| Ilustrasi. (Foto: HeatherBest) |
Novel "Cinta Seleher Botol"
Oleh Rudi Hendrik
Oleh Rudi Hendrik
Bab Pertama: Cinta Botol Jamu
Bab Kedua: "San, Gua Hamil"
Bab Ketiga: Perjanjian di Depan Botol Bir
Bab Keempat: Kejutan di Sore Hari
Teeet! Teeet! Teeet!
Tiga kali bel listrik
berbunyi yang menjadi tanda berakhir sudah jam pelajaran di hari itu.
Guru-guru yang mengajar menutup sementara
pembahasannya dan memerintahkan pembacaan doa pulang.
“Beri salam!” seru ketua kelas dua akuntansi
yang adalah seorang perempuan.
“Assalamu
‘alaikum warahmatullahi wa barakatuhu!” ucap murid-murid serentak yang
dijawab secara lengkap pula oleh guru.
Guru keluar, murid pun bubar. Demikian pula
kelas-kelas lainnya.
Barada tidak pergi ke tangga sebagaimana
siswa lainnya, tapi ia pergi ke kelas Rina yang ada di ujung.
Di kelas dua sekretaris A yang sudah sepi,
ada Rina dan keenam anggota Geng Bintang Tujuh yang menunggu. Mereka tersenyum
melihat kemunculan Barada. Lagi-lagi Barada membungkuk ojigi seperti orang Jepang.
“Silahkan dimulai,” kata Barada.
“Sehubungan Badar waktunya cuma satu jam
enggak bisa ditawar, langsung gua mulai aja,” kata Rina. “Gua belum cerita
sebelumnya, tapi Badar sudah tahu sebagian ceritanya. Ini tentang kakak gua.”
“Rani?” tanya Indah.
“Iya,” Rina membenarkan. “Badar semalam di
rumah gua dan dia sudah tahu apa yang terjadi sama kakak gua. Kakak gua hamil
duluan.”
“Hah!” kejut Indah, Iyut, Windi dan Ade
bersamaan.
“Naasnya lagi, pacar yang menghamili dan yang
berencana datang semalam ke rumah, keburu meninggal ditembak begal,” lanjut
Rina.
“Hah!” kali ini Novi dan Ristana ikut
terkejut pula.
“Sebegitu apes nasib Kak Rani,” kata Windi.
“Iya!” tambah Ade Irma.
“Kerudung yang kita beliin buat Mama itu,
Badar, akhirnya berguna karena dipakai hari ini ke pemakaman Sando, pacar Rani.
Mama nemanin Rani ke pemakaman hari ini,” kata Rina kepada Barada.
“Tapi, Rin, gua rasa enggak sulit buat cari
gantinya. Walaupun Kak Rani mengandung anak orang, tapi cantiknya Kak Rani dan
kayanya keluarga elu, gua rasa banyak cowok yang mau jadi penyelamat,” kata
Indah.
“Gua sepaham sama Iwi,” timpal Novi.
“Gua juga berpikiran kayak gitu, Ofi.
Walaupun kakak gua hamil duluan, tapi gua enggak mau dia dapat laki yang cuma
ngincer cantik dan uangnya doang. Gua mau kakak gua dapat laki yang baik dan
beragama,” ujar Rina.
“Ya berat, Rin,” kata Iyut. “Pak Mukhtar kan
pernah menyampaikan, kalau muslim yang begituan di sebelum nikah, namanya zina.
Terus, kalau zina, hukumannya cambuk. Kalau elu mau Kak Rani dapat lelaki yang
ngerti agama, pastilah enggak mau.”
“Kecuali yang agamanya separuh jadi,” kata
Novi pula.
“Badar, lu punya kenalan orang salih yang mau
sama cewek hamil duluan?” tanya Indah.
“Emm...,” dengung Barada berlagak berpikir,
karena ia memang sedang berpikir. “Setahu saya sih ini masuk dosa besar.
Biasanya, kalau mau taubat dari yang besar-besar begini ada aturan khususnya,
tapi saya enggak tahu banyak. Dan, kemungkinan besar, laki-laki alim enggak mau
ngambil yang ada dosa besarnya. Kenalan orang yang menurut saya salih sih ada,
hanya semuanya udah nikah dan kebanyakan perempuan.”
“Terus gimana dong?” tanya Rina.
“Elu maunya Kak Rani dapat laki apa aja asal
laki, atau benar-benar yang salih?” tanya Indah.
“Kalau asal laki sih gua enggak perlu meeting begini, cukup tempel pengumuman
di depan rumah gua, selesai,” jawab Rina.
“Yang setengah juga enggak mau?” tanya Windi.
“Kalau yang setengah sih gua banyak, hahaha!”
“Enggak,” jawab Rina.
“Seperti yang pernah saya katakan, rumusannya
itu perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, perempuan buruk untuk laki-laki yang buruk. Jadi kalau kamu mau Kak
Rani dapat lelaki yang baik, jalan pertamanya yaaa jadi perempuan yang baik
dulu,” ujar Barada.
“Bagaimana mau jadi perempuan baik kalau
sudah ngisi begitu?” tanya Rina.
“Ya tobat dulu, Rin,” kata Indah.
“Berarti dicambuk dulu dong,” kata Novi pula.
“Ih, serem banget kalau harus cambuk dulu,”
ucap Windi tergidik.
“Iya, apa lagi kalau sampai pakai
dilempar-lempar batu gitu sampai mati. Apa namanya?” kata Ade Irma pula.
“Ragam?” sebut Iyut.
“Bukan ragam, tapi garam!” kata Windi, yang
membuat mereka mulai tertawa kembali.
“Bukan garam, tapi kejam!” sahut Ade Irma
pula memperkeruh permainan salah kata itu.
“Ah, sudahlah. Gua ngerti,” kata Rina seraya
tersenyum samar.
“Daeng Gazza bagaimana, Rin?” tanya Barada
memberi pintu solusi baru.
“Abang Gazza?!” pekik Rina terkejut dengan
disebutnya nama itu, nama pemuda tampan yang sepertinya alim dan salih yang
belakangan mengusik masa kesendirian cinta Rina.
“Iya,” kata Barada seraya tertawa melihat
ekspresi Rina.
“Enggak enggak enggak!” kata Rina ngotot
setengah teriak.
Keenam anggota Geng Bintang Tujuh lainnya jadi
heran melihat reaksi Rina yang tidak wajar.
“Siapa Abang Gazza itu?” tanya Indah.
“Cowok baru Rina!” yang menjawab justeru Ristana,
menerka.
“Bukan cowok gua!” bantah Rina cepat.
“Kalau bukan cowok baru elu, kenapa reaksi
elu enggak wajar gitu?” tanya Indah mengejar.
“Lu masih punya rahasia sama kita ya?” tanya
Iyut menebak.
“Bukan, sumpah! Dia abangnya Badar, bukan
cowok gua!” tegas Rina.
Barada hanya tertawa melihat Rina mati-matian
membantah tudingan teman-temannya.
“Tapi, jangan-jangan elu udah keburu naksir
ya?” tuding Novi.
“Ah, itu mah lain cerita,” kata Rina tidak
bisa menyangkal lagi.
“Cieee!” sorak keenam siswi tidak berjilbab
itu bersamaan lalu tertawa.
“Sepertinya perlu kita selidiki tuh yang
namanya Abang Gazza,” kata Novi.
“Betul betul betul!” celetuk Iyut mengikuti
kalimat khas tokoh kartun Malaysia, Upin dan Ipin.
Mereka kembali tertawa bersama.
“Udah ah, jangan dibahas. Kembali ke topik
dong,” kata Rina, ada rona malu-malu di wajah cantiknya. “Bagaimana, Badar?”
“Saya tidak begitu mengerti mencari solusi
kasus Kak Rani ini. Namun, kalau kamu mau tanya Bang Gazza, mungkin ada solusi,
sebab lingkungan pergaulan Abang kan dengan kaum lelaki yang akrab dengan
ustaz-ustaz, dunia pesantren dan aktivis agama. Kamu kan pegang nomor Abang
Gazza, Rin,” ujar Barada.
“Elu enggak bisa nyangkal lagi, Rin!” seru
Windi cepat, saat mendengar bahwa Rina menyimpan nomor pria bernama Gazza yang
adalah kakak Barada.
Yang lain jadi tertawa lagi.
“Iya, saya memang menyimpan nomor Abang
Gazza, tapi itu enggak seperti yang kalian bayangin,” kata Rina.
Rina lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah
melakukan beberapa sentuhan, Rina kemudian memberikan posel itu kepada Barada.
“Elu yang telepon dan ngomong,” kata Rina
kepada Barada.
Sambil tertawa kecil, Barada menerima ponsel
yang sudah aktif menelepon nomor atas nama Gazza.
“Assalamu
‘alaikum, Daeng!” salam Barada dengan memakai sebutan kehormatan bagi orang
suku Bugis Sulawesi Selatan. Barada sekeluarga adalah etnis Bugis.
“Wa
‘alaikum salam. Badar?” jawab pria di dalam telepon dan bertanya.
Semua mendengar, karena speaker ponsel diaktifkan oleh Barada.
“Iya, Daeng. Daeng, tahu kan ini nomor siapa?”
jawab Barada dan balik bertanya.
“Nomor teman kamu yang cantik itu kan?” terka
pria itu.
“Aaa!” pekik para anggota Geng Bintang Tujuh
histeris lalu tertawa ramai, karena Rina disebut cantik.
“Suara apa itu, Badar, berisik sekali?” tanya
pria di dalam telepon yang memang bernama Gazza, lengkapnya Fath Gazza.
“Badar, jangan bicara yang macam-macam!”
desis Rina panik.
Barada hanya manggut-manggut sambil tersenyum
geli, sementara yang lainnya terus tertawa heboh dan juga serius mendengarkan
komunikasi Barada dengan kakaknya.
“Ini lagi di kelas, jadi ramai, Daeng. Maklum
cewek semua, hahaha!” kata Barada lalu tertawa. Kemudian lanjutnya, “Daeng,
punya stok teman laki yang siap nikah sama gadis cantik dan kaya?”
“Muslimah?” tanya Gazza.
“Iya.”
“Banyak. Kirim aja foto Muslimahnya, Badar,”
kata Gazza yang tidak tahu bahwa omongannya didengar oleh orang banyak.
“Biro jodoh!” bisik Windi kepada Ade lalu
keduanya tertawa cekikikan, memancing yang lain ikut tertawa, tapi tidak
sekeras tadi.
“Tapi sudah hamil, Daeng,” kata Barada.
“Inna
lillahi!” ucap Gazza agak terkejut. “Memang ditinggal kabur?”
“Dipisah sama Malaikat Izrail,” jawab Barada.
“Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un!” ucap Gazza lagi. “Ya udah, muslimahnya mau
laki-laki biasa atau yang bagaimana?”
“Yang salih,” jawab Badar.
“Kamu minta aja foto muslimahnya, nanti saya
ambil. Tapi mungkin saya perlu konsultasi dulu sama ustaz, sepertinya kasusnya
enggak gampang. Suruh muslimah itu ngomong ke Allah, semoga dibantu sama
Allah,” ujar Gazza.
“Iya, Daeng. Jazakallah!” kata Barada.
“Aamiin!”
ucap Gazza.
“Daeng, jangan lupa nomor ini disimpan.”
“Oh sudah, sejak Rina kirim pesan pertama ke
saya,” kata Gazza yang membuat Barada tertawa tanpa suara dan kembali membuat
keenam anggota Geng Bintang Tujuh heboh lagi dengan tawanya.
“Ya udah, Daeng. Assalamu ‘alaikum!” salam Barada mengakhiri.
“Wa
‘alaikum salam!” balas Gazza.
“Hahaha...!”
Meledaklah tawa Barada dan yang lainnya,
kecuali Rina yang hanya tersenyum merengut bercampur setengah tersipu. Meski
ditertawai seperti itu, tapi ada rasa berbunga-bunga dan indah di hati Rina,
meski hanya mendengar suara seorang Gazza yang sempat menyebutnya “cantik”.
“Oke, urusan beres,” kata Barada sambil
memberikan ponsel kepada Rina.
“Apa maksudnya ‘suruh ngomong ke Allah’?” tanya
Rina.
“Maksudnya suruh Kak Rani curhat ke Allah,
berdoa. Sebab, Allah yang punya segala urusan. Maksudnya, walaupun kita kerja
sampai setengah mati, kalau yang punya urusan enggak mengizinkan, alamat
gagal,” jelas Barada.
“Jatuh cinta, berbunga rasanya,....” Windi
mendadak bernyanyi dangdut lagu Eyang Titiek Puspa.
Ade Irma jadi ikut bernyanyi yang disusul
tertawa ramai mereka.
“Ayo pulang!” kata Rina sambil lebih dulu
berdiri.
Sambil tertawa-tawa, mereka pun bubar dan
bersama-sama keluar kelas. Suasana di lantai tiga itu sudah sepi.
“Badar, lu belajar silat ya?” tanya Indah.
“Iya. Enggak jauh dari rumah ada perguruan
silat,” jawab Barada.
“Olah raga gitu kan bagusnya buat cowok, kok
elu mau sih?” tanya Iyut.
“Tidak hanya laki-laki, perempuan juga harus bisa
jaga diri, Ala. Zaman sekarang ini sangat berbahaya, Ala. Kalian mungkin dengar
berita tentang kematian Yuyun di Bengkulu?” kata Barada.
“Gua nonton,” sahut Windi.
“Atau berita serangan misterius di Yogya yang
menyayat lengan siswi dengan pisau cutter.
Mungkin akan berbeda ceritanya jika para siswi itu, baik Yuyun atau para siswi
di Yogya, belajar pertahanan diri. Ketika ada gelagat mengancam, maka calon
korban bisa langsung bereaksi. Di sebuah negara kecil di Benua Afrika bernama
Malawi, dari hasil survei terhadap lebih 11.000 anak perempuan di bawah usia 18
tahun, menunjukkan bahwa rata-rata satu dari lima anak perempuan telah
diperkosa,” tutur Barada.
“Wow!” pekik Ade Irma.
“Banyak faktor yang membuat tingginya jumlah
pelecehan seksual di negara miskin itu. Kondisi itu membuat sebuah lembaga amal
asal Kenya menawarkan programnya kepada 46 sekolah di Malawi. Mereka
mengajarkan kepada sekitar 25.000 siswi perempuan bagaimana cara untuk
mempertahankan diri dari pelaku penyerangan seksual. Dan hasil dari program
itu, 50 persen angka pemerkosaan bisa menurun.”
“Lu kok bisa tahu cerita-cerita dari Afrika
segala, Badar?” tanya Indah.
“Dari Abang Gazza,” jawab Barada.
“Cie cieee! Dari Abang Gazza lagi!” kata Novi
kepada Rina, menggoda.
“Jangan godain gua terus, ah!” hardik Rina
seraya tersenyum simpul. “Nanti gua telepon lagi nih!”
“Hahaha!”
Tertawalah mereka.
“Abang Gazza kuliah ya, Badar?” tanya Iyut.
“Iya, rangkap wartawan,” jawab Barada.
“Wiiih! Mantap banget pilihan Rina!” kata
Indah, lagi-lagi menggoda Rina.
“Dengar kan tadi di telepon, orangnya enak,
enggak nyusahin,” kata Iyut. (RH)
Bersambung: Layatan Pemabuk (6A)

0 komentar:
Posting Komentar