![]() |
| Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin |
(RajaDumay.com) --- Ketua Dewan
Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyatakan, gerakan
kelompom Islamic State (ISIS/Daesh) tidak ada dasarnya dalam Islam.
Pernyataan Din itu dikatakan
dalam wawancaranya dengan sebuah saluran TV swasta di Jakarta pada Kamis (24/12)
malam.
“Ideologi ISIS
tidak ada dasarnya dalam Islam yang cinta damai dan kasih sayang. ISIS bukan
gerakan keagamaan, tapi gerakan politik,” kata mantan Ketua Umum PP
Muhammadiyah itu kepada TV One
melalui video telekonferens.
Din mengungkapkan,
ia bersama 300-an ulama dunia di Yordania pernah mengirim surat kepada pemimpin
tertinggi ISIS, Abu Bakr Al-Baghdadi.
“Sampai saat ini
kami belum menerima balasannya,” katanya. Miraj Islamic News Agency (MINA) memberitakannya.
Pada kesempatan
yang sama, pengamat terorisme Nasir Abbas membenarkan, ISIS adalah gerakan
politik, karena ISIS bertujuan menguasai sebuah wilayah untuk mendirikan sebuah
negara.
“Jika ingin menguasai
suatu wilayah, itu adalah politik. Gerakan-gerakan (bersenjata) yang ada di
Indonesia, semuanya ingin menegakkan negara,” kata pria asal Malaysia itu.
Din menyeru masyarakat
Indonesia, khususnya generasi muda, agar tidak mudah terpengaruh terhadap
ideologi ISIS.
Pada Rabu (23/12),
Tim Densus 88 menangkap dua terduga “teroris” di Bekasi dan diklaim terhubung
dengan jaringan ISIS luar negeri.
Kepala Divisi Humas
Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan mengatakan, terduga “teroris”
yang ditangkap di Bekasi berasal dari jaringan yang berbeda dengan kelompok
yang ditangkap sebelumnya.
"Afiliasinya
dengan kelompok luar negeri," kata Anton, Kamis, kepada Tempo.
Polisi menangkap
jaringan teroris di Jalan Duku Jaya RT 05 RW 09, Kelurahan Pejuang, Medan
Satria, Bekasi. Seseorang dengan inisial AL, yang merupakan warga negara Cina,
sudah disiapkan untuk menjadi pengantin atau pelaku bom bunuh diri.
AL diketahui baru
sekitar satu bulan tinggal di lokasi tersebut, dengan alasan ingin mencari
pekerjaan. Ia menyewa sebuah rumah kontrakan milik Solihin sebesar Rp 1,5 juta
per bulan.
Anton menjelaskan,
terduga “teroris” di Bekasi berafiliasi dengan ISIS dan kelompok-kelompok
radikal lain di luar negeri. Sedangkan “teroris” yang berada di Jawa Tengah
berafiliasi dengan kelompok Solo, sementara Jawa Timur berafiliasi dengan
kelompok Klaten. (Rudi Hendrik)


0 komentar:
Posting Komentar