Bab 1 diperankan oleh:
Tina Cihuy
Ayu Nostalgia
Kunoto
Hari ini adalah Ahad tanggal 16 Juli 1995. Tina Cihuy dan Ayu Nostalgia sepakat pergi ke Pasar Impres Kalianda untuk berburu buku bekas. Kesepakatan itu mereka ambil setelah melalui rapat pleno yang dihadiri oleh Tina, Ayu dan Salman.
Setelah waktu ashar dan menjelang senja adalah waktu
yang tepat. Sebab, jika Ahad pagi, Tina punya agenda cuci dan jemur diri sambil
cuci dan jemur pakaian sekeluarga. Dan bagi Ayu, Ahad pagi adalah waktu yang
sangat sakral untuk tidur pagi setelah nyabu, yaitu sarapan bubur kacang hijau.
Sementara Salman yang bernama lengkap Salman Alfarisy,
Ahad pagi jadwal wajib bantu ayahnya di kebun kupas sabut kelapa. Ayah Salman adalah
juragan kelapa dan pisang. Tanah kebunnya lumayan luas, cukup untuk bekal kawin
di hari tua.
Nah, barulah siang dan sore hari, Tina dan Ayu punya
waktu lowong. Jika pergi ke pasar pada siang hari, terlalu bolong teriknya.
Karenanya, mereka sepakat sore hari. Namun, tetap tanpa Salman karena ia masih
sibuk di kala senja. Biasanya ia pulang dari ikut mengantar kiriman kelapa atau
pisang baru menjelang magrib.
“Di mana, Yu? Seiman saya di gang dekat jualan tas,”
tanya Tina sambil keduanya berjalan di pinggiran jalan beraspal depan Pasar
Impres.
“Seingat, Tina. Bukan seiman!” ralat Ayu.
“Maksud saya itu. Seingat,” kata Tina.
“Kalau yang di situ mahal plus belagu. Buku bekas
dijual harga baru. Kenapa enggak jual buku baru saja tapi harga bekas?” gerutu
Ayu.
“Kenapa tanyanya ke saya?” tanya Tina.
“Siapa yang tanya?!” sentak Ayu sewot.
“Tadi rebusan!” debat Tina.
“Barusan, bukan rebusan, Tinaaa!” ralat Ayu kian
sewot.
“Iya, maksud saya itu,” kata Tina seolah tanpa dosa.
“Noh, yang murahan dan komplit segala buku bekas, di
Toko Bekas Berkelas punya Bang Kunoto. Saya sudah kenal!” kata Ayu bersemangat.
“Genit amat. Sama tukang bubur saja kenalan,” ledek Tina
tanpa senyum.
“Hahaha! Mendingan tukang bubur daripada tukang buku,
kalau urusan kesejahteraan. Tapi, kalau urusan jeniusitas, mendingan tukang
buku,” kata Ayu yang didahului dengan tawanya.
“Bu Mona cuma suruh beli tiga bulu doang, ‘kan?” tanya
Tina.
“Buku, bukan bulu!” ralat Ayu.
“Iya, maksud saya itu.”
Akhirnya, keduanya tiba di Toko Buku Bekas Berkelas,
milik seorang pedagang bernama Kunoto. Saat mereka datang, hanya ada satu
pelanggan yang sedang memilah-milah buku.
“Assalamu ‘alaikum, Bang Ku!” salam Ayu penuh
semangat sambil langsung tersenyum kepada lelaki berkumis berkulit cukup hitam,
berusia sekitar lima puluh tahun.
“Wa ‘alaikum salam, Ayu!” jawab lelaki berbaju
T-shirt warna cokelat itu.
“Sehat, Bang?” tanya Ayu akrab.
“Alhamdullillah! Seperti ini, masih ganteng.
Hahaha!” jawab Kunoto lalu tertawa lepas. “Bawa teman cakep, Yu?”
“Namanya Tina Cihuy, Bang. Masih di bawah umur, sama
seperti Ayu,” jawab Ayu.
“Hahaha!” tawa Kunoto lagi.
“Bang Ku, ada buku Bahasa Indonesia, IPA, sama IPS
kelas dua SMP?” tanya Ayu.
“Terbitan?” tanya balik Kunoto.
“Terbitan apa, Tin?” Ayu justru bertanya kepada Tina.
“Rajabata Apung,” jawab Tina santai sambil
melihat-lihat buku yang ada.
“Hah? Rajabata Apung?” ucap ulang Ayu, karena belum
pernah mendengar nama terbitan itu.
“Iiih, buta ah!” rutuk Tina. “Rajabasa Agung, Ayu.
Mana ada Rajabata Apung!”
“Eh, nih anak! Bisa-bisa saya colok pakai jidat nih!”
dumel Ayu kesal. “Tadi kamu yang bilang Rajabata Apung!”
Ayu menendang kaki Tina, tetapi tendangan itu terlalu
pendek sehingga tidak bisa menjangkau kaki Tina yang hanya tertawa-tawa,
terkesan meledek si kaki gemuk itu. Bukan kakinya yang tertawa, tapi Tinanya
yang tertawa. Jangan salah paham.
“Eh eh eh, sesama jeruk itu jangan bertengkar!” kata
Kunoto melerai.
“Saya wortel, dia yang beruk!” kata Tina sambil
menunjuk Ayu.
Murkalah Ayu disebut beruk, salah satu nama jenis
primate sebangsa kera. Ayu berjalan tergopoh-gopoh mendapati Tina yang kurus.
Dicekiklah leher Tina dengan pitingan lengan gemuknya. Namun, Ayu melakukannya
hanya sekedar lakon drama saja. Terlihat Tina bukannya kesakitan, tetapi justru
tertawa terbahak-bahak berkepanjangan.
“Hahaha…!” tawa Tina tidak berujung, meskipun nanti
berujung.
“Hahaha…!” Kunoto juga tertawa terbahak-bahak
menyaksikan tingkah kedua anak perempuan itu.
“Kenapa sih genit banget kamu, Yu, di depan Bang Ku
itu?” tanya Tina setelah tawanya reda dan Ayu sudah tidak memitingnya lagi.
“Siapa yang genit? Kamu tuh yang kebangetan nyebut
saya beruk. Cantik begini dibilang beruk, memang ngelihatnya dari patung Raden
Intan!”
“Saya itu tadi nyebut kamu jeruk, saya wortel. Harus
sabar-sabar kalau punya teman rada-rada putingnya,” kata Tina bela diri.
“Tuh kah salah lagi!” tuding Ayu sambil menunjuk wajah
Tina.
“Salahnya di mana? Dua tambah dua, empaaat. Tiga
tambah tiga, emaaang!” kata Tina.
“Hahaha…!” Kunoto terus tertawa mendengar perdebatan
dua sahabat yang tidak ketemu titik kumpulnya itu.
“Sudahlah, Bang Ku, ambilin bukunya,” kata Ayu memilih
menyerah.
“Sebentar,” kata Kunoto.
Lelaki yang sudah lama berdagang buku bekas itu lalu
membungkuk-bungkuk di dalam lapaknya, mencari buku-buku yang dimaksud Tina dan
Ayu.
“Satu-satu atau dua-dua?” tanya Kunoto sambil
melongokkan sebentar wajahnya kepada Tina dan Ayu.
“Dua,” jawab Ayu.
“Kalau ada tiga-tiga!” sahut Tina.
“Buat siapa satunya?” tanya Ayu kepada Tina.
“Buat Salman. Hahaha! Cacar sendiri dilupain!” kata Tina.
“Siapa yang pacar? Masih kecil, belum bisa menghitung
kutu. Enggak boleh pacaran. Kalau sudah bisa hitung kutu, nah, langsung kawin
tuh,” kata Ayu mengelak agak panjang.
“Aaah, kura-kura,” kata Tina dengan lirikan dan
senyuman mengejek.
“Nih, tiga set!” kata Kunoto sambil memberikan
setumpuk buku kepada Ayu.
Ayu dan Tina lalu memeriksa buku yang mereka butuhkan
itu.
“Bang Ku benar semua!” puji Ayu.
“Buntut, Bang!” kata Tina.
“Hah?” Kunoto bertanya karena tidak mengerti maksud
dari perkataan Tina.
“Maksud Tina bungkus, Bang. Hahaha!” ralat Ayu.
“Iya,” sahut Tina.
Kunoto segera membungkus tiga set buku pelajaran itu.
“Berapa, Bang?” tanya Ayu.
“Lima belas ribu rupiah, sudah potong diskon,” jawab
Kunoto.
“Nih, Bang. Saya genitin dua puluh ribu rupiah,” kata Tina
sambil menyodorkan uang dua puluh ribuan.
“Genit apa?” tanya Kunoto, lagi-lagi dibuat tidak
mengerti oleh perkataan Tina.
“Maksud Tina digenapin, Bang Ku,” ralat Ayu.
“Oooh. Memang suka bercanda ya Tina,” kata Kunoto.
“Penyakit saya, Bang Ku. Suka salah-salah kota kalau
ngomong,” kata Tina.
“Oh, ada ya sakit begitu?” tanya Kunoto seakan tidak
percaya.
“Buktinya saya,” tandas Tina.
“Apa lagi, Tina?” tanya Ayu.
“Buku ini,” jawab Tina, lalu mengambil sebuah buku
tebal, yang warnanya sudah kuning karena terlalu tua.
“Pintu Setan Kuning. Buku apaan tuh, Tina?” tanya Ayu
setelah membaca judul buku tersebut.
“Buku novel kolor,” jawab Tina.
“Hahahak…!” tawa Ayu dan Kunoto bersamaan.
“Bukan kolormu, tapi horor, Tina!” ralat Ayu sambil
tertawa kencang.
“Tapi itu mahalan dikit. Sepuluh ribu. Mau ambil?”
tanya Kunoto.
“Iya,” jawab Tina.
“Banyak duit kamu, Tina,” komentar Ayu.
“Rezeki anak santet,” jawab Tina kalem.
“Hahaha!” tawa Ayu dan Kunoto. “Anak saleh, bukan anak
santet, Tina!”
“Hahaha!” Tina hanya tertawa santai. (RH)


Baca ulang tetep ngikik .. Pelan2 Anny baca Om
BalasHapusTerima kasih, Ratu Ani
Hapushahahahak. Tina - Ayu gak ada lawan ocok perutku
BalasHapuskayaknya sih gitu
HapusKok komentarku gak naik
BalasHapusNih udah naik
Hapus