Berjuta Pahala Menikah (Bag.1)

Ilustrasi
(RajaDumay.com)

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Siapa sih yang tak ingin menikah? Mengingat pahalanya yang berjuta, kebaikan demi kebaikan datang silih berganti, tentu akan menjadi motivasi tersendiri bagi ikhwan-akhwat yang merindukan pernikahan. Bayangkan, ketika sudah menikah, senantiasa ada yang mengingatkan ketika lupa, menasihati ketika lalai, memotivasi agar tekun dan istikomah beribadah serta meraih mimpi-mimpi besar.

Bukan hanya itu, bahkan menikah mampu memotivasi seorang mahasiswa untuk segera menyelesaikan skripsinya. Ia berani ijabsah sebelum mendapatkan ijasah demi menjaga kemuliaan dirinya. Intinya, menikah di jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu full pahala, full barokah, full keindahan dan kebaikan. Menikah itu benar-benar terasa indah dan indahnya benar-benar terasa.

Bila ikhwan-akhwat tahu betapa besar pahala yang dijanjikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka yang menikah, tentu tak bijak rasanya bila menikah itu harus ditunda-tunda apalagi menunggu harus lulus kuliah dulu atau punya apa-apa dulu. Berikut adalah aliran deras pahala bagi ikhwan-akhwat yang menikah karena ingin menjaga kehormatannya.

Pertama, menikah itu melengkapi agamanya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Siapa yang menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (HR. Thabrani dan Hakim).

Hadis di atas mestinya menjadi motivasi bagi ikhwan-akhwat untuk segera mengakhiri masa lajangnya. Bayangkan, dalam Islam, tak ada yang mampu melengkapi separuh agama kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan menyegerakan menikah. Dengan menikah, Allah melengkapi separuh agama hamba-Nya. Ini artinya, betapa besar perhatian Allah dan Rasul-Nya bagi setiap Muslim yang menikah karena ingin menjaga kehormatannya. Jadi, jangan ragu dan segeralah menikah karena menikah itu melengkapi agama.

Kedua, menikah berarti menjaga kehormatan diri. Dalam sebuah hadis dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Wahai para pemuda! Siapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi faraj (kemaluan). Dan siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

Itulah janji Allah bagi ikhwan akhwat yang menikah. Orang yang menikah berarti ia faham dan berusaha menjaga kehormatan dirinya. Dia begitu khawatir dengan pergaulan diluar sana yang jauh dari nilai-nilai islami. Karena kekhawatirannya itulah ia memutuskan untuk segera menikah. Ia yakin dengan menikahlah kehormatan dirinya akan terjaga dari lawan jenis yang harap ditatapnya dan lain sebagainya. Dengan menikah itu pula hatinya akan terjaga dari gangguan lawan jenis yang bukan mahramnya. Jadi, segeralah menikah sebab menikah berarti menjaga kehormatan diri dari kenistaan.

Ketiga, senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Segala sesuatu yang di dalamnya yang tidak mengandung Dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau dan permainan kecuali empat perkara yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah dan mengajarkan renang.” (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245, Silsilah Al Hadits Ash Shohih no. 309).

Itulah di antara janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi mereka yang menikah. Ketika suami istri saling memandang, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala pun ridha melihat keduanya. Ketika keduanya saling berpegangan tangan, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala pun tersenyum dan menurunkan rahmat bagi keduanya. Singkatnya, apa pun yang dilakukan suami istri selama ini adalah kebaikan, pasti akan mengundang pahala dan ridha dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Keindahan-keindahan itu tentu tak berlaku bagi mereka yang memuaskan syahwatnya dengan pacaran tanpa ikatan yang sah, sebab pacaran adalah prilaku iblis yang bisa menjerumuskan pelakunya kepada neraka Jahannam. Pacaran hanya pelampisan nafsu untuk menuruti kehendak setan dan binatang. Jadi, menikahlah, karena menikah itu senda guraunya saja berbuah pahala.

Keempat, menggauli istri termasuk sedekah. Suatu hari, pernah ada beberapa shahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya, ”Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka?”


Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ”Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian menggauli istri pun sedekah?” Mereka bertanya, ”Wahai Rasulullah, mengapa bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?”
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, ”Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwat itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?” Mereka menjawab, ”Ya, tentu?”


Beliau bersabda, ”Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala?” (Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu bersabda, "Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua rakaat Dhuha?”) (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

(Bersambung ke "Berjuta Pahala Menikah (Bag.2)")
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar