Rencana Penyelamatan (5B)

Ilustrasi. (Foto: HeatherBest)
Novel "Cinta Seleher Botol"
Oleh Rudi Hendrik
 
Teeet! Teeet! Teeet!

Tiga kali bel listrik berbunyi yang menjadi tanda berakhir sudah jam pelajaran di hari itu.

Guru-guru yang mengajar menutup sementara pembahasannya dan memerintahkan pembacaan doa pulang. 

“Beri salam!” seru ketua kelas dua akuntansi yang adalah seorang perempuan.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuhu!” ucap murid-murid serentak yang dijawab secara lengkap pula oleh guru.

Guru keluar, murid pun bubar. Demikian pula kelas-kelas lainnya. 

Barada tidak pergi ke tangga sebagaimana siswa lainnya, tapi ia pergi ke kelas Rina yang ada di ujung.

Di kelas dua sekretaris A yang sudah sepi, ada Rina dan keenam anggota Geng Bintang Tujuh yang menunggu. Mereka tersenyum melihat kemunculan Barada. Lagi-lagi Barada membungkuk ojigi seperti orang Jepang.

“Silahkan dimulai,” kata Barada.

“Sehubungan Badar waktunya cuma satu jam enggak bisa ditawar, langsung gua mulai aja,” kata Rina. “Gua belum cerita sebelumnya, tapi Badar sudah tahu sebagian ceritanya. Ini tentang kakak gua.”

“Rani?” tanya Indah.

“Iya,” Rina membenarkan. “Badar semalam di rumah gua dan dia sudah tahu apa yang terjadi sama kakak gua. Kakak gua hamil duluan.”

“Hah!” kejut Indah, Iyut, Windi dan Ade bersamaan.

“Naasnya lagi, pacar yang menghamili dan yang berencana datang semalam ke rumah, keburu meninggal ditembak begal,” lanjut Rina.

“Hah!” kali ini Novi dan Ristana ikut terkejut pula.

“Sebegitu apes nasib Kak Rani,” kata Windi.

“Iya!” tambah Ade Irma.

“Kerudung yang kita beliin buat Mama itu, Badar, akhirnya berguna karena dipakai hari ini ke pemakaman Sando, pacar Rani. Mama nemanin Rani ke pemakaman hari ini,” kata Rina kepada Barada.

“Tapi, Rin, gua rasa enggak sulit buat cari gantinya. Walaupun Kak Rani mengandung anak orang, tapi cantiknya Kak Rani dan kayanya keluarga elu, gua rasa banyak cowok yang mau jadi penyelamat,” kata Indah.

“Gua sepaham sama Iwi,” timpal Novi.

“Gua juga berpikiran kayak gitu, Ofi. Walaupun kakak gua hamil duluan, tapi gua enggak mau dia dapat laki yang cuma ngincer cantik dan uangnya doang. Gua mau kakak gua dapat laki yang baik dan beragama,” ujar Rina.

“Ya berat, Rin,” kata Iyut. “Pak Mukhtar kan pernah menyampaikan, kalau muslim yang begituan di sebelum nikah, namanya zina. Terus, kalau zina, hukumannya cambuk. Kalau elu mau Kak Rani dapat lelaki yang ngerti agama, pastilah enggak mau.”

“Kecuali yang agamanya separuh jadi,” kata Novi pula.

“Badar, lu punya kenalan orang salih yang mau sama cewek hamil duluan?” tanya Indah.

“Emm...,” dengung Barada berlagak berpikir, karena ia memang sedang berpikir. “Setahu saya sih ini masuk dosa besar. Biasanya, kalau mau taubat dari yang besar-besar begini ada aturan khususnya, tapi saya enggak tahu banyak. Dan, kemungkinan besar, laki-laki alim enggak mau ngambil yang ada dosa besarnya. Kenalan orang yang menurut saya salih sih ada, hanya semuanya udah nikah dan kebanyakan perempuan.”

“Terus gimana dong?” tanya Rina.

“Elu maunya Kak Rani dapat laki apa aja asal laki, atau benar-benar yang salih?” tanya Indah.

“Kalau asal laki sih gua enggak perlu meeting begini, cukup tempel pengumuman di depan rumah gua, selesai,” jawab Rina.

“Yang setengah juga enggak mau?” tanya Windi. “Kalau yang setengah sih gua banyak, hahaha!”

“Enggak,” jawab Rina.

“Seperti yang pernah saya katakan, rumusannya itu perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, perempuan buruk untuk  laki-laki yang buruk. Jadi kalau kamu mau Kak Rani dapat lelaki yang baik, jalan pertamanya yaaa jadi perempuan yang baik dulu,” ujar Barada.

“Bagaimana mau jadi perempuan baik kalau sudah ngisi begitu?” tanya Rina.

“Ya tobat dulu, Rin,” kata Indah.

“Berarti dicambuk dulu dong,” kata Novi pula.

“Ih, serem banget kalau harus cambuk dulu,” ucap Windi tergidik.

“Iya, apa lagi kalau sampai pakai dilempar-lempar batu gitu sampai mati. Apa namanya?” kata Ade Irma pula.

“Ragam?” sebut Iyut.

“Bukan ragam, tapi garam!” kata Windi, yang membuat mereka mulai tertawa kembali.

“Bukan garam, tapi kejam!” sahut Ade Irma pula memperkeruh permainan salah kata itu.

“Ah, sudahlah. Gua ngerti,” kata Rina seraya tersenyum samar.

“Daeng Gazza bagaimana, Rin?” tanya Barada memberi pintu solusi baru.

“Abang Gazza?!” pekik Rina terkejut dengan disebutnya nama itu, nama pemuda tampan yang sepertinya alim dan salih yang belakangan mengusik masa kesendirian cinta Rina.

“Iya,” kata Barada seraya tertawa melihat ekspresi Rina.

“Enggak enggak enggak!” kata Rina ngotot setengah teriak.

Keenam anggota Geng Bintang Tujuh lainnya jadi heran melihat reaksi Rina yang tidak wajar.

“Siapa Abang Gazza itu?” tanya Indah.

“Cowok baru Rina!” yang menjawab justeru Ristana, menerka.

“Bukan cowok gua!” bantah Rina cepat.

“Kalau bukan cowok baru elu, kenapa reaksi elu enggak wajar gitu?” tanya Indah mengejar.

“Lu masih punya rahasia sama kita ya?” tanya Iyut menebak.

“Bukan, sumpah! Dia abangnya Badar, bukan cowok gua!” tegas Rina.

Barada hanya tertawa melihat Rina mati-matian membantah tudingan teman-temannya.

“Tapi, jangan-jangan elu udah keburu naksir ya?” tuding Novi.

“Ah, itu mah lain cerita,” kata Rina tidak bisa menyangkal lagi.

“Cieee!” sorak keenam siswi tidak berjilbab itu bersamaan lalu tertawa.

“Sepertinya perlu kita selidiki tuh yang namanya Abang Gazza,” kata Novi.

“Betul betul betul!” celetuk Iyut mengikuti kalimat khas tokoh kartun Malaysia, Upin dan Ipin.

Mereka kembali tertawa bersama.

“Udah ah, jangan dibahas. Kembali ke topik dong,” kata Rina, ada rona malu-malu di wajah cantiknya. “Bagaimana, Badar?”

“Saya tidak begitu mengerti mencari solusi kasus Kak Rani ini. Namun, kalau kamu mau tanya Bang Gazza, mungkin ada solusi, sebab lingkungan pergaulan Abang kan dengan kaum lelaki yang akrab dengan ustaz-ustaz, dunia pesantren dan aktivis agama. Kamu kan pegang nomor Abang Gazza, Rin,” ujar Barada.

“Elu enggak bisa nyangkal lagi, Rin!” seru Windi cepat, saat mendengar bahwa Rina menyimpan nomor pria bernama Gazza yang adalah kakak Barada.

Yang lain jadi tertawa lagi.

“Iya, saya memang menyimpan nomor Abang Gazza, tapi itu enggak seperti yang kalian bayangin,” kata Rina. 

Rina lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah melakukan beberapa sentuhan, Rina kemudian memberikan posel itu kepada Barada.

“Elu yang telepon dan ngomong,” kata Rina kepada Barada.

Sambil tertawa kecil, Barada menerima ponsel yang sudah aktif menelepon nomor atas nama Gazza.
Assalamu ‘alaikum, Daeng!” salam Barada dengan memakai sebutan kehormatan bagi orang suku Bugis Sulawesi Selatan. Barada sekeluarga adalah etnis Bugis.

Wa ‘alaikum salam. Badar?” jawab pria di dalam telepon dan bertanya.

Semua mendengar, karena speaker ponsel diaktifkan oleh Barada.

“Iya, Daeng. Daeng, tahu kan ini nomor siapa?” jawab Barada dan balik bertanya.

“Nomor teman kamu yang cantik itu kan?” terka pria itu.

“Aaa!” pekik para anggota Geng Bintang Tujuh histeris lalu tertawa ramai, karena Rina disebut cantik.

“Suara apa itu, Badar, berisik sekali?” tanya pria di dalam telepon yang memang bernama Gazza, lengkapnya Fath Gazza.

“Badar, jangan bicara yang macam-macam!” desis Rina panik.

Barada hanya manggut-manggut sambil tersenyum geli, sementara yang lainnya terus tertawa heboh dan juga serius mendengarkan komunikasi Barada dengan kakaknya.

“Ini lagi di kelas, jadi ramai, Daeng. Maklum cewek semua, hahaha!” kata Barada lalu tertawa. Kemudian lanjutnya, “Daeng, punya stok teman laki yang siap nikah sama gadis cantik dan kaya?”

“Muslimah?” tanya Gazza.

“Iya.”

“Banyak. Kirim aja foto Muslimahnya, Badar,” kata Gazza yang tidak tahu bahwa omongannya didengar oleh orang banyak.

“Biro jodoh!” bisik Windi kepada Ade lalu keduanya tertawa cekikikan, memancing yang lain ikut tertawa, tapi tidak sekeras tadi.

“Tapi sudah hamil, Daeng,” kata Barada.

Inna lillahi!” ucap Gazza agak terkejut. “Memang ditinggal kabur?”

“Dipisah sama Malaikat Izrail,” jawab Barada.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!” ucap Gazza lagi. “Ya udah, muslimahnya mau laki-laki biasa atau yang bagaimana?”

“Yang salih,” jawab Badar.

“Kamu minta aja foto muslimahnya, nanti saya ambil. Tapi mungkin saya perlu konsultasi dulu sama ustaz, sepertinya kasusnya enggak gampang. Suruh muslimah itu ngomong ke Allah, semoga dibantu sama Allah,” ujar Gazza.

“Iya, Daeng. Jazakallah!” kata Barada.

Aamiin!” ucap Gazza.

“Daeng, jangan lupa nomor ini disimpan.”

“Oh sudah, sejak Rina kirim pesan pertama ke saya,” kata Gazza yang membuat Barada tertawa tanpa suara dan kembali membuat keenam anggota Geng Bintang Tujuh heboh lagi dengan tawanya.

“Ya udah, Daeng. Assalamu ‘alaikum!” salam Barada mengakhiri.

Wa ‘alaikum salam!” balas Gazza.

“Hahaha...!”

Meledaklah tawa Barada dan yang lainnya, kecuali Rina yang hanya tersenyum merengut bercampur setengah tersipu. Meski ditertawai seperti itu, tapi ada rasa berbunga-bunga dan indah di hati Rina, meski hanya mendengar suara seorang Gazza yang sempat menyebutnya “cantik”.

“Oke, urusan beres,” kata Barada sambil memberikan ponsel kepada Rina.

“Apa maksudnya ‘suruh ngomong ke Allah’?” tanya Rina.

“Maksudnya suruh Kak Rani curhat ke Allah, berdoa. Sebab, Allah yang punya segala urusan. Maksudnya, walaupun kita kerja sampai setengah mati, kalau yang punya urusan enggak mengizinkan, alamat gagal,” jelas Barada.

“Jatuh cinta, berbunga rasanya,....” Windi mendadak bernyanyi dangdut lagu Eyang Titiek Puspa.

Ade Irma jadi ikut bernyanyi yang disusul tertawa ramai mereka.

“Ayo pulang!” kata Rina sambil lebih dulu berdiri.

Sambil tertawa-tawa, mereka pun bubar dan bersama-sama keluar kelas. Suasana di lantai tiga itu sudah sepi.

“Badar, lu belajar silat ya?” tanya Indah.

“Iya. Enggak jauh dari rumah ada perguruan silat,” jawab Barada.

“Olah raga gitu kan bagusnya buat cowok, kok elu mau sih?” tanya Iyut.

“Tidak hanya laki-laki, perempuan juga harus bisa jaga diri, Ala. Zaman sekarang ini sangat berbahaya, Ala. Kalian mungkin dengar berita tentang kematian Yuyun di Bengkulu?” kata Barada.

“Gua nonton,” sahut Windi.

“Atau berita serangan misterius di Yogya yang menyayat lengan siswi dengan pisau cutter. Mungkin akan berbeda ceritanya jika para siswi itu, baik Yuyun atau para siswi di Yogya, belajar pertahanan diri. Ketika ada gelagat mengancam, maka calon korban bisa langsung bereaksi. Di sebuah negara kecil di Benua Afrika bernama Malawi, dari hasil survei terhadap lebih 11.000 anak perempuan di bawah usia 18 tahun, menunjukkan bahwa rata-rata satu dari lima anak perempuan telah diperkosa,” tutur Barada.

“Wow!” pekik Ade Irma.

“Banyak faktor yang membuat tingginya jumlah pelecehan seksual di negara miskin itu. Kondisi itu membuat sebuah lembaga amal asal Kenya menawarkan programnya kepada 46 sekolah di Malawi. Mereka mengajarkan kepada sekitar 25.000 siswi perempuan bagaimana cara untuk mempertahankan diri dari pelaku penyerangan seksual. Dan hasil dari program itu, 50 persen angka pemerkosaan bisa menurun.”
“Lu kok bisa tahu cerita-cerita dari Afrika segala, Badar?” tanya Indah.

“Dari Abang Gazza,” jawab Barada.

“Cie cieee! Dari Abang Gazza lagi!” kata Novi kepada Rina, menggoda.

“Jangan godain gua terus, ah!” hardik Rina seraya tersenyum simpul. “Nanti gua telepon lagi nih!”

“Hahaha!”

Tertawalah mereka.

“Abang Gazza kuliah ya, Badar?” tanya Iyut.

“Iya, rangkap wartawan,” jawab Barada.

“Wiiih! Mantap banget pilihan Rina!” kata Indah, lagi-lagi menggoda Rina.

“Dengar kan tadi di telepon, orangnya enak, enggak nyusahin,” kata Iyut. (RH)


Bersambung: Layatan Pemabuk (6A)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar