Oleh: Syahril Hermansyah
Sehalus-halus kehinaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah tercerabutnya kedekatan kita dari sisi-Nya. Hal ini biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang jauh dari meningkat, atau bahkan malah menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya, tidak bertambah pula ilmu yang dapat membuatnya takut kepada Allah, bahkan justru maksiat pun sudah mulai dilakukan, dan anehnya yang bersangkutan tidak merasa rugi. Inilah tanda-tanda akan tercerabutnya nikmat berdekatan bersama Allah Azza wa Jalla.
Sebuah kisah dari seseorang yang kala itu tampak begitu rajin beribadah, saat salat tak lepas dari linangan air mata, salat tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk berjemaah ke mesjid.
Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Karenanya, di antara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya segera terlunasi.
Selang beberapa lama, Allah Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang pria tersebut.
Sayangnya, begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah. Biasanya, jika kehilangan salat tahajud ia menangis tersedu-sedu seakan menyesali dirinya, “Mengapa Engkau tidak membangunkan aku, ya Allah?”
Namun, lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadwal tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju masjid, tapi akhir-akhir ini datang ke masjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika azan tuntas baru selesai wudu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk salat di rumah saja.
Bahkan pergi ke majelis taklim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah hilang. Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia.
Inilah tanda-tanda hati mulai mengeras. Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercerabut satu persatu, maka inilah tanda-tanda sudah tercerabutnya taufiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara.
Apalagi ketika ibadah salat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang keyakinannya kepada Allah. Inilah yang disebut suul khatimah (jelek di akhir), na'udzhubillah.
Kalau kita simak dengan seksama uraian di atas, tampaklah bahwa salah satu hikmah yang dapat kita ambil adalah dengan ‘mengingat mati’. Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal, padahal kita sedang berbuat maksiat, zalim, atau aniaya? Tidak takutkah kita mati suul khatimah? Na'udzhubillah.
Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar kita dalam memelihara iman di relung kalbu ini. Artinya kalau ingin meninggal dalam keadaan husnul khatimah, maka selalulah ingat mati.
Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu mengingat kematian.
Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam keluar menuju masjid. Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yang sedang mengobrol dan tertawa. Maka beliau bersabda, “Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.”
Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita seakan punya rem yang kokoh dari berbuat dosa dan aniaya. Akibatnya di mana saja dan kapan saja kita akan senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat dan di saat malaikat Izrail tiba-tiba datang untuk mencabut nyawa, maka insyaAllah kita akan mati dalam keadaan husnul khotimah.
(Majelis Tarbiyah Watta’lim Dago)


0 komentar:
Posting Komentar