![]() |
| Bendera Indonesia dikibarkan oleh wanita Palestina dalam aksi “Great Return March” di perbatasan Jalur Gaza, Jumat, 30 Maret 2018. (Foto: istimewa) |
Oleh Rudi Hendrik,
jurnalis Mi’raj News Agency (MINA)
Di saat
permasalahan global di berbagai belahan dunia masih penuh krisis dan belum
terselesaikan, perhatian dunia kembali tertuju kepada Palestina, tepatnya di
Jalur Gaza.
Pada hari Jumat,
tertanggal 30 Maret, lebih 30.000 warga Palestina di Jalur Gaza berkumpul di
sepangjang 45 kilometer dekat pagar perbatasan dengan Israel. Mereka berdiri
menatap wilayah leluhur dan Tanah Air mereka yang dirampok oleh panjajah
Israel.
Aksi yang diserukan
oleh Hamas dan seluruh faksi perlawanan di Jalur Gaza adalah aksi damai dalam
rangka memperingati Hari Tanah, hari ketika enam warga Palestina tanpa senjata dibunuh
oleh tentara pendudukan. Mereka terlibat dalam protes massal menentang keputusan pemerintah Israel untuk mengambil alih lahan
luas milik rakyat Palestina pada 30 Maret 1976.
Aksi yang dinamai “Great March of Return” atau “Great Return March” juga menjelang
peringatan Nakba yang berarti “bencana”, hari ketika ribuan warga Palestina
diusir paksa dari tanahnya oleh penjajah Israel pada 1948, yang juga bertepatan
dengan terbentuknya entitas Israel.
Sebanyak 70 persen
dari dua juta lebih warga di Jalur Gaza adalah warga Palestina yang mengungsi
karena mereka diusir dari tanahnya oleh penjajah Yahudi.
Aksi massa yang digerakkan oleh
Hamas, yang oleh Israel dicap “teroris” itu, membuat Pemerintahan Yahudi
bereaksi khawatir. Pasukan dikerahkan di sepanjang perbatasan. Lebih 100
penembak jitu diturunkan, pasukan tambahan pun diterjunkan, termasuk tank-tank dengan
maksud mencegah massa Palestina menyentuh pagar perbatasan.
Hingga akhirnya, bentrokan pecah
di perbatasan. Pasukan Israel pada Jumat siang, menembaki ribuan demonstran tak
bersenjata di seberang pagar perbatasan dengan peluru tajam, peluru baja lapis
karet, dan gas air mata. Bahkan Israel mencoba serangan baru dengan menggunakan
pesawat tanpa awak atau drone. Pesawat nirawak itu terbang 10 hingga 20 meter di
atas kepala demonstran dan menembakkan gas air mata.
Tentara Israel berdalih bahwa
mereka menembak demonstran yang menyerang dengan bom molotov dan mendekati
pagar perbatasan.
Hingga Jumat malam, Kementerian
Kesehatan Palestina di Gaza mengumumkan bahwa 17 orang gugur sebagai syuhadah.
Satu korban tewas saat berladang di pagi hari oleh tembakan tank, sedangkan 16
tewas saat aksi setelah shalat Jumat.
Sebanyak lebih 1.400 warga
Palestina menderita luka-luka. Lebih dari 700 korban luka oleh peluru tajam,
sisanya luka oleh peluru karet dan gas air mata.
![]() |
| Ribuan warga Palestina di Gaza berkumpul di sepanjang perbatasan dengan Israel, memandang tanah leluhur milik mereka yang dirampas penjajah Israel. (Foto: Istimewa) |
Kekejaman yang terjadi di
perbatasan terhadap ribuan warga sipil Palestina sontak dunia mengutuk,
mengecam dan marah kepada Israel. Di hari ketika kaum Yahudi merayakan Paskah,
di saat yang sama, tentaranya membantai rakyat Palestina, rakyat yang hanya
ingin menunjukkan kepada dunia bahwa tanah mereka ada di bawah kaki-kaki orang
Yahudi.
Kejahatan militer Israel yang
dengan mudahnya membunuh dan melukai warga yang berdemonstrasi damai, membuat
dunia menujukan perhatiannya kepada rakyat Palestina dan kemarahannya terhadap
kebrutalan militer Israel.
Sehari kemudian, Dewan Keamanan
PBB segera bersidang darurat menyorot peristiwa di perbatasan Gaza-Israel.
Ketika draf untuk mengutuk
kekejaman Israel diajukan dan hampir disepakati, untuk kesekian kalinya,
Amerika Serikat menggunakan hak vetonya memblokir draf tersebut, sehingga tidak
ada kecaman resmi yang keluar dari lembaga yang katanya “polisi dunia” itu.
Meski Sekretaris Jenderal PBB
Antonio Guterres menyerukan dilakukannya penyelidikan independen terhadap
pembunuhan tersebut, tapi lagi-lagi Dewan Keamanan PBB menunjukkan
kementahannya.
Sikap Amerika Serikat yang sangat
disayangkan oleh berbagai pemimpin dunia, menunjukkan siapa sebenarnya
pemerintahan Washington adanya. Maka benarlah jika bangsa Palestina
mengeliminasi Amerika Serikat dari status mediator konflik Palestina-Israel.
Tidak perlu terpaku pada wewenang
PBB yang tidak bisa diharapkan dalam konflik Palestina-Israel, karena di sisi
lain, kekuatan umat Islam di seluruh dunia kembali bergeliat.
Organsasi Kerja
Sama Islam (OKI) mengutuk keras penguasa Israel sebagai pihak yang bertanggung
jawab atas jatuhnya lebih seribu korban.
Persatuan Ulama Muslim
Internasional (IUMS) yang bermarkas di Qatar, menyerukan umat Islam di berbagai
negara untuk melakukan protes, menentang kekerasan militer Israel terhadap
warga sipil.
Berbagai organisasi
keislaman di berbagai negara telah menyerukan aksi demonstrasi membela
Palestina, membela kaum yang ingin kembali ke tanah miliknya. Tidak terkecuali
di Indonesia, aksi protes akan dilakukan di depan Kedutaan Besar Amerika
Serikat di Jakarta, Senin, 2 April.
Sementara di
Malaysia, Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM) menyeru
lembaga-lembaga Islam dan kemanusiaan berkumpul pada Rabu, 4 April. Bahkan
mereka menyeru organisasi dari Indonesia juga hadir untuk menyuarakan pembelaan
kepada Palestina.
Tidak heran jika
kemarahan dunia kembali disulut oleh Israel, sebab adalah hal yang sangat
keterlaluan, di saat penjajahan sudah diharamkan di masa kini, dengan
terang-terangan dan vulgar otoritas Yahudi menjajah sejak 1948 dan masih
berlangsung hingga kini.
Sebagai langkah
untuk melegalkan penjajahannya terhadap bangsa Palestina, pemerintah Israel
menciptakan berbagai undang-undang yang bertujuan mengusir warga Palestina dan
merampas tanahnya.
Ketika rakyat
Palestina yang terusir dan terzalimi datang meminta tanah miliknya, mereka
justru diberondong di siang hari di saat semua kamera menyorot.
Atas nama
kemanusiaan dan kemerdekaan, maka sepatutnya umat manusia membela rakyat
Palestina, terlebih jika diatasnamakan satu iman dan satu akidah.(RH)
Mi’raj News Agency (MINA)



0 komentar:
Posting Komentar