| Ikustrasi (Foto: Google Plus) |
Novel "Cinta Seleher Botol"
Oleh Rudi Hendrik
Senin pagi yang cerah. Barada mengayuh sepeda
cewek miliknya dengan kecepatan sedang. Tidak seperti biasanya, gadis belia
berjilbab putih berseragam baju dan rok putih ini kini memakai masker bergambar
kodok di wajahnya. Tasnya ia taruh di keranjang depan sepeda. Meski rok
panjangnya terangkat sedikit, tapi Barada masih memakai celana longgar untuk
menutupi aurat kakinya.
Sementara kendaraan mobil dan motor
melaluinya, tapi ia tetap tenang meluncur dengan santai bersama sepedanya.
Setibanya di satu pertigaan, dari arah lain
meluncur seorang Muslimah lain dengan sepedanya. Ia berpakaian sama dengan
Barada, yang berbeda hanya sepeda, masker dan letak tasnya. Jika Barada memakai
sepeda keranjang berwarna merah, sepeda siswi ini model fixie yang berban tipis berwarna biru. Jika Barada maskernya
berwarna kuning dan bergambar kodok, siswi ini maskernya berwarna merah
bergambar sepasang mata penyanyi internasional, Adele. Jika Barada meletakkan
tas ransel merahnya di keranjang depan, siswi ini tetap memakai tas selempang
putihnya di tubuh. Siswi ini tidak lain adalah Rina Viona.
“Assalamu
‘alaikum!” salam Rina agak berteriak sambil lambaikan tangan kepada Barada.
“Hahaha!” Barada justeru tertawa melihat
kedatangan Rina yang mulai hari ini akan memakai sepeda ke sekolah. Lalu
jawabnya, “Wa ‘alaikum salam!”
Mendengar Barada tertawa, Rina pun ikut
tertawa.
Dengan penuh riang dan semangat dalam perasaan, kedua sahabat itu pergi
ke sekolah. Meski Barada kini tambah semangat dengan adanya teman seperjalanan,
tapi mereka tetap menggoes dengan santai. Agar tidak mengganggu pengguna jalan
yang lain, mereka memilih tidak bercakap-cakap dan bersepeda dengan satu garis,
Rina di depan dan Barada di belakang.
Hingga akhirnya mereka memasuki gerbang
sekolah di kawasan pasar di Cengkareng, Jakarta Barat.
Sekolah swasta itu memiliki gedung tiga
lantai yang lantai dan dindingnya semua dilapisi keramik putih. Digedung itu
ada dua sekolah, yaitu SMU di lantai satu dan dua, serta SMK hanya di lantai
tiga.
Sekolah itu memiliki lapangan yang hanya
seluas lapangan basket. Lapangan basket merangkap lapangan voli dan futsal. Di
sepanjang sisi selatan lapangan adalah area parkir motor dan sepeda. Adapun
parkiran mobil ada di lahan sebelah gedung dengan pintu yang berbeda.
Sama seperti dua hari sekolah sebelumnya,
kedatangan Barada dan Rina menjadi sorot perhatian siswa-siswi yang sudah
datang ke sekolah lebih dulu dan bersantai di pinggir lapangan maupun di
sepanjang teras lantai dua dan tiga. Yang menjadi magnet perhatian adalah Rina.
Ada tiga alasan sehingga Rina masih menjadi
perhatian. Pertama, jilbab Rina masih hangat, karena usianya baru lima hari.
Kedua, sepeda Rina, karena ini hari pertama ia bersepeda setelah selama ini
diantar dengan sedan. Dan ketiga, karena Rina masih yang terpopuler
kecantikannya sejak kelas satu, terlebih kecantikannya kini lebih sejuk dengan
nuansa religius, meski pagi ini tertutup masker.
Kedatangan Rina dengan bersepeda mengejutkan
keenam siswi cantik yang berkumpul di bawah tiang keranjang lapangan basket.
Saat melihat keberadaan keenam siswi berok pendek di ujung lapangan itu, Rina
melambaikan tangan kepada mereka.
Rina dan Barada memarkirkan sepedanya. Tak
lupa Barada memakai tas ranselnya. Keduanya pun melepas masker di wajahnya dan
menyimpannya.
Ciuuuit!
Satu suitan kencang melengking membahana di
lapangan itu. Hampir semua mata siswa dan siswi, terutama Rina dan Barada,
beralih memandang ke sumber pelepas suitan yang berasal dari tempat parkir.
Suitan itu berasal dari seorang siswa
berperawakan tinggi besar dengan lengan yang cukup kekar bagi seorang pelajar.
Kepalanya berambut model botak tumbuh. Dua lengan bajunya sedikit di gulung
agar terlihat lebih macho maksudnya.
Ujung bajunya dibiarkan berada di luar celana. Semua siswa yang bersekolah di
gedung itu sangat mengenalnya. Ia bernama Edo Gundala, siswa kelas tiga IPA
yang lebih dikenal sebagai Ketua Geng Anak Monster (Amos).
Bersama Edo yang duduk santai di atas motor,
ada pula lima siswa SMU lainnya yang sama-sama berstatus anggota Geng Amos.
“Assalamu
‘alaikum!” ucap keenam siswa itu serentak kepada Rina dan Barada yang hanya
berjarak beberapa meter dari mereka. Wajah mereka serentak cengengesan.
“Wa
‘alaikum salam!”
Yang menjawab salam itu hanya Barada seraya
tersenyum ramah kepada keenam siswa SMU itu. Barada lalu membungkuk kepada
mereka seperti orang Jepang, membuat keenamnya kian tertawa. Sementara Rina
menunjukkan wajah tidak suka, tapi ia melangkah mendekati kelompok itu.
“Anak Amos sudah bertaruh. Kalau gua terus
pakai jilbab, anak Amos harus lari keliling lapangan ini 20 putaran tanpa baju.
Tapi karena gua lagi bahagia, cukup sepuluh putaran saja, tetap enggak pakai
baju!” ujar Rina kepada Edo dan teman-temannya.
“Tenang saja, Rin. Anak Amos kagak bakal
ingkar janji. Demi apa, anak Amos?” kata Edo lalu bertanya kepada
teman-temannya.
“Demi Rina sayang!” jawab anak Geng Amos
bersamaan lalu tertawa cengengesan.
“Dasar Anak Cecak!” rutuk Rina lalu berlalu
pergi meninggalkan para siswa yang terus tertawa.
“Hahaha!” Barada yang mendampingi Rina hanya
tertawa.
“Rinaaa!” teriak tiga orang siswi cantik
setengah histeris karena begitu gembiranya, mereka berlari menyerbu Rina.
Siswi cantik pertama bernama Iyut Nirmala,
panggilannya Ala. Ia berambut ikal sebahu. Ada tahi lalat kecil di pipi
kirinya. Ia paling terdepan berlari.
Siswi cantik kedua rambutnya dikepang samping
kanan dan kiri, bertabur ikat rambut karet warna-warni. Ia bernama Windi
Anggita, panggilannya Windi.
Siswi ketiga berambut panjang yang di sisi
kanannya hanya dihiasi satu jepit rambut warna putih terang dan berbentuk
cantik model kupu-kupu bentangkan sayap. Ia bernama Ade Irma, panggilannya
Adel.
Windi dan Ade juga dikenal dengan nama Duo K,
karena mereka begitu maniak menyukai industri hiburan Korea Selatan. Dan
ketiganya adalah sebagian dari keenam siswi berparas cantik yang tadi duduk di
bawah tiang keranjang lapangan basket.
Iyut yang lebih dulu menubruk peluk tubuh
Rina, sehingga siswi berjilbab itu nyaris terdorong jatuh. Menyusul Windi dan
Ade juga memeluk, sehingga ketiganya memeluk Rina. Rina hanya bisa gelagapan
dan tertawa.
Tiga siswi cantik lainnya datang pula
mendekati Rina dengan berjalan seraya tertawa kecil dan tersenyum.
Siswi berparas cantik pertama bernama Indah
Pertiwi bernama panggilan Iwi. Gadis ini hanya mengikat rambut sebahunya dengan
ikat rambut besar bermodel bulu kucing loreng. Anting emasnya tampak berkilau
di kedua telinganya yang bersih.
Siswi cantik kedua berperawakan lebih tinggi
dari yang lainnya. Rambutnya panjang sepunggung. Ia bernama Novi Andria,
panggilannya Ofi.
Dan yang siswi cantik terakhir berpenampilan
cenderung tomboy dengan model rambut pendek seperti lelaki. Tapi tepian matanya
berhias maskara hitam, membuatnya terlihat tajam memandang. Ia bernama Ristana,
panggilan akrabnya Iis.
Keenam siswi cantik itu tergabung dalam geng
perempuan yang bernama Geng Bintang Tujuh. Hingga Minggu pagi kemarin, geng itu
masih diketuai oleh Rina Viona yang kemudian secara sepihak menyatakan
mengundurkan diri sebagai ketua dan keluar dari kelompok.
“Giliran, dong!” kata Indah kepada ketiga
gadis yang memeluk begitu heboh.
Iyut dan Duo K pun melepaskan pelukannya.
Giliran Indah Pertiwi yang memeluk Rina dengan begitu bersahabat. Selanjutnya
Novi dan terakhir Ristana.
Semuanya tertawa kecil dan tersenyum dalam
pertemuan yang penuh dengan rasa persahabatan dan persaudaraan. Barada pun tak
hentinya tersenyum melihat keakraban ketujuh anggota geng perempuan itu.
Bahkan nuansa persahabatan yang kental
membuat para siswa yang menyaksikan dari berbagai sisi lapangan dan dari atas
lantai dua dan tiga, turut tersenyum. Padahal mereka mengenal Geng Bintang
Tujuh sebagai geng perempuan yang tidak sungkan menyakiti siswi di sekolah itu.
Geng Bintang Tujuh ditakuti oleh adik kelas dan seangkatan kelas dua, serta
disegani oleh kakak kelas.
Pertemuan antara keenam siswi cantik berok
pendek itu dengan Rina seperti pertemuan antara sahabat karib yang telah
terpisah bertahun lamanya. Padahal, baru kemarin pagi Rina dan keenam sahabatnya
itu bertengkar dan saling tangis.
Mereka tidak peduli bahwa saat itu mereka
menjadi pusat perhatian para siswa lainnya.
“Oke, Cantik!” kata Rina kepada keenam
sahabat gengnya. “Badar sekarang sahabat gua dan juga sahabat kalian!”
Pengumuman itu membuat keenam gadis tak
berjilbab itu respek mundur bersama dengan wajah menyiratkan sedikit ketakutan
saat melihat keberadaan Barada yang tersenyum ramah. Seolah mereka tidak mau
berada dalam jangkauan Barada. Fenomena itu membuat Barada berhenti tersenyum karena
heran, termasuk Rina.
“Kenapa?” tanya Rina heran.
“Kalau Badar balas dendam, mati kita,” jawab
Ade Irma dengan wajah mengerenyit.
“Benar,” kata Windi pula.
“Memangnya saya bisa kalau dikeroyok?” tanya
Barada.
Akhirnya Rina tertawa kecil. Lalu katanya kepada
Barada, “Mereka tahu tentang elu menghajar Roy Jumat kemarin, Badar.”
“Oh, kamu cerita, Rin?” tanya Barada.
“Ofi sama Ala ngelihat langsung,” jawab Rina.
“Oh enggak kok, saya enggak akan berkelahi
dengan teman sekolah!” kata Barada cepat dan agak keras kepada keenam siswi di
depannya, mencoba meyakinkan. “Insya
Allah janji!”
Barada lalu mengulurkan tangan kanannya
dengan maksud bersalaman damai.
“Lu janji lho, Badar!” kata Indah sambil maju
menjabat tangan Barada.
“Insya
Allah,” tandas Barada lagi seraya tersenyum dan cipika-cipiki.
Akhirnya Novi, Iyut, Windi, Ade dan Ristana
turut bersalaman damai dan cipika-cipiki.
“Gua naruh tas dulu ya. Nanti gua curhat deh
ke kalian,” kata Rina.
“Janji ya?” kata Iyut.
“Iya,” jawab Rina seraya tertawa kecil. “Ayo,
Badar!”
Sebelum mengikuti Rina, Barada lebih dulu
membungkuk kepada keenam siswi itu lalu seraya tersenyum ia pergi mengikuti
Rina untuk naik ke lantai tiga, karena kelas mereka berada di lantai tiga.
Di jam istirahat, Rina kembali berbaur dengan
keenam sahabatnya makan di kantin sekolah. Rina yang sekelas dengan keenam
sahabat satu gengnya, bercerita tentang kebersamaannya dengan Barada. Mereka
kini kelas dua SMK jurusan sekretaris A, sedangkan Barada kelas dua jurusan
akuntansi.
Rina sebenarnya ingin Barada bersama mereka
saat istirahat, makan bareng. Namun, setiap Senin dan Kamis, Barada kemungkinan
besar dalam kondisi puasa.
Pada jam istirahat, Barada rutin berada di
dapur sekolah untuk membuatkan teh dan kopi untuk guru-guru yang mengajar di
kelasnya. Setelah itu ia akan berada di perpustakaan untuk membaca. Seperti
itulah kebiasaan Barada setiap jam istirahat. Ia adalah siswi yang hampir tidak
pernah jajan makanan di sekolah.
Sehubungan Rina hari ini punya rencana khusus
kepada Barada, maka sebelum ke kantin ia segera menemui Barada sebelum turun ke
ruang guru yang ada di lantai bawah.
“Badar, lu puasa ya? Gua mau musyawarah sama
elu,” ujar Rina.
“Kalau sekarang tidak bisa. Bagaimana kalau
besok?” kata Barada.
“Penting dan harus hari ini!” tandas Rina.
“Kamu ke rumah saya, bagaimana?” tawar
Barada.
“Enggak bisa, sebab anak Bintang Tujuh mau
ikut nimbrung,” kilah Rina.
“Pulang sekolah dan tidak boleh lebih satu
jam,” kata Barada.
“Oke, di kelas gua, ya?”
“Sip!” sahut Barada.
Bersambung: Rencana Penyelamatan (5B)

0 komentar:
Posting Komentar