![]() |
| Ilustrasi anak perempuan. (Foto: Rinso.co.id) |
Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur MINA (Mi’raj Islamic News Agency)
Pada jaman jahiliyah masyarakat merasa sangat terhina atas lahirnya anak perempuan. Bahkan terpikirkan untuk menguburnya hidup-hidup saja anak perempuan itu. Allah menggambarkannya di dalam ayat:
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُ ۥ مُسۡوَدًّ۬ا وَهُوَ كَظِيمٌ۬ (٥٨)يَتَوَٲرَىٰ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦۤۚ أَيُمۡسِكُهُ ۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمۡ يَدُسُّهُ ۥ فِى ٱلتُّرَابِۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ (٥٩
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah wajahnya dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan diri dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memelihara anak itu dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah? Ketahuilah, betapa buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS An-Nahl [16] : 58-59).
Sebagaimana disebutkan di dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
جَاءَتْنِى امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِى فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِى شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ »
Dalam riwayat lain dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menyebutkan kedekatannya dengan para orang tua yang memelihara anak-anak perempuannya dengan baik kelak.
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
Imam An-Nawawi menjelaskan, hadits-hadits tersebut menunjukkan keutamaan para orang tua yang berbuat baik kepada anak-anak perempuannya, memberikan nafkah, dan bersabar terhadap mereka dan dalam segala urusannya.
Masih berkenaan dengan keutamaan membesarkan dan mendidik anak perempuan, Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan sabdanya yang artinya, “Barangsiapa yang memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar atas mereka, memberi mereka makan, minum, dan pakaian dari hartanya, maka mereka menjadi penghalang baginya dari api neraka kelak pada hari kiamat.”
Begitulah karena memang untuk mendidik dan membesarkan anak perempuan sesuai dengan kodrat dan syariat memerlukan pengorbanan dan kesabaran yang lebih dibandingkan dengan mendidik dan membesarkan anak laki-laki.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan bagaimana para orang tua mesti bersabar dan penuh kelembutann dalam mengarahkan anak-anak perempuannya atau terhadap wanita (isteri) juga.
Seperti disebutkan di dalam hadits:
إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ فَإِنْ تُقِمْهَا كَسَرْتَهَا فَدَارِهَا فَإِنَّ فِيهَا أَوَدًا وَبُلْغَةً
Memperlakukan kaum perempuan itu memang seperti saat kita bernafas, saat kita menghirup udara, tulang rusuk akan meregang sempit. Lalu bila kita menghembuskan napas, maka ia akan mengembang mengikuti bentuk aslinya dan memberikan kelegaan. Maknanya, perlu nafas panjang dan hati-hati menghadapi perilaku kaum hawa agar jiwanya tetap lega.
Karena itu, ada kalanya kita harus membimbing perempuan yang kita sayangi sesuai pada norma-norma yang ada, agar hidup kita dan dia kelak dapat menghirup keselamatan. Kita juga perlu memberikan kelapangan jalan, agar ia mengikuti kodrat dan nalurinya sebagai perempuan yang ingin dicintai dan disayang.
Karena itu, marilah kita didik dan kita arahkan anak-anak perempuan dan kaum perempuan semacam isteri, dengan arahan yang benar, contoh yang baik, perkataan yang lembut, perilaku yang santun, dan segala kebaikan. Sehingga kaum perempuan tetap pada asalnya, yakni makhluk yang taat dan setia dalam kebaikan.
Jaga betul anak-anak perempuan kita dari perbuatan maksiat, apalagi sampai melakukan hal-hal yang diharamkan dalam agama Islam. Karena kita sebagai orang akan ikut menanggung dosanya akibat kelalaian kita.
Mari jaga anak-anak perempuan kita hingga dewasa dan saatnya diserahkan kepada sang suami yang akan melanjutkan arahan dalam memperibadati Allah Ta’ala.
Sebab kelak memang ada saatnya sebagai orang tua harus melepas anak perempuannya yang sudah dibesarkan dari kecil berpuluh-puluh tahun. Lalu diserahkan dan dibawa oleh suaminya, pasangan hidupnya, untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dalam mengabdi kepda Allah.
Terasa ada separuh jiwa yang terbang, seolah melayang terbang entah ke mana. Tetapi begitulah hidup harus dihadapi. Sampai suatu saat kelak semua anak-anak pergi satu per satu, dan tinggallah kembali orang tua berdua menjadi kakek nenek sama seperti ketika awal menikah berdua. Namun yang terpenting adalah semuanya dalam ibadah dan takwa kepada-Nya.
Semoga kita mendapatkan jaminan itu. Aamiin.
(Sumber: MirajNews.com)


0 komentar:
Posting Komentar