Penantian Setia Abu Bakar Menunggu Rasulullah Diizinkan

Ilustrasi (dok. Akhmadarqom.com)
(RajaDumay.com) --- Ketika berbagai gangguan dan tekanan yang dilancarkan kaum musyrikin Quraisy semakin tinggi, sahabat Abu Bakar tetap bertahan di Makkah bersanma para shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. 

Hingga akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengizinkan kaum Muslimin hijrah ke Madinah Munawwarah. Satu per satu kaum Muslimin hijrah ke sana. Abu Bakar memendam keinginan untuk itu. Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata kepadanya, “Tangguhkanlah dulu, saya juga berharap mendapatkan izin untuk itu.” 

Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau benar-benar mengharapkan itu?” Rasulullah mengangguk. 

Maka Abu Bakar pun menahan diri untuk tidak hijrah dahulu agar bisa menemani Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dia pun mempersiapkan dua unta tunggangan dan memberinya makan dedaunan selama empat bulan lamanya.

Hingga suatu hari pada saat Abu Bakar sedang duduk di rumahnya di tengah hari yang amat panas, datanglah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan menyamar. Tidak biasanya beliau datang ke rumah Abu Bakar di siang hari. 

Abu Bakar berkata, “Demi Ayah dan Ibuku sebagai tebusannya, demi Allah dia tidak akan datang di waktu seperti ini kecuali ada suatu urusan penting.”

Rasulullah pun meminta izin masuk dan segera diizinkan oleh Abu bakar. Beliau pun masuk dan berkata kepada Abu Bakar, “Suruh semua orang keluar.”

Abu Bakar berkata, “Mereka adalah keluargamu juga wahai Rasulullah.” 

Maka Rasulullah pun memberitahu, ”Aku telah mendapat izin untuk hijrah.”

Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau ingin saya temani, wahai Rasulullah?” 

Beliau mengangguk. Abu Bakar lantas menangis karena gembira, karena memperoleh kesempatan untuk menemani Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berhijrah.

Saat yang paling ditunggu oleh Abu Bakar pun tiba. Dia telah melakukan persiapan yang matang untuk perjalanan ini, karena baginya ini bukanlah perkara biasa, melainkan sebuah upaya untuk merubah sejarah. 

Dia ingin keluarganya pun memperoleh kemuliaan berupa kesempatan membantu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan menjaga keamanan jiwanya demi keberlangsungan dakwahnya agar tercapai tujuan yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari perintah dakwah tersebut. Untuk itu, dia pun membagi tugas yang harus diemban oleh setiap orang dari keluarganya. 

Aisyah dan Asma’ bertugas membuat makanan sebagai bekal di perjalanan dan menyimpannya dalam sebuah kantong kulit. Lalu Asma’ memotong sebagian dari ikat pinggangnya untuk mengikat mulut kantong kulit tersebut. Karena itu Asma’ mendapat julukan Dzatu Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang). 

(Sumber: SahabatNabi.com)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar