![]() |
| Presiden Gambia Yahya Jammeh (dok. OkayAfrica.com) |
Oleh: Rudi Hendrik, wartawan Mi’raj IslamicNews Agency (MINA)
Nama panjangnya
adalah Yahya Abdul Aziz Jemus Junkung Jammeh. Kini ia adalah Presiden Gambia
yang memakai nama singkat Yahya Jammeh.
Baru-baru ini,
pemimpin yang menduduki kekuasaan dengan cara kudeta militer pada 1994 itu
menjadi pusat pujian kalangan Islam dan mendapat kritikan dari oposisi politik
Gambia dan negara-negara Barat. Hal itu disebabkan, secara sepihak Jammeh
mendeklarasikan negara yang dipimpinnya sebagai Republik Islam.
Ketika isu
penderitaan Muslim Rohingya di Asia Tenggara, khususnya di Myanmar, menyulut
reaksi dunia internasional, Jammeh adalah salah satu pemimpin yang dengan
terbuka seratus persen siap menampung pengungsi Muslim Rohingya.
Ketika pangkatnya
sebagai perwira tentara muda, pria kelahiran 25 Mei 1965 itu memimpin kudeta
militer pada 1994. Selanjutnya ia terpilih sebagai presiden pada 1996,
selanjutnya terpilih kembali pada 2001, 2006, dan 2011.
Karir militer
Jammeh bermula saat ia bergabung dengan Tentara Nasional Gambia pada 1984. Pada
1989 ia berpangkat letnan dan pada 1992 menjadi Komandan Polisi Militer Gambia.
Jammeh menerima
pelatihan militer yang luas di negara tetangga Senegal dan di Sekolah Angkatan
Darat Amerika Serikat.
Kudeta Tanpa Darah
Pada tanggal 22
Juli 1994, sekelompok perwira muda di Tentara Nasional Gambia merebut kekuasaan
dari Presiden Sir Dawda Jawara dalam kudeta militer dengan mengambil kendali fasilitas
kunci di ibukota Banjul.
kudeta berlangsung
tanpa pertumpahan darah dan sangat sedikit adanya perlawanan. Kelompok militer ini
menamakan dirinya sebagai Angkatan Bersenjata Dewan Hukum Sementara (AFPRC)
dengan Jammeh (29 tahun) sebagai pemimpinnya.
AFPRC kemudian
membekukan konstitusi, menyegel perbatasan, dan memberlakukan jam malam.
Pemerintahan sementara
yang dipimpin Jammeh telah mengutuk korupsi dan kurangnya demokrasi di bawah
rezim Jawara. Di bawah pimpinannya, personil militer telah puas dengan gaji
mereka, kondisi hidup, dan prospek untuk promosi.
Jammeh lalu mendirikan
Aliansi untuk Reorientasi Patriotik dan Konstruksi sebagai partai politiknya.
Dia terpilih sebagai presiden pada pemilu September 1996, tapi pengamat asing
tidak menganggap pemilu itu bebas dan adil.
Sebuah upaya kudeta
terhadap Jammeh dilaporkan berhasil digagalkan pada 21 Maret 2006.
Kepala Staf Angkatan
Darat Kolonel Ndure Cham yang diduga pemimpin plot, dikabarkan melarikan diri
ke negara tetangga Senegal, sementara terduga anggota komplotan lainnya
ditangkap. Pada April 2007, sepuluh mantan perwira dituduh terlibat dan
diberikan hukuman penjara.
Presiden Jammeh sama seperti mayoritas warga Gambia lainnya yang mempraktekkan Islam.
Presiden Jammeh sama seperti mayoritas warga Gambia lainnya yang mempraktekkan Islam.
Pada Juli 2010,
Jammeh menekankan bahwa manusia harus percaya pada Tuhan.
"Jika Anda
tidak percaya pada Tuhan, Anda tidak pernah bisa berterima kasih kepada manusia
dan Anda bahkan lebih rendah dari babi," kata Jammeh.
Pada tahun 2011 ia
mengatakan kepada BBC, "Saya akan memberi kepada rakyat Gambia dan jika
saya harus memerintah negara ini selama satu miliar tahun, saya akan lakukan, jika
Allah mengatakan demikian."
Pada hari Sabtu 12
Desember 2015, Presiden Jammeh mendeklarasikan negara berpenduduk mayoritas
Muslim itu sebagai sebuah Republik Islam.
Presiden Jammeh mengatakan kepada televisi nasional
bahwa proklamasi itu sejalan dengan "identitas dan nilai-nilai agama"
Gambia. Dia menambahkan bahwa akan ada aturan berpakaian bagi Muslim dan warga
agama lain akan diizinkan secara bebas.
(Sumber: MirajNews.com/id)


0 komentar:
Posting Komentar