| Ilustrasi anggota Paskibra berjilbab. (Foto: Putri Khairusa'diah/2012) |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Bab sebelumnya: Kejutan Untuk Geng Bintang Tujuh
Beberapa hari sebelumnya.
Senin yang cerah. Di lapangan IP YAKIN berbaris semua siswa
melaksanakan rutinitas wajib, yaitu upacara bendera. Kali ini SMK jurusan
akuntansi yang mendapat giliran sebagai petugas upacara. Semua sudah siap.
Dewan Guru sudah berjejer rapih di belakang podium Pembina
Upacara yang masih kosong. Semua murid pun sudah berbaris rapih. Barisan depan
adalah murid-murid yang memang siap berdiri tegap sepanjang upacara. Sementara
di barisan belakang adalah langganan murid yang tidak mau berdiri tegak
sempurna dalam upacara, termasuk ketujuh personil Geng Bintang Tujuh yang diketuai oleh Rina Viona dan dibawahi oleh Iyut
Nirmala (Ala), Novi Andria
(Ofi), Indah Pertiwi (Iwi), Ristana (Iis), Windi Anggita (Windi), dan Ade
Irma (Adel). Mereka berdiri santai, bahkan bercanda.
“Pemimpin Upacara memasuki lapangan upacara!” seru siswi
petugas pembawa acara, lantang dari sudut lapangan.
Tak!
Hentakan langkah pertama sang Pemimpin Upacara cukup keras
hingga suaranya terdengar sampai ke sudut terjauh lapangan. Selanjutnya ia
melangkah tegap layaknya seorang pemimpin militer dengan seragam Paskibra.
Yang menjadi Pemimpin Upacara kali ini dipercayakan kepada
seorang siswi berjilbab. Dan siswi berjilbab di sekolah itu, baik di SMU
ataupun di SMK, hanya ada lima orang. Di kelas dua akuntansi hanya ada dua,
satu di antaranya adalah Barada.
Sampailah Barada beberapa meter di depan podium Pembina
Upacara. Kemudian dia menghadap kepada barisan para siswa dengan wajah lurus
tegak, tapi pandangan menyapu luas.
Sementara itu, Rina yang tidak biasanya serius mengikuti
jalannya upacara, kali ini serius memperhatikan ke depan. Ia tidak
memperdulikan teman-teman satu gengnya yang terkadang tertawa tertahan dan
sibuk sendiri. Meski ia berdiri di belakang barisan, tapi fokus pandangannya
tertuju kepada sosok Barada selaku Pemimpin Upacara Bendera.
“Badar tampil gagah,” membatin Rina.
Suasana hening dan khidmat, meski di belakang barisan
ketidaktertiban bisa diredam oleh para pelakunya sendiri.
Namun, ada yang aneh. Meski tanpa suara, terjadi sedikit
ketidakelokan di jajaran Dewan Guru. Dengan tetap berdiri tertib, tetapi bibir
mereka berbicara satu per satu. Bahkan beberapa guru tampak tersenyum geli.
“Astaghfirullah!”
kejut Barada, tapi hanya dalam hati. Sikapnya tetap sempurna.
Barisan yang satu garis lurus dengan posisi Barada selaku
Pemimpin Upacara adalah barisan siswa pria SMU kelas tiga. Salah satu siswa
yang berdiri di barisan paling depan adalah Supoyo, anak kelahiran Surabaya, Jawa Timur. Barada hanya kenal
tampang tanpa kenal nama. Yang membuat Barada beristighfar dalam hati bukanlah
disebabkan oleh wajah Supoyo yang sekeren penyanyi Didi Kempot, tapi karena
resleting celana abu-abunya tidak ditarik ke atas, alias terbuka lebar. Tak
ayal lagi, selain ujung baju yang dimasukkan terlihat, warna celana dalam yang
sekuning buah pisang pun tampak dari jauh. Namun demikian, Supoyo masih beruntung karena masih memakai celana dalam.
Resleting celana Supoyo itulah yang menjadi sumber kegaduhan
di jajaran Dewan Guru.
“Pembina Upacara memasuki lapangan upacara!” seru pembawa
acara dengan lantang.
Pembina Upacara yang kali ini dilakoni oleh Kepala Sekolah
SMK IP YAKIN, Drs. Didi Sudrajat, MM,
melangkah memasuki lapangan upacara dan naik ke podium pembina, dikawal ketat
oleh petugas pembawa teks Pancasila.
Barada yang seharusnya balik kanan menghadap ke arah
pembina, justeru melangkah tegak maju lurus mendatangi posisi berdiri Supoyo.
Para siswa pun berubah riuh, sebagian bahkan tertawa, karena mereka menduga
Barada telah salah jalan.
“Lihat lihat lihat!” seru Indah Geng Bintang Tujuh kepada
teman-temannya sambil menunjuk ke depan. Badar salah jurusan, hahaha!”
Rina menunjukkan wajah heran yang serius, karena sejak tadi
dia fokus memperhatikan Barada yang biasa dipanggil dengan nama Badar.
Memang para siswa tidak tahu apa alasan Barada justeru
mendatangi Supoyo dengan langkah formal, bukan mendatangi Pembina Upacara. Pak
Didi pun heran, karena dia sendiri belum sempat melihat resleting celana
Supoyo, terlebih sekarang terhalangi oleh punggung Barada.
Barada berhenti tepat satu jangkauan dari Supoyo yang heran
tiada aral dan rintangan.
“Apakah Badar ingin menyatakan cintanya di saat upacara
seperti ini?” bertanya batin Supoyo dengan wajah tegang, sementara di atas
ubun-ubunya terbayang ilusi Barada mengumumkan cinta kepadanya di depan seluruh
siswa dan guru yang kemudian disambut sorakan meriah dan tepuk tangan.
“Resleting celana kamu tolong naikkan,” kata Barada pelan
berbisik kepada Supoyo.
Jleggarr!
Petir seketika menyambar tepat di atas ubun-ubun Supoyo
mendengar kalimat bisikan itu. Itu bukan bisikan cinta, tapi bisikan yang
menyetrum seluruh saraf malu. Wajah seganteng Didi Kempot itu seketika mendelik
hebat dan memerah kelam menahan rasa malu. Sepasang tangannya yang sejak tadi
mengepal siap lurus di sisi badan, dengan begitu cepat berkelebat menemukan
resleting celananya. Dan memang benar, resleting itu masih terbuka lebar. Cepat
pula Supoyo menarik tutup resletingnya.
“Hihihik!” siswa yang berdiri di sisi kanan dan kiri Supoyo
segera membekap mulutnya dengan tangannya sendiri, menahan tawa agar tidak
keluar terbahak. Hanya kedua siswa itu yang mengerti apa yang dibisikkan oleh
Barada dan yang dialami Supoyo.
Barada sendiri dengan mantap balik kanan kembali ke
posisinya semula, tapi masih menghadap ke arah barisan siswa dan siswi, membelakangi
Pembina Upacara.
Sebenarnya Barada adalah gadis yang gampang tertawa, tapi
ketika ia memutuskan untuk memberi tahu Supoyo, ia sudah mempersiapkan diri
untuk menahan tawanya.
“Seluruhnya, siaaap, grak!” teriak Barada lantang dengan
suara khasnya yang sedikit serak.
Komando Pemimpin Upacara itu seketika meredakan gemuruh
kebisingan yang sempat tercipta karena keputusan Barada untuk mendatangi
Supoyo.
Barada lalu balik kanan menghadap kepada Pembina Upacara,
Bapak Didi Sudrajat.
“Kepada, Pembina Upacara, hormaaat, grak!”
Setelah kejadian unik tersebut, upacara Senin itu pun
kembali berlangsung secara normal hingga akhir.
Rina jadi penasaran dengan apa yang terjadi di lapangan
upacara tadi, ia ingin tahu, sebab kejadian itu melibatkan Barada. Karenanya,
Rina tidak langsung masuk ke kelas usai upacara, tapi berdiri menunggu di bibir
tangga lantai tiga.
Lantai tiga memang adalah kawasan SMK. Lantai dua adalah
SMU. Lantai satu beberapa ruang kelas SMU dan ruangan guru, kepala sekolah,
perpustakaan, lab, komputer, kantin, dan ruangan lainnya.
Akhirnya Barada muncul dari bawah menaiki tangga ke lantai
tiga. Ia sudah tidak mengenakan pakaian Paskibra lagi. Tampak Barada
senyum-senyum sendiri. Bukan tanpa sebab ia terus tersenyum, itu karena ia
masih mengingat jelas ekspresi Supoyo ketika ia tahu bahwa resleting celananya
belum dinaikkan.
“Untung masih pakai sempak,” pikir Barada yang membuatnya
tertawa lepas, karena mau tidak mau terlintas gambaran porno di pikirannya.
“Hahaha!”
“Badar!” panggil Rina sambil menghadang Barada yang seketika
memperkecil volume tawanya.
“Ye?” tanya Barada seraya tersenyum kepada Rina, bukan
tersenyum karena kejadian di upacara tadi.
“Gua pengen tahu, kenapa lu ngedatangin anak bawah di
upacara tadi,” ujar Rina.
“Oh itu,” ucap Barada lalu tertawa kecil. “Aduh, maaf, Rin.
Bukannya saya pelit, tapi itu tidak boleh disebarkan. Jika pun nanti hal itu
tersebar ceritanya, tetap saya tidak mau jadi bagian dari para penyebar itu.
Maaf, ya.”
Barada lalu membungkuk seperti kebiasaan orang Jepang, lalu
berlalu pergi.
Rina hanya terdiam kecewa, tapi ia memang tidak bisa memaksa
Barada, meskipun ia biasanya suka memaksakan kehendak kepada orang lain.
Rina akhirnya melangkah ke arah pintu kelasnya, tapi ia
berhenti ketika mendengar percakapan dua siswi kelas dua akuntansi lainnya yang
menaiki tangga.
“Yani, tunggu!” panggil Rina cepat, lalu segera mendatangi
siswi berambut kepang satu dan temannya.
Kedua siswi itu berhenti. Melihat siapa yang memanggil,
wajah keduanya menunjukkan kadataran, karena keduanya tahu Rina adalah Ketua
Geng Bintang Tujuh. Dan mereka tidak suka dengan geng itu.
“Yani, lu kan tadi bertugas bawa map Pancasila. Lu pasti
tahu kejadian aneh di lapangan tadi?” tanya Rina.
“Gua cuma lihat Badar mendekati Supoyo, tapi gak lihat waktu
resleting Supoyo kebuka,” jawab Yani.
“Jadi, Badar ngedatangin anak bawah itu cuma mau ngasih tahu
kalau resletingnya kebuka?” tanya Rina memastikan.
“Iya, gua juga lihat kalau celana Supoyo kebuka waktu
upacara,” timpal Ita, teman Yani yang saat upacara berdiri di barisan depan paduan suara.
“Oke, terima kasih,” ucap Rina lalu berbalik pergi.
Sambil berjalan ke kelasnya, Rina berpikir, “Meski pakai
jilbab, tapi Badar tidak sungkan menegur resleting cowok. Dan dia tidak mau
menceritakan kejadian memalukan itu....”
Di waktu istirahat, hampir semua siswa SMK bergegas ke
kantin di lantai bawah. Di sekolah itu ada dua kantin, satu kantin besar
seperti restoran mini, dan yang lainnya kantin sederhana begitu adanya. Namun
perlu diketahui, pemilik kedua kantin tidak terlibat dalam persaingan.
Di sekolah itu, waktu istrahat antara SMU dan SMK berbeda.
Kebijakan itu ditetapkan untuk menghindari terjadinya pembludakan di kantin.
Di kantin besar yang dimiliki oleh keluarga yayasan sekolah
itu, dikenal dengan sebutan Kantin Latah,
karena dua lelaki pelayannya mengidap penyakit latah. Tapi sangat beruntungnya,
latah keduanya bukan latah jorok.
Adapun kantin kecil populer di kalangan siswa dan guru
dengan nama Kantin Cantik.
Dipimpin oleh Rina, Geng Bintang Tujuh berjalan bergerombol
sepanjang koridor menuju Kantin Latah. Meski pembeli membludak di Kantin Latah,
satu set meja dari sepuluh set meja makan yang ada pasti kosong, selama Geng
Bintang Tujuh belum duduk di sana. Dan semua siswa SMK dan SMU tahu bahwa satu
set meja adalah meja makan yang dimonopoli oleh geng perempuan itu.
Ketika Geng Bintang Tujuh masuk ke Kantin Latah, semua meja
penuh, kecuali satu yang masih kosong. Dan meja itu memiliki tujuh kursi,
sedangkan meja selainnya memiliki empat kursi. Ketujuh gadis itu langsung duduk
di tujuh kursi yang masih kosong.
“Mas Budi!” teriak Novi sebagaimana biasanya memanggil
seorang pelayan, meski semua pelayan sibuk.
Memang terkadang tingkah anak-anak Geng Bintang Tujuh
membuat siswa-siswi yang lain merasa muak, tapi rasa muak itu hanya bisa mereka
telan sendiri. Mereka sedikit pun tidak mau berurusan dengan anak geng yang
mereka anggap gadis-gadis sombong yang sok jagoan.
Pelayan kantin yang bernama Mas Budi segera menyahut dari balik meja pelayanan sambil tetap
melayani siswa lainnya yang sedang mengantri memesan, “Iya, Neng Ofi!”
Tapi Mas Budi tidak segera datang, dia malah mencolek pria
lain di sebelahnya yang juga sibuk melayani membungkus dan memplastikkan
makanan.
“Eh, brondong Afrika!” pekik pria yang dicolek, terkejut
latah. Lalu menoleh kepada Mas Budi setelah tersadar dari latahnya.
“Layanin dulu tuh anak-anak mama,” kata Mas Budi berbisik
kepada Mas Afrika, pria manis
berkulit hitam dengan usia 27 tahun. “Nanti aku beri, deh.”
“Jangan ingkar kau, ya,” kata Mas Afrika seraya setengah
menunjuk hidung Mas Budi.
Dengan sedikit gemulai Mas Afrika meninggalkan layanannya
menuju meja Geng Bintang Tujuh. Dengan wajah ceria manisnya dan gigi berderet
rapih dan putih, Mas Afrika menyapa ketujuh gadis cantik itu. Perlu diketahui,
untuk menjadi personil Geng Bintang Tujuh, salah satu syarat utamanya adalah
cantik.
“Hello, dewi-dewi bintang!” sapa Mas Afrika yang nama
aslinya adalah Muhammad Aziz.
Suaranya mengalun manja, bawaan pergaulan. “Mau pesan apa, Neng Rina?”
“Heh!” sentak Novi sambil menepuk lengan Mas Afrika.
“Terong Afrika! Eh, Afrika-Afrika, terong Afrika!” latah
Mas Afrika dengan mimik gelagapan. Lalu katanya setelah tersadar, “Ih, Neng Ofi
galak betul, ah.”
“Lagian, gua manggil Mas Budi, eh yang datang kijang
Afrika!” protes Novi.
Yang lain hanya tertawa.
“Kita pesan soto sama nasi aja, Mas,” kata Iyut.
“Buat Duo K, jangan lupa, Mas Afrika, sotonya pakai bakso,”
kata Windi sambil kedipkan mata genit.
“Aduh, Neng Windi bikin syuuur ajah,” ucap Mas Afrika sambil
senyum-senyum malu tidak layak. Lalu tiba-tiba latah lagi, “Banci Afrika! Eh,
lu banci Afrika!”
“Buruan, ah. Gak ada waktu buat naksir kita-kita. Laper
nih,” hardik Novi yang tadi mencolek pinggang Mas Afrika, karena si mas itu
beriri di sebelah Novi.
“Tapi minumnya apa?” tanya Mas Afrika belum beranjak.
“Semua es kelapa, kecuali Duo K, teh hangat,” jawab Indah.
“Gua enggak usah, Mas,” kata Rina yang membuat keenam
sohibnya memandangnya dengan pertanyaan.
“Kenapa, Rin?” tanya Novi.
Rina justeru berdiri, lalu katanya, “Lu semua makan aja, gua
ada urusan sebentar.”
“Oke deh!” sahut Windi dan Ade Irma bersamaan.
“Tunggu sebentar ya, dewi-dewi cantik,” kata Mas Afrika lalu
segera pergi.
Rina lalu melangkah ke luar kantin. Tidak ada yang tahu
bahwa sejak masuk ke kantin itu, Rina mencari-cari seseorang, tapi tidak ia
temukan.
Rina pergi ke Kantin Cantik di sebelah Kantin Latah. Dia
hanya berdiri diam sebentar, sementara matanya mencari, karena untuk melihat
orang yang dicarinya akan mudah, sebab orang yang dicarinya memakai jilbab.
“To, lu lihat Badar?” tanya Rina kepada Wanto, siswa sekelas Barada.
“Enggak, Rin,” jawab Wanto.
Tidak menemukan Barada di area kantin, Rina memutuskan naik
ke lantai tiga dan pergi ke kelas dua akuntansi. Namun, di kelas itu hanya ada
dua siswi yang asik ngobrol. Obrolan keduanya berhenti ketika melihat Rina
masuk mendatangi mereka.
“Lu berdua tahu di mana Badar?” tanya Rina kepada kedua
siswi yang ia tidak hapal namanya.
“Kalau istirahat, kemungkinan besar Badar ada di dua tempat,
Rin. Kalau gak ada di dapur sekolah, dia ada di perpustakaan,” ujar siswi yang
rambutnya digelung dan ditusuk konde mirip emak-emak.
“Oke, thank’s,” ucap Rina lalu kembali pergi.
Dapur sekolah dan perpustakaan ada di lantai satu.
“Kalau ke dapur sekolah, berarti gua harus lewat ruang guru,
ah gua gak bisa masuk ke ruang guru. Gua cari di perpustakaan aja,” batin Rina.
Setibanya di depan perpustakaan, Rina pun langsung masuk,
tapi dia tidak langsung melihat keberadaan siswi berjilbab yang dicarinya.
Selain staf penjaga perpustakaan, hanya ada beberapa pelajar di dalam ruangan
yang cukup besar itu.
Rina berjalan sambil melihat ke gang-gang antara rak buku.
Dan nun jauh di sudut, di rak paling ujung, tampak Barada sedang duduk
bersender tembok sambil membaca buku. Namun Rina tidak langsung mendatanginya,
ia berlagak mencari buku yang tidak dicarinya.
Rina masuk dari gang rak yang lain lalu berbelok hingga tiba
di rak yang sama dengan Barada. Namun, lagi-lagi Rina berpura-pura mencari buku
tanpa memandang atau menegur Barada.
Karena ada kehadiran orang tidak jauh darinya, Barada pun
menghentikan bacanya dan beralih memandang untuk tahu siapa gerangan.
“Eh, Rin,” sapa Barada akrab sambil berdiri, padahal mereka
berdua tidak akrab. “Nyari buku apa? Di rak ini khusus buku-buku sejarah
dunia.”
“Buku belajar gitar pro,” jawab Rina tanpa senyum.
“Di rak ujung satunya,” kata Barada sambil berjalan pergi ke
rak yang ia maksud.
Rina mengikuti.
“Lu baca apa?” tanya Rina.
“Sejarah Yaman. Saat ini perang berlangsung di Yaman. Tapi
yang buat saya heran, sebuah kelompok minoritas bisa dengan cepat merebut
ibukota Sanaa dan menggulingkan pemerintahan pimpinan Presiden Abd-Rabbu Mansour
Hadi. Dan hebatnya lagi, pemberontak ini bisa dengan cepat merebut berbagai
wilayah lain di Yaman. Setahun koalisi negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi
menggunakan serangan udara, tidak mampu mengalahkan para pemberontak. Hingga
sekarang. Perkembangan terbaru, akan diadakan gencatan senjata dan perundingan
damai antara pemberontak Yaman dengan Arab Saudi,” tutur Barada yang memang
sedang memegang buku sejarah negara-negara Arab.
“Busyet, nih anak wawasannya daerah konflik dunia,” membatin
Rina.
“Saya bantu cari,” kata Barada setibanya di rak yang
menyimpan buku-buku yang berkaitan dengan dunia musik.
Barada mulai melihat judul buku satu per satu di rak itu.
Rina mencari di sisi rak sebelahnya.
“Istirahat begini lu gak makan?” tanya Rina.
“Senin dan Kamis saya puasa, jadi gak makan. Selasa, Rabu,
Jumat saya di dapur sekolah.
Rina terdiam sejenak mendengar jawaban Barada dari seberang
rak. Lalu tanyanya lagi, “Ngapain lu di dapur sekolah?”
“Khusus membuatkan teh dan kopi untuk guru-guru yang
mengajar di kelas akuntansi.”
“Disuruh guru?” tanya Rina lagi.
“Tidak. Kalau dikatakan berlebihan, orang lain mungkin
menganggapnya iya. Tapi bagi saya, itu wujud bakti dan terima kasih saya kepada
para guru yang memberikan ilmunya kepada saya,” jawab Barada.
Rina kembali terdiam mendengar jawaban itu. Lalu katanya,
“Gua udah dapat bukunya. Thank’s, ya.”
“Sama-sama,” ucap Barada sambil membungkuk seperti orang
Jepang kepada Rina.
Sebenarnya Rina ingin tertawa jika melihat Barada membungkuk
seperti itu. Menurutnya lucu.
Rina melangkah pergi sambil membawa sebuah buku yang
sebenarnya tidak dia perlukan.
“Setiap gua ngobrol sama Badar, selalu ada sesuatu yang baru
gua dapat. Dia cewek yang aktif, gagah, tidak sungkan menegur resleting
terbuka, berani mengambil keputusan saat di upacara tadi, tidak menceritakan
keburukan orang, berwawasan dunia, berbakti kepada guru, puasa Senin-Kamis.
Apakah dia itu cewek sempurna?” pikir Rina.
Figur Barada ternyata membuat Rina sangat penasaran. Secara
diam-diam dia memperhatikan prilaku Barada di sekolah dalam beberapa hari
terakhir, tanpa sepengetahuan keenam personil Geng Bintang Tujuh lainnya.
Meski demikian, Barada bukanlah sosok gadis pendiam layaknya
Muslimah yang sangat menjaga pandangan dan suaranya. Rina seringkali melihat
Barada tertawa ketika berkomunikasi langsung dengan teman sekelasnya. Beberapa
kali Rina mendengarnya tertawa keras, yang seharusnya tabu bagi gadis yang tahu
ilmu agama.
Tapi itulah Barada.
“Badar!” sebut Ustad Mukhtar Abdulghani saat lewat dan
mendengar Barada tertawa terkakak-kakak bersama Eka Fitriyani, Ketua OSIS SMK
yang juga Ketua Kelas 2 Akuntansi.
Teguran itu seketika membuat Barada membekap mulutnya
sendiri lalu membungkuk seperti orang Jepang kepada guru agama Islam itu.
“Iya, Ustad!” sahut Barada.
Ustad Mukhtar pun berlalu menuju tangga.
Tingkah Barada itu membuat Rina tertawa sendiri di depan
pintu kelasnya.
“Lu ngetawain apa, Rin?” tanya Novi di sebelahnya.
“Noh, si anak pesantren, seperti orang Jepang,” jawab Rina,
membuat Novi jadi memandang jauh ke depan kelas akuntansi. (RH)

0 komentar:
Posting Komentar