| Ilustrasi Muslimah mengendarai motor. (Foto: Ladyjek) |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Bab sebelumnya: Jangan Cerita Kepada Siapa-Siapa
Ternyata untuk keluar dari
rumah Barada ke jalan besar, harus melalui jalan gang yang cukup berliku. Gang
itu hanya bisa dimasuki oleh motor, tidak bagi mobil, karena lebar gang hanya
selebar badan mobil.
Dan tenyata lagi, Barada
adalah gadis yang populer di lingkungannya tersebut. Hal itu terbukti dari
banyaknya sapaan kepada dirinya ketika motornya berpapasan dengan berbagai
kalangan. Dan Barada pun tidak sungkan menyapa orang-orang yang dikenalnya
ketika berlalu, terutama bagi kalangan orang tua.
“Mau ke mane malem-malem,
Badar?” tanya seorang ibu yang duduk di teras rumahnya, logat Betawi kental
dalam kalimatnya.
“Ngantar saudara, Nyak,”
jawab Barada seraya tersenyum manis dan memelankan motornya.
“Ati-ati, anak Enyak si
Bojek belum kawin, Badar!” kata si Enyak agak kencang.
“Siap, Nyak!” sahut Barada
sambil tertawa dan berlalu.
“Apa hubungannya hati-hati
dengan anaknya Enyak itu?” tanya Rina Viona yang dibonceng, setelah motor itu meniggalkan
rumah si Enyak.
Rina duduk rapat di
boncengan sambil tangannya menempel di kedua pinggang Barada.
“Hahaha!” Barada tertawa
terlebih dahulu. “Nyak Wati berpesan saya hati-hati. Jika saya tidak selamat,
maka Nyak Wati bisa patah hati. Sebab dia selalu bercita-cita anaknya si Bojek
nikah sama saya, hahaha!”
Ketika lewat di depan
kumpulan pemuda yang sedang minum-minum kopi susu dan bergitar ria, Barada pun
mendapat sapaan berupa pertanyaan.
“Siapa tuh, Badar?” tanya
seorang pemuda yang memang akrab dengan Barada.
“Saudara,” jawab Barada
singkat tanpa menghentikan motornya.
“Nama gua Rangga!” teriak
pemuda yang lain perkenalkan diri.
Barada hanya tertawa. Rina
memandang keenam pemuda itu sekilas. Keenamnya memandanginya seraya tersenyum
dan tertawa menggoda.
“Nama gua Cinta!” celetuk
Barada sambil tertawa.
Ketika melalui beberapa
bapak yang sedang ngobrol di depan pagar sebuah rumah, Barada pun menyapa para
orang tua tersebut sebagai sopan dan santun.
“Assalamu ‘alaikum, Pak
RW!” sapa Barada dengan salam dan senyum ramah.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab
ketiga orang tua itu.
“Ke mana, Badar?” tanya
lelaki kurus berkumis tebal berkoko biru. Dialah Ketua RW lingkungan tersebut.
“Mengantar saudara, Pak
RW,” jawab Barada.
“Hati-hati!”
“Ya, mari Pak RW,” kata
Barada.
Ya, itulah beberapa tegur
sapa Barada dengan masyarakat di sepanjang gang yang memang mengenalnya dengan
baik. Ada lebih dari sepuluh tegur sapa dengan berbagai level orang.
Ketika motor sudah hendak
keluar ke jalan besar, tiba-tiba seorang kakek muncul ke depan. Sambil
melambaikan tangan, kakek berambut putih kusut itu menghadang motor Barada.
Pencegatan itu membuat Rina agak terkejut, tapi Barada hanya terkekeh kecil
kepada kakek yang muncul dengan wajah panik.
“Assalamu ‘alaikum, Kong Amid!” sapa Barada.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab kakek itu tetap dengan wajah serius
sambil gulung sarung di pinggangnya agar lebih kencang, tapi membuat ujung
sarungnya kian tinggi, sehingga dua lutut tuanya tampak.
“Kenapa, Kong?” tanya
Barada.
“Badar, jamu Engkong habis!”
kata si kakek, tak terlihat ada gigi di gusinya ketika ia berkata. “Kalau malam
ini Engkong gak minum jamu, badan Engkong bisa pada sakit. Anwar sama bininya
lagi di rumah encingnya.”
“Insya Allah, Kong. Mudah-mudahan Glek Tokcer buka, sebab dua hari
lalu saya lihat tutup,” kata Barada.
“Wadduh! Tolong Engkong,
Badar. Engkong bakal menderita kalau gak minum jamu!” desak kakek itu.
“Kong, lebih baik Engkong
Amid pulang dulu, salat Isya dulu, dan berdoa semoga toko jamunya gak tutup,”
kata Barada dengan nada lembut.
“Iye iye iye, Engkong mau
pulang salat dulu,” kata Engkong Amid manggut-manggut.
“Tunggu saya datang ketuk
pintu rumah Engkong. Ya, Kong?” kata Barada meyakinkan.
Engkong Amid lalu menepi
dari depan motor Barada.
“Engkong tunggu, Badar,”
kata Engkong Amid lagi.
“Ya, Kong. Assalamu ‘alaikum, Kong!”
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Engkong Amid yang wajahnya masih tegang.
Barada kembali menjalankan
motornya sambil tersenyum.
“Memangnya, tidak ada anak
atau cucunya yang bisa pergi membelikannya jamu?” tanya Rina.
“Engkong Amid tinggal
bersama anak ketiganya dan menantunya, tapi anaknya sedang silaturahmi ke
Tangerang. Engkong ditinggal sendiri. Engkong Amid sudah ketergantungan jamu,
jadi sehari saja tidak minum, badannya akan terasa sakit semua saat tidur,”
jelas Barada.
“Elu tahu merek jamunya?” tanya
Rina, karena Engkong Amid tadi tidak menyebutkan merek jamu yang ingin
dibelinya.
“Iya, karena gua yang
sering belikan Engkong jamu. Kalau menurut hitungan, jamu Engkong harusnya
masih ada untuk sehari, mungkin jamunya ada yang rusak.”
“Engkong itu kerabat dekat
elu?” tanya Rina.
“Bukan, tapi saya akrab
dengan beliau sejak SMP. Namun sayang, meski sudah umur, beliau jarang salat.
Makanya tadi saya suruh salat Isya dulu,” kata Barada lalu tertawa kecil.
“Rumah kamu di mana, Rin?”
“Kompleks Citra 2,” jawab
Rina.
Motor Barada pun masuk ke
jalan raya besar dan mulai bersaing dengan kendaraan lain.
“Kita mampir ke toko jamu
Glek Tokcer dulu, ya?”
“Ya. Badar, gua
tanya-tanya elu terus, gak masalah?” tanya Rina, karena memang dia tidak akrab
dengan Barada dan baru malam ini mengenalnya, meskipun sudah setahun lebih
mereka bersekolah di satu gedung.
“Gak perlu sungkan, Rin.
Tanya aja,” jawab Barada.
“Lu kan tadi sudah salat
Isya, kenapa salat lagi sama nyokap lu?” tanya Rina.
“Itu namanya saya
bersedekah kepada Ummi dan kamu. Karena semakin banyak jumlah jamaah, maka
pahala salat berjamaah semakin besar. Salat Isya tadi, bagi kamu dan Ummi, itu
wajib, sedangkan bagi saya adalah sunnah, bukan kewajiban lagi.”
“Lu pernah ngalamin yang
gua alami tadi? Padahal gua gak mungkin seperti itu, sampai nangis gila kaya
gitu. Ini nangis gua yang paling hebat dalam hidup gua.”
“Saya pernah nangis lama
ketika Nenek meninggal. Seharian saya nangis. Juga waktu sahabat saya dibawa
pergi bapaknya untuk dinikahkan di kampung. Dan pas waktu salat malam,” jawab
Barada.
“Salat malam maksud lu
salat Isya?” tanya Rina tuk menegaskan.
“Bukan. Salat malam itu
maksudnya salat Tahajud. Tapi itu dulu. Sekarang saya lagi jarang salat malam. Giliran
jarang, sepertinya susah banget untuk mulai lagi,” kata Barada. “Saya sih tidak
bisa menduga apa penyebabnya kamu menangis. Saya rasa jawabannya kamu tahu.
Saya tidak mau coba cari tahu. Biasanya, menangis dalam salat itu hal yang
sangat baik.”
“Terus, kenapa bokap sama
abang lu gak mau salaman sama gua waktu pulang?”
“Bukan muhrim,” jawab
Barada sambil tertawa rendah, tapi pandangannya tetap fokus ke depan,
memperhatikan jalan raya.
Motor yang mereka kendarai
melaju dengan kecepatan sedang, sehingga seringkali mereka disalip oleh
kendaraan lain.
“Meski bukan muhrim,
apakah begitu serius jika harus bersentuhan dalam salaman?” tanya Rina.
“Dari hadis yang pernah
saya baca sih, ancamannya serius di akhirat. Cuma hadisnya kurang populer,
karena bertentangan dengan kebiasaan perilaku manusia pada era ini. Bagi
manusia sekarang, bersentuhan dengan lawan jenis dirasakan sebagai hal yang
menyenangkan hati. Maka lebih banyak dari manusia itu tidak memperdulikan
larangan tersebut dan menganggap bersalaman dengan bukan muhrim sebagai hal
yang biasa,” jelas Barada.
“Lu sendiri gimana?” tanya
Rina lagi.
“Sama. Harus berani terima
risiko. Pernah saya disebut ‘sok suci’ sama yang lain. Bahkan Pak Suryo dan Bu
Rini mencoba meyakinkan saya bahwa itu pemahaman yang keliru.”
“Berarti lu anak
kesayagannya Pak Mukhtar?” tanya Rina menebak.
“Enggak juga. Cuma kalau
di sekolah, saya konsultasinya ke Ustad Mukhtar soal agama.”
“Gua pernah lihat elu
pakai sepeda ke sekolah. Lu kan bisa naik motor?”
“Saya lebih suka pakai
sepeda. Walaupun lebih lama, tapi mamfaatnya kamu tahulah.”
“Lu cuma dua bersaudara?”
“Empat, Rin. Dua adik
saya, laki-laki dan perempuan di pesantren, di Bogor. Kelas sembilan dan tujuh
tsanawiyah. Abang Gazza juga jebolan pesantren, lho.”
“Lu gak mondok?” tanya
Rina lagi.
“Saya yang gak mau. Saya
maunya tinggal sama Ummi. Puang sempat marah ke saya, karena menurut Puang,
sekolah umum itu sangat mengkhawatirkan, tapi saya tetap gak mau. Jadi
terpaksa, saya akhirnya diizinkan sekolah di umum.”
“Abang lu kuliah?”
“Ya, sambil jadi
wartawan.”
“Wartawan apa?” Rina memburu,
rasa ingin tahunya lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya.
“Wartawan jihad di kantor
berita Islam internasional Miraj.”
“Internasional?” tanya
Rina lagi.
“Kantornya sih di Jakarta
Pusat, tapi jadi internasional karena tiga bahasa, Indonesia, Inggris dan Arab.
Abang Gazza bisa Indonesia dan Inggris.”
“Kalau wartawan jihad
maksudnya wartawan perang?” tanya Rina, benar-benar ingin tahu tentang pemuda
yang tanpa sengaja terjadi dua insiden kecil dengannya saat di rumah Barada.
“Setahu saya, kantor
berita Islam itu didirikan karena untuk perjuangan umat Islam. Orang-orang yang
bekerja di dalamnya, bekerja atas dorongan amal saleh, bukan bekerja karena
dorongan untuk mendapatkan uang seperti wartawan-wartawan pada umumnya. Abang
Gazza menyebutnya ‘wartawan mujahid’ atau ‘wartawan jihad’. Yang kalau naik
motor, lalu kecelakaan, terus meninggal, itu syahid masuk surga. Jadi Abang
Gazza bekerja bukan buat hidupnya atau keluarganya, tapi untuk umat Islam dan
agamanya, khususnya lagi bekerja untuk Allah dan Rasul-Nya. Keren gak? Bagi
saya, biarpun Abang Gazza gak pernah ngasih selembar ke saya, tapi bagi saya
Abang Gazza itu keren dan membanggakan, hahaha!”
Akhir dari penjelasannya
Barada tertawa sendiri. Rina hanya diam berpikir, tidak ikut terbawa tawa.
“Kalau ada acara liputan
di hotel yang tidak ketat kemanannya, saya beberapa kali diajak pas hari libur.
Memang asik jadi wartawan, bisa keluyuran ke mana-mana dan sering makan enak.
Hahaha!” Barada kembali tertawa.
“Tapi Abang lu sudah punya
pacar belum?” tanya Rina lagi, tapi sayang pertanyaan itu hanya dipendam di
dalam hati. Ada senyum mekar di bibir Rina saat memikirkan pertanyaan itu.
Akhirnya Barada
menghentikan motornya di depan sebuah toko jamu bernama “Glek Tokcer”. Namun,
toko yang jelas-jelas toko jamu itu tutup.
“Wah, kasihan Engkong
Amid, toko jamunya tutup,” kata Barada kecewa.
“Ke toko jamu lainnya
saja,” saran Rina.
“Ada sih satu toko jamu
lainnya yang jual, tapi agak mutar jalannya. Kamu bisa tambah telat pulangnya.
Lebih baik antar kamu pulang dulu, Rin,” kata Barada.
“Gak apa-apa, ke toko jamu
itu saja dulu, baru ke rumah gua,” kata Rina.
“Siap! Hahaha!”
Rina hanya tersenyum di
belakang. Terkadang dia merasa lucu melihat karakter Barada.
Barada pun kembali
melesat. Perbincangan mereka di atas motor kembali berlanjut. Mereka harus
menempuh jalan yang lebih jauh untuk pergi ke toko jamu yang dimaksud Barada.
Hanya sepuluh menit dari
toko jamu awal. Mereka berhenti di depan sebuah warung jamu bernama “Ayu
Semriwing”. Toko jamu yang penuh sesak oleh berbagai macam produk jamu botolan
hingga bungkusan. Berbagai macam merek madu pun tertata rapih di rak jamu. Ada
satu konsumen sedang duduk menunggu racikan jamunya oleh pemilik toko yang
seorang wanita gemuk menggemaskan. Maksud menggemaskan karena dua pipinya
terlihat empuk untuk digigit seperti bakpao.
Sementara si pelanggan
adalah lelaki 40-an bercelana jeans biru. Mengenakan kaos oblong berwarna
loreng yang bawahnya dimasukkan ke dalam celana. Tampak ganteng dengan sabuk
berkepala gambar buaya mengkilat. Potongan rambutnya seperti tentara, meski
perut gendutnya lebih menonjol daripada otot lelakinya.
Setelah parkir, Barada
turun dari motor dan menghampiri si mbak gemuk, karena potongan perawakan
pemilik toko kental berperawakan perempuan Jawa. Rina mengikuti Barada.
“Jamu Liong Gong ada,
Mbak?” tanya Barada.
“Berapa?” tanya si mbak
sambil tangannya tetap mengaduk jamu yang sudah digelaskan.
“Untuk seminggu minum,”
jawab Barada.
“Sebentar ya, Mbak,” kata
si mbak lalu membawakan jamu pesanan pelanggan gantengnya.
“Wih wih, udah cantik kok
masih minum jamu?” tanya si bapak bertujuan menggoda.
Barada dan Rina jadi
beralih memandang kepada si bapak. Barada tersenyum ramah, Rina diam saja.
“Biar cantiknya tidak
luntur, Pak,” jawab Barada sambil tertawa kecil.
“Hahaha!” tawa lelaki
bergaya ABRI itu. “Lu kira bedak kencur luntur, hahaha!”
Si mbak jamu juga ikut tertawa
lalu beralih mengambilkan pesanan Barada.
“Jamu apa tuh, Pak?” tanya
Barada tanpa sungkan.
“Om kan sudah kelihatan
ganteng nih, tapi belum terlalu kuat. Jadi, harus minum jamu obat kuat.
Hahaha!” jawab si bapak lalu tertawa lebih kencang.
Yang lainnya juga ikut
tertawa, tapi tidak sekencang dia. Mereka mengerti maksud omongan si bapak.
“Biar kuat angkat tangan
ya, Pak?” tanya Barada mengimbangi kelakar si bapak.
“Hahaha!” tawa si bapak
lebih kencang.
Si mbak menyodorkan
bingkisan plastik yang berisi sejumlah bungkusan jamu serbuk.
“Berapa, Mbak?” tanya
Barada yang sudah hapal harganya jika beli di toko jamu langganannya.
“42 ribu.”
“Biar gua yang bayar,
Badar,” kata Rina cepat sambil mengeluarkan selembar merah uang Rp100.000.
“Oh, jazakillah. Thank’s,” ucap Barada tersenyum senang.
Rina pun mengurus
pembayarannya.
“Pak, kita duluan. Semoga
tambah kuat!” kata Barada kepada si bapak.
“Ya ya ya,” si bapak
manggut-manggut sambil terkekeh kecil.
Barada dan Rina kembali
meluncur di jalan beraspal. Kali ini langsung menuju perumahan elit Citra 2,
kompleks tempat rumah Rina berada. Di kawasan kompleks, Rina menuntun Barada
belok kanan dan kirinya, sehingga mereka berhenti di depan rumah Rina.
“Subhanallah!” ucap Barada saat melihat rumah besar di depannya.
Sebuah rumah besar yang
depannya dua lantai dan belakangnya tiga lantai. Empat tiang besar di terasnya
berwarna merah mengkilap dan kokoh. Temboknya yang berwarna cat kuning emas
banyak dihiasi cetakan ukiran khas klasik. Lampu-lampu mewah di atas tembok
pagar hingga halaman, teras dan dalam rumah, menyala indah dan menjadi kekuatan
utama dari kemegahan rumah itu. Di sisi kiri halaman depan terparkir dua mobil
mewah. Masih ada yang terparkir di dalam garasi. Sementara di sisi kanan
halaman depan adalah kolam sederhana dengan sebuah patung ikan berdiri tegak
menganga ke langit, mulutnya memancarkan air mancur pendek.
Tit tiiit!
Barada memencet klakson
dua kali setelah dipinta oleh Rina. Rina turun dari motor.
“Masuk dulu, yuk!” ajak
Rina.
“Ingin sih, tapi maaf,
sudah agak malam. Terlebih Engkong Amid menunggu saya. Saya hanya harus
memastikan kamu masuk melewati pintu rumah,” kata Barada.
Dari teras rumah muncul
seorang wanita berusia 30-an berlari datang ke pintu gerbang teralis besi yang
dicat kuning emas itu. Setibanya di gerbang, wanita yang adalah salah satu
pembantu di rumah itu segera membuka gerbang yang memang dikunci.
“Sesuai amanat Puang, saya
baru pergi setelah kamu masuk ke rumah,” kata Barada.
“Terima kasih, Badar,”
ucap Rina tersenyum kecil lalu bergerak melewati pintu gerbang dan terus menuju
pintu rumah.
Barada hanya tersenyum dan
tetap duduk di jok motornya, menunggu Rina masuk ke dalam rumah.
“Cewek itu benar-benar
menunggu gua sampai masuk ke pintu rumah. Kalau gua enggak masuk, apa dia gak
mau pergi?” pikir Rina.
Setibanya di teras, Rina
berhenti. Dia tidak langsung masuk ke pintu rumah, tetapi justeru beralih duduk
ke kursi sofa yang ada di teras.
Melihat hal itu, Barada
jadi kerutkan kening tanda bertanya-tanya. Barada tidak beranjak juga dari
posisinya di depan gerbang.
Sementara itu, Rina dalam
hati tertawa melihat Barada tidak beranjak pergi.
“Coba, gua tes sampai
sepuluh menit,” pikir Rina, tapi pura-pura tidak memandang ke arah Barada di
depan sana. Ia mengeluarkan hp-nya dari tas mungilnya.
Melihat Rina tidak
mengindahkannya, Barada memilih menunggu. Sementara pembantu yang tadi
membukakan pintu sudah masuk terlebih dulu.
“Sampai kapan Rina tidak
mau masuk ke rumahnya?” membatin Barada.
Lima menit berlalu. Rina
masih duduk di kursi sibuk dengan androidnya. Ternyata Barada juga sabar
menunggu. Hingga memang akhirnya sepuluh menit berlalu.
Rina akhirnya bangun
berdiri dan memandang kepada Barada. Seraya tertawa, Rina melambaikan tangan
kepada Barada. Lalu, Rina pun berbalik masuk ke dalam rumah melewati pintu
utama.
“Rupanya Rina mengujiku,”
membatin Barada seraya tersenyum kecil, tapi hatinya tidak kecewa dengan
candaan Rina itu.
Barada lalu berbelok pergi
meninggalkan depan rumah mewah itu.
Sekitar satu jam lamanya
Rina dalam perjalanan bersama Barada. Dalam masa itu, bagi Rina banyak
pelajaran yang ia petik dari seorang Barada. Bahkan di sepanjang malam itu,
masa-masa bersama Barada begitu terpatri di dalam hati dan ingatannya. Hingga
ketika akan tidur pun, Rina kesulitan memejamkan mata karena memikirkan Barada,
sifat ibu Barada dan ayah Barada. Jika mengingat Gazza, Rina pasti senyum
sendiri.
Setelah malam ini,
keesokan harinya, Rina selalu memperhatikan tindak tanduk Barada. Terlebih
ketika Barada menjadi Pemimpin Upacara Bendera di Senin pagi.
Malam itu adalah awal
hubungan antara seorang Rina Viona dengan Barada yang akan berlanjut di
hari-hari berikutnya. (RH)
(Bersambung: Kenapa Ketua Geng Harus Berhijab?)

0 komentar:
Posting Komentar