![]() |
| Ilustrasi |
Oleh Rudi Hendrik,
jurnalis Mi’raj Islamic News Agency
(MINA)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
لَقَدۡ جَآءَڪُمۡ رَسُولٌ۬ مِّنۡ أَنفُسِڪُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا
عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡڪُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٌ۬ رَّحِيمٌ۬
Artinya,
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat
terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan)
bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang beriman. (QS.
At-Taubah [9] ayat 128).
Di masa yang nyaris
seluruh aturan kehidupan masyarakat dipasung oleh hukum-hukum buatan otak
manusia yang lemah dan terbatas ini, umat Islam dihadapkan pada dilema dan kondisi
yang sarat oleh manipulasi karya seni buatan pihak-pihak kafir yang bertujuan
melemahkan, menghancurkan dan membinasakan umat Islam. Di saat yang bersamaan,
musuh-musuh Islam itu bisa meraup keuntungan yang melimpah.
Kondisi ini
diperparah dengan adanya penyakit kronis yang diidap oleh umat dengan adanya
bakteri-bakteri munafik yang hanya mementingkan keuntungan, kesenangan dan
kekuasaan pribadi dan keluarga.
Kekacauan dan
derita yang melanda umat Islam di mana-mana di belahan dunia ini, membuat
Muslimin dunia memerlukan pemimpin dambaan. Namun sayangnya, umat Islam telah
dikotak-kotakkan oleh aturan produk akal yang memaksa mereka harus memilih
pemimpin yang berdasarkan selera orang berkepentingan.
Sistem demokrasi
dan kerajaan yang umumnya dipakai oleh manusia di berbagai negara kini tidak
bisa memberikan solusi kepemimpinan bagi umat, juteru umat kini menjadi korban
terbesar dari ambisi kepentingan para pemimpin negara-negara dunia.
Berdasarkan
petunjuk di dalam QS. At-Taubah ayat 128, Allah menungkapkan beberapa karakter
pemimpin dambaan umat sebagaimana yang terdapat di dalam diri Rasulullah
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Pertama, berasal dari kaum sendiri
Hal pertama yang
disinggung oleh Allah dalam hal sosok pemimpin adalah asal-usulnya. Kepada
bangsa Arab yang saat itu sangat jahiliyah,
Allah utus Muhammad dari bangsa Arab juga, bahkan dari suku Arab yang terkenal
terhormat.
Suku Quraisy
dipandang sebagai salah satu bangsa yang dihormati dan disegani di antara
bangsa-bangsa yang ada di semenanjung Arabia. Suku Quraisy sendiri terbagi ke
dalam berbagai suku. Bani Hasyim adalah salah satu suku terhormat di antara
suku-suku yang ada. Qushai bin Kilab adalah nenek moyang mereka yang bertugas
sebagai penjaga Ka’bah.
Bacaan Al-Quran
terbaik adalah qiraat (dialek
Al-Quran) yang mengikuti lisan orang Quraisy.
Maka tidak aneh
jika jauh-jauh hari Rasulullah telah me-nubuwwah-kan
bahwa Imam Mahdi pemimpin dambaan umat di akhir zaman adalah dari darah
Quraisy.
Untuk pemimpin
berskala wilayah atau negeri, yang terbaik dari sisi asal-usulnya adalah
pemimpin yang berasal dari pribumi atau dari etnis masyarakat itu sendiri.
Pemimpin yang
berasal dari kalangan sendiri salah satu nilai tambahnya adalah persentase
bahwa ia akan lebih merasakan penderitaan atau kebahagiaan umat, lebih besar,
karena ada keterikatan emosional yang lebih dekat dengan umat atau rakyat.
Adapun untuk
pemimpin umat Islam untuk urusan dunia, tentunya adalah pemimpin yang berasal
dari komponen umat Islam itu sendiri. Jadi wajib umat Islam dipimpin oleh orang
Islam sendiri.
Terlebih Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman
dalam QS. Al-Maidah [5] ayat 51,
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَہُودَ
وَٱلنَّصَـٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُہُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ۬ۚ وَمَن
يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُ ۥ مِنۡہُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى
ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ
Artinya, “Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu), sebahagian mereka adalah pemimpin bagi
sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi
pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5]
ayat 51).
Kedua, sangat menginginkan keimanan dan
keselamatan bagi umat yang dipimpinnya.
Pemimpin dambaan
umat adalah pemimpin yang sangat memperhatikan agama dan keselamatan
orang-orang yang dipimpinnya. Kepeduliannya bukan sebatas bibir atau retorika
semata, tapi benar-benar kepedulian dari dalam hati yang diwujudkan dalam semua
kebijakannya sebagai pemimpin.
Pemimpin seperti
ini tidak hanya memikirkan keselamatan untuk periode hidup di dunia saja,
tetapi berpikir jauh untuk keselamatan di akhirat juga.
Untuk membawa umat
kepada keselamatan di dunia dan diakhirat kelak, seorang pemimpin wajib
berpedoman hanya kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah
bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا :
كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Artinya, “Aku telah
tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada
keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (Hadits Shahih Lighairihi,
H.R. Malik, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Disahihkan oleh Syaikh
Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm.
12-13).
Setiap kebijakan
pemimpin umat wajib berlandaskan kepada kedua pedoman tersebut. Oleh karena
itu, seorang pemimpin umat idealnya adalah orang yang paham Al-Quran dan
Al-Hadits serta tunduk kepada kedua aturan itu. Dan pemimpin umat wajib
dikelilingi oleh orang-orang yang ahli di bidang Al-Quran dan As-Sunnah yang
terkumpul dalam satu majelis yang bisa memberikan masukan dan nasehat kepada
pemimpin berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.
Pemimpin yang tepat
adalah pemimpin yang berani menerapkan kebijakan yang bertentangan dengan suara
terbanyak umat demi keselamatan umat itu sendiri di dunia dan di akhirat.
Ketiga, sangat berkasih
sayang dengan umat yang dipimpinnya.
Berdasarkan ayat di
atas dan QS. Al-Fath [48] ayat 29 yang berbunyi,
مُّحَمَّدٌ۬ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُ ۥۤ أَشِدَّآءُ عَلَى
ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَہُمۡۖ
Artinya, “Muhammad
itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka....”
Pemimpin dambaan
umat hendaklah memiliki prinsip “haram menyakiti perasaan umat”. Jadi, semua
kebijakan pemimpin adalah demi kepentingan umat, bukan untuk kepentingan
pribadi ataupun keluarga semata. Cintanya kepada umat sama besar cintanya
kepada dirinya sendiri dan kepada keluarganya.
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَس بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمِ
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا
يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [رواه البخاري ومسلم]
Dari Abu Hamzah,
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,
pembantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu
hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya
sendiri. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dalam sejarah Rasul,
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ikut
serta menyediakan segala kebutuhan hidup ahli
shuffah. Kelompok ini dikenal kurang mampu secara ekonomi dan tidak
memiliki tempat tinggal, termasuk di dalamnya para musafir yang kehabisan
bekal. Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa jumlah ahli shuffah mencapai 400 orang (Tafsir al-Munir III/74). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menempatkan mereka di sisi masjid dan
mengajak para sahabat yang lain untuk menyisihkan sebagian harta mereka demi
kelangsungan hidup para ahli shuffah.
Salah satu sikap
pemimpin yang lebih mencintai umatnya dibandingkan yang lain, terjadi di masa
kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu
‘anhu. Khalifah Umar dengan senang hati memanggul gandum untuk rakyatnya
sebagai wujud kepedulian dan rasa tanggungjawabnya.
Ada pula Utsman bin
Affan radhiyallahu ‘anhu yang
menginfakkan 700 onta lengkap dengan segala dagangan yang diangkut di atas
onta-ontanya, kepada umat Islam dibandingkan harus diserahkan kepada para
pedagang yang menawar dengan keuntungan sepuluh kali lipat.
Itulah beberapa
karakteristik bagi seorang pemimpin dambaan umat berdasarkan QS. At-Taubah [9]
ayat 128.
Masih banyak
karakter lain yang disebutkan di dalam Al-Quran dan Al-Hadits yang harus
dimiliki oleh seorang pemimpin.
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)


0 komentar:
Posting Komentar