| Ilustrasi Rina Viona. |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Bab sebelumnya: Dari Resleting Hingga Wawasan Konflik Dunia
Sebelumnya di hari Minggu.
Sedan hijau muda dan Avanza merah maroon bergerak keluar meninggalkan area perbelanjaan mall Daan
Mogot. Sedan hijau dikemudikan oleh Indah
Pertiwi (Iwi). Di sebelahnya adalah gadis cantik berambut ikal indah
berbaju kuning. Rok hitam selututnya memiliki belahan yang cukup panjang ke
atas di sisi kiri saja. Kuku-kuku jari tangan cantiknya dicat kuning. Di
pangkuannya ada tas kulit mungil berwarna kuning. Gadis cantik bergincu merah
itu adalah Rina Viona (Rina).
Sementara mobil Avanza disetiri oleh Novi Andria (Ofi). Disampingnya duduk si tomboy Ristana (Iis). Di kursi belakang, duduk
Duo K, yaitu Windi Anggita (Windi) dan Ade
Irma (Adel).
Keenam gadis yang masih berusia di bawah 20 tahun itu adalah
kelompok geng perempuan sekolah SMK IP YAKIN Cengkareng, Jakarta Barat, yaitu Geng Bintang Tujuh. Mereka diketuai
oleh Rina Viona. Seorang anggotanya yang bernama Iyut Nirmala (Ala), tidak bisa ikut di sore itu karena satu alasan
yang darurat.
Biasanya Rina membawa mobil sendiri, tetapi kali ini ia ada
janji dengan pacarnya.
Suasana di dalam mobil merah maroon begitu ramai oleh “obrasan” Duo K yang selalu riuh dan heboh
di mana pun dan kapan pun keduanya bersama. Berbeda dengan suasana antara Indah
dan Rina.
“Lu yakin, Rin?” tanya Indah tanpa menoleh kepada Rina.
“Sebenarnya gua juga masih cinta,” jawab Rina. “Ngapain
coba? Gua capek-capek turun tangan sampai pelacur itu masuk rumah sakit, kalau
bukan buat ngedapatin Roy lagi.”
“Tapi hati kecil gua ngerasa ada yang ganjel sama permintaan
Roy buat balikan sama lu,” ujar Indah.
Tiba-tiba terdengar irama musik tunggal harmonika. Rina
segera meraih hp-nya yang berbunyi panggilan masuk dan menempelkannnya ke
telinga kanan.
“Ya, Roy?” tanya Rina.
Indah sementara hanya mendengarkan sambil tetap fokus
mengemudi.
Rina segera memandang ke kaca spion samping kiri. Selain ia
melihat mobil milik Novi di belakang, terlihat pula sebuah motor mengikuti.
“Oke,” ucap Rina lalu menutup hubungan teleponnya. Lalu
katanya kepada Indah, “Roy ada di belakang. Gua turun di sini.”
Maka Indah pun menepikan mobilnya dan berhenti. Avanza merah
ikut berhenti di belakang.
“Kalau ada apa-apa telepon gua, Rin,” pesan Indah.
“Iya, sayang,” ucap Rina sambil mencubit pipi Indah yang
hanya memberi senyum kecut.
Rina lalu keluar dari mobil.
“Daaa!” ucap Rina mendadakan tangan kepada Indah lalu
beralih kepada mobil satunya, pamit kepada yang lain. “Gua duluan, ya!”
“Hati-hati!” pesan Novi.
“Rin, jangan lupa sisain buat gua, ya. Hahaha!” sahut Windi
lalu tertawa ngakak bersama Ade Irma.
“Lu kira apaan!” kata Rina tersenyum lalu berjalan pergi
meninggalkan mereka dan mendatangi sebuah motor gede merah yang menunggu di
belakang.
Motor 250 cc itu ditunggangi oleh seorang pemuda berjaket
merah bercelana jeans hitam. Ia membuka helm merahnya ketika Rina datang. Maka
tampaklah wajah ganteng putih berhidung mancung beralis tebal. Rambutnya model
botum. Usianya lebih tua tiga tahun dari Rina yang 17 tahun. Dia adalah Rio Anggoro, biasa dipanggil Roy.
“Hai!” sapa Rio dengan senyum lebar yang menyejukkan hati
Rina.
“Hai!” balas Rina sedikit kikuk. Maklum, sudah tiga bulan
lamanya keduanya tidak pernah bertemu. Komunikasi lewat telepon pun baru sejak
dua hari yang lalu.
Sementara itu, dua mobil di depan sudah bergerak pergi
meninggalkan mereka berdua.
“Pengen rasanya langsung gua peluk, gua cium. Tapi gua harus
jaga image di mata Roy,” membatin
Rina di balik senyum manisnya.
Rio mengulurkan tangan kanannya kepada Rina. Rina pun dengan
senang memegang tangan itu. Setelah itu, tangan kiri Rio turut menggenggam
tangan lembut Rina.
Dengan tatapan teduh dan ekspresi sedih menatap mata Rina,
Rio berkata, “Maafin gua, Rin. Gua terlalu egois sampai nyakitin perasaan lu.
Gua nyesel, gua serius nyesel.”
“Gak perlu dibahas lagi,” kata Rina tetap tersenyum.
“Ayo!” ajak Rio.
Rina lalu naik ke motor, menempel di belakang Rio. Rina
langsung merangkulkan kedua tangannya di pinggang pemuda itu.
Rio lebih dulu memberikan helm kepada Rina sebelum ia
memakai helmnya sendiri. Setelah itu, Rio pun tarik gas.
Dalam perjalanan, Rina memeluk erat tubuh kekasihnya.
Kepalanya pun diletakkan di bahu kanan Rio, seolah ingin melepas rindu yang
terpendam selama mereka putus. Untuk berapa lamanya, mereka tidak berbicara
dalam perjalanan. Sementara matahari kian menukik ke barat.
“Langsung dari rumah?” tanya Rina akhirnya, memecah
keheningan di antara dua hati itu, meski kebisingan jalan raya membuat suara
bisikan pun nyaris tidak terdengar.
Mungkin karena pintu hati keduanya sedang terbuka lebar,
sehingga kata-kata di antara mereka terdengar begitu jernih.
“Dari rumah sakit,” jawab Rio.
“Orang tua lu ada yang sakit, Roy?” tanya Rina cepat.
“Riska sudah seminggu di rumah sakit,” jawab Rio.
Deg!
Seketika detak jantung Rina seakan menabrak tembok berduri.
Sepasang matanya mendelik dengan kening mengerut marah. Kecantikannya seketika
berubah menjadi kecantikan berdarah dingin. Ia menarik dagunya dari bahu Rio
dan tubuhnya dari punggung pemuda itu.
Sementara di wajah Rio, ada senyuman kecil tercipta. Senyuman
yang kejam.
“Cowok brengsek!” teriak Rina tiba-tiba sambil memukul bahu
Rio. “Turunin gua!”
Namun, Rio tidak memperdulikan kemarahan Rina yang
tiba-tiba. Ia justeru lebih mengencangkan tarikan gas motornya. Hal itu pun
membuat kemarahan Rina semakin memuncak.
“Berhenti, Brengsek! Gua bilang berhenti!” teriak Rina lebih
keras lagi sambil memukul-mukul kepala Rio yang terlindungi dengan helm.
Beberapa cubitan keras juga Rina berikan ke tubuh Rio.
Serangan Rina itu membuat emosi Rio juga mengalir naik,
emosi itu tergambar dari ekspresi raut wajahnya yang mengeras. Namun, Rio masih
menahan. Motornya tidak melambat apalagi berhenti.
Dak dak!
Rina melepas helmnya lalu memukulkannya dengan keras ke helm
di kepala Rio. Hantaman keras itu membuat Rio tergoyang sehingga motor pun ikut
tergeser lajunya, tapi Rio cepat menguasai kendali.
Teeet!
Sebuah mobil box yang berada di belakang laju motor Rio
membunyikan klakson panjang, si sopir merasa terganggu jalannya.
Dak!
“Berhenti, Setan!” teriak Rina lagi setelah memukulkan helm
untuk ketiga kalinya.
“Cewek keparat!” Rio akhirnya memaki juga, ia tidak bisa
lagi menahan emosinya.
Ciiit!
Dengan kasar Rio melakukan pengereman mendadak ke pinggir
jalan, membuat Rina nyaris terjatuh dari duduknya. Dan hal itu membuat Rina
tidak lagi memiliki ruang kesabaran di perasaannya. Kemarahannya memuncak
total.
“Cowok busuk lu, Roy!” maki Rina menjerit keras sambil
buru-buru turun dari motor. Gumpalan tangisan berkumpul di balik pintu
perasaannya, mencoba mencongkel gembok yang mengunci bendungan air matanya.
Tapi Rina adalah wanita keras yang pantang baginya untuk menangis.
Ternyata mereka berhenti di atas sebuah jembatan. Aktivitas
jalan raya di jembatan itu bergerak normal, tidak memperdulikan sepasang
muda-mudi itu yang sedang bertengkar hebat.
Sementara di bawah adalah jalan tol, jalan yang dipakai mobil-mobil
melaju dengan kecepatan tinggi. Jauh di atas sana, langit kian teduh, seiring
kian menguningnya matahari senja. Angin kencang membuat rambut ikal Rina
berkibar berantakan.
“Kenapa lu nipu gua? Lu masih sama cewek sialan itu, kan?!”
tanya Rina dengan penuh kemarahan.
“Ya,” jawab Rio dengan tatapan tajam dan gigi atas bawah
saling menekan, membuat sepasang pipinya mengeras, menunjukkan terpendamnya
satu kemarahan yang belum terlampiaskan.
Jawaban Rio menjadi satu anak panah beracun yang menancap
tepat di jantung Rina. Ketua Geng Bintang Tujuh itu benar-benar merasakan sakit
di hatinya, sangat sakit. Ia merasa ditipu habis. Ia merasa menjadi gadis yang
sangat bodoh sehingga begitu gampangnya percaya oleh kata-kata “penyesalan” Rio
di telepon.
“Kenapa lu begitu akrab dengan nama Riska, padahal gua gak
pernah ngasih tahu lu, gak pernah ngenalin ke elu, kalau pacar baru gua namanya
Riska?” tanya Rio yang cukup membuat Rina tersudut. “Cuma gara-gara gua putusin
elu, Rin, lu nyari tahu siapa cewek gua yang baru, lu intai, lalu terakhir lu
tabrak dia. Benar, kan?”
Tudingan Rio itu membuat Rina terbelalak untuk kesekian
kalinya, tapi kali ini dia sulit menemukan kata-kata untuk membalas omongan
pemuda gagah di depannya itu. Bibir indahnya hanya bisa bergetar menahan
hancurnya perasaan dan kusutnya pikiran di kepalanya.
“Ayo jawab!” teriak Rio membentak marah.
Emosi yang tertahan bukan sejak tadi, tapi sejak beberapa
hari yang lalu, terlepas laksana terkaman wajah seekor naga. Bentakan itu
sampai membuat kaki Rina tersurut mundur setindak.
“Aaa!” jerit Rina keras sambil melempat helm yang masih di
tangannya ke arah wajah Rio.
Namun, dengan sigap Rio menepis helm itu. Helm tersebut
jatuh menggelinding ke tepi jalan dalam kondisi kaca yang pecah.
“Ya!” Rina akhirnya menjawab dengan tatapan penuh kebencian.
Lalu ia luapkan sebagian perasaannya yang lama terpendam. “Lu pikir gua cewek
apaan, hah?! Kulit kacang? Kulit pisang? Kulit kerang? Sampah? Cuma karena lu
mau puasin mata maksiat lu, gua dicampakin. Gua masih ingat banget, lu mutusin
gua cuma lewat sms. Dengan tutup mata lu hancurin perasaan gua. Sakit, sakit
banget. Lalu gua pikir, gua kenal elu. Gak mungkin lu mutusin gua kalau bukan
karena godaan perempuan lain. Lalu gua cari tahu dan ternyata, perempuan sial
yang namanya Riska itu cuma anak tukang ojeg. Dan lu harus akui bahwa gua lebih
cantik dari cewek itu. Dan dia adalah orang yang menghancurkan hubungan kita
berdua, yang menusuk jantung gua. Maka pantaslah kalau dia gua tabrak!”
Isi hati kebencian Rina yang ditumpahkan membuat tembok yang
membendung amarah di hati Rio terkikis habis. Sehingga, pemuda itu memutuskan,
sudah waktunya ia melampiaskan emosinya yang tersimpan setelah ia tahu bahwa
kekasih barunya dengan sengaja ditabrak mobil oleh Rina.
Rio dengan langkah cepat bergerak maju.
Plak!
Rio tidak menimbang lagi gendernya sebagai seorang lelaki.
Tanpa sungkan ia menampar keras wajah Rina. Sedemikian kerasnya, hingga Rina
jatuh terduduk ke samping.
Di waktu yang bersamaan, di antara mobil yang melintas di
jembatan itu adalah sebuah mobil Toyota Kijang biru yang masih kinclong bodinya. Mobil itu penuh dengan
muatan orang dan melintas di jalur seberang.
“Innalillahi!
Laki-laki itu nampar pacarnya!” seru gadis berjilbab hitam yang duduk di
belakang dekat jendela. Ia terkejut melihat pemandangan tidak pantas itu. Tidak
pantas karena pertengkaran terjadi di jalan umum dan tidak pantas karena lelaki
menampar wanita. Gadis itu lalu mengatakan kepada sopir, “Pak Yudi,
pelan-pelan, Pak!”
Respon si gadis berjilbab membuat dua teman wanita dan empat
teman prianya jadi turut memandang ke seberang jalan sana. Pak Yudi yang
menyetir segera memperlambat mobilnya dan menepi ke pinggir, membiarkan
kendaraan yang lain melewatinya.
Kembali kepada Rina di seberang jalan.
Rina masih terduduk. Air matanya telah tumpah, benar-benar
tercurah deras. Tamparan diwajahnya, baginya adalah simbol bahwa lelaki yang
pernah ia cintai selama enam bulan itu sudah tidak memiliki rasa kasih dan
cinta lagi. Mungkin yang tersisa hanyalah rasa ingin membunuh, demi gadis lain
yang bernama Riska, yang kini terbaring di rumah sakit.
Ciit!
Tiba-tiba empat ban mobil berhenti di dekat tubuh Rina,
begitu cepat dan dalam rem diinjak, sehingga suara gesekan ban dan aspal
terdengar nyaring.
Belum juga Rina tersadar dari rasa terkejutnya, tiga lelaki
bergerak cepat turun dari mobil Avanza hitam tersebut. Kepanikan Rina dalam
kebingungan akhirnya lenyap ketika sebuah kain basah membekap hidung dan
mulutnya. Kain bius telah membuat Rina tidak sadarkan diri.
“Cepat! Cepat!”
Suara terakhir yang Rina dengar adalah teriakan seorang
lelaki yang bukan suara Rio.
Ketiga lelaki dewasa yang menyergap Rina bekerja cepat
membius lalu mengangkat tubuh Rina masuk mobil. Setelah semuanya masuk, mobil
itu langsung tancap gas.
Sementara Rio, hanya diam menyaksikan penyergapan di depan
matanya itu. Ia lalu buru-buru menaiki motornya dan pergi, bukan pergi untuk
mengejar, tapi melesat ke arah yang berlawanan. Motor Rio bahkan melewati mobil
Kijang biru yang berhenti memperhatikan kejadian cepat itu.
“Pak Yudi, putar balik, putar balik. Kejar!” teriak para
lelaki di dalam Kijang berubah geram dan geregetan. “Itu penculikan!” (RH)
(Bersambung: .... )

0 komentar:
Posting Komentar