Kemenangan Demi Kemenangan Israel di Perang 6 Hari

Pasukan Mesir melawan Israel dalam Perang 6 Hari. (Foto: 
Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah yang memiliki luas sekitar 800 km persegi yang terletak di perbatasan Israel dan Suriah. Jumlah penduduk yang tinggal di sana tak lebih dari 50.000 orang atau kurang dari 1 persen dari total jumlah penduduk Israel yang berjumlah 8,5 juta orang. Dibandingkan dengan tempat-tempat lain di perbatasan Israel, Dataran Tinggi Golan relatif lebih tenang. Dengan komposisi geografis yang demikian, tak heran jika Dataran Tinggi Golan menjadi wilayah militer strategis.

Mayoritas penduduk yang mendiami Dataran Tinggi Golan merupakan Yahudi-Israel. Lainnya termasuk ke dalam komunitas Druze--sebuah sekte keagamaan yang kerap disebut sebagai cabang dari Islam Ismaili. Selama sekian dekade, warga Druze selalu menolak memperoleh kewarganegaraan Israel dan lebih memilih mempertahankan hubungan yang kuat dengan Suriah.

Ketika Perang Enam Hari yang terjadi pada 5-10 Juni 1967, Dataran Tinggi Golan (bersama wilayah Palestina lain yang tersisa seperti Tepi Barat, Yerussalem bagian timur, Jalur Gaza, hingga Semenanjung Sinai), turut dicaplok Israel sebagai bagian dari misi mewujudkan “Negara Yahudi”. Sebanyak 750.000 orang Palestina juga diusir dari perkampungan tempat tinggal mereka.

Seturut laporan Zena Tahhan dari Al Jazeera, Perang Enam Hari sangat terpolarisasi, kendati tetap ada sejumlah faktor penting yang bisa dilacak dari beberapa sumber sejarah. Misalnya bentrokan antara warga Israel dengan warga Suriah dan Yordania yang eskalasinya menjadi masif setelah terus-menerus dipanaskan oleh warga Palestina yang ingin kembali ke tanah asalnya sejak Negara Israel didirikan.

Pada 5 Juni 1967, Israel meluncurkan serangan tak terduga ke pangkalan udara Mesir di Sinai dan Terusan Suez sehingga menghancurkan pesawat-pesawat yang sedang diparkir. Sebanyak 90 persen wilayah musnah jadi arang. Pada malam harinya, Israel turut menginvasi Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, juga pangkalan udara Suriah. Sejak ini, Perang Enam Hari pun dimulai dan dimenangkan oleh Israel di hari pertama. Di hari kedua, pasukan Israel bertempur melawan Yordania untuk memperebutkan Yerussalem timur (yang saat itu dikuasai oleh Yordania). Keesokan harinya, komandan militer Israel, Moshe Dayan, memerintahkan pasukannya untuk merebut Kota Lama yang berada di bawah Yerussalem timur. PBB sempat menyerukan kedua pihak untuk gencatan senjata. Namun, diplomat Israel dikabarkan meminta bantuan AS agar gencatan senjata itu ditunda. Upaya tersebut berhasil dan pada 7 Juni 1967, tentara Israel sukses membersihkan Kota Lama dari kontrol tentara Yordania.

Memasuki tanggal 9 Juni, Israel mulai menyerang Dataran Tinggi Golan di Suriah dan sukses direbut pada keesokan harinya. Karena situasi kian parah lantaran jarak area tersebut cukup dekat dengan ibukota Damaskus, Mesir dan Israel sepakat menandatangani gencatan senjata di hari yang sama. Sedangkan dengan Suriah, gencatan senjata baru diresmikan dua hari setelahnya atau pada tanggal 11 Juni. Kedua kesepakatan tersebut cukup untuk menghentikan Perang Enam Hari.

Memasuki tahun 1981, Israel mengeluarkan hukum yang secara efektif berhasil menganeksasi Dataran Tinggi Gola. Akan tetapi, hal tersebut tidak pernah diakui oleh komunitas internasional. Resolusi DK PBB tahun itu menyebutkan bahwa “keputusan Israel untuk memberlakukan hukum, yurisdiksi, dan administrasi di Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki, tidak dianggap sah dan tidak memiliki efek hukum internasional.”

Sumber: Tirto.id
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar