Rencana Penyelamatan (5A)

Ikustrasi (Foto: Google Plus)
Novel "Cinta Seleher Botol"


Senin pagi yang cerah. Barada mengayuh sepeda cewek miliknya dengan kecepatan sedang. Tidak seperti biasanya, gadis belia berjilbab putih berseragam baju dan rok putih ini kini memakai masker bergambar kodok di wajahnya. Tasnya ia taruh di keranjang depan sepeda. Meski rok panjangnya terangkat sedikit, tapi Barada masih memakai celana longgar untuk menutupi aurat kakinya.

Sementara kendaraan mobil dan motor melaluinya, tapi ia tetap tenang meluncur dengan santai bersama sepedanya.

Setibanya di satu pertigaan, dari arah lain meluncur seorang Muslimah lain dengan sepedanya. Ia berpakaian sama dengan Barada, yang berbeda hanya sepeda, masker dan letak tasnya. Jika Barada memakai sepeda keranjang berwarna merah, sepeda siswi ini model fixie yang berban tipis berwarna biru. Jika Barada maskernya berwarna kuning dan bergambar kodok, siswi ini maskernya berwarna merah bergambar sepasang mata penyanyi internasional, Adele. Jika Barada meletakkan tas ransel merahnya di keranjang depan, siswi ini tetap memakai tas selempang putihnya di tubuh. Siswi ini tidak lain adalah Rina Viona.

Assalamu ‘alaikum!” salam Rina agak berteriak sambil lambaikan tangan kepada Barada.

“Hahaha!” Barada justeru tertawa melihat kedatangan Rina yang mulai hari ini akan memakai sepeda ke sekolah. Lalu jawabnya, “Wa ‘alaikum salam!

Mendengar Barada tertawa, Rina pun ikut tertawa.

Dengan penuh riang dan semangat dalam perasaan, kedua sahabat itu pergi ke sekolah. Meski Barada kini tambah semangat dengan adanya teman seperjalanan, tapi mereka tetap menggoes dengan santai. Agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain, mereka memilih tidak bercakap-cakap dan bersepeda dengan satu garis, Rina di depan dan Barada di belakang.

Hingga akhirnya mereka memasuki gerbang sekolah di kawasan pasar di Cengkareng, Jakarta Barat.

Sekolah swasta itu memiliki gedung tiga lantai yang lantai dan dindingnya semua dilapisi keramik putih. Digedung itu ada dua sekolah, yaitu SMU di lantai satu dan dua, serta SMK hanya di lantai tiga.

Sekolah itu memiliki lapangan yang hanya seluas lapangan basket. Lapangan basket merangkap lapangan voli dan futsal. Di sepanjang sisi selatan lapangan adalah area parkir motor dan sepeda. Adapun parkiran mobil ada di lahan sebelah gedung dengan pintu yang berbeda.

Sama seperti dua hari sekolah sebelumnya, kedatangan Barada dan Rina menjadi sorot perhatian siswa-siswi yang sudah datang ke sekolah lebih dulu dan bersantai di pinggir lapangan maupun di sepanjang teras lantai dua dan tiga. Yang menjadi magnet perhatian adalah Rina.

Ada tiga alasan sehingga Rina masih menjadi perhatian. Pertama, jilbab Rina masih hangat, karena usianya baru lima hari. Kedua, sepeda Rina, karena ini hari pertama ia bersepeda setelah selama ini diantar dengan sedan. Dan ketiga, karena Rina masih yang terpopuler kecantikannya sejak kelas satu, terlebih kecantikannya kini lebih sejuk dengan nuansa religius, meski pagi ini tertutup masker.

Kedatangan Rina dengan bersepeda mengejutkan keenam siswi cantik yang berkumpul di bawah tiang keranjang lapangan basket. Saat melihat keberadaan keenam siswi berok pendek di ujung lapangan itu, Rina melambaikan tangan kepada mereka.

Rina dan Barada memarkirkan sepedanya. Tak lupa Barada memakai tas ranselnya. Keduanya pun melepas masker di wajahnya dan menyimpannya.

Ciuuuit!

Satu suitan kencang melengking membahana di lapangan itu. Hampir semua mata siswa dan siswi, terutama Rina dan Barada, beralih memandang ke sumber pelepas suitan yang berasal dari tempat parkir.

Suitan itu berasal dari seorang siswa berperawakan tinggi besar dengan lengan yang cukup kekar bagi seorang pelajar. Kepalanya berambut model botak tumbuh. Dua lengan bajunya sedikit di gulung agar terlihat lebih macho maksudnya. Ujung bajunya dibiarkan berada di luar celana. Semua siswa yang bersekolah di gedung itu sangat mengenalnya. Ia bernama Edo Gundala, siswa kelas tiga IPA yang lebih dikenal sebagai Ketua Geng Anak Monster (Amos).

Bersama Edo yang duduk santai di atas motor, ada pula lima siswa SMU lainnya yang sama-sama berstatus anggota Geng Amos.

Assalamu ‘alaikum!” ucap keenam siswa itu serentak kepada Rina dan Barada yang hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Wajah mereka serentak cengengesan.

Wa ‘alaikum salam!

Yang menjawab salam itu hanya Barada seraya tersenyum ramah kepada keenam siswa SMU itu. Barada lalu membungkuk kepada mereka seperti orang Jepang, membuat keenamnya kian tertawa. Sementara Rina menunjukkan wajah tidak suka, tapi ia melangkah mendekati kelompok itu.

“Anak Amos sudah bertaruh. Kalau gua terus pakai jilbab, anak Amos harus lari keliling lapangan ini 20 putaran tanpa baju. Tapi karena gua lagi bahagia, cukup sepuluh putaran saja, tetap enggak pakai baju!” ujar Rina kepada Edo dan teman-temannya.

“Tenang saja, Rin. Anak Amos kagak bakal ingkar janji. Demi apa, anak Amos?” kata Edo lalu bertanya kepada teman-temannya.

“Demi Rina sayang!” jawab anak Geng Amos bersamaan lalu tertawa cengengesan.

“Dasar Anak Cecak!” rutuk Rina lalu berlalu pergi meninggalkan para siswa yang terus tertawa.

“Hahaha!” Barada yang mendampingi Rina hanya tertawa.

“Rinaaa!” teriak tiga orang siswi cantik setengah histeris karena begitu gembiranya, mereka berlari menyerbu Rina.

Siswi cantik pertama bernama Iyut Nirmala, panggilannya Ala. Ia berambut ikal sebahu. Ada tahi lalat kecil di pipi kirinya. Ia paling terdepan berlari.

Siswi cantik kedua rambutnya dikepang samping kanan dan kiri, bertabur ikat rambut karet warna-warni. Ia bernama Windi Anggita, panggilannya Windi.

Siswi ketiga berambut panjang yang di sisi kanannya hanya dihiasi satu jepit rambut warna putih terang dan berbentuk cantik model kupu-kupu bentangkan sayap. Ia bernama Ade Irma, panggilannya Adel.

Windi dan Ade juga dikenal dengan nama Duo K, karena mereka begitu maniak menyukai industri hiburan Korea Selatan. Dan ketiganya adalah sebagian dari keenam siswi berparas cantik yang tadi duduk di bawah tiang keranjang lapangan basket.

Iyut yang lebih dulu menubruk peluk tubuh Rina, sehingga siswi berjilbab itu nyaris terdorong jatuh. Menyusul Windi dan Ade juga memeluk, sehingga ketiganya memeluk Rina. Rina hanya bisa gelagapan dan tertawa.

Tiga siswi cantik lainnya datang pula mendekati Rina dengan berjalan seraya tertawa kecil dan tersenyum.

Siswi berparas cantik pertama bernama Indah Pertiwi bernama panggilan Iwi. Gadis ini hanya mengikat rambut sebahunya dengan ikat rambut besar bermodel bulu kucing loreng. Anting emasnya tampak berkilau di kedua telinganya yang bersih.

Siswi cantik kedua berperawakan lebih tinggi dari yang lainnya. Rambutnya panjang sepunggung. Ia bernama Novi Andria, panggilannya Ofi.

Dan yang siswi cantik terakhir berpenampilan cenderung tomboy dengan model rambut pendek seperti lelaki. Tapi tepian matanya berhias maskara hitam, membuatnya terlihat tajam memandang. Ia bernama Ristana, panggilan akrabnya Iis.

Keenam siswi cantik itu tergabung dalam geng perempuan yang bernama Geng Bintang Tujuh. Hingga Minggu pagi kemarin, geng itu masih diketuai oleh Rina Viona yang kemudian secara sepihak menyatakan mengundurkan diri sebagai ketua dan keluar dari kelompok.

“Giliran, dong!” kata Indah kepada ketiga gadis yang memeluk begitu heboh.

Iyut dan Duo K pun melepaskan pelukannya. Giliran Indah Pertiwi yang memeluk Rina dengan begitu bersahabat. Selanjutnya Novi dan terakhir Ristana.

Semuanya tertawa kecil dan tersenyum dalam pertemuan yang penuh dengan rasa persahabatan dan persaudaraan. Barada pun tak hentinya tersenyum melihat keakraban ketujuh anggota geng perempuan itu.

Bahkan nuansa persahabatan yang kental membuat para siswa yang menyaksikan dari berbagai sisi lapangan dan dari atas lantai dua dan tiga, turut tersenyum. Padahal mereka mengenal Geng Bintang Tujuh sebagai geng perempuan yang tidak sungkan menyakiti siswi di sekolah itu. Geng Bintang Tujuh ditakuti oleh adik kelas dan seangkatan kelas dua, serta disegani oleh kakak kelas.

Pertemuan antara keenam siswi cantik berok pendek itu dengan Rina seperti pertemuan antara sahabat karib yang telah terpisah bertahun lamanya. Padahal, baru kemarin pagi Rina dan keenam sahabatnya itu bertengkar dan saling tangis.

Mereka tidak peduli bahwa saat itu mereka menjadi pusat perhatian para siswa lainnya.

“Oke, Cantik!” kata Rina kepada keenam sahabat gengnya. “Badar sekarang sahabat gua dan juga sahabat kalian!”

Pengumuman itu membuat keenam gadis tak berjilbab itu respek mundur bersama dengan wajah menyiratkan sedikit ketakutan saat melihat keberadaan Barada yang tersenyum ramah. Seolah mereka tidak mau berada dalam jangkauan Barada. Fenomena itu membuat Barada berhenti tersenyum karena heran, termasuk Rina.

“Kenapa?” tanya Rina heran.

“Kalau Badar balas dendam, mati kita,” jawab Ade Irma dengan wajah mengerenyit.

“Benar,” kata Windi pula.

“Memangnya saya bisa kalau dikeroyok?” tanya Barada.

Akhirnya Rina tertawa kecil. Lalu katanya kepada Barada, “Mereka tahu tentang elu menghajar Roy Jumat kemarin, Badar.”

“Oh, kamu cerita, Rin?” tanya Barada.

“Ofi sama Ala ngelihat langsung,” jawab Rina.

“Oh enggak kok, saya enggak akan berkelahi dengan teman sekolah!” kata Barada cepat dan agak keras kepada keenam siswi di depannya, mencoba meyakinkan. “Insya Allah janji!”

Barada lalu mengulurkan tangan kanannya dengan maksud bersalaman damai.

“Lu janji lho, Badar!” kata Indah sambil maju menjabat tangan Barada.

Insya Allah,” tandas Barada lagi seraya tersenyum dan cipika-cipiki.

Akhirnya Novi, Iyut, Windi, Ade dan Ristana turut bersalaman damai dan cipika-cipiki.

“Gua naruh tas dulu ya. Nanti gua curhat deh ke kalian,” kata Rina.

“Janji ya?” kata Iyut.

“Iya,” jawab Rina seraya tertawa kecil. “Ayo, Badar!”

Sebelum mengikuti Rina, Barada lebih dulu membungkuk kepada keenam siswi itu lalu seraya tersenyum ia pergi mengikuti Rina untuk naik ke lantai tiga, karena kelas mereka berada di lantai tiga.

Di jam istirahat, Rina kembali berbaur dengan keenam sahabatnya makan di kantin sekolah. Rina yang sekelas dengan keenam sahabat satu gengnya, bercerita tentang kebersamaannya dengan Barada. Mereka kini kelas dua SMK jurusan sekretaris A, sedangkan Barada kelas dua jurusan akuntansi.

Rina sebenarnya ingin Barada bersama mereka saat istirahat, makan bareng. Namun, setiap Senin dan Kamis, Barada kemungkinan besar dalam kondisi puasa.

Pada jam istirahat, Barada rutin berada di dapur sekolah untuk membuatkan teh dan kopi untuk guru-guru yang mengajar di kelasnya. Setelah itu ia akan berada di perpustakaan untuk membaca. Seperti itulah kebiasaan Barada setiap jam istirahat. Ia adalah siswi yang hampir tidak pernah jajan makanan di sekolah.

Sehubungan Rina hari ini punya rencana khusus kepada Barada, maka sebelum ke kantin ia segera menemui Barada sebelum turun ke ruang guru yang ada di lantai bawah.

“Badar, lu puasa ya? Gua mau musyawarah sama elu,” ujar Rina.

“Kalau sekarang tidak bisa. Bagaimana kalau besok?” kata Barada.

“Penting dan harus hari ini!” tandas Rina.

“Kamu ke rumah saya, bagaimana?” tawar Barada.

“Enggak bisa, sebab anak Bintang Tujuh mau ikut nimbrung,” kilah Rina.

“Pulang sekolah dan tidak boleh lebih satu jam,” kata Barada.

“Oke, di kelas gua, ya?”


“Sip!” sahut Barada.

Bersambung: Rencana Penyelamatan (5B)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar