![]() |
| Anton Medan makan bersama para napi. |
Istriku, aku selalu bertanya
Mengapa kejahatan musti dilahirkan
Sementara aku sendiri tidak menyukai kejahatan
Istriku, seandainya bau masakan tetangga tidak tercium oleh hidung anakku… Dia tidak merengek, menangis, meminta opor ayam
Istriku, aku tidak pernah menangis dipukuli karena mencuri ayam
Yang kutangisi adalah hilangnya senyum anak kita karena tak bisa mencicipi rasa opor ayam…
Penggalan puisi tersebut menggambarkan masa lalu seorang mantan napi yang kini telah bertaubat dan menjadi seorang pemilik Pondok Pesantren At-Taibin, Cibinong, Bogor. Puisi itu memang sengaja dibuat oleh seorang Anton Medan yang ditujukan untuk sang istri tercinta.
“Saya membuatnya di penjara Nusakambangan,” ungkap Anton singkat. Puisi yang merupakan ungkapan hatinya tersebut ternyata membuat sebuah perubahan besar dalam kehidupan Anton Medan. Dari dukungan sang istri pulalah, puisi sederhana itu mampu ditorehkan Anton dari balik jeruji besi.
Tembok tinggi menjulang nampak membentengi sebuah bangunan besar yang berada di antara pemukiman warga kampung Pondok Rajeg. Sebuah tulisan berukuran besar terukir dengan jelas di permukaan dinding tembok tersebut. Ucapan selamat datang dalam bahasa Inggris, menyambut setiap tamu yang datang ke Pondok Pesantren At-Taibin.
Saat memasuki lingkungan pondok pesantren, suasana sejuk dan nyaman pun langsung terasa. Berbagai tulisan arab dan bahasa Inggris menghiasi tiap sudut bangunan pesantren.
Bila di luar lingkungan pesantren, udara terasa panas maka berbeda halnya dengan di dalam lingkungan bangunan pesantren. Udaranya cukup sejuk lantaran beberapa sudut dihiasi dengan berbagai macam tanaman rindang. Tak pelak, teriknya sinar matahari tak mampu membuat suhu di dalam lingkungan pesantren menjadi panas.
Bangunan pesantren yang baru diketahui bernama At-Taibin itu memang tak jauh berbeda dengan bangunan sekolah pada umumnya. Pesantren At-Taibin sendiri dibangun berkat hasil kerja keras Anton Medan bersama para mantan napi lainnya.
“Dananya berasal dari hasil penjualan barang-barang buatan mantan napi di BLK (Balai Latihan Kerja, red),” tutur Anton.
Dana yang dihabiskan untuk mendirikan bangunan pesantren sekitar Rp 6 miliar, sebuah angka yang cukup menakjubkan mengingat jumlah tersebut merupakan hasil kerja keras para mantan napi yang dibina oleh Anton Medan.
Saat ini, untuk menjalankan roda kehidupan pesantren dan BLK, Anton mendapatkan penghasilan dari beberapa bisnis yang dikelolanya. Salah satunya adalah bisnis yang memberdayakan para mantan napi sebagai karyawannya.
“BLK sendiri sudah banyak berdiri di berbagai daerah seperti Medan, Makasar, dan Kalimantan,” ungkap Anton.
Dari hasil barang-barang buatan para mantan napi tersebut, Anton dapat meraup untung yang kemudian dipergunakan untuk biaya operasional kegiatan pesantren dan menggaji para mantan napi tersebut.
Di dalam lingkungan pesantren, ada sebuah bangunan unik yang berada di dalam lingkungan pesantren At-Taibin tersebut. Bangunan itu adalah sebuah masjid besar yang berbentuk seperti bangunan khas negeri China. Masjid yang diberi nama Masjid Jami Tan Hok Liang itu memang merupakan hasil dari ide sang pemilik pesantren.
Dialah Anton Medan, mantan napi yang kini berubah wujud menjadi seorang ulama sekaligus pemilik pondok pesantren terpadu At-Taibin di daerah Cibinong, Bogor. Rumahnya sendiri yang sederhana terletak tepat di belakang pesantren. (Rudi Hendrik)


0 komentar:
Posting Komentar