Jangan Remehkan Ucapan Anda

Ilustrasi. (Gambar: igottadowhat.com)
(RajaDumay.com) --- Mengajak manusia ke jalan Allah ta’ala merupakan aktifitas yang sangat mulia. Allah ta’ala menyebutnya sebagai "ucapan yang paling baik". Namun, tidak banyak Muslim yang mau dan sanggup melakukannya. 

Pada umumnya seorang Muslim dihalangi oleh seribu satu alasan untuk tidak melakukannya. Ada alasan yang sangat umum yaitu ”nanti si non-Muslim tersinggung”. Itulah sebabnya Allah ta’ala membekali kita dengan firmanNya: 

ٱدۡعُ Ø¥ِÙ„َÙ‰ٰ سَبِيلِ رَبِّÙƒَ بِٱلۡØ­ِÙƒۡÙ…َØ©ِ ÙˆَٱلۡÙ…َÙˆۡعِظَØ©ِ ٱلۡØ­َسَÙ†َØ©ِ‌ۖ ÙˆَجَÙ€ٰدِÙ„ۡÙ‡ُÙ… بِٱلَّتِÙ‰ Ù‡ِÙ‰َ Ø£َØ­ۡسَÙ†ُ‌ۚ Ø¥ِÙ†َّ رَبَّÙƒَ Ù‡ُÙˆَ Ø£َعۡÙ„َÙ…ُ بِÙ…َÙ† ضَÙ„َّ عَÙ† سَبِيلِÙ‡ِÛ¦‌ۖ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ Ø£َعۡÙ„َÙ…ُ بِٱلۡÙ…ُÙ‡ۡتَدِينَ

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS AnNahl [16] ayat 125) 

Artinya, Allah Maha Tahu bahwa sangat mungkin ajakan kita tersebut mendatangkan penolakan dari obyek dakwah, tapi itu bukan alasan untuk tidak berdakwah.

Seorang Muslim tatkala menyampaikan dakwah Islam, haruslah memiliki optimisme dan harapan hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Ia harus selalu mengingat bahwa kewajibannya hanyalah menyampaikan. Adapun soal obyek dakwahnya mau menerima atau tidak, maka ini bukan urusan si Muslim. 

Hal lain yang juga harus selalu diingat oleh seorang Muslim yang mengajak orang lain agar ikut jalan Allah ta’ala ialah ”Jangan remehkan ucapan Anda”. Siapa tahu, justru melalui lisan Anda seseorang memperoleh hidayah. Anda tidak akan pernah tahu apakah ucapan Anda mendatangkan taufik dan hidayah Allah ta’ala sebelum Anda mencobanya.

Ada seorang Muslim yang sewaktu lulus SMA pergi untuk kuliah ke luar negeri. Saat ia pertama kali tiba di London, kemampuan berbahasa Inggrisnya masih belum lancar. Waktu itu sedang bulan Ramadan. 

Hari-hari pertama tiba di Inggris ia ikut sebuah bus Tour Wisata keliling kota London. Saat datang waktu makan siang bus itu berhenti di sebuah restoran dan semua turis turun untuk makan siang. Termasuk si Muslim yang orang Indonesia tersebut.

Semua penumpang bus wisata makan di restoran tersebut kecuali si Muslim, karena ia sedang puasa. Maka ketika melihat ia tidak makan si Guide (penunjuk jalan) seorang berkebangsaan Inggris mendekatinya dan bertanya, ”Why aren’t you eating?” (Mengapa kamu tidak ikut makan?).

Dengan bahasa Inggris yang terbatas iapun menjawab: ”I am Muslim. This is Ramadhan. I am fasting.” (Saya seorang muslim. Ini bulan Ramadhan. Saya sedang puasa)

Tiba-tiba dengan nada mengejek si penunjuk jalan itupun berkata, ”Oh, rupanya Anda datang dari sebuah negera Muslim. Negara yang miskin sehingga kamu tidak sanggup makan.”

Lalu si Muslim pun menjadi marah dan tersinggung. Tapi bagaimana caranya mengungkapkan kemarahan dalam suatu bahasa yang belum dikuasai? Akhirnya ia hanya bisa berkata, "Wait, one year… I will explain to you the beauty of Islam…” (tunggulah satu tahun, nanti aku jelaskan padamu indahnya ajaran Islam). 

Maksudnya ia ingin diberi kesempatan belajar bahasa Inggris dahulu selama setahun, baru nanti ia akan jelaskan secara panjang lebar apa itu sebenarnya ajaran Islam nan indah ini.

Sesudah satu tahun si Muslim ini pun memenuhi janjinya. Ia datangi si penunjuk jalan untuk menjelaskan Islam kepadanya. Namun, apa yang terjadi? Begitu mereka berjumpa satu sama lain, tiba-tiba si guide orang Inggris ini menyapa si Muslim Indonesia ini dengan ucapan, "Assalaamu’alaikum, brother…!"

Maka Muslim Indonesia ini terkejut dan bertanya, ”Anda sudah masuk Islam?”

”Iya benar, saya sudah masuk Islam,” kata si orang Inggris.

”Waduh, saya baru saja mau menjelaskan kepada Anda apa itu Islam,” kata Muslim Indonesia.

”Anda terlambat, saudarak.” kata si Inggris.

Maka si Muslim Indonesia pun bertanya, "Bagaimana ceritanya Anda sampai memeluk Islam?”

”Saya masuk Islam sejak Anda mengatakan ’I will explain to you the beauty of Islam’… Maka saya pun bertanya-tanya apa memang di dalam Islam ada keindahan? Saya selama ini hanya tahunya Islam itu identik dengan terorisme dan segala yang hitam dan jelek. Maka karena saya penasaran, saya pun belajar Islam. Dan alhamdulillah, saya mendapat hidayah dari Allah ta’ala.”

(Sumber: EraMuslim.com)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar