![]() |
| Anton Medan bersama isteri. |
“Saya memiliki 17 saudara kandung,” aku Anton. Tak heran, Anton harus ikut membantu menghidupi keluarga dengan mencari pekerjaan.
Beban yang begitu berat memang berada di pundak Anton kala itu. Anton yang lahir di Tebing Tinggi pada 10 Oktober 1957 ini kemudian memutuskan untuk bekerja di kota Medan, Sumatera Utara.
Latar belakang pendidikan Anton yang rendah membuatnya hanya bekerja sebagai buruh serabutan di salah satu toko di Medan. Meski demikian, kala itu ia patut bersyukur karena ia mampu memperoleh sumber penghasilan untuk membiayai adik-adiknya. Secara rutin, Anton selalu pulang ke rumah orang tuanya sembari membawa bahan makanan pokok dan uang penghasilan setiap dua minggu sekali.
Namun, suatu saat, ketika ia ingin membawa beberapa bahan pokok dan uang hasil bekerja ke rumahnya di Tebing Tinggi, ia sempat dicuri oleh beberapa orang pelaku.
“Waktu itu saya membela diri,” aku Anton. Namun, sang pelaku tak mau mengakui perbuatannya tersebut. Tak pelak, hal tersebut membuat geram Anton. “Saya mengambil golok tukang es dan membacok orang itu,” kenang Anton. Alhasil, si pelaku pencurian pun tewas seketika.
Berawal dari perbuatan membunuh itulah, Anton seakan-akan terjerembab dalam sebuah dunia yang penuh dengan perbuatan kejahatan. Akibat perbuatannya tersebut, Anton harus merasakan dinginnya hotel prodeo selama empat tahun. Di dalam penjara pula, ia kemudian berkenalan dengan tindakan kejahatan yang sangat beragam. Alhasil, Anton perlahan-lahan makin tenggelam di dalam dunia hitam kejahatan.
Ditolak orang tua
Selepas keluar dari penjara, Anton lalu kembali pulang ke rumah orang tuanya di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Harapan untuk dapat diterima kembali oleh kedua orang tuanya ternyata hanya impian belaka. Sebaliknya, kedua orang tua Anton merasa malu dengan perbuatan pembunuhan yang dilakukan Anton.
“Mereka tak mau menerima saya kembali,” kenang Anton. Sikap penolakan dari kedua orang tuanya tersebut membuat perasaan Anton amat sedih.
Tak ada lagi rumah yang menjadi tempat berlindung bagi dirinya. Tak ada pula kedua orang tua yang menjadi pembimbingnya di rumah. “Akhirnya saya memutuskan untuk merantau ke Jakarta,” ungkap Anton.
Di ibukota, tak ada pekerjaan yang layak bagi dirinya mengingat pendidikannya yang tak lulus SR (Sekolah Rakyat). Akhirnya, Anton bergelut dengan dunia kejahatan dengan menjadi seorang perampok dan penjudi kelas kakap. Entah sudah berapa toko emas yang sudah digasaknya. Yang pasti, nama Anton Medan sendiri sudah sangat dikenal sebagai seorang penjahat ternama di masyarakat. Pihak berwajib pun sudah sangat gerah dengan segala tindak tanduk Anton.
Keluar masuk penjara sudah ia lakoni setelah menjadi seorang penjahat. Mulai dari LP Cipinang, Nusakambangan, hingga Sukamiskin, Bandung, sudah pernah ia rasakan sebagai akibat dari perbuatannya. Namun, tetap saja ia tidak jera dengan kejahatan yang ia lakoni. Sebaliknya, justru semakin banyak kejahatan yang dilakukannya. Berjudi pun sudah menjadi hobinya sehari-hari.
Segala macam bentuk kejahatan yang dilakukan Anton ternyata mencapai titik baliknya. Salah satu pendorong yang membuat Anton berubah adalah kehadiran sang istri yang selalu memotivasi Anton untuk segera melakukan taubat. Tak pelak, Anton pun mulai merenungkan nasibnya dan mencari kebenaran yang hakiki. Salah satunya adalah dengan mencari sang pencipta yang selalu menyelamatkan dirinya dari enam peluru yang sempat menembus tubuhnya.
Tepat di tahun 1992, Anton secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat setelah melewati masa lalu kelam yang dianggapnya sebagai masa pencarian sosok yang dinamakan Tuhan. Baginya, hukuman total kurungan penjara selama 18 tahun 7 bulan sudahlah cukup.


0 komentar:
Posting Komentar