![]() |
| Ilustrasi: Tumpukan kitab-kitab ilmu. (dok. Muslim.or.id) |
Oleh: Rudi Hendrik,
jurnalis Mi’raj Islamic News Agency
(MINA)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ
# خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ
عَلَقٍ #
ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ
# ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ #
عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ #
Artinya, “Bacalah
dengan [menyebut] nama Rabbmu yang menciptakan, (1) Dia telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. (2) Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah, (3)
Yang mengajar [manusia] dengan perantaraan kalam. (4) Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya. (5)” (QS. Al-‘Alaq [96] ayat 1-5).
Ada istilah “budaya
baca adalah kunci dari beragam kecerdasan”. “Buku adalah jendela ilmu” dan
“Al-Quran adalah gerbang segala kebaikan”.
Sungguh mengejutkan
bagi pemerintah dan bangsa Indonesia, hasil penelitian dari Central Connecticut
State University tahun 2016, mengungkapkan hasil bahwa peringkat minat baca
Indonesia dalam data World's Most
Literate Nations berada di urutan 60 dari 61 negara.
Selain itu, pada tahun
2012 Unesco melansir indeks tingkat membaca orang Indonesia hanya 0,001. Itu
artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan
serius.
Padahal, budaya
membaca memiliki mamfaat yang sangat tak terkira, terutama membaca Al-Quran.
Tersebutlah anak
bernama Musa La Ode Abu Hanafi yang lahir tahun 2008. Di usia 7 tahun 10 bulan,
ia ditetapkan sebagai Juara III Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Internasional di
Sharm El-Sheikh Mesir pada 10-14 April 2016.
Semenjak usia dua
tahun, sang ayah muda, Hanafi (33 tahun) sudah memperkenalkan huruf-huruf
Hijaiyah pada Musa. Huruf-huruf itu ditempel di dinding agar selalu
diulang-ulang oleh Musa dan sampai dia hafal seluruh huruf.
Karena Musa belum
bisa membaca Al-Quran pada kala itu, Hanafi membimbingnya dengan metode talqin atau membacakan hafalan.
Sementara itu, Ustaz
Fauzil Adhim dalam buku Positive
Parenting pernah menceritakan kisah bayi bernama Jennifer, bayi yang
menyandang keterbelakangan mental atau down syndrome yang ditandai dengan
rendahnya IQ. Tak hanya itu, Jennifer juga hampir tuli, buta dan mengidap
keterbelakangan mental yang parah.
Namun, ibu
Jennifer, Marcia Thomas, membacakan 11 buku setiap harinya. Hasilnya sungguh
mengejutkan, IQ Jennifer naik menjadi 111 pada usia empat tahun. Inilah salah
satu keajaiban membaca, tidak hanya memberikan mamfaat bagi yang membacanya,
tapi juga memberikan kadahsyatan bagi yang menyimaknya. Ada lompatan kecerdasan
yang luar biasa terjadi.
Membaca adalah
aktivitas kompleks yang meliputi delapan aspek, yaitu: sensori, persepsi,
sekuensial, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi.
Budaya para ulama besar
Ulama besar mana
yang tercipta bukan dari budaya membaca.
Membaca adalah
kegiatan yang sangat mulia. Dengannya seorang dapat mengetahui sesuatu yang
belum ia ketahui.
Selain itu orang
yang rajin membaca akan pandai dalam berbicara. Tutur katanya pun mudah
dipahami alias tidak berbelit-belit. Dikarenakan ia terbiasa dengan kalimat
yang sistematis, terstruktur dan kaya akan perbendaharaan kata yang ada dalam
sebuah bacaan.
Para penulis
handalpun mengakui bahwa kunci sukses menulis adalah banyak membaca.
Dalam ajaran Islam
pun, perintah yang pertama kali diterima Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui perantara malaikat Jibril adalah
perintah membaca, sebagaimana tersebut dalam QS. Al-Alaq [69] ayat 1-5.
Ibnu Qayyim
berkata, “Ayat ini cukup sebagai bukti kemuliaan ilmu. Yaitu, Allah memerintahkan
Nabi-Nya agar meminta tambahan ilmu pengetahuan.
Ibnu Katsir
menyatakan, “Maksudnya adalah tambahkanlah untukku ilmu dari-Mu.
Ibnu Uyainah
menuturkan, “Rasulullah selalu memohon kepada Allah agar ditambah ilmunya
hingga beliau wafat.
Telah menjadi
kebiasaan para ulama terdahulu, agar semangat berkaryanya tetap terjaga, maka
mereka rajin membaca kisah perjalanan hidup umat terdahulu. Dari kalangan Nabi
dan Rasul juga para sahabat-sahabatnya yang mulia hingga akhir zaman.
Seperti Ibnul Jauzi
yang mengaku pernah membaca 200.000 jilid buku.
Beliau berkata, “Aku
tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah aku
lihat maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat katalog
buku-buku wakaf di madrasah An-Nidhamiyyah yang terdiri dari 6.000 jilid buku.
Aku juga melihat katalog buku Abu Hanifah, Al-Humaidi, Abdul Wahhab bin Nashir
dan yang terakhir Abu Muhammad bin Khasysyab. Aku pernah membaca 200.000 jilid
buku lebih. Sampai sekarang aku masih terus mencari ilmu.”
Ulama lain, Ibnu
Aqil mengatakan, “Tidak selayaknya aku menyia-nyiakan usiaku meski sesaat. Oleh
karena itu apabila telah lelah lisanku dari mengulang-ngulang hafalan atau
berdiskusi dan kedua mataku dari membaca maka aku maksimalkan fungsi otakku
ketika beristirahat. Aku tidak akan bangkit dari tempatku hingga terpikir dalam
benakku sebuah masalah yang akan aku tulis. Sungguh pada usia 80 tahun ambisiku
terhadap ilmu lebih tinggi daripada saat usiaku 20 tahun.”
Sementara itu, Imam
Muhammad bin Ya’qub Fairuz Abadi pernah berkata, “Aku telah membeli berbagai
buku seharga 50.000 misqal emas.”
Ukurannya 1 misqal
= 4,25 gram emas.
Orang berilmu tidak
akan lepas dari budaya membaca. Terlebih Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi janji kepada orang-orang yang
beriman yang memiliki ilmu.
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِى
ٱلۡمَجَـٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ
فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ
ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتٍ۬ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٌ۬
Artinya, “Hai
orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah
dalam majelis.’ Maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.
Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.’” (QS. Al-Mujadilah [58] ayat 11).
عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ
بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ
وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».
Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu berkata,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran maka baginya satu
kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan
semisalnya dan aku tidak mengatakan الم
satu huruf akan tetapi Alif satu
huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan disahihkan
di dalam kitab Shahih Al Jami’, no.
6469).
Begitu banyak
keutamaan dalam budaya membaca, baik untuk dunia maupun untuk di akhirat.
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)


0 komentar:
Posting Komentar