| Anton Medan |
Tepat di tahun 1992, Anton secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat setelah melewati masa lalu kelam yang dianggapnya sebagai masa pencarian sosok yang dinamakan Tuhan. Baginya, hukuman total kurungan penjara selama 18 tahun 7 bulan sudahlah cukup.
“Saya bersyukur saya bisa masuk penjara,” ungkap Anton. Berkat pengalaman di penjara itulah, Anton mendapatkan pelajaran berharga tentang arti hidup. Ia menganggap bahwa dunia merupakan sebuah penjara yang lebih besar ketimbang LP (Lembaga Pemasyarakatan).
Proses taubat yang dilakukan Anton ternyata bukanlah datang tiba-tiba. Ia juga mengaku tidak mendapatkan beberapa kejadian yang menghadirkan hidayah bagi dirinya. “Agama itu tidak datang sendiri, tapi kita yang harus mencarinya sebagai pedoman hidup,” tutur Anton.
Dalam masa pencariannya itulah, ia dapat menemukan hidayah dari Allah. Namun, di saat mengucapkan dua kalimat syahadat, ada semacam keraguan yang dirasakannya. “Waktu itu saya sempat ragu apa saya bisa menjadi orang yang bermanfaat,” ujarnya.
Akhirnya, keraguan itu tidak terbukti. Pasalnya, ia mampu memberikan segudang manfaat baik untuk masyarakat sekitar maupun para mantan napi yang nasibnya sama dengan Anton tempo dulu.
Tahun 1993, Anton memutuskan untuk pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Di sanalah, ia memohon ampun atas segala macam perbuatannya di masa lampau. Nama Anton Medan kemudian diubahnya menjadi Haji Ramdhan Effendi. Ia berharap dengan mengubah nama, dapat berdampak positif terhadap image barunya yang kini lebih bersahaja.
Setahun kemudian, rutinitas melakukan ceramah mulai dilakoninya terutama dari LP ke LP untuk memberikan pencerahan kepada para napi.
Cobaan tak hanya berhenti sampai di situ saja. Ketika masa reformasi terjadi, nama Anton Medan sempat dikaitkan dengan berbagai tindakan kerusuhan yang kala itu terjadi di ibukota. Meski demikian, tuduhan tersebut tidak terbukti.
“Tahun 1998, saya sempat diculik dan dibacok oleh orang tak dikenal,” kenang Anton. Kala itu, sebagai pria keturunan Tionghoa, Anton memang sempat menjadi bulan-bulanan masyarakat. Meski begitu, ia mampu melewati semuanya dan menapaki kehidupan yang lebih baik lagi.
Dari sisi kehidupan pribadi pun, Anton mulai merangkai kembali dengan tatapan optimis di masa depan. Bila ketika masih bergumul dengan dunia kejahatan, Anton memiliki lima orang istri, maka kini ia hanya memiliki seorang istri yang sangat dicintainya.
“Saya menceraikan istri-istri saya,” aku Anton. Meski pernikahannya dengan Rissa Habsari (25) sudah berlangsung cukup lama, kehadiran anak ternyata tak kunjung tiba. Keduanya memang memiliki perbedaan usia yang cukup jauh, namun tidak menjadi halangan untuk membangun keluarga yang sakinah. Hubungan Anton dengan ketujuh anaknya, hasil pernikahan dengan istri-istri sebelumnya pun masih tetap terjalin dengan baik.
Ketujuh anaknya (dua anak sulungnya kembar, red), yakni Siti Noviyanti (27), Harley Davidson (27), Siti Maesaroh (25), Hardi Dian Effendi (23), Tri Anggi Anggraini (22) , M Arifin (21), dan Delly (19) tetap selalu berkunjung ke rumah sang ayah. Terlebih lagi bila hari Lebaran tiba, mereka kerap berkumpul bersama. Bahkan mantan-mantan istrinya juga sering mengunjungi rumahnya yang terletak tepat di belakang pesantren At-Taibin. Keluarga, pesantren, dan para mantan napi diakuinya memiliki prioritas utama dalam hidupnya yang kini semakin cerah.
![]() |
| Makam kosong untuk Anton Medan |
Siapkan makam sendiri
Bila berkunjung ke Pondok Pesantren At-Taibin di daerah Cibinong, Bogor, mungkin semua orang pengunjung akan terheran-heran dengan keberadaan sebuah makam kosong yang terletak tepat di samping Masjid Tan Hok Liang. Liang lahat tersebut memang masih kosong. “Makam itu hanya simbolik saja, sebagai peringatan bagi kita semua,” tutur Anton. “Mati adalah suatu kepastian, dan hidup adalah perjuangan,” lanjutnya.
Ayah 7 anak ini juga berharap bila nanti maut menjemputnya, maka ia berharap dapat dijemput maut di rumahnya. “Saya berharap dapat meninggal dan dimakamkan di sini,” ujar Anton sembari menunjuk makam kosong yang telah disiapkan.
Dengan melihat ke makam, Anton juga merasa selalu diingatkan oleh sang pencipta agar selalu dekat kepada-Nya. Tak hanya bagi dirinya sendiri, makam tersebut dibuat agar setiap pengunjung dan para santri selalu ingat terhadap kematian. “Saya siap untuk mati,” ujarnya singkat.
Makam kosong itu sengaja dibuat oleh Anton. Bahkan sebelum bangunan pesantren dibangun, makam tersebut sudah selesai dibuat. Barulah selang dua minggu kemudian, bangunan pesantren mulai dibangun. Makam yang dibuat di sebelah Masjid, diakui Anton, memiliki tujuan tertentu. “Nuansa berdoanya supaya lebih afdhol,” ungkap pria setengah baya ini.


0 komentar:
Posting Komentar