![]() |
| Pemimpin kelompok oposisi Jays Al-Islam, Zahran Al-Islam (Foto: YouTube) |
(RajaDumay.com) --- Kematian pemimpin oposisi Suriah Zahran
Alloush dilihat sebagai pukulan besar yang mengancam proses dialog perdamaian.
Peringatan muncul
terhadap para pemimpin sementara oposisi yang mengomandani kelompok pemberontak
lainnya dan lawan-lawan politik rezimSuriah yang juga bisa ditargetkan dalam
pembunuhan.
Alloush selaku
pemimpin kelompok oposisi Jaysh Al-Islam, tewas pada Jumat (15/12) dalam
serangan udara yang diklaim oleh pasukan pemerintah Suriah.
"Mereka
membunuh seorang pria yang akan memainkan peran penting di Suriah," kata
Ahmad Tumah, pemimpin oposisi yang ditunjuk sebagai Perdana Menteri.
"Kematian
Zahran (Alloush) bisa menyebabkan pembunuhan lebih yang menargetkan komandan
oposisi terkemuka dan politisi," kata Tumah kepada wartawan Al Jazeera, Hashem Ahelbara, Sabtu
(26/12) yang dikutip Mi’raj Islamic NewsAgency (MINA).
Alloush dianggap
sebagai pemimpin yang kredibel dan karismatik yang diharapkan bisa menyatukan
berbagai kelompok oposisi Suriah. Pada saat kematiannya, dia dilaporkan
memerintahkan sebanyak 20.000 pejuang "mainstream"
Suriah.
Tumah menuduh
pemerintah Presiden Bashar Al-Assad mengalihkan perhatian dari "perjuangan
untuk hak politik dan melawan tirani" kepada pertarungan melawan Islamic
State (ISIS), yang katanya adalah perhatian utama masyarakat internasional.
Tumah juga
mengatakan, ia masih berniat untuk menghadiri pembicaraan damai di Jenewa,
Swiss, pada bulan Januari. Ia menegaskan, Assad tidak harus berperan dalam masa
depan Suriah.
Dalam pernyataan
terpisah, Koalisi Nasional untuk Revolusi dan Pasukan Oposisi Suriah, sebuah
organisasi payung pimpinana Tumah, mengutuk pembunuhan Alloush yang digambarkannya
sebagai "kemenangan yang jelas untuk terorisme dan ISIS".
Kelompok Jaysh Al-Islam
dilaporkan telah memilih Issam Al Buwidani sebagai penerus Alloush.


0 komentar:
Posting Komentar