*Dendam Tiga Wanita*
Jregr! Jregr! Jregr!
Tampak dari luar halaman rumah yang luas muncul
tiga ekor kuda berlapis baju besi, yang ditunggangi oleh penunggang
berbaju besi hitam. Kepalanya pun tertutupi helm besi hitam. Penunggang kuda
tengah mengenakan baju dan helm besi yang lebih rapat dan tebal, serta tampak
lebih bagus. Dialah yang disebut sebagai Jenderal Dara.
“Ingat, aku tidak mau keturunanku terputus!” bisik
Srikandar kepada Jenggot Perak, sambil meringis menahan sakit pada tubuhnya
yang ditancapi oleh panah. Ia lalu mendorong Jenggot Perak masuk
ke dalam rumah.
Srikandar lalu mencabut beberapa panah yang menancap di
tiang dan melompat ke halaman sambil melesatkan anak-anak panah di tangannya.
Anak-anak panah itu mengarah ke bagian tubuh ketiga kuda yang tidak
tertutupi besi. Namun, dengan mudah para penunggangnya menepis anak panah itu.
Jenderal Dara memberi isyarat kepada anak buahnya.
Penunggang kuda di sisi kanan yang bernama Sohor cepat melompat dari
kudanya, lalu berlari cepat ke arah rumah. Srikandar cepat melompat hendak
menyerang Sohor.
Seet! Ceb ceb!
“Akh!” pekik Srikandar ketika dua butir peluru besi
melesat menembus dada dan perutnya. Dua peluru itu tersambung benang baja
hingga ke tangan prajurit yang di sisi kiri Jenderal Dara. Dia bernama Aral.
Srikandar terlutut di tanah dalam kondisi dua benang baja
menancap di tubuhnya.
Brak!
Sementara Sohor mendobrak pintu rumah yang penuh dengan
tancapan anak panah. Ia berhenti sejenak, di dalam kosong. Namun, suara pintu
ditutup membuat prajurit itu berlari masuk lebih dalam. Di dalam, Sohor
menemukan ada pintu terbuka di lantai kayu dan ada tangga yang menuju ke bawah.
Namun sayang, lubang bertangga tersebut tidak muat oleh besarnya pakaian besi
si prajurit.
Sohor mengeluarkan sebuah bola besi berbentuk manggis
berdaun satu. Daunnya dicabut dan bola besi pun dilempar ke dalam lubang.
Bduarr!
Bersamaan dengan berlarinya Sohor ke luar rumah, lubang
yang adalah jalan rahasia itu meledak.
Sementara di luar, ....
“Srikandar, hari ini kau dieksekusi mati karena
kejahatanmu. Pengadilan Wilayah Lima telah memutuskan hukuman ‘pancung di
tempat’ dan ‘pemutusan generasi’!” seru prajurit Aral sambil tetap memegangi
dua benang bajanya.
“Keturunanku tidak bersalah!” teriak Srikandar dengan
mulut penuh darah.
Sets!
Sebuah benda tipis dilesatkan oleh Jenderal Dara dan
Srikandar tidak dapat menolak ketika benda itu memotong rapi lehernya. Kepala
Srikandar jatuh menggelinding bercecer darah.
Aral menarik kembali benang bajanya yang tergulung
otomatis di lengan besinya. Tubuh Srikandar pun tumbang tanpa kepala dan
nyawa. Jenderal Dara melemparkan tombak besinya kepada Aral. Si prajurit
menangkap tombak itu dan turun untuk menusuk kepala Srikandar dari bawah leher.
Hal ini menunjukkan bukti bahwa eksekusi “pancung di tempat” telah
dilaksanakan.
“Ada yang kabur lewat jalan rahasia, Jenderal!” lapor
Sohor sekeluarnya dari rumah.
Jenderal Dara hanya menunjuk memerintahkan untuk
mengejar. Tidak ada istilah membiarkan ada yang lolos dari eksekusi.
“Baik, Jenderal. Tapi aku harus lepas baju besi,
lorongnya sempit!”
Sohor segera membuka semua kunci pakaiannya. Ketika
pakaian besi itu ditanggalkan, sangat jelas bobot berat dari pakaian besi hitam
itu.
Ternyata Sohor adalah seorang pemuda gagah bertubuh kekar
dengan pakaian biru ketat. Wajah dan tubuhnya berkeringat. Ia membawa
besi besar berbentuk silinder. Sohor segera masuk kembali ke dalam rumah.
Segera ia melompat masuk ke dalam lubang yang sudah hangus. Sementara itu di
dalam terowongan tanah, ....
“Ayo cepat!” kata Jenggot Perak kepada Kayla dan Akira
yang berjalan membungkuk di depannya.
Lorong itu selain sempit, kelebarannya juga tidak
teratur. Jenggot Perak dan Kayla harus membungkuk untuk melaluinya.
“Kenapa Ayah dibunuh, Ibu?” tanya Akira yang masih
menangis ketakutan campur sedih.
“Mereka menuduh ayahmu orang jahat,” jawab Kayla yang
harus menahan tangisnya dan kepedihan batinnya. “Kita harus selamat, karena
kita juga akan dibunuh, Akira!”
“Uhuk uhuk!”
Jenggot Perak batuk darah. Ledakan bom tadi membuatnya
mengalami luka dalam yang serius.
“Perkiraanku, daerah ini sudah dikepung oleh pasukan
Jenderal Dara. Algojo itu terkenal sekali dalam operasinya. Semut pun tidak
akan lolos dari hukumannya!” ujar Jenggot Perak. “Tidak ada jaminan kita akan
lolos. Jika salah satu dari kalian dikehendaki Allah selamat, pergilah mencari
Penunggang Angin!”
“Kita sudah sampai di air terjun!” kata Kayla.
Memang terdengar suara gemuruh air dan berubahnya udara
lorong menjadi dingin. Di depan, lorong tampak lebih bercahaya. Kayla dan
Jenggot Perak sudah tahu persis tentang jalan rahasia itu. Lorong itu berujung
tepat di sisi jatuhnya air terjun ke bawah. Posisi ujung lorong ada di tebing,
puluhan meter di atas permukaan sungai yang menjadi penadah air terjun.
Suara air terjun semakin keras terdengar. Ketika jarak
beberapa meter lagi, Jenggot Perak cepat menahan.
“Tahan, jangan langsung keluar. Biar aku lihat dulu ke
luar. Jika terjadi sesuatu, bawalah Akira langsung melompat ke bawah!”
Kayla dan Akira berhenti. Jenggot Perak terus merangsek
menuju ke luar lorong. Ujung lorong tepat berada di sisi terjunnya air dari
atas, tapi tidak sampai terkena air. Puluhan meter di seberang
lorong adalah tebing batu yang lebih rendah, atasnya adalah hutan
lebat.
Set set set!
Betapa terkejutnya Jenggot Perak saat melihat sosok-sosok
hitam mengkilap bersiaga di balik pepohonan di tebing seberang. Seketika itu
juga, ratusan anak panah melesat ke arah mulut lorong,
menghujani Jenggot Perak.
“Berlindung!” teriak Jenggot Perak tanpa beranjak dari
depan lorong.
Kayla cepat menarik Akira ke balik tonjolan batu. Jenggot
Perak membiarkan tubuhnya berdiri di ambang lubang menjadi penutup. Puluhan
anak panah tanpa ampun menancapi tubuh tua itu.
“Guruuu!” jerit Akira histeris.
Seiring itu, sebuah benda besi menggelinding dari dalam
lorong.
Blesss!
Bola besi itu kemudian terbelah mengeluarkan
asap kuning pekat yang tebal.
Kayla cepat membekap hidung dan mulut anaknya lalu
membawanya berlari ke luar lorong. Mayat Jenggot Perak yang berdiri
tersender, didorong. Tanpa membaca area lagi, Kayla membawa Akira melompat
terjun bebas ke bawah.
Spontan puluhan anak panah melesat berusaha membidik
Kayla dan Akira. Kayla sigap melepas cadarnya lalu dikibas-kibaskan yang
mementalkan beberapa anak panah yang menyasarnya.
Jburr!
Seiring masuknya Kayla dan putrinya ke air sungai,
lenyaplah keduanya dari pandangan.
Dari dalam lorong keluar asap kuning yang langsung raib
oleh angin.
“Komandan Safar! Cepat kirim pesan ke Komandan Topa
untuk berjaga di hilir!” teriak seseorang dari dalam lorong kepada para
prajurit berpakaian besi di tebing seberang.
Orang yang muncul di lorong tidak lain adalah prajurit
yang mengejar pelarian Jenggot Perak, yakni prajurit Sohor.
Secara serentak, puluhan prajurit berpakaian besi melesat
turun dengan bantuan tali baja ke aliran sungai yang cukup besar. Seiring itu,
ratusan anak panah ditembakkan secara acak ke dalam sungai. Namun, semua
anak panah berbahan besi itu hanya tenggelam.
Puluhan prajurit menyisir dan memeriksa secara seksama
sungai itu. Setiap sela di pinggir sungai mereka periksa.
Di udara, tampak seekor burung elang terbang dari hutan
tebing seberang. Burung itu adalah burung pembawa pesan.
Kayla dan Akira sempat muncul ke permukaan, tepat di
bawah batu pinggir sungai yang menjorok. Setelah keduanya mengambil napas,
keduanya segera menyelam lagi sebelum prajurit besi melihat. Ibu beranak itu
harus menyelam cukup dalam supaya bayangannya tak terlihat dari permukaan.
Kayla harus melakukan hal itu beberapa kali sambil menunggu pasukan besi bersih
dari area tersebut. Kayla memutuskan untuk berenang ke arah hulu. Sementara Akira
harus mengalami keletihan.
Kayla dan Akira akhirnya selamat. Meski demikian, mereka
akan memperoleh status baru, yaitu “Buronan Wajib Mati”. (RH)
Novel di kategori "Gantung" memiliki alur yang sampai saat ini masih menggantung.


Seru.. Suka novel ini.. Lanjut kan ya om
BalasHapus