![]() |
| Ilustrasi. (Dok. Detik) |
Novel "Cinta Seleher Botol"
Oleh Rudi Hendrik
Di ruang tamu.
“Orang iseng mana sih yang ngirimin gua foto
beginian?!” rutuk Rani kesal sambil duduk di sofa. Di tangannya terpegang
ponsel bagus dan mahal.
“Kenapa, Rin?” tanya Irma.
“Coba lihat, masa gua dikirimin gambar
beginian, Ma!” kata Rani sambil menyodorkan ponselnya kepada ibunya yang dalam
dua hari ini serasa begitu dekat dengannya, sejak ia mengaku hamil.
Irma lalu melihat gambar yang ada di layar
ponsel itu. Gambar wajah mayat seorang lelaki yang dua lubang hidungnya
disumbat dengan kapas.
“Hih, orang iseng kali, Ran,” kata Irma lalu
memberikan kembali ponsel itu.
Tring ninong ninong...!
Seiring Rani menerima kembali ponsel
miliknya, ponsel itu berbunyi nyaring, tanda ada yang menelepon. Di layarnya
tertulis nama Fito, teman Rani dan Sando.
“Ya, To?” tanya Rani menjawab telepon
tersebut.
“Lu sudah lihat foto yang gua kirim?” tanya
Fito di ujung sambungan.
“Jadi elu yang kirimin gua foto begituan?!”
tanya Rani dengan setengah berteriak, karena memang foto itu dikirim oleh nomor
yang tidak terdaftar di ponsel Rani.
“Iya, Ran. Itu foto Sando,” kata Fito dengan
nada pelan.
Deg!
Seketika serasa sebuah bola besi menghantam
jantung Rani, membuat ekspresi wajahnya beku. Tapi ekspresi tanpa nyawa itu
hanya sebentar, karena sambil tertawa kecil ia berkata kepada Fito, “Jangan
ngejek gua, lu!”
Sementara Irma serius memperhatikan putrinya
itu.
“Gua enggak bercanda, Ran. Sando meninggal
siang tadi,” tandas Fito.
“Lu jadi cowok jangan berengsek deh, To!”
teriak Rani marah. “Siang tadi gua teleponan sama Sando!”
“Iya gua tahu. Gua bareng Sando waktu elu
telepon dia. Setelah itu kita mampir mau beli minuman, ada begal motor. Sando
mau menolong, tapi dia ditembak dua kali sama begalnya,” ujar Fito.
Barulah penjelasan Fito kali ini menjadi
ledakan petir di atas kepala Rani. Kemarahan Rani seketika hilang, nyawanya
serasa melayang, pikirannya seketika gelap.
“Kalau lu masih enggak percaya, lu bisa
datang ke Rumah Sakit Cengkareng, mayatnya masih di sini,” tegas Fito di
telinga Rani.
Dengan wajah seperti tanpa aliran darah, Rani
menatap kosong, membuat Irma menjadi merinding.
“Kamu kenapa, Rani?” tanya Irma sedikit
ketakutan.
“Sando mati, Ma,” jawab Rani lemah, seiring
itu ponsel yang menempel di telinganya lepas dari tangan dan meluncur jatuh,
seiring air mata yang tumpah mengikis lapisan bedak di wajah cantik itu.
“Maksud kamu apa, Ran?” tanya Irma tidak
mengerti, meski kalimat Rani jelas artinya.
“Sando mati ditembak begal tadi siang,” jawab
Rani sesegukan lalu berubah meraung keras, “Aaa...!”
Kedua tangan Rani bergerak mencengkeram
rambutnya yang sudah tersisir rapi, lalu diacak-acaknya.
Prangkr!
Tepian meja kaca di depannya ia angkat dengan
kuat dan menghempaskannya hingga terbalik. Meja itu pun pecah dan toples-toples
kaca berisi kue kering hancur menghantam lantai.
Usai itu, Rani bangkit dan berlari kencang ke
ruang dalam.
“Rani!” teriak Irma lalu segera mengejar.
“Aaa...!” teriak Rani panjang.
Prangkr!
Rani mengamuk di meja makan. Hidangan makan
malam yang padat tersaji di atas meja yang cukup besar ia sapu dengan kibasan
kedua tangannya. Beberapa piring, mangkok dan gelas berjatuhan pecah dan
menumpahkan makanan yang ada.
Tidak hanya sekali, Rani sepertinya tidak mau
berhenti. Kedua pembantu jadi panik dan bingung harus berbuat apa.
Irma segera mendapati Rani dan memeluknya
dari belakang. Rani akhirnya berhenti mengamuk, tapi tangisnya tetap mengamuk.
Mau tidak mau, Irma pun turut menangis melihat nasib putri sulungnya yang
pernah ia kandung sebelum pernikahannya dengan Dedy.
Rani menjatuhkan tubuhnya yang serasa lemas.
Ibu dan anak itu pun tenggelam dalam lautan tangis. Kedua pembantu yang ada
akhirnya turut menangis.
Keributan yang tercipta membuat Rina yang
mendengar di kamar ayahnya, segera datang untuk mencari tahu.
Sementara sang ayah memilih tetap di kamar
untuk melaksanakan salat Magrib yang pertama setelah belasan tahun lamanya. Ia
tidak mau peduli lagi dengan keributan yang ditimbulkan oleh masalah Rani.
Masalah yang membuatnya sangat terpukul. (RH)
Bersambung: Rencana Penyelamatan (5A)


0 komentar:
Posting Komentar