Kejutan di Sore Hari (4C)

Ilustrasi. (Dok. Detik)
Novel "Cinta Seleher Botol"
Oleh Rudi Hendrik


Di ruang tamu.

“Orang iseng mana sih yang ngirimin gua foto beginian?!” rutuk Rani kesal sambil duduk di sofa. Di tangannya terpegang ponsel bagus dan mahal.

“Kenapa, Rin?” tanya Irma.

“Coba lihat, masa gua dikirimin gambar beginian, Ma!” kata Rani sambil menyodorkan ponselnya kepada ibunya yang dalam dua hari ini serasa begitu dekat dengannya, sejak ia mengaku hamil.

Irma lalu melihat gambar yang ada di layar ponsel itu. Gambar wajah mayat seorang lelaki yang dua lubang hidungnya disumbat dengan kapas.

“Hih, orang iseng kali, Ran,” kata Irma lalu memberikan kembali ponsel itu.

Tring ninong ninong...!

Seiring Rani menerima kembali ponsel miliknya, ponsel itu berbunyi nyaring, tanda ada yang menelepon. Di layarnya tertulis nama Fito, teman Rani dan Sando.

“Ya, To?” tanya Rani menjawab telepon tersebut.

“Lu sudah lihat foto yang gua kirim?” tanya Fito di ujung sambungan.

“Jadi elu yang kirimin gua foto begituan?!” tanya Rani dengan setengah berteriak, karena memang foto itu dikirim oleh nomor yang tidak terdaftar di ponsel Rani.

“Iya, Ran. Itu foto Sando,” kata Fito dengan nada pelan.

Deg!

Seketika serasa sebuah bola besi menghantam jantung Rani, membuat ekspresi wajahnya beku. Tapi ekspresi tanpa nyawa itu hanya sebentar, karena sambil tertawa kecil ia berkata kepada Fito, “Jangan ngejek gua, lu!”

Sementara Irma serius memperhatikan putrinya itu.

“Gua enggak bercanda, Ran. Sando meninggal siang tadi,” tandas Fito.

“Lu jadi cowok jangan berengsek deh, To!” teriak Rani marah. “Siang tadi gua teleponan sama Sando!”

“Iya gua tahu. Gua bareng Sando waktu elu telepon dia. Setelah itu kita mampir mau beli minuman, ada begal motor. Sando mau menolong, tapi dia ditembak dua kali sama begalnya,” ujar Fito.

Barulah penjelasan Fito kali ini menjadi ledakan petir di atas kepala Rani. Kemarahan Rani seketika hilang, nyawanya serasa melayang, pikirannya seketika gelap.

“Kalau lu masih enggak percaya, lu bisa datang ke Rumah Sakit Cengkareng, mayatnya masih di sini,” tegas Fito di telinga Rani.

Dengan wajah seperti tanpa aliran darah, Rani menatap kosong, membuat Irma menjadi merinding.

“Kamu kenapa, Rani?” tanya Irma sedikit ketakutan.

“Sando mati, Ma,” jawab Rani lemah, seiring itu ponsel yang menempel di telinganya lepas dari tangan dan meluncur jatuh, seiring air mata yang tumpah mengikis lapisan bedak di wajah cantik itu.

“Maksud kamu apa, Ran?” tanya Irma tidak mengerti, meski kalimat Rani jelas artinya.

“Sando mati ditembak begal tadi siang,” jawab Rani sesegukan lalu berubah meraung keras, “Aaa...!”

Kedua tangan Rani bergerak mencengkeram rambutnya yang sudah tersisir rapi, lalu diacak-acaknya.

Prangkr!

Tepian meja kaca di depannya ia angkat dengan kuat dan menghempaskannya hingga terbalik. Meja itu pun pecah dan toples-toples kaca berisi kue kering hancur menghantam lantai.

Usai itu, Rani bangkit dan berlari kencang ke ruang dalam.

“Rani!” teriak Irma lalu segera mengejar.

“Aaa...!” teriak Rani panjang.

Prangkr!

Rani mengamuk di meja makan. Hidangan makan malam yang padat tersaji di atas meja yang cukup besar ia sapu dengan kibasan kedua tangannya. Beberapa piring, mangkok dan gelas berjatuhan pecah dan menumpahkan makanan yang ada.

Tidak hanya sekali, Rani sepertinya tidak mau berhenti. Kedua pembantu jadi panik dan bingung harus berbuat apa.

Irma segera mendapati Rani dan memeluknya dari belakang. Rani akhirnya berhenti mengamuk, tapi tangisnya tetap mengamuk. Mau tidak mau, Irma pun turut menangis melihat nasib putri sulungnya yang pernah ia kandung sebelum pernikahannya dengan Dedy.

Rani menjatuhkan tubuhnya yang serasa lemas. Ibu dan anak itu pun tenggelam dalam lautan tangis. Kedua pembantu yang ada akhirnya turut menangis.

Keributan yang tercipta membuat Rina yang mendengar di kamar ayahnya, segera datang untuk mencari tahu.


Sementara sang ayah memilih tetap di kamar untuk melaksanakan salat Magrib yang pertama setelah belasan tahun lamanya. Ia tidak mau peduli lagi dengan keributan yang ditimbulkan oleh masalah Rani. Masalah yang membuatnya sangat terpukul. (RH)

Bersambung: Rencana Penyelamatan (5A)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar