![]() |
| Diskotik tempat rawan maksiat. (Foto: dok. DataRiau.com) |
Oleh: Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Rokhmat S. Labib M.E.I
Perbuatan maksiat adalah semua perbuatan yang melanggar hukum syara’. Sebagai pelanggaran, pelakunya akan mendapatkan dosa. Semakin banyak dosa, semakin berat pula timbangan keburukan. Ketika itu terjadi, maka peluang masuk ke dalam neraka bagi pelakunya pun semakin besar.
Selain dosa, perbuatan maksiat juga memberikan dampak buruk lainnya kepada pelakunya. Di antaranya dapat membutakan hati pelakunya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
كَلاَّ بَلْ رانَ عَلى قُلُوبِهِمْ ما كانُوا يَكْسِبُونَ
Bakar bin Abdullah berkata, “Sesungguhnya hamba, jika berbuat dosa, maka terdapat di hatinya seperti tertusuk jarum. Kemudian dia berbuat dosa lagi, maka hatinya akan seperti itu lagi. Hingga ketika telah banyak dosa, hatinya seperti ayakan atau saringan yang tidak memahami kebaikan dan tidak ada lagi kebaikan di dalamnya.” (al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur`ân, vol. 19, 261).
Dampak lain dijelaskan oleh Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata, “Dampak maksiat adalah lemah dalam beribadah, kesulitan hidup, berkurangnya nikmat” Ketika beliau ditanya, “Seperti apa berkurangnya nikmat?” Beliau jawab, “Tidak akan mendapatkan dorongan pada perkara yang halal, kecuali membuatnya gelisah.” (al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa’, h144)


0 komentar:
Posting Komentar