![]() |
| Militan Islamic State (ISIS). (Foto: Raqqa Media Center.AP) |
Washington, KHILAFAH TERAKHIR - Menurut
sejumlah pengamat Barat, kelompok Islamic State (ISIS) akan kembali ke akarnya
menjadi gerakan gerilya setelah kehilangan ibu kota de facto mereka di Irak dan Suriah.
ISIS juga banyak
kehilangan wilayahnya di kedua negara seiring dilakukannya operasi
besar-besaran oleh pasukan pemerintah Irak dan koalisi oposisi di Suriah pimpinan
Kurdi. Kedua operasi itu didukung oleh koalisi internasional pimpinan Amerika
Serikat.
"Islamic State belum
selesai," kata Aaron Y. Zelin, pengamat yang mempelajari gerakan jihad di The Washington Institute for Near East
Policy.
"ISIS memiliki rencana,
yaitu menunggu musuh lokal mereka untuk mendapatkan waktu tepat membangun kembali jaringannya, sementara pada
saat yang sama memberikan inspirasi kepada pengikutnya di luar untuk terus
memerangi musuh mereka yang lebih jauh," katanya.
Menurutnya, ISIS memiliki
rekam jejak yang terbukti mampu menahan serangan militer besar-besaran,
sementara mereka masih merekrut pengikut di seluruh dunia untuk membunuh.
Ketika pada Selasa (17/10), pasukan
pendukung Amerika mengumumkan telah merebut Raqqa, ibu kota de facto ISIS di Suriah, pejabat
kontraterorisme Eropa mengkhawatirkan sel-sel tidur yang mungkin telah dikirim
jauh sebelum kekalahan mereka.
"Jelas bahwa kita
bersaing dengan ancaman teroris Inggris yang kuat dari ISIS," kata Andrew
Parker, Direktur Dinas Intelijen Inggir MI5. "Ancaman itu multidimensi,
berkembang dengan cepat, dan beroperasi pada skala dan kecepatan yang belum
pernah kita lihat sebelumnya."
Mi’raj News Agency (MINA)


0 komentar:
Posting Komentar