(RajaDumay.com)
وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَـٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ
Ada sebuah kisah klasik di antara kita para anak manusia. Adam dan Hawa, begitulah kecenderungan manusia pada tiap lawan jenisnya. Ada ikhwan akhwat, akhi ukhti, Qais Laila, cewek cowok, Romeo Juliet, dan begitu seterusnya.
Sudahlah biasa mungkin, jika cinta itu diungkapkan seorang cowok pada kekasihnya.
Pada kenyataannya, mereka memang dua sejoli yang sedang memadu kasih, dimabuk lautan asmara.
Pertanyaannya kemudian adalah "Apakah biasa jika cinta itu diungkapkan seorang ikhwan kepada akhwat atau bahkan mungkin sebaliknya?"
Padahal mereka notabene sudah pada ngaji. Jujur, itu bukanlah hal yang biasa, bukanlah hal biasa, tapi sungguh luar biasa.
Ketika ada si ikhwan berkata pada akhwatnya, “Ukhti, aku mencintaimu dan menyayangimu.”
Sederet kata sayang yang memenuhi ucapannya mengharapmu menjadi kekasih hati. Terbungkus harapan dan janji-janji manis. Padahal belumlah saatnya ungkapan itu dilontarkan.
Coba Hawa, apa yang kalian rasakan jika ungkapan itu mendarat di telingamu?
Akankah terbang di atas awan ataukah terbuai angan panjang? Mungkin dari kalian ada juga yang punya hati sekuat baja, sehingga mental lah kata-kata itu.
Namun, tak semua di antara kita banyak berhati bak kapas yang mudah diterbangkan, ke mana pun angin berhembua, betapa tak kuasanya.
Dengan kondisi begitu lembutnya hati si Hawa, wahai Adam, tegakah kalian menodai hati lembutnya dengan kepolosan dan keluguannya, atau bahkan mungkin kebodohannya, atau mungkin karena kebodohan dan kedangkalan ilmunya?
Wahai Adam! Tolong, jaga hati mereka. Jika boleh dikatakan, kalian memanfaatkan,
mempermainkan, atau menguji hati mereka.
Mau tahu jawabnya apa?
Maaf, jika boleh kami sebut, "kalian adalah pengecut!"
Kenapa begitu? Karena kamu, wahai Adam, hanya bermain-main dengan sehelai kapas, yang kecil, tipis, mudah terbang tanpa arah dan tujuan, bermain-main di belakang dalam angan dan buaian. Padahal realitasnya, kalian belum berani menghadapinya. Adakah jika engkau jantan, maka nikahi mereka, wahai Adam. Bisakah?
Renungkanlah.
Jauhi mereka, wahai Adam, jika kalian tak kuasa dengan fitnah Hawa. Janganlah percikkan bara, jika kalian tak ingin terbakar olehnya. Janganlah menantang risiko dengan mendekati pintu-pintu fitnah, jika kalian tidak mau menanggung konsekuensinya.
Melegalkan cara-cara yang telah diharamkan-Nya, bagaimanapun itu sudah keluar dari jalur dan syari’at-Nya.
Terbuai cinta yang bersemi sebelum waktunya, sehingga menempuh jalan bermaksiat kepada-Nya. Maka sabarlah dan tuntutlah ilmu.
Amalkan dulu ilmu yang kita punya dalam balutan ketaatan dan ketaqwaan, jika memang sudah tak bisa, tempuhlah jalan yang paling mulia tuntunan Rasul-Nya, yaitu menikahlah melalui jalur syari’at-Nya.
Dengan cara-cara yang dilegalkan dan dihalalkan-Nya, Muslim yang baik untuk Muslimah yang baik,
Muslimah yang baik untuk Muslim yang baik pula, dan sebaliknya.
Semoga Allah memberkahi dalam ikrar suci yang menyatukan cinta Adam dan Hawa karena-Nya,
terbingkai indah dan mulia dengan sebuah pernikahan.
Kuntum mawar yang telah merekah mempesona, hadirkan ungkapan cinta suci pada kekasihnya.
Itulah cinta yang sesungguhnya. Teruntuk ukhti fillah.
Ukhti, aku sangat menyayangi antunna karena Allah. Semoga Allah menyayangimu, hijabilah hatimu dengan hijab kalian, hijab yang sempurna.
Jangan biarkan hatimu mudah terjatuh karena rayuan seorang lelaki khilaf dan berpenyakit hatinya, hingga terlena akan harapan-harapan dan omong kosong mereka.
Jauhilah mereka, setan tak pernah lengah untuk menggoda hamba-Nya, senantiasalah istiqamah di jalan-Nya.
Memohonlah penjagaan dari Rabb-Mu dalam ketaatanmu. Semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu, hidupmu, agamamu, dunia dan akhiratmu.


0 komentar:
Posting Komentar