![]() |
| Pria Kashmir korban penembakan peluru pelet. (Foto: Shahnawaz Khan) |
Srinagar, 10
Rabi’ul Awwal 1438/10 Desember 2016
Catatan resmi menyebutkan sudah
1.155 orang Muslim Kashmir yang matanya cedera oleh peluru pelet yang
ditembakkan oleh pasukan keamanan India sejak aksi perlawanan rakyat
pro-kemerdekaan dimulai pada 8 Juli 2016.
Keamanan India di
negara bagian Jammu dan Kashmir selalu menembakkan peluru pelet untuk
membubarkan massa yang berdemonstrasi di seluruh negeri menentang Pemerintah
India.
Pada Jumat (9/12)
sore, Sabzar Ahmed (30), warga Shopian, harus dirawat akibat luka di mata
kanannya yang terkena pelet di mata.
![]() |
| Peluru pelet yang dipakai pasukan keamanan India kepada warga sipil. (Foto: dok. DNA India) |
Sabzar yang bekerja
sebagai tukang batu mengatakan, dia terluka di daerah Arwani ketika pasukan
keamanan melepaskan pelet sementara ia berada di antara kerumunan demonstran
yang berlari menyelamatkan diri saat kontak senjata berlangsung di daerah itu.
"Seandainya
saya tidak melihat ke belakang, mata saya akan baik-baik saja," katanya kepada Greater Kashmir.
Senjata pelet telah
menyebabkan “epidemi kebutaan” di Kashmir. Catatan mengungkapkan bahwa kelompok
usia yang paling terkena dampak tembakan pelet adalah antara 15-20 tahun.
Penggunaan peluru
pelet secara berlebihan oleh pasukan India kepada warga sipil telah dikecam
oleh banyak lembaga kemanusiaan internasional.
Para ahli telah
menegaskan bahwa jenis senapan berpeluru pelet ini menyebabkan cedera serius,
cacat, dan kematian yang tidak pandang bulu.
Dari 1.115 orang
yang matanya cedera, beberapa individu harus kehilangan kedua matanya atau buta
total.
Meskipun Departemen
Dalam Negeri India telah menunjuk sebuah komite tujuh anggota untuk mencari
solusi alternatif penggunaan pelet, tapi senjata-senjata ini terus membuat buta
mata Muslim di Kashmir.



0 komentar:
Posting Komentar