| Ilustrasi Marni. (Foto: Darin Mumtazah/Kaskus.co.id) |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode2 "Cinta Seleher Botol"
Oleh Rudi Hendrik
Bab Pertama: Cinta Botol Jamu
Pemuda berpakaian serba hitam ini dengan
semangat mengayuh sepeda model cewek yang di bagian depannya ada keranjang
berisi beberapa botol jamu. Usianya 18 tahun. Di dada kanan baju hitamnya ada
logo bordiran kuning bergambar dua batang tangan yang saling menyilang di atas
tulisan bordiran putih berbunyi “Tapak Emas”. Pemuda berwajah cokelat sawo
matang ini dapat dikatakan cukup tampan. Pakaian yang dikenakannya adalah
pakaian silat dari Perguruan Tapak Emas. Ia sendiri bernama Firman Barayuda.
Nama depan Firman menunjukkan bahwa orang tuanya adalah Muslim. Namun, karena
bapaknya penggemar berat cerita kolosal dari negeri Hindi, yaitu Mahabarata,
nama belakangnya diikuti “Baratayuda”, nama peperangan besar antara Pandawa dan
Kurawa. Agar tidak mencolok, maka dirubah jadi “Barayuda”.
Meski senyumnya tidak lebar, tapi masih dapat
dilihat bahwa ada senyum di bibirnya. Itu karena di dalam otaknya ada hologram
wajah seorang muslimah manis, meski kulitnya agak hitam. Menurutnya, cocoklah
dengan warna kulitnya, jadi kopi susu cokelat.
Setibanya di depan sebuah gang bergapura,
gapura sisa buatan 17 Agustus 2015, Firman berhenti. Ia keluarkan ponsel yang
dipinjamnya lalu membuka pesan yang tadi dikirim oleh si muslimah hitam manis.
“Gang H. Mukhlis II, air pam H. Abdul Qodir,”
baca Firman, lalu memandang ke gapura.
Di sisi atas gapura tertera tulisan besar
“Gg. H. Mukhlis II”. Firman segera menggoes lagi sepedanya, sementara keringat
sore mengucur di dahi dan lehernya.
“Semangat, Firman!” teriak Firman dalam hati.
“Buah manggismu sudah menunggu!”
Hitam,
kulitnya hitam, tetapiii putih isinya
Itulah,
manggis namanya
Hitam,
orangnya hitam, tetapiii manis senyumnya
Itulah,
pilihan saya
Hati dan pikiran Firman mendadak dangdut.
Lagu Rita Sugiarto yang berjudul “Hitam” ciptaan Raja Dangdut H. Rhoma Irama
tiba-tiba bernyanyi di dalam hatinya. Irama dangdut yang ceria membuat semangat
Firman kian berhias warna-warni pelangi dan bunga-bunga kuburan.
Agak jauh masuk ke jalan gang yang cukup
lebar, Firman belum juga menemukan tempat air PAM. Firman akhirnya memutuskan
untuk berhenti bertanya.
“Maaf, Kong!” sapa Firman kepada seorang
kakek yang asik duduk bersender di gardu siskamling, sambil menikmati sepuntung
rokok yang tinggal beberapa hisapan lagi pasti habis riwayatnya. Maksudnya,
riwayat si rokok. Meski sudah tua, tapi rambut putihnya tersisir rapi lurus ke
belakang, seperti model sisiran Dewa Judi Chow Yun Fat yang tampak mengkilap
dan aroma minyak rambut Tanco tajam merebak.
“Haiiit!” kelit si kakek tiba-tiba sambil
kedua tangannya memperagakan gerakan silat, sementara kedua kakinya tetap
melipat di lantai gardu. Respon spontan itu tercipta karena si kakek melihat
Firman memakai seragam silat.
Firman agak tercekat pula mendapat respon
satu gerakan jurus dari si kakek.
“Tenang, Kong!” seru Firman cepat sambil
angkat kedua tangannya tanda tidak akan menyerang. “Situasi aman dan
terkendali!”
“Mau ngapain, lu? Mau nantangin jawara Betawi
60-an?” tanya si kakek.
“Saya hanya mau bertanya, Kong, bukan mau
duel,” kata Firman, dalam hati sedikit sewot.
“Ngomong dari tadi! Cuma maling yang datang
kagak pakai salam!” rutuk si kakek lalu turunkan kuda-kuda silatnya. Ia lalu
menghisap kembali rokoknya, dan terbukti, sekali hisap habislah riwayat rokok
tersebut.
“Kena gua! Dikira gua maling,” rutuk Firman
dalam hati, tapi wajahnya memberikan senyum cengengesan.
“Terus, lu ngapain pakai baju silat begitu,
hah?!” tanya si kakek dengan lirikan tidak enak bagi Firman.
“Kebetulan pulang dari kondangan, Kong. Terus
diundang ke air pam Haji Abdul Qodir,” kata Firman sekaligus menjelaskan
tujuannya.
“Abdul Qodir itu gua!” kata si kakek setengah
berteriak.
Terkejutlah Firman.
“Waduh! Alamat apes nih!” rutuk Firman dalam
hati lagi.
“Bukan Haji Abdul Qodir, tapi Hasan Abdul
Qodir. H-nya itu Hasan, bukan Haji!” kata si kakek dengan suara tinggi, seperti
orang sedang ribut adu mulut, maksudnya adu kata-kata.
“Iya, maaf, Kong. Saya kira Engkong Hasan
sudah naik haji. Hehehe!” kata Firman lalu cengengesan.
“Ya sudah dong! Sudah tiga kali!” teriak
Engkong Hasan dengan sepasang mata merah yang mendelik. Namun, tiba-tiba ia
bergerak cepat berdiri, lalu memasang kuda-kuda silat di atas siskamling. Ia
marah kepada Firman, “Lu benar-benar ngajak gua ribut? Itu, itu sepeda cucu gua
si Marni. Lah lah lah, itu jamu pesanan gua!”
Engkong Hasan menunjuk-nunjuk sepeda dan
botol-botol jamu di keranjang sepeda. Terkejutlah Firman.
“Gawat! Bisa-bisa gua ribut benaran ini sama
orang tua!” kata Firman dalam hati.
“Lu ngerampok cucu gua, hah?!” tanya Engkong
Hasan.
“Tenang, Kong, tenang!” kata Firman yang jadi
bingung sendiri menghadapi orang tua itu.
Dalam situasi genting bagi Firman itu,
muncullah seorang gadis berjilbab merah muda yang datang berlari kecil mendekat
ke pos siskamling. Gadis berkulit hitam, hanya agak hitam, tapi manis di mata.
Deg!
Sebuah cubitan mengejutkan jantung Firman
saat matanya melihat gadis hitam manis itu, gadis yang lebih dari sejam lalu,
ia hadang dan rampas sepeda cantiknya.
“Kong!” gadis berbaju putih itu memanggil
Engkong Hasan setibanya di depan pos.
“Marni! Ini nih si Pengki yang nyolong sepeda
elu!” kata Engkong Hasan masih bernada tinggi sambil tunjuk hidung seksi
Firman.
“Bukan, Kong,” sangkal gadis yang disebut
Marni oleh Engkong Hasan itu. “Dia yang nyelamatin jamunya Engkong dari begal
di pertigaan pangkalan Palapa.”
Perkataan Marni yang terakhir membuat Engkong
dan Firman sama-sama mendelik.
“Busyet! Gua dibilang begal,” membatin Firman
sambil tetap senyum memandangi Marni dari samping, kontras dengan wajah
hatinya.
Sementara Engkong Hasan kembali duduk sambil
terkekeh.
“Oh gitu, hehehe!” ucap Engkong Hasan sambil
terkekeh. Lalu katanya kepada Firman, “Jadi elu yang nyelamatin botol-botol
jamu gua? Ngomong dari tadi, hahaha!”
Firman jadi ikut tertawa cengengesan, padahal
dalam hatinya menggerutu, “Kalau bukan aki-aki, benar-benar gua ajak ribut dah.”
“Siapa nama lu?” tanya Engkong Hasan.
“Firman, Kong,” jawab Firman, tetap pasang
senyum, pilih damai.
“Sebagai terima kasih gua, tolong deh elu
beliin gua rokok Pria Sejati di warung itu tuh!” kata Engkong lalu menunjuk
warung yang ada di seberang jalan. “Jangan lupa bayarin, warung itu enggak
terima utangan.”
Kali ini hilang senyuman Firman. Marni yang
justeru tersenyum, sebab ia tahu kenapa senyuman pemuda itu lenyap.
“Iya, Kong!” kata Firman menurut.
Firman lalu menyerahkan sepeda cantik yang
dipegangnya sejak tadi kepada Marni yang hanya tersenyum manis. Bahkan begitu
manis di mata Firman yang sepertinya memang sedang jatuh cinta.
Namun sayang, rasa bahagia Firman harus
terganggu oleh urusan dengan Engkong Hasan. Bagi Firman itu adalah musibah.
“Dia terima kasih, tapi gua yang disuruh beli
rokok. Mana uang gua cuma 20.000, pulangnya gua bisa jalan kaki,” pikir Firman
sambil berjalan ke warung.
Firman lalu membeli rokok merek Pria Sejati
dan memberikannya kepada Engkong Hasan.
“Kong, saya buatin jamunya, ya?” kata Marni
kepada Engkong Hasan sebagai alasan untuk lepas urusan dari kakeknya itu.
“Iya. Madunya tambahin, jangan kayak kemarin,
pahitnya masih berasa,” kata Engkong Hasan.
“Iya, Kong,” jawab Marni. Ia lalu mengajak Firman
pergi, “Ayo, Bang!”
“Permisi, Kong!” kata Firman pamit, sedikit
keras suaranya, seolah Engkong Hasan kurang normal pendengarannya.
Namun baru saja Firman beranjak, Engkong
Hasan memanggilnya.
“Kirman! Jangan malas main ke sini, jangan lupa ngasih salam, dan
lu harus tahu kalau gua mainnya kagak pakai tangan kosong!” seru Engkong Hasan.
“Iya, Kong!” sahut Firman tersenyum kecut. “Assalamu ‘alaikum!”
“Wa
‘alaikum salam, hehehe!” jawab Engkong Hasan lalu terkekeh sambil buka
bungkus rokoknya.
Sementara Marni hanya tertawa, karena ia tahu
benar karakter kakeknya tersebut.
“Engkong memang begitu, Bang,” kata Marni
kepada Firman yang berjalan mengiringinya menuntun sepeda.
“Nama kamu Marni, ya?” tanya Firman untuk
menegaskan dan basa-basi belaka.
“Iya, Bang. Oh ya, bagaimana dengan
pengejarannya tadi?”
“Oh, itu, hahaha!” Firman tertawa jumawa,
seolah sudah memberikan jawaban jelas dari nada tertawanya saja. “Penyelamatan
yang gemilang, Mar. Berkat sepeda ini, para penculik itu bisa gua kejar dan
akhirnya para penculik dihakimi warga.”
Lebih satu jam yang lalu, Firman dan
teman-teman seperguruannya mengejar para penculik seorang gadis. Karena
pengejaran mereka terhambat oleh kemacetan, Firman memutuskan untuk menghadang
Marni yang pada saat itu melintas dengan sepedanya. Dengan sedikit memaksa,
Firman meminjam sepeda Marni. Sebagai jaminannya, Firman memberikan ponselnya
kepada Marni.
Selain untuk memulangkan sepeda, kedatangan
Firman saat ini yang utama adalah untuk bertemu lagi dengan Marni, yang
pertemuan pertamanya memberi kesan-kesan percikan asmara dan cinta.
Setelah berjalan beberapa meter, Marni dan
Firman berbelok masuk ke sebuah gang. Setelah berbelok itulah, Firman baru
melihat keberadaan sebuah depot air PAM. Ada sebuah gerobak panjang sedang
menunggu dan sebuah lagi sedang mengisi air PAM di tangki air yang besar.
Setiap gerobak berisi belasan jirigen berwarna biru gelap.
“Oh, ini air PAM Hasan Abdul Qodir itu,” ucap
Firman.
“Iya, Bang. Ini punya Engkong, tapi dikelola
oleh orang tua saya,” kata Marni.
Depot air PAM itu terdapat di depan sebuah
rumah yang biasa saja, tapi cukup luas. Di separuh teras sebelah kanan depan
rumah, tampak tiga anak kecil sedang asik bermain. Usia mereka 3-5 tahun.
“Ummi datang!” teriak seorang anak laki-laki
yang usia 5 tahun, saat melihat kedatangan Marni dan Firman.
Seketika dua anak perempuan lainnya menengok.
Setelah melihat sosok Marni, semuanya segera bangkit dan berlari kepada Marni.
“Ummi!” seru mereka bersamaan seraya berlari
mendapati keberadaan Marni.
Marni dengan senyum senang membiarkan kakinya
yang berbalut rok merah gelap dipeluk oleh anak-anak. Anak laki-laki memilih
naik ke boncengan sepeda yang dituntun gadis yang mereka panggil “Ummi”,
panggilan Arab atau dalam budaya Islam yang berarti “ibuku”.
Kondisi itu membuat wajah Firman agak
terkejut, bahkan sangat terkejut dalam hati. Ia seketika teringat seorang teman
seperguruannya yang bernama Barada. Barada suka memanggil ibunya dengan sebutan
“Ummi”.
“Hah! Ummi? Marni sudah punya anak tiga?”
pekik hati Firman. “Oh, begitu cepatnya dia punya anak.”
Seketika harapan cinta Firman terpenggal oleh
pedang sebelum terutarakan kepada gadis hitam manis itu.
“Ummi, Ina tadi beli kotak-kotak, dapat kuda
ada sayapnya,” kata anak perempuan yang berusia empat tahun, kelancaran
bicaranya seolah menunjukkan tingkat kecerdasannya.
“Wah, senang dong, Ummi bisa ikut naik
kudanya dong,” kata Marni menanggapi dengan ceria.
“Tidak bisa, Ummi. Kata kudanya, sayapnya
berat, jadi Ummi tidak muat. Ummi naik ayamnya Aca aja,” kata anak bernama Ina
dengan wajah yang penuh keseriusan.
Marni pun tertawa mendengarnya. Demikian pula
Firman, meski dalam hatinya putus harapan. Kini tujuannya tinggal mengambil
ponselnya dari Marni. Usai itu ia akan langsung pulang.
“Ummi sedang ada tamu, namanya Om Firman!”
kata Marni memperkenalkan.
“Assalamu
‘alaikum, Om! Semoga Allah menyelamatkan Om Firman!” salam ketiga anak itu
serentak dan mengucapkan satu doa yang sama. Lalu mereka bergantian mencium
tangan kanan Firman yang disalaminya. Anak di sepeda pun segera turun dan
mencium tangan Firman.
“Hahaha!” Mendengar salam itu, secara ikhlas
Firman tertawa. Lalu jawabnya, “Wa
‘alaikum salam, semoga Allah memberi kalian cokelat yang banyak!”
“Aan enggak mau cokelat, nanti gigi Aan
rusak. Aan maunya permen yang banyak!” kata anak yang lelaki.
Tertawalah Marni dan Firman.
Sebuah sepeda motor terdengar memasuki gang
dan mendekati posisi mereka.
“Ayah datang!” teriak anak lelaki bernama Aan
saat melihat lelaki yang mengendarai motor besar hijau bermerek Ninja.
Firman kian terkejut mendengar anak-anak itu
menyebut kata “Ayah”, meski keterkejutan itu ia sembunyikan rapat-rapat dari
mata khalayak ramai. Sebutan “Ummi dan Ayah” adalah kejelasan yang sangat kuat
bagi Firman. Meski Marni terlihat masih sedemikian mudanya, tapi jelas tidak
terbantahkan bahwa Marni sudah milik lelaki lain.
“Hancur hancur hancur hatiku....” seketika
hati Firman menyanyikan lagu almarhum Olga Syaputra.
Motor itu berhenti di dekat mereka.
Pengendaranya adalah lelaki yang masih berhelm hijau gelap berhias warna putih.
Berjaket kulit hitam dan menyandang tas ransel yang cukup banyak isinya.
“Assalamu
‘alaikum, Peri-peri Surga! Semoga Allah berikan kalian kecerdasan!” salam
lelaki di motor kepada anak-anak.
“Wa
‘alaikum salam, Ayah! Semoga Ayah selalu bahagia!” balas anak-anak itu,
lalu mereka bergerak menyalami tangan lelaki tersebut.
Marni pun lalu menyalami tangan lelaki
tersebut dan menciumnya.
“Siapa, Mar?” tanya lelaki itu kepada Marni.
“Teman Marni, Bang,” jawab Marni.
Firman berinisiatif segera menyalami tangan
lelaki itu seraya perkenalkan namanya, “Firman.”
“Abduh,” kata lelaki itu pula memperkenalkan
namanya.
Pria bernama Abduh lalu melepas helmnya,
sehingga tampak jelaslah wajahnya yang masih muda dan tampan berkulit agak
putih. Rambutnya sedikit gondrong. Ada serangkum jenggot tipis di dagunya,
memberi kesan kejantanan yang lebih mempergagah. Harus Firman akui bahwa
usianya yang baru 18 tahun kalah matang oleh Abduh yang berusia 26 tahun.
“Alhamdulillah,
izin Allah nih. Bawa ke rumah, Mar, saya mau menawarkan produk bagus buat
Firman,” kata Abduh lalu menjalankan motornya dan parkir di teras.
Singkat cerita, Firman yang awalnya bertujuan
utama bertemu kembali dengan Marni sekaligus memulangkan sepeda dan mengambil
kembali hp-nya, justeru kemudian menjadi calon konsumen bagi Abduh yang memiliki usaha sampingan memasarkan sepatu
murah merek baru di pasaran.
Akhirnya, beberapa menit sebelum waktu
Magrib, Firman pulang dengan membawa dua kabar buruk dan dua kabar
menyenangkan.
Dua kabar buruk itu adalah ia pulang dengan
berjalan kaki karena ia tidak punya kendaraan dan uangnya tidak cukup untuk
naik kendaraan umum. Kabar buruk lainnya adalah ia pulang dengan membawa
beberapa lembar brosur dan sekotak sepatu baru yang berstatus kredit atau
utang.
Adapun dua kabar menyenangkan bagi Firman
adalah Marni masih gadis dan belum menikah. Marni dipanggil “Ummi” oleh
anak-anak karena dia adalah orang tua asuh bagi ketiga anak kecil tadi. Mereka
adalah yatim piatu. Sedangkan Abduh adalah kakak laki-laki Marni yang juga
orang tua asuh anak-anak tadi.
Kabar menyenangkan lainnya adalah, dengan
utang kredit sepatu, Firman jadi punya alasan untuk datang lagi ke rumah itu
dan bisa bertemu Marni dengan alasan bayar cicilan sepatu.
“Bodoh!” maki Firman sendiri di tengah jalan
setelah berjalan sejauh 2 km. “Kenapa gua enggak naik ojeg terus bayarnya pas
di rumah?”
Firman benar-benar baru tersadar, seperti
orang yang tersadar dari hipnotis asmara dan cintanya. Alangkah memalukannya,
dia harus berjalan kaki dengan pakaian silat dan menenteng sekotak sepatu baru.
Jelas, pakaian silatnya membuatnya jadi perhatian orang-orang di jalan. (RH)

0 komentar:
Posting Komentar