| Ilustrasi Muslimah. (dok. Hafizahdrianw.blogspot.com) |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Bab sebelumnya: Kuliah Hijab Satu Malam (Bg.1)
Di ruang makan, telah tersaji hidangan enak di atas meja.
Seperti makanan restoran saja. Lengkap dengan sekeranjang buah.
Tidak jauh dari meja makan, seorang wanita berusia 40-an
bertubuh gemuk sedang menyetrika pakaian. Ia bukan pembantu yang bernama Lina tadi,
tapi pembantu yang lain.
Rina langsung membantu Barada dengan menyendokkan nasi.
“Sambil makan lanjutin kuliah elu ke gua,” kata Rina sambil
duduk di kursi yang berseberangan dengan Barada.
“Terkait kecantikan,” kata Barada sambil celupkan jari-jari
tangan kanannya ke kobokan yang tersedia. Ia tidak menggunakan sendok dan
garpu. Lalu menyendok sayur daun singkong yang disantan dan mengambil gulai
ayam.
“Terus?” tanya Rina yang menunggu, karena Barada terdiam
sibuk ambil lauk.
“Ada dua definisi tentang kecantikan. Pertama kecantikan
yang semu, dan yang kedua kecantikan hakiki. Kecantikan yang semu adalah
kecantikan yang hanya terlihat cantik, tapi pada hakekatnya kecantikan itu
membawa musibah. Contoh, kamu punya postur badan yang ideal, wajah cantik,
kulit yang putih bersih. Secara mata memandang itu cantik. Tapi justeru
kecantikan itu mengundang niat jahat nafsu lelaki. Di alam kubur dapat siksa
dan di akhirat pun akan dihajar. Itulah kecantikan semu yang ketika termakan
waktu, kecantikan itu hilang. Kecantikan yang semu adalah tidak cantik. Dan
bagi saya, itu ada di kamu. Bagi saya, kecantikan yang kamu tonjolkan selama
ini di sekolah, hanya kesemuan semata. Apakah terjawab, Rin?”
Barada lalu memasukkan suapan pertamanya ke mulut setelah
secara samar ia mengucapkan “bismillah”.
“Gua pertimbangin dulu,” kata Rina sambil mengunyah. Lalu
kata hatinya, “Gila jadi selama ini Badar menganggap semua cewek yang enggak
berjilbab jelek? Pemikirannya ekstrim banget. Tapi kalau gua pikir-pikir, ya benar
juga sih, meski ekstrim begitu.”
“Orang tua kamu gak makan, Rin?” tanya Barada.
“Udah. Gua sengaja milih setelah mereka sudah makan semua,
biar kita diskusinya enak,” jawab Rina. Lalu ia kembali ke topik diskusi,
“Pemikiran elu terlalu ekstrim, Badar. Masa elu anggap semua perempuan enggak
berjilbab jelek? Itu namanya elu merasa paling benar doang, merasa paling
cantik sendiri!”
“Oh, jadi saya cantik, ya?” tanya Barada bercanda sambil
nyengir kuda, lalu tertawa sendiri, tapi tidak kencang. Lalu katanya sambil
menunjukkan gelagat berpikir, “Bagaimana ya menjelaskannya? Hmm... begini, Rin,
menurut saya....”
Kalimat Barada terputus, ia terdiam sambil mengunyah.
Sebenarnya jawabannya sudah ada di kepala, tapi ia sulit menjabarkannya.
“Kebenaran hanya datang dari Allah. Terus...,” sambung
Barada sekalimat, tapi terputus lagi berpikir. Setelah rel kalimatnya ketemu
lagi, ia berkata, “Tandanya kita benar, buktinya adalah sesuai dengan buku
panduan, yaitu Al-Quran. Kalau kata Al-Quran, kamu itu beriman, berarti ya
beriman. Kalau kata Al-Quran, kamu itu kafir, ya berarti kamu kafir. Al-Quran
bilang munafik, ya munafik.”
“Lalu?” tanya Rina yang mengerti dengan apa yang dikatakan
Barada, tapi ia belum menemukan sambungannya dengan Barada yang merasa cantik
sendiri.
“Kalau kata Al-Quran semua yang enggak pakai jilbab berdosa
dan jelek, ya berdosa dan jelek. Kalau kata Al-Quran yang pakai jilbab
berpahala dan cantik, ya berpahala dan cantik sendiri. Hahaha!”
Pada ujungnya Barada tertawa sendiri.
“Tapi,” kata Barada menyambung sebelum Rina berkomentar. “Meskipun
kamu merasa cantik sendiri sekebun Ragunan, tetapi sepatutnya kamu bertindak tidak
sebagai orang yang paling cantik. Sebab, tidak mungkin saya memanggil kamu,
‘hai jelek’, hanya karena kamu tidak berjilbab. Tidak mungkin saya memanggil
‘Tangan Buntung’ kepada orang yang tangannya buntung. Atau memanggil ‘Pelacur’
kepada wanita yang saya ketahui dia seorang wanita tuna susila.”
Barada melanjutkan makannya yang tinggal separuh. Sementara
Rina jadi terdiam, mulutnya berhenti mengunyah, padahal ada nasi dan daging cumi
di mulutnya.
“Gua enggak nyangka, di YAKIN ada anak yang pintar ngomong
kayak dia,” membatin Rina. Lalu muncul satu pertanyaan lagi di kepalanya,
“Badar, tapi cowok-cowok sukanya yang terbuka?”
“Ehm... enggak juga!” bantah Barada dengan wajah mengerenyit dan ia segera meraih gelas berisi air putih di dekatnya. Ia minum beberapa teguk guna
mendorong kenikmatan yang tersangkut di tenggorokan. Setelah tertelan dan
plong, ia melanjutkan bantahannya, “Karena kamu open body, maka yang datang pun para cowok penikmat body dan itu yang kamu lihat.
Cowok-cowok yang datang kebanyakan yang cuma mau menikmati selagi ada. Ketika
kamu sedikit aja berubah gendut atau kena panu, ditambah ada open body di sisi lain dengan tawaran
rasa baru vanila campur selai nanas, cowok itu akan beralih. Dan you, akan gigit kuku.”
“Memangnya cowok-cowok yang lu sebutin itu enggak doyan yang
pakai hijab, yang kata elu cantiknya dua kali lepitan?” tanya Rina lagi.
“Sangat doyan, bahkan lebih doyan. Maaf, guguk mana yang
menolak daging segar bersih yang baru keluar dari pendingin swalayan,
dibandingkan daging yang sudah dikerubuni banyak guguk lain dan berkalang debu
truk tanah merah? Maksud saya, pria sejelek apapun kelakuannya, apakah dia
bajingan, apakah dia penipu, pembunuh, playboy
atau yang jahat lainnya, dia akan lebih menyukai wanita yang taat, lembut,
anggun, terjaga, terhormat, suci, cantik, dan bisa menyelamatkannya dari
keburukannya sendiri. Karena kamu menebar beras di tanah, maka yang datang
adalah ayam-ayam atau burung. Kalau memasang ikan asin, yang datang kucing.
Pasang keju, yang datang tikus. Jawab ya, kamu pilih cowok yang hanya ingin
menikmati atau cowok yang mencintai kamu atas dasar kebaikan?”
“Ya pasti lah, cowok yang mencintai gua atas dasar kebaikan
gua!” jawab Rina tegas.
“Kali saja, kamu cewek gila yang pilih cowok penikmat,” kata
Barada.
“Hahaha!” tawa Rina tiba-tiba, hampir saja makanan di
mulutnya tersembur jika tidak dibekap dengan tangannya. “Balas dendam, ya,
nyebut gua gila?”
“Enggaaak,” elak Barada tersenyum tanggung dengan melirik
kepada Rina. “Sebab, Bang Gazza pernah cerita ke saya.”
Deg!
Wajah cantik Rina sedikit berubah ketika Barada menyebut
nama Gazza, seiring ada hentakan di jantungnya, hentakan mengejutkan tapi
memberi rasa syur membahagiakan. Namun sayang, Barada tidak menangkap gejala di
wajah Rina.
“Abang elu cerita apa?” tanya Rina, ingin cepat tahu.
“Tanggung ah, saya habisin dulu ya,” kata Barada sambil
fokus untuk menghabiskan nasinya yang tinggal beberapa suap lagi.
Barada tidak melihat bahwa ada ekspresi kecewa di wajah
Rina.
“Kalau mau cerita, cerita. Kalau enggak, jangan bilang mau
cerita!” rutuk Rina lalu dengan kesal yang samar ia gigit belahan timun segar
di tangannya berkali-kali.
“Bentar, sesuap lagi, biar enak ceritanya. Kamu kan enak,
bisa makan sambil dengar,” kata Barada pula, tanpa menangkap sinyal dari sikap
gelisah Rina yang sangat ingin segera mendengar serangkai cerita atas nama
Gazza.
Rina akhirnya hanya menunggu dengan kecemberutan. Hingga
akhirnya Barada menutup makan pokoknya dengan tegukan air terakhir di gelasnya.
“Lho, kok asem begitu muka kamu, Rin?” tanya Barada setelah
kembali fokus kepada Rina.
“Gua nungguin elu cerita, tahu!” sentak Rina sedikit kesal,
tak terasa sudah enam batang belahan timun yang ia kunyah tanpa henti sambil
kesal menunggu.
Barada hanya tertawa, seolah kesal dan kemarahan yang Rina
perlihatkan kepadanya tidak bisa mengganggu hatinya.
“Bang Gazza pernah cerita waktu dia berangkat tugas ke
Semarang. Hahaha!” kata Barada lalu tertawa sendiri.
“Iiih! Belum cerita elu udah lucu duluan!” gerutuh Rina
merengut lagi.
Memang, Barada lebih dulu tertawa jika ingat cerita
kakaknya. Baginya cerita itu lucu.
“Waktu Bang Gazza pergi meliput ke Semarang, dia naik bis.
Abang pilih duduk di deretan kursi untuk dua orang, mepet ke jendela. Karena
berangkat sendiri, jadi kursi di sebelahnya kosong. Tak lama, tiba-tiba seorang
perempuan memilih duduk di kursi kosong itu. Bang Gazza kaget. Sebab, itu
perempuan pakai rok pendek banget, kulitnya putih....”
“Terus?” tanya Rina memotong sambil tersenyum penasaran.
Padahal, walaupun tidak dipotong, Barada tetap akan terus cerita.
“Abang bukannya senang, justeru malah panik. Perasaannya
enggak tenang, enggak nyaman. Mau bagaimana pun, mau tidak mau, mata Abang
pasti bakal melihat paha itu, sebab pahanya nempel di paha Abang. Hahaha!”
Rina yang senyum-senyum sejak awal cerita, jadi ikut
ledakkan tawa mengikuti tawa Barada yang heboh lebih dulu sebelum cerita
selesai.
“Lalu?” tanya Rina lagi minta segera dilanjutkan ceritanya.
“Abang akhirnya pilih mau pindah, tapi pas dilihat, kursi
lain sudah penuh semua. Kalau pindah berdiri, perjalanan jauh dari Jakarta ke
Semarang. Abang kan enggak berkutik tuh. Abang istighfar aja non-stop dalam
hati sambil nengok terus ke jendela, pura-pura lihat pemandangan alam. Tapi
lama-lama lehernya pegel juga. Terus, Abang akhirnya milih tidur, lebih aman.
Pas Abang bangun, dilihatnya paha itu masih ada, ya tidur lagi.”
Kali ini Rina tidak berhenti tertawa kecil mendengar cerita
itu. Ia terus tertawa karena membayangkan ilustrasi gambaran cerita itu dalam
imajinasinya.
“Setelah bangun untuk kesekian kalinya, Abang benar-benar
syok. Tahu-tahu, paha yang tadi kinclong berubah warna dan bentuk. Cewek seksi
tadi sudah hilang, yang ada itu cewek gemuk, pakai you can see, kulitnya putih enggak, hitam enggak, terus, pakai
celana hotpant.”
“Hahaha!”
Tawa Rina meledak kencang, sampai terdengar oleh ayah dan
ibunya yang hanya bisa saling pandang.
“Abang sih ngomongnya ke saya begini, bukannya menghina atau
merendahkan cewek gemuk itu, tapi pas lihat wajahnya, mau tidak mau Abang harus
istighfar yang kesekian ribu. Jadi, kecantikan yang sudah sempurna Allah
berikan sesuai takarannya. Kamu paham kan maksud dari sesuai takarannya, Rin?”
“Ya,” angguk Rina sambil menurunkan kadar tawanya.
“Maksudnya pas-pasan tapi itu yang terbaik baginya. Si mbak
itu mempercantik wajahnya lagi dengan tebalnya bedak, panjangnya bulu mata
palsu dan ngejrengnya merah bibir yang rada belepotan, yang menurut Abang
justeru mirip badut. Abang benar-benar merasa kena musibah tiga kali.”
“Musibah apa?” tanya Rina jadi berhenti tertawa.
“Musibah pertama adalah cewek cantik seksi yang pertama
duduk di sebelah Abang, yang buat Abang klepek-klepek. Yang kedua, cewek seksi
yang astaghfirullah bikin geli itu.
Dan musibah ketiga, bis sudah keluar dari Semarang, yang artinya tempat Abang
harus turun sudah kelewat jauh.”
“Hahaha!”
Lagi-lagi tawa kedua gadis cantik itu meledak kencang.
Sampai-sampai dua pembantu perempuan yang sedang sibuk di sisi lain di ruangan
itu, jadi senyum-senyum berdua juga.
“Aduh, pipi gua pegel!” keluh Rina sambil terus tertawa
hingga air matanya keluar.
Setelah tawa mereka berdua reda, barulah Barada kembali ke
topik utama mereka.
“Saya ingin contohkan bahwa cowok seperti Abang tidak suka
dengan perempuan cantik yang terbuka. Abang itu hanya satu contoh lho. Masih
banyak cowok-cowok seperti Abang. Kenapa kamu melihat, kesannya semua cowok
sukanya yang cantik terbuka dan yang obral murah? Karena ikan air laut akan
berenang bersama ikan air laut lainnya dan ikan air tawar bersama ikan air
tawar. Di Al-Quran ada ayat yang menjelaskan bahwa perempuan yang buruk untuk
laki-laki yang buruk, perempuan baik untuk laki-laki baik. Saya enggak hapal
surat dan ayatnya. Komunitas laki-laki salih tidak akan mau mengambil
wanita-wanita yang tidak salihah. Kalau kamu mau dapat cowok yang bagus dunia
akhirat, tidak ada jalan lain, kamu harus jadi wanita yang baik menurut versi
cowok salih itu, kecuali takdir bicara lain,” tutur Barada. “Sepertinya busa di
lambung saya sudah penuh kebanyakan bicara.”
“Elu malam ini benar-benar jadi guru spiritual gua, Badar!”
puji Rina dengan senyum bahagianya, karena memang hatinya berubah bahagia
setelah pikirannya terbuka dan tercerahkan oleh “kuliah” dari Barada. Lalu
katanya lagi kepada Barada, “Tekad gua sekarang benar-benar jadi bulat
sempurna.”
Rina lalu berdiri, demikian juga Barada, karena memang
mereka sudah selesai makan.
“Badar, keranjang buahnya bawa aja ke kamar. Gua mau nyobain
baju yang gua beli,” kata Rina.
“Hik hik hik!”
Tiba-tiba Rina dan Barada mendengar suara seperti orang
menangis, suara perempuan. Asal suara itu dari balik sebuah pintu yang
tertutup, hanya 4 meter dari meja makan. Itu adalah pintu kamar kakak Rina.
Rina segera ke pintu tersebut, sementara Barada berdiri diam
di tempatnya sambil menenteng keranjang buah.
Setibanya di pintu yang tertutup, Rina diam menyimak dengan
pendengarannya. Ia mendengar suara tangis yang samar, tangis yang sepertinya
ditahan agar tidak terdengar kencang.
“Ran?!” panggil Rina agak kencang lalu mengetuk pintu kamar
yang memang dikunci.
Namun, tidak ada jawaban dari dalam kamar, kecuali suara
isak tangis yang masih terdengar oleh Rina.
“Rani, elu kenapa?!” tanya Rina agak berteriak. “Rani!”
Tetap tidak dijawab oleh orang yang ada di dalam.
Rina akhirnya memutuskan meninggalkan pintu itu lalu
mengajak Barada kembali ke kamarnya.
“Rani nangis tuh di kamarnya!” kata Rina kepada ayah dan
ibunya saat melewati keberadaan mereka di sofa depan TV.
“Hah!” kejut Irma kerutkan kening. Ibunya Rina itu lalu
bangkit dan segera pergi ke kamar anak tertuanya yang bernama Rani. Sementara
sang ayah tetap teguh di duduknya.
“Kamu berapa bersaudara?” tanya Barada sambil menaiki
tangga.
“Tiga. Rani, gua dan Roni. Kalau Roni kelas 2 SMP, kamarnya
paling atas. Anak laki pingitan. Kalau dia enggak main ke luar, dari pulang
sekolah sampai sekolah lagi, kerjaannya di kamar doang. Kalau Rani kuliah,
gaulnya sama selebritis,” jawab Rina. “Eh, elu belum jelasin tentang kecantikan
yang hakiki, Badar. Dan gua masih punya banyak pertanyaan tentang ini.” (RH)
(Bersambung: Geger Jilbab Rina)

0 komentar:
Posting Komentar