![]() |
| Ilustrasi: sniper Israel. (Foto: dok. Iran Daily) |
Greater Palestine
- Dalam dua tahun sejak protes Great
March of Return pekanan dimulai, Israel telah merenggut korban yang
mengerikan dari demonstran Palestina yang tidak bersenjata di Gaza.
Penembak jitu Israel telah membunuh lebih dari 200 warga
sipil Palestina, termasuk lebih dari 40 anak-anak, selama demonstrasi. Sekitar
8.000 telah terluka oleh amunisi hidup, dengan ribuan lainnya menderita
luka-luka.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 156 orang harus diamputasi,
30 di antaranya anak-anak, dari cedera yang diderita selama demonstrasi antara
30 Maret 2018 hingga Desember 2019.
Dua puluh empat warga Palestina telah lumpuh karena cedera
tulang belakang.
Penembak jitu Israel mengatakan, mereka tidak menyesal atas
pembunuhan dan melukai warga Palestina di Jalur Gaza.
Harian Tel Aviv Haaretz
melakukan enam wawancara dengan penembak jitu militer yang ditempatkan di
pagar perbatasan Israel-Gaza selama protes Great
March of Return.
Penembak jitu itu -semuanya telah diberhentikan dari
tentara- mengaku ingin membunuh anak-anak Palestina dan bersaing mendapatkan
jumlah tertinggi per hari.
Menurut WHO, sebagian besar cedera oleh amunisi hidup yang
dialami warga Gaza yang berdemonstrasi ada di anggota tubuh bagian bawah.
Penembak jitu Israel mengkonfirmasi kepada Haaretz bahwa ini adalah niat mereka.
Kadang-kadang mereka akan berkompetisi untuk mendapatkan jumlah lutut terbanyak
dalam satu hari.
"Dari titik hit, saya yang paling tertinggi," kata
Eden, nama samaran penembak jitu di Brigade Golani, unit "elit" di
tentara Israel yang bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia.
"Dalam batalion saya, mereka akan berkata 'Lihat,
inilah Si Pembunuh.' Ketika saya kembali dari medan, mereka akan bertanya,
'Baiklah, berapa hari ini?'," katanya. (Palestiner/Rudi Hendrik)
Sumber: The Electronic
Intifada


0 komentar:
Posting Komentar