| Ilustrasi Muslimah |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Bab sebelumnya: Pahlawan Sepeda Cantik
Asyhadu allaa ilaaha
illallaah...!
Asyhadu allaa ilaaha
illallaah...!
Asyhadu anna
muhammadarrasuulullaah...!
Asyhadu anna
muhammadarrasuulullaah...!
Dua kalimat azan itulah yang pertama terdengar di telinga Rina Viona sehingga membangunkannya
dari ketidaksadaran.
Keningnya merengut, karena ada sedikit rasa pusing yang
dirasakannya. Namun, ia harus terkejut ketika mendapati warna serba putih saat
ia membuka sepasang matanya.
“Di mana ini?” ucap Rina lirih, ada rasa takut di hatinya.
Sejenak ia fokuskan pandangannya. Sementara suara merdu azan
terus berkumandang menjadi musik yang menggetarkan perasaannya dan membuatnya
merinding. Seolah ia berada di alam lain.
Langit-langit berwarna serba putih, demikian pula dinding
ruangan. Di dinding yang ia tatap lurus, ada sebuah jam dinding putih
berlingkaran warna perak. Di kanan jam menempel sebuah bingkai putih
berkaligrafi tulisan Arab berlafaz “Allah” berwarna perak. Dan di sisi kiri jam
ada bingkai serupa, tapi kaligrafinya berbunyi “Muhammad”.
Rina sedikit naikkan kepalanya dan melihat tubuhnya.
“Ak!” pekik Rina terkejut bukan main, ketakutan kian
menghinggapi perasaannya.
Soalnya, Rina mendapati dirinya telah terbungkus oleh kain
serba putih, termasuk kepalanya, sehingga hanya wajahnya saja yang tampak.
Meskipun pada akhirnya ia sadar bahwa kain putih itu adalah mukena. Namun,
seingatnya, sudah terlalu lama ia tidak mengenakan pakaian semacam itu dalam
hidupnya. Padahal keyakinan turunan yang disandangnya adalah iman Islam.
Rina mulai mengedarkan pandangannya di dalam kamar seluas
6x4 meter persegi itu.
Kini ia terbaring di atas sebuah ranjang besi berkasur
dengan seprai warna kuning. Di sisi kepala ranjang tedapat meja belajar yang
rendah tanpa kursi. Ada sebuah lemari pakaian yang dilengkapi dengan rak untuk
buku-buku. Lampu terang neon menyala di sudut atas kamar, sebagai satu-satunya
penerangan.
“Tasku,” batin Rina saat melihat sebuah tas kulit mungil di
atas meja belajar pendek yang juga bisa dipakai sebagai meja makan dengan duduk
lesehan.
Rina bergerak bangun dan duduk di tepi ranjang. Di
singkapnya mukena atasnya. Ternyata ia memakai baju kuning, baju yang terakhir
ia pakai. Kesepuluh kuku jari tangannya pun masih berwarna kuning. Sementara itu
azan telah selesai.
Tiba-tiba gadis cantik ini menangis tertahan. Air matanya
mengalir, wajahnya memerah, dan ia membekap mulutnya sendiri untuk mencoba
menahan suara tangisnya.
Perasaan sedih itu muncul setelah Rina mengingat kembali apa
yang terakhir dialaminya. Ia telah dibohongi mentah-mentah lalu dicampakkan
sedemikian buruknya dipinggir jalan raya. Bahkan sebuah tamparan keras
diperolehnya dari pemuda yang telah berulang kali menyakitinya.
Setelah beberapa saat tenggelam dalam kesedihan meratapi
kemalangannya, Rina akhirnya berhenti menangis.
Rina kembali memperhatikan seantero ruangan kamar tidur itu.
“Kamar siapa ini?” membatin Rina, lalu ia beranjak melangkah
di lantai berkeramik putih usang menuju pintu yang tertutup.
Dibukanya pintu kamar sedikit. Ia mengintip sejenak. Ternyata
pintu kamar itu tembus ke ruangan dapur sederhana dengan sebuah rak piring besi
yang sarat muatan, peralatan memasak bergantungan di dinding dapur, kompor gas
di sudut dapur di sisi bawah, dan ada sebuah meja kayu di sisi yang lain.
Melihat dapur kosong dari orang, Rina kian
melongokkan kepalanya untuk melihat lebih luas ke luar.
“Astaghfirullah!”
jerit seorang lelaki terkejut yang tiba-tiba muncul melintas di depan wajah
Rina.
Orang yang melintas itu adalah seorang pemuda yang cukup
ganteng berusia 20 tahun. Dia melintas tanpa mengenakan baju dan hanya
bercelana pendek hitam. Wajahnya basah oleh air, sepertinya baru berwudu. Wajah
asing yang muncul di pintu kamar itu membuatnya terkejut, terlebih-lebih itu
wajah perempuan cantik, di saat ia hanya bercelana pendek.
Buru-buru pemuda itu menyambar penggorengan yang menempel di
dinding lalu diletakkan di depan bawah perutnya untuk menutupi celananya.
“Kamu siapa?!” tanya pemuda itu agak keras, terbawa oleh
keterkejutannya.
Belum lagi Rina menjawab, dari ruangan depan masuk seorang
wanita berusia 41 tahun berjilbab cokelat. Wajahnya putih bersih dan sejuk
dipandang. Mengenakan longdress biru gelap.
“Astaghfirullah,”
ucap wanita itu pelan kepada si pemuda. “Tingkah macam apa itu di depan gadis,
Gazza?”
“Bukan tingkah orang gila, Ummi. Bagaimana mungkin rumah
kita piara bidadari tanpa sepengetahuan saya?” kilah pemuda bernama lengkap Fath Gazza itu kepada wanita yang
disebutnya “Ummi” (ibuku).
“Ya sudah, buruan sana, sudah qomat di masjid,” kata ibu
yang bernama Latifah, lembut kepada
putera sulungnya.
Gazza segera berlari kecil melewati ibunya dengan tetap
mempertahankan penggorengan untuk menutupi bawah perutnya.
Dalam hati Rina tertawa melihat tingkah Gazza, terlebih
ketika pemuda itu menyebutnya “bidadari”, tapi seribu tanda tanya membuat
wajahnya sulit tersenyum. Ia pun tidak kenal dengan ibu berwajah sejuk itu.
“Maafkan anak ibu, Nak Rina. Gazza tidak tahu jika rumahnya
kedatangan tamu,” kata Latifah kepada Rina seraya tersenyum penuh keramahan.
“Beristirahatlah di kamar, Ibu akan ambilkan sup.”
Dengan wajah yang masih datar, Rina menurut masuk kembali ke
dalam kamar. Sementara Latifah segera mengambil mangkuk dan gelas.
Rina mengambil tas mungilnya, tapi hanya dipangkunya duduk
di tepi ranjang.
“Jika ini kamar seseorang, kenapa gak ada foto?” membatin
Rina.
Rina lalu bergerak ke meja belajar. Ia duduk di atas bantal
di atas selembar karpet kecil. Ia mengambil sebuah buku tulis dari tumpukan.
Ternyata tertulis sebuah nama di sampul cokelatnya, yaitu nama Barada.
“Barada. Siapa dia? Tapi, anak akuntansi YAKIN,” pikir Rina.
Selain nama pemilik buku, di sampul juga tertulis nama kelas
dan nama sekolah, yaitu kelas dua jurusan akuntansi sekolah IP YAKIN, sebuah
sekolah swasta di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. Namun sayang, Rina tidak
pernah tahu bahwa di kelas dua akuntansi ada murid yang bernama Barada.
Rina mencoba mengingat-ingat wajah-wajah murid kelas dua
jurusan akuntansi. Dilihat dari sebuah pakaian yang digantung di luar lemari
dan model kamar itu, jelas Barada bukanlah seorang lelaki. Maka Rina lebih
fokus untuk mengingat wajah-wajah murid perempuan kelas itu. Namun, Rina tidak
hapal nama sebagian wajah murid perempuan kelas itu.
Tok tok tok!
“Assalamu ‘alaikum!”
Ketokan dari luar pintu kamar terdengar diikuti dengan
ucapan salam.
“Wa ‘alaikum salam!”
jawab Rina lalu bergegas membuka pintu kamar.
Latifah muncul dengan senyum ramahnya dan kedua tangannya
membawa nampan yang menadahi semangkuk sup hangat, sepiring nasi dan segelas
air, lengkap dengan sendok garpu dan selipat kain serbet. Nasi pun dilengkapi
dengan sebulat telur dan sebalok tempe goreng.
“Alhamdulillah Ibu
masak sup sore ini, jadi masih hangat. Semoga Nak Rina berkenan,” kata Latifah
seraya masuk dan meletakkan nampan di meja belajar.
“Maaf, Bu, jadi merepotkan,” ucap Rina dengan senyum yang
sedikit. Seketika ia teringat di rumah mewahnya. Jika ia ingin makan, maka ia
akan berteriak kepada pembantunya.
“Justeru Ibu sekeluarga sangat senang jika tamu kami merasa
nyaman di rumah ini. Karenanya Ibu sekeluarga berusaha memperbuat sesuatu yang
mudah-mudahan membuatnya nyaman,” ujar Latifah.
Rina tersenyum mendengar kata-kata Latifah yang menurutnya
sikap sebuah keluarga yang unik dan luar biasa.
“Ba... Barada di mana, Bu?”
Rina agak canggung menyebut nama Barada, karena memang nama
itu asing dan baru ia tahu semenit yang lalu.
“Salat di masjid,” jawab Latifah seraya tetap tersenyum
ramah.
Senyuman itu sejuk bagi Rina, sebab sudah cukup lama ia
tidak menerima senyum dari ibunya.
“Perlu Ibu temani?” tanya Latifah.
“Ah, eee tidak usah, Bu!” tolak Rina cepat seraya tersenyum.
“Jika Nak Rina perlu sesuatu, Ibu ada di dapur, panggil
saja,” kata Latifah.
“Iya, Bu.”
Latifah lalu keluar meninggalkan Rina sendirian di kamar.
Sejenak Rina menepis kecamuk pikirannya dan fokus kepada
hidangan malam yang telah siap. Ketika berjalan-jalan di mall bersama
teman-teman satu gengnya hingga ia dicampakkan dengan sangat buruk di jembatan,
ia belum makan.
“Emm!” dengung Rina tanpa membuka mulutnya ketika merasakan
segar dan lezatnya suapan pertama sup campur bakso yang dihidangkan.
Selanjutnya, Rina benar-benar menikmati makan malamnya.
Tok tok tok!
“Assalamu ‘alaikum!”
Seiring bersihnya piring dan mangkuk sup Rina, serta
ditegukhabisnya air putih di gelas, ketukan dipintu yang diiringi salam
terdengar. Kali ini dari suara yang berbeda, bukan suara Latifah.
“Wa ‘alaikum salam!”
jawab Rina lalu bergegas membuka pintu.
Setelah pintu dibuka, maka tampaklah seorang gadis cantik
bermukena putih lengkap. Meski kulitnya tidak seputih kulit Rina, tapi wajah
manis itu berseri. Senyumnya begitu manis, karena ia memiliki dua lesung pipi
yang langka ketika ia tersenyum. Melihat wajah itu, barulah Rina ingat siapa siswi
yang bernama Barada itu.
Rina hanya kenal wajah tapi tidak kenal nama selama ini.
Lagi pula, siswi di depannya ini tidak akan pernah bergaul dengan dirinya atau
teman-teman selevelnya di sekolah. Baginya, Barada adalah siswi yang sedikit
pun tidak menarik perhatiannya.
“Hai!” sapa Barada sambil membungkuk seperti orang Jepang.
“Hai,” balas Rina canggung. Ia pun ingat pernah melihat
seorang siswi berjilbab di sekolah melakukan gerakan membungkuk sambil
mengucapkan terima kasih kepada seorang guru, tapi waktu itu ia tidak kenal
siapa nama siswi itu.
Barada lalu mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.
Rina pun menyalaminya.
“Kamu sudah makan?” tanya Barada.
“Sudah,” jawab Rina masih agak canggung. Dalam hati dia
membatin, “Kamu? Dia menyebut ‘kamu’, bukan ‘elu’. Memangnya cewek ini Duta
Bahasa Indonesia?”
“Ummi menunggu kamu untuk salat Isya berjamaah di ruang
tengah,” kata Barada.
Sejenak Rina terdiam. Hatinya terkejut karena ia diajak
salat. Rina juga dapat mengerti siapa orang yang disebut “Ummi” oleh Barada,
karena tadi pemuda bernama Gazza juga menyebut “Ummi” kepada Latifah.
“Iya,” jawab Rina.
“Kamu sudah wudu?” tanya
Barada.
“Belum.”
“Kamu bisa wudu di kamar mandi, Rin. Itu pintunya!” kata
Barada sambil menunjuk pintu kamar mandi yang berwarna merah gelap.
“Iya,” ucap Rina mengerti.
Dalam pakaian tetap bermukena, Rina beranjak ke kamar mandi.
Sementara Barada masuk ke kamar untuk membereskan piring gelas yang usai
dipakai Rina.
Meski sudah lama tidak pernah kenal dengan salat, tapi Rina
tidak lupa dengan praktek wudu.
“Jika Geng Bintang Tujuh tahu gua diajak salat, anak-anak
pasti heboh dan neriakin gua,” pikir Rina. “Tapi, kenapa gua ada di sini, ya?
Apa gua diculik sama misionaris Muslim?”
Usai berwudu, Rina mengenakan kembali atasan mukenanya setelah
ia sempat lepas. Setelah rapih seperti semula, ia pun membuka pintu kamar
mandi.
Pandangan Rina langsung tertumpu pada wajah seorang pemuda
yang tidak lain adalah Gazza. Kali ini pemuda itu terlihat lebih tampan untuk
mengejutkan Rina.
Gazza berdiri tepat di depan pintu kamar mandi dengan
pakaian lengkap untuk salat. Kopiah putihnya benar-benar menunjukkan nilai
religius yang tinggi.
Gazza yang sebenarnya terkejut juga, terdiam untuk beberapa
saat. Selain terkejut karena salah sangka, ia juga terpukau dengan kecantikan
yang keluar dari balik pintu kamar mandi.
“Subhanallah, dia
lebih cantik dari sebelumnya,” membatin Gazza tanpa berkedip.
“Abang, nanti zina mata, lho!” seru Barada dari pintu kamar
setelah menangkap basah keterdiaman keduanya.
Teguran Barada itu membuat Gazza gelagapan salah tingkah.
Sambil tertawa kuda ia berkata kepada Rina, “Maaf, saya kira yang di dalam tadi
Badar, hehehe!”
Rina hanya tersenyum malu juga.
“Permisi!” ucap Rina izin lewat, karena Gazza menghalangi
jalannya.
Gazza yang mengenakan sarung kotak-kotak biru itu segera
menepi lalu buru-buru masuk ke kamar mandi, sepertinya dia sejak tadi menahan
air seninya.
“Hahaha!” tertawalah Barada melihat apa yang dialami oleh
kakaknya.
Sementara itu, Rina baru teringat. Memang di sekolah, selama
ini ia beberapa kali pernah mendengar teman-temannya menyebut nama “Badar”,
sebagaimana sebutan Gazza untuk adiknya Barada.
“Oh, jadi nama aslinya Barada, tapi panggilannya Badar,”
pikir Rina.
“Yuk!” ajak Barada yang juga masih bermukena putih lengkap.
Di ruang tengah, Latifah, ibu Barada sudah menunggu dengan
bermukena putih lengkap. Di depannya terhampar beberapa sajadah. Kedatangan
keduanya membuat Latifah segera berdiri, siap melaksanakan salat.
Barada lalu mengambil posisi di sisi kanan ibunya, kaki dan
bahunya ditempelkan kepada kaki dan bahu kanan ibunya. Rina ikut berdiri
sejajar di sisi kanan Barada.
“Rin, kamu di sisi kiri Ummi. Tempelkan kaki dan bahu kepada
Ummi,” kata Barada menuntun.
Rina pun segera bergerak dan berdiri menempel di sisi kiri
Latifah.
“Allahuakbar
Allahuakbar....”
Barada lalu membaca iqomah, panggilan untuk mulai
melaksanakan salat.
Latifah bertindak sebagai imam. Saf mereka lurus satu garis.
Latifah mulai membaca Al-Quran Surat Al-Fatihah. Bacaannya
terdengar oleh Barada dan Rina selaku makmum, tapi tidak keras.
Lantunan Al-Quran Latifah merdu dan memberikan ketenangan
bagi yang mendengarnya. Meski Rina tidak mengerti akan arti dari ayat-ayat
Al-Quran yang dibaca, tapi bacaan itu sangat mempengaruhi pikiran dan
perasaannya saat itu. Pikirannya terbang melayang berkecamuk hebat.
“Mengapa aku berdiri di sini? Untuk apa? Bukankah selama ini
aku tidak perlu melakukan ini? Hingga sekarang aku baik-baik saja meski tidak
pernah melakukan ini. Kenapa tidak aku tolak saja ajakan salat ini?”
Berbagai pertanyaan datang di kepala Rina. Meski tubuhnya
bergerak mengikuti irama gerakan imam salat, tapi pikirannya berlari jauh.
“Aku bersujud kepada siapa ini? Kepada Tuhan?” pertanyaan
itu yang muncul ketika sujud pertama ia lakukan. “Aku tidak pernah memikirkan
Tuhan, kenapa aku bersujud saat ini?”
Deg!
Namun, ketika ia bangun dari sujud pertama, satu perasaan
aneh tiba-tiba menghantam jantungnya, yang berlanjut pada rasa kenyamanan, rasa
ketenangan yang berangsur datang.
Di sujud kedua, Rina merasakan ketenggelaman dalam
kegelapan. Secara cepat memori pelajaran agama yang tidak disukainya di sekolah
tiba-tiba teringat jelas di benaknya. Tentang sifat-sifat kebesaran Allah Yang
Maha Pencipta, bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan-Nya dan
Dia berkuasa atas segala apa yang Dia ciptakan.
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk
beribadah kepada-Ku.”
Entah kenapa, tiba-tiba kalimat dari guru agama Pak Mukhtar
Abdulghani teringat jelas di saat sujud itu. Sehingga, meski Rina merasakan
terjun ke dalam kegelapan, tapi ia juga merasakan lebih dekat terhadap sesuatu,
sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
“Allaahuakbar!”
takbir Latifah bangkit berdiri dari sujud.
Rakaat kedua pun berlangsung. Rina dan Barada terus
mengikuti.
“Mengapa serasa ringan perasaanku?” tanya batin Rina yang
merasakan seperti bangun dengan meninggalkan jubah beban permasalahan tetap di
tanah. Ada rasa “plong” di dirinya, tapi tiba-tiba gambaran berbagai macam dari
perbuatan buruknya selama hidup berdatangan di benaknya.
Bayangan ketika ia marah-marah kepada kedua orang tuanya,
bayangan ketika ia memaki-maki pembantunya dan bahkan pernah melempar buku
wajah pembantunya, bayangan ketika ia pernah berani bertengkar dengan guru
perempuannya, bayangan ketika ia memimpin keenam anggota gengnya mengintimidasi
siswi lain, bayangan ketika ia mabuk-mabukan di beberapa kesempatan, bayangan
ketika dengan kejamnya ia menabrak pacar mantan kekasihnya, bayangan ketika ia
bertengkar hebat di jembatan hingga ia ditampar keras, dan bayangan-bayangan
keburukan lainnya.
“Hik!”
Tiba-tiba terdengar suara tangis tertahan dari diri Rina.
Perasaannya tidak kuat lagi menahan kesedihan yang muncul dari bayangan
keburukan yang memenuhi hidupnya, sehingga sulit mencari kapan ia berbuat baik.
Tubuhnya berguncang hebat. Suara sesegukannya terdengar jelas. Namun, Latifah
terus memimpin salat itu. (RH)
(Bersambung: Jangan Cerita Kepada Siapa-Siapa )

0 komentar:
Posting Komentar