Gadis Batak-4: Usai Digilir, Depresi Berat Seperti Mayat Hidup

Ilustrasi. (Foto: Reuters)
(RajaDumay.com) --- Setelah memperjuangkan akidahnya dari teror keluarga Kristennya, diculik, dipukuli hingga berulang kali pingsan, lalu dinodai bergilir, Uly Hutabarat (bukan nama sebenarnya) kembali ke orang tua angkatnya di Bengkalis, Riau. 

Sebelumnya telah dikisahkan dalam "Gadis Batak-3: Karena Islam Uly Diculik, Dihajar, dan Digilir".

Ia mengalami depresi berat, selalu mengurung diri di kamar, makan harus disuapi, mandi pun harus dimandikan, benar-benar seperti mayat hidup. Bahkan ia sempat dibawa ke psikiater karena dianggap terkena gangguan jiwa.

Salah satu guru SMA menasihatinya, bahwa apa yang Allah ujikan itu untuk membuat imannya semakin kuat. Kesucian itu letaknya bukan di situ, tapi di mata Allah.

Insya Allah, di mata Allah saya tetap sebagai gadis suci, di mata Allah saya itu suci. Teman-teman Muslim di sekitarnya begitu peduli dan senantiasa memotivasi untuk bangkit dan menjalani hidup. Mereka terus menyemangati saya, dari situlah saya mulai bangkit,” ujarnya.

Setelah kondisinya mulai membaik, orang tua angkatnya bersama tokoh Muslim sekitar yang peduli, menghijrahkan Uly ke pulau Jawa. Selain untuk melanjutkan kuliah, tujuan lainnya adalah menghindari hal-hal buruk.

Uly pun hijrah ke Jawa untuk menimba ilmu di pondok pesantren khusus akhwat (Muslimah). Sambil belajar agama, ia kuliah D-1 di Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak (PGTK), sambil mengajar di TK. 

Setahun kemudian ia melanjutkan kuliah ke fakultas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di kota yang sama. Masa kuliah ini pun tidak berjalan mulus karena kendala finansial. Orang tua angkatnya di Riau mengirim uang pendidikan setiap bulan Rp300 ribu, padahal biaya kontrakan saja Rp400 ribu.

Untuk menutupi kekurangan, ia mulai berusaha mandiri mencari nafkah dengan berjualan  makanan dan mengajar TK. Dari mengajar TK ia dapat tambahan pemasukan Rp250 ribu guna menutupi biaya harian.

Indah sempat memutuskan berhenti kuliah karena biayanya terlalu besar. Tapi teman-temannya terus memotivasi agar ia terus berjuang menyelesaikan kuliah. Maka ia kembali bertekad menyelesaikan kuliah. Untuk biaya kuliah yang makin menggunung, ia terpaksa meminta-minta dan berhutang kepada teman-teman maupun ibu-ibu pengajian yang dikenalnya di majelis taklim.

“Saya pinjam ke teman-teman untuk menutupi biaya kuliah dan tugas-tugas. Puncaknya itu ketika saya nyusun skripsi, PPL, KKN yang butuh biaya besar. Sampai hutang kuliah itu mencapai sekitar Rp31 juta ke beberapa orang,” ujarnya.

Tingginya biaya rumah sakit

Di tengah lilitan hutang, musibah datang lagi. Tengah malam, Uly jatuh di kamar mandi hingga tak sadarkan diri. Kepalanya terbentur ke lantai. Teman satu kontrakannya segera melarikannya ke Rumah Sakit Islam, lalu dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap. “Dari hasil CT-Scan ternyata ada penyempitan dan pembengkakan di otak kecil di belakang kepala,” ujarnya.

Akhirnya ia berobat ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis bedah saraf. Dokter pun menyarankan untuk dirawat inap. Dengan uang seadanya melalui bantuan salah seorang teman, ia dirawat di rumah sakit. Total biaya pengobatan dan perawatan sekitar Rp7 Juta  belum termasuk  obat. Setelah diopname, Indah masih harus rawat jalan selama beberapa bulan.

Untuk menutupi biaya ini, dia dibantu teman satu kontrakannya, mereka kembali melakukan jurus “berhutang” kepada teman dan kenalan yang ada. Padahal hutang yang lama untuk biaya kuliah belum terbayar. “Hutang pun bertambah menjadi sekitar Rp37 jutaan,” tuturnya. (Bersambung....)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar