![]() |
| Pasukan paramiliter Syiah Irak, Hashid Al-Shaabi. (Foto: Reuters) |
Amman, 29 Shafar 1438/29 November 2016
Seorang politisi
senior Irak memperingatkan, jika unit paramiliter Syiah terlibat dalam
memerangi kelompok Islamic State (ISIS) di Mosul, maka negara itu berisiko
pecah dan terjadi pertumpahan darah sektarian.
Pasukan Mobilisasi
Populer atau Hashid Al-Shaabi yang didukung oleh pemerintah Baghdad, ingin
memainkan peran lebih besar dalam ofensif untuk merebut kembali benteng besar
terakhir ISIS di Irak tersebut.
"Semua orang mencari
keselamatan dari Daesh (ISIS), tapi setelah Daesh dikalahkan fase yang
berbahaya baru akan dimulai jika Amerika Serikat dan pemerintah tidak mengatasi
keluhan warga Sunni. Ini bisa mengancam masa depan negara Irak," kata Khamis
Khanjar, seorang politisi Sunni yang berada di Amman, Yordania.
Khanjar juga pengusaha
yang membiayai 3.000 pasukan yang dilatih Turki dan dikenal sebagai Pasukan
Pengawal Ninawa.
Khanjar yang
memiliki hubungan dekat dengan kekuatan regional Turki, Teluk dan Yordania
serta dengan aspirasi masyarakat Sunni, mengatakan bahwa konsekuensi dari milisi
Hashid Al-Shaabi memasuki Mosul akan menjadi bencana.
Namun, pemimpin milisi
Hashid Al-Shaabi menyangkal kelompoknya menganiaya warga sipil.
Khanjar mengatakan,
Pasukan Pengawal Ninawa, yang terutama diambil dari daerah Mosul, siap untuk
melawan.
Warga Sunni yang
mendominasi Irak telah menuduh pemimpin Syiah berupaya meminggirkan mereka
melalui kebijakan sektarian, tapi Pemerintah Baghdad menyangkal tuduhan itu.


0 komentar:
Posting Komentar