![]() |
| Ilustrasi: Yesus bukan Tuhan |
Kini sang muallaf telah berhijab sempurna dengan niqabnya.
Gadis Batak ini dilahirkan 28 tahun silam di Simalungun, Sumatera Utara. Ia dibesarkan dalam keluarga besar Kristen Protestan yang taat dan digadang-gadang menjadi aktivis Kristen. Sejak berusia dua tahun, ia diasuh oleh pamannya, seorang pengurus gereja Batak di Dumai. Sang paman yang dianggap sebagai ayah angkat ini menjabat sebagai Sintua di gereja.
Mempertanyakan Ketuhanan Yesus
Meski dibesarkan di lingkungan fanatik Protestan, tapi di sekolah, Indah banyak bergaul dengan teman-teman Muslim. Dari sinilah perjuangan “mencari Tuhan” bermula. Perjalanan mengenal Islam mulai tumbuh sejak kelas 3 SD. Secara sembunyi-sembunyi, ia sering ikut teman-temannya belajar di Madrasah. Namun, ia harus berhenti ke madrasah setelah ketahuan dan sang paman marah besar.
Menginjak remaja, di bangku SMP ia nekad bergaul dengan teman-temannya yang Muslim. Ia ingin belajar banyak tentang Islam kepada teman-teman Muslimnya. Namun kembali ketahuan keluarga sehingga ia mendapat sanksi dipindahkan sekolah.
Setelah diungsikan setahun, ia dipulangkan kembali ke sekolah yang lama di Bengkalis, tapi diwajibkan mengikuti kelas Marguru Malua, yaitu program katekisasi gereja Batak untuk pendalaman doktrin Kristen.
Anehnya, semakin dipaksa untuk mengikuti kegiatan gereja secara rutin, ia justru semakin tidak nyaman hidup dalam iman kristiani. Semakin memperdalam Alkitab (Bibel), justru semakin banyak pertanyaan yang mengusik benaknya. Ia semakin merasakan keganjilan dengan imannya.
Persoalan pelik yang sulit dipecahkannya dalam studi di gereja adalah doktrin Ketuhanan Yesus. Menurutnya, semasa hidupnya Yesus belum pernah mengajarkan dirinya sebagai Tuhan yang wajib disembah dan diibadahi. Tak satu pun ayat Alkitab yang mencatat Yesus bersabda: “Wahai manusia, aku adalah Allah Tuhan pencipta alam semesta. Karena itu beribadahlah kepadaku dan sembahlah aku.”
Sebagai remaja yang cerdas, dengan berani ia bertanya kritis tentang doktrin Ketuhanan Yesus kepada pendeta pembimbing katekisasi di gereja. Salah satu pertanyaan yang membuatnya dihukum adalah persoalan ketuhanan Yesus dalam Injil Matius 27:46: “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: Eli, Eli, lama sabakhtani? Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
“Sampai saat ujian pun saya pertanyakan kepada pak pendeta, termasuk ada yang didatangkan dari Jakarta. Dalam empat Injil, baik Matius, Markus, Lukas, maupun Yohanes saya baca bolak-balik tidak ada pengakuan dari Yesus bahwa dirinya adalah Tuhan. Saya tanyakan, kalau memang Yesus itu Tuhan, kenapa ketika disalib Yesus justru meminta tolong kepada Tuhan, “Eli, Eli, lama sabakhtani? Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” paparnya kepada relawan Infaq Dakwah Center yang datang ke kontrakannya hampir dua tahun yang lalu.
Buntut dari pertanyaan kritis itu, Indah menerima hukuman fisik dipukul dan dikurung, karena dianggap sudah melampaui batas iman.
“Pak pendeta itu mengadu kepada paman saya dan saya dipukulnya, sempat dikurung,” ungkapnya.
(Bersambung.....)


0 komentar:
Posting Komentar