![]() |
| Ilustrasi: gadis Nepal |
Achram, Nepal, 19 Rabi’ul Awwal 1438/19 Desember 2016
Seorang gadis 15 tahun wafat di distrik Achram barat Nepal, setelah ia
diasingkan ke gudang karena sedang masa haid.
Di bawah praktik Hindu kuno, wanita haid akan diasingkan ke
gudang atau kandang ternak. Praktik ini telah dilarang selama lebih dari satu
dekade di negara itu.
"Kami sedang menyelidiki kasus ini. Kami menduga bahwa
ia meninggal karena mati lemas oleh asap dari api yang ia nyalakan untuk
menjaga dirinya tetap hangat," kata inspektur distrik Badri Prasad Dhakal
kepada kantor berita AFP, Senin (19/12).
Media lokal mengidentifikasi gadis Nepal itu bernama Roshani
Tiruwa. Demikian Al Jazeera
memberitakan yang dikutip MINA.
Sebagian orang Hindu memandang wanita menstruasi sebagai wanita
tidak suci dan mereka dipaksa tinggal di sebuah gubuk atau kandang sapi untuk beberapa
hari. Praktik ini dikenal sebagai chhaupadi.
Ayah Tiruwa mengatakan kepada surat kabar lokal, anaknya
tidak memiliki makan malam pada hari Jumat dan masuk ke dalam gudang untuk
tidur. Di pagi harinya Tiruwa tidak terlihat, lalu ayahnya memanggilnya.
"Kemudian kami melihat mayatnya," katanya.
Tiruwa adalah seorang siswi kelas sembilan di Sekolah
Menengah dan sedang menjalani hari ketiga haidnya pada saat kematiannya.
Di bawah praktek chhaupadi, perempuan dilarang mengambil
bagian dalam kegiatan keluarga yang normal selama menstruasi dan setelah
melahirkan. Mereka dilarang melakukan kontak dengan orang-orang dari
keluarganya.
Tradisi Hindu adalah umum untuk semua kasta di wilayah
tersebut. Wanita yang melanggar praktik tersebut akan dipersalahkan jika
terjadi kegagalan panen, munculnya penyakit dan kematian hewan yang mendadak.
Ada laporan-laporan sebelumnya bahwa praktik chhaupadi sering
menyebabkan kematian oleh serangan binatang liar, gigitan ular, penyakit,
pemerkosaan, kesehatan mental yang buruk, dan bayi sekarat karena pneumonia.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa wanita terbakar saat
berada di gudang karena sedang diasingkan.
Namun, ada beberapa desa yang mencoba mengklai sebagai
"zona bebas chhaupadi".
Meskipun Mahkamah Agung telah melarang chhaupadi pada tahun
2005, tapi praktik itu masih berakar kuat di banyak desa, terutama di daerah
bukit terpencil.
Mohna Ansari dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Nepal
mengatakan, para pemimpin lokal harus berbuat lebih banyak untuk menegakkan
larangan chhaupadi.
"Kami memiliki larangan hukum tetapi pasukan penegak
hukum belum kuat dalam implementasinya," katanya.
Sebuah laporan 2011, PBB memperkirakan bahwa 95 persen wanita
di distrik Achham mengikuti larangan haid.
Mi’raj Islamic News
Agency (MINA)


0 komentar:
Posting Komentar