkan dia keluar dari Italia dengan kapal pesiar di Laut Mediterania.

Setelah penangkapan Vanunu, barulah Sunday Times menyadari kebenaran klaim itu dan menerbitkan laporan bom termasuk foto-foto dari reaktor di Dimona.

Vanunu membantah tudingan jika ia dibayar $ 75.000 untuk membocorkan rahasia nuklir itu. Dia juga menuduh Shin Bet melakukan pelanggaran terhadapnya selama masa penahanan 18 tahun dan 11 tahun di antaranya dihabiskan di sel isolasi.

Vanunu mengatakan, ia tidak lagi berusaha untuk menjadi "pemenang" kampanye melawan program senjata nuklir Israel.


"Saya pikir waktunya telah tiba (negara) untuk mengizinkan saya untuk pergi," katanya. "Saya menikah tiga bulan lalu. Saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan di sini, jadi dia (isteri) pencari nafkah. Saya ingin menjalani hidup saya, memulai hidup saya lagi. Saya selesai dengan seluruh cerita (nuklir) ini, dan saya telah mengatakan ini ratusan kali. Saya tidak punya lagi rahasia untuk diberitahu, dan saya ingin mereka membiarkan saya pergi dan tinggal di luar negeri dengan istri saya, dan itulah akhir ceritanya," tuturnya. (Rudi Hendrik)

(Sumber: MirajNews.com/id)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar