![]() |
| Ilustrasi. |
Novel "Cinta Seleher Botol"
Oleh Rudi Hendrik
Bab Kedua: "San, Gua Hamil"
Kamar
kosong besar ini bisa disebut ramai, karena banyak wajah-wajah lucu dari
boneka-boneka yang berbulu halus menatap kosong dari berbagai sudut. Di lemari,
mereka bersender rapi dengan berbagai warna. Dari yang ukuran mini seperti
seukuran kaos kaki hingga seukuran badan manusia.
Boneka
Winnie the Poo berwarna kuning berbaju merah yang seukuran orang dewasa duduk
bersender di sudut kamar. Di sudut kamar yang lain, boneka panda raksasa juga
duduk bersender.
Di
lemari rias yang ada di sisi kanan kepala ranjang, juga bercokol boneka-boneka
mini tokoh dongeng kalangan kurcaci.
Di
ranjang pun tidak luput dari boneka. Bantal dan guling termasuk jenis boneka.
Seprai merah muda bergambar tokoh-tokoh kartun Walt Disney.
Di
dekat pintu kamar yang tertutup rapat, ada rak kayu bagus yang berisi berbagai
macam jenis sepatu. Rata-rata berwarna merah muda.
Keluasan
kamar itu menjadi berkurang karena banyaknya lemari untuk barang-barang
koleksi.
Pintu
kamar mandi bergerak terbuka. Keluarlah seorang wanita muda cantik berambut
pendek sebatang leher. Ia mengenakan pakaian tidur lengan panjang warna merah
muda bermotif gambar Mickey Mouse. Ia bernama Rani Liota.
Tangan
kanannya memegang stik kecil dan pendek berwarna putih, yang tidak lain adalah
tespek atau alat tes kehamilan. Tampak raut wajah berkulit putih bersih itu
terkulai sedih.
Dengan
perasaan lemah, wanita berusia dua puluh tahun itu duduk di kursi depan lemari
riasnya. Sejenak ia memandang bayangan dirinya di dalam cermin besar di rak
rias.
Rani
lalu mengambil hp android yang tergeletak di depannya dengan tangan kirinya.
Tangan kanannya meletakkan tespek di depannya. Garis yang ditunjukkan oleh alat
pengetes air seni itu menunjukkan positif hamil.
Setelah
menyentuh satu nama kontak bernama “Sayang”, Rani menempelkan ponsel itu di
telinganya.
“Ya,
Honey?” satu suara pria menjawab
penuh kelembutan dan kasih sayang.
“San,
gua hamil,” jawab Rani lemah.
“Hah?!
Lu hamil?!” teriak pria dalam telepon terkejut. “Kok bisa? Lu enggak bercanda
kan, Ran?”
“Enggak,
San,” jawab Rani lemah, kontras dengan gejolak dahsyat di dalam dadanya setelah
mendengar reaksi kekasihnya yang seolah tidak siap mendengar kabar itu.
Pria
yang disebut “San” oleh Rani itu kembali berkata setengah marah, “Bagaimana
bisa? Setiap kita berhubungan gua selalu pakai, elu tahu sendiri itu. Lu juga
selalu pakai, kan? Kecuali lu....”
San
tidak menyelesaikan kalimat akhirnya.
“Kecuali
kalau gua main sama lelaki lain?” tanya Rani agak keras, melanjutkan kata-kata
yang ingin diucapkan kekasihnya. Lalu teriaknya lebih keras di telepon, “Lu
jahat nuduh gua begitu, San!”
Rani
mematikan sambungan teleponnya. Tubuhnya tersentak sekali, lalu tangisnya pun
meledak.
“Sando
jahat!” jerit Rani sambil melempar ponselnya ke kasur.
Tangis
yang dahsyat itu menunjukkan demikian sakit perasaan yang Rani rasakan.
Tubuhnya sampai bergerak membungkuk hingga wajahnya setinggi dengan duduknya.
Tetesan air mata jatuh ke lantai membentuk genangan.
“Bagaimana
mungkin elu nuduh gua sama laki-laki lain, San?” tanya Rani kepada dirinya
sendiri.
Tring
ninong ninong...!
Terdengar
irama dering dari ponsel Rani, tanda telepon masuk. Dari nama penelepon yang
muncul di layar ponsel adalah “Sayang”. Namun, Rani mengabaikannya, hingga
ponsel itu berhenti sendiri berbunyi.
Baru
sepuluh detik berhenti, ponsel Rani kembali berdering dengan nama penghubung
yang sama. Tetap saja Rani mengabaikannya. Hal itu terjadi hingga lima kali.
Barulah ponsel itu benar-benar berhenti berbunyi.
Sementara
Rani hanya terus menangis. Gambaran buruk tercipta di pikirannya.
“Bagaimana
kalau Sando enggak mau bertanggung jawab?” tanya hati Rani.
Tiba-tiba....
“Hahaha....!”
Di
saat kesedihan mendalam dirasakan oleh Rani, tiba-tiba ada suara ledakan tawa
yang terdengar tidak begitu keras, karena berasal dari luar kamar. Namun, suara
tawa lepas itu mengusik suasana kesedihan Rani.
Rani
tahu, itu adalah suara tawa adiknya yang bernama Rina Viona, tapi suaranya
ditemani oleh suara tawa perempuan lain yang Rani tidak kenal.
Akhirnya,
Rani lebih memilih melanjutkan tangisnya.
Ciut
ciut ciut!
Terdengar
suara seperti kicauan burung dari ponsel Rani, sebagai tanda ada pesan yang
masuk. Rani tetap tidak peduli. Ia memilih membuang tubuhnya tengkurap di kasur
dan membenamkan wajahnya di bantal bermodel wajah tokoh kartun Tazmania Devil
yang mulutnya menganga lebar.
“Hahaha!”
Kembali
tawa keras meledak dari ruang di luar kamar. Tawa ini lebih heboh dari
sebelumnya. Seolah tidak menunjukkan solidaritas kepada Rani yang sedang
dilanda prahara duka.
Rani
yang tangisnya sudah reda, menjadi penasaran. Jarang-jarang ia bisa mendengar
adiknya itu tertawa lepas seperti itu.
Rani
akhirnya memutuskan bangkit dan melangkah ke pintu kamar. Di sana ia berdiri
bersender pada daun pintu yang dikunci. Dari sana ia bisa mendengar obrolan dua
perempuan yang sedang makan di meja makan.
Kamar
Rani memang terhubung langsung ke ruang makan di rumah megah itu.
Di
meja makan, ada dua perempuan sedang makan sambil berbincang serius. Keduanya
duduk saling berhadapan berseberangan meja. Di tengah-tengah mereka ada
berbagai lauk pauk dan sekeranjang buah.
Gadis
pertama cantik berwajah mirip dengan Rani, tapi lebih muda. Rambut ikal
indahnya tergerai sebahu. Ia mengenakan T-Shirt
warna putih. Ia adalah Rina Viona, adik Rani.
Di
seberang meja adalah seorang gadis seumuran Rina. Meski parasnya tidak secantik
Rina atau kulitnya tidak seputih sahabatnya itu, tapi lesung pipi yang
dimilikinya membuatnya begitu manis. Lesung pipi itu muncul hanya ketika ia
tersenyum. Ia bernama Barada, teman sekolah Rina, tapi beda kelas. Malam itu ia
diundang khusus oleh Rina. Barada telah menyelesaikan makannya.
Setelah
tawa keduanya reda, Barada melanjutkan ceritanya.
“Abang
sih ngomongnya ke saya begini, bukannya menghina atau merendahkan cewek gemuk
itu, tapi pas lihat wajahnya, mau tidak mau Abang harus istighfar yang kesekian
ribu. Jadi, kecantikan yang sudah sempurna Allah berikan sesuai takarannya.
Kamu paham kan maksud dari sesuai takarannya, Rin?” kata Barada kepada Rina.
“Ya,”
angguk Rina sambil menurunkan kadar tawanya.
“Maksudnya
pas-pasan tapi itu yang terbaik baginya. Si mbak itu mempercantik wajahnya lagi
dengan tebalnya bedak, panjangnya bulu mata palsu dan ngejrengnya merah bibir
yang rada belepotan, yang menurut Abang justeru mirip badut. Abang benar-benar merasa
kena musibah tiga kali.”
“Musibah
apa?” tanya Rina jadi berhenti tertawa dan serius memandang wajah sahabatnya.
“Musibah
pertama adalah cewek cantik seksi yang pertama duduk di sebelah Abang, yang
buat Abang klepek-klepek. Yang kedua, cewek seksi yang astaghfirullah bikin geli itu. Dan musibah ketiga, bis sudah keluar
dari Semarang, yang artinya tempat Abang harus turun sudah kelewat jauh.”
“Hahaha!”
Lagi-lagi
tawa kedua gadis cantik itu meledak kencang. Sampai-sampai dua pembantu
perempuan yang sedang sibuk di sisi lain di ruangan itu, jadi senyum-senyum
berdua juga.
“Aduh,
pipi gua pegel!” keluh Rina sambil terus tertawa hingga air matanya keluar.
Setelah
tawa mereka berdua reda, barulah Barada kembali ke topik utama perbincangan
mereka yang sudah berlangsung sejak di kamar Rina di lantai dua, sebelum mereka
turun makan.
“Saya
ingin contohkan bahwa cowok seperti Abang tidak suka dengan perempuan cantik
yang terbuka. Abang itu hanya satu contoh lho. Masih banyak cowok-cowok seperti
Abang,” kata Barada yang menceritakan tentang kakak lelakinya, yang diam-diam
ditaksir oleh Rina. Barada melanjutkan perkataannya, “Kenapa kamu melihat,
kesannya semua cowok sukanya yang cantik terbuka dan yang obral murah? Karena
ikan air laut akan berenang bersama ikan air laut lainnya dan ikan air tawar
bersama ikan air tawar. Di Al-Quran ada ayat yang menjelaskan bahwa perempuan
yang buruk untuk laki-laki yang buruk, perempuan baik untuk laki-laki baik.
Saya enggak hapal surat dan ayatnya. Komunitas laki-laki salih tidak akan mau
mengambil wanita-wanita yang tidak salihah. Kalau kamu mau dapat cowok yang
bagus dunia akhirat, tidak ada jalan lain, kamu harus jadi wanita yang baik
menurut versi cowok salih itu, kecuali takdir bicara lain,” tutur Barada.
“Sepertinya busa di lambung saya sudah penuh kebanyakan bicara.”
“Elu
malam ini benar-benar jadi guru spiritual gua, Badar!” puji Rina dengan
menyebut nama panggilan Barada. Tercipta senyum bahagia di wajah cantiknya,
karena memang hatinya berubah bahagia setelah pikirannya terbuka dan
tercerahkan oleh “kuliah” dari Barada. Lalu katanya lagi kepada Barada, “Tekad
gua sekarang benar-benar jadi bulat sempurna.”
Rina
lalu berdiri, demikian juga Barada, karena memang mereka sudah selesai makan.
“Badar,
keranjang buahnya bawa aja ke kamar. Gua mau nyobain baju yang gua beli,” kata
Rina.
Mendengar
pemaparan Barada di meja makan, Rani yang menguping di balik pintu kamarnya,
mendadak menangis lagi. Ia tidak bisa menahan dan mengendalikan kesedihannya,
tapi ia berusaha menahan suara tangisnya.
“Di Al-Quran ada ayat yang menjelaskan bahwa
perempuan yang buruk untuk laki-laki yang buruk, perempuan baik untuk laki-laki
baik.”
Kalimat
itu begitu mengenai pikiran dan hati Rani. Sebab ia sangat tahu, berhubungan
badan dengan kekasihnya di luar ikatan pernikahan, jelas perbuatan tercela.
Jelas perbuatan itu hanya dilakukan oleh perempuan yang sudah tidak mungkin
dicap sebagai wanita yang baik lagi. Rani merasa, kondisinya sekarang ini jelas
tidak akan membuatnya bisa mendapatkan lelaki yang baik, terbukti kekasihnya
yang selama ini ia suplai dengan kenikmatan seks justeru menuduhnya tidur
dengan lelaki lain.
Namun,
suara isakan Rani lolos juga ke telinga Rina dan Barada yang sudah berdiri
hendak meninggalkan meja makan.
Rina
segera mendekati pintu kamar Rani, sementara Barada berdiri diam di tempatnya
sambil menenteng keranjang buah dan memandang apa yang dilakukan Rina.
Setibanya
di pintu yang tertutup, Rina diam menyimak dengan pendengarannya. Ia mendengar
suara tangis yang samar, tangis yang sepertinya ditahan agar tidak terdengar
kencang.
“Ran?!”
panggil Rina agak kencang lalu mengetuk pintu kamar yang memang dikunci.
Namun,
tidak ada jawaban dari Rani, kecuali suara isak tangis yang masih terdengar
oleh Rina.
“Rani,
elu kenapa?!” tanya Rina agak berteriak. “Rani!”
Tetap
tidak dijawab oleh Rani.
Rina
akhirnya memutuskan meninggalkan pintu itu lalu mengajak Barada pergi dari
ruangan tersebut.
Rani
yang awalnya berdiri bersender di daun pintu, tersurut turun dan duduk
berjongkok. Air matanya terus mengalir deras. Ia memeluk kedua lututnya lalu
perlahan tubuhnya bergerak jatuh ke samping hingga ia terbaring meringkuk di
lantai bersama kesedihannya yang begitu dalam.
“Rani
nangis tuh di kamarnya!” kata Rina kepada ayah dan ibunya saat melewati keberadaan
mereka di sofa depan TV.
“Hah!”
kejut wanita bertubuh langsing berambut pendek yang duduk di sofa. Wanita
berkulit putih bersih itu mengenakan pakaian tidur longdress lengan pendek warna merah muda. Riasannya membuat wajah
usia 40-annya tampak lebih muda. Ia bernama Irma Lulubana, ibu dari Rani dan
Rina, sekaligus nyonya besar di rumah itu.
Di
sebelahnya duduk lelaki berusia 50-an berkepala agak botak bagian depannya, seiring
rambutnya yang memang menipis kelebatannya. Ia mengenakan kaos oblong kuning,
membuat perut gendutnya menonjol jelas. Ia memakai celana pendek gombrong hitam
yang punya dua kantong belakang dan dua kantong kanan-kiri. Kulitnya putih
bersih. Sebuah jam tangan emas melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia
adalah Dedy Sirana, ayah Rani dan Rina sekaligus penguasa di rumah besar itu.
Wajahnya terlihat dingin.
Irma
kerutkan kening mendengar laporan puterinya. Ia lalu bangkit dan segera pergi
masuk ke ruang makan lalu langsung menuju ke pintu kamar anak tertuanya.
Sementara sang ayah tetap teguh di duduknya menonton acara dialog di televisi.
Tok
tok tok!
“Rani!”
panggil Irma setelah mengetok pintu. Ia memang mendengar suara tangis Rani yang
ada di balik pintu.
Irma
mencoba membuka handle pintunya, tapi
dikunci.
“Ran,
kenapa, Ran?” tanya Irma lagi. “Kasih Mama masuk, Ran!”
Tidak
ada jawaban dari dalam kamar.
“Pasti
ribut sama Sando lagi,” membatin Irma.
Akhirnya
Irma memilih meninggalkan pintu kamar itu dan membiarkan Rani tenggelam dalam
kesedihannya. (RH)


Mantap..nunggu kelanjutannya
BalasHapus